
Rayyan melemparkan buku paketnya tepat di kepala Rafeal, membuat sang pemilik kepala langsung bangun seketika dari tidur nyenyaknya.
"Sialan!" Maki Rafeal sambil mengusap kepalanya.
"Pagi-pagi udah molor, dasar tukang ngorok!" Cela Rayyan.
"Habis ngapain sih semalam? kok bisa ketiduran gitu?" Tanya Bian yang yang ikut memutarkan badannya menghadap Rafeal yang duduk tepat di belakangnya.
"Main game lah, habis mau ngapain lagi!" Cetus Rafeal kesel.
"Cihhh, dasar maniak game! tugas udah kelar?" Tanya Taufan yang ikut mengomentari.
"Emang ada tugas?" Tanya Rafeal kaget.
"Amnesia lagi!" Seru Bian dan Rayyan hampir bersamaan.
"Nih, salin aja biar cepat!" Ujar Namira sembari menyerahkan buku tugasnya.
"Thanks!" Ujar Rafeal bahagia dan segera meraih buku tersebut.
Sebelum tangan Rafeal menyentuh buku tersebut, Zea lebih yang baru datang langsung mengambilnya.
"Zea, balikin!" Pinta Rafeal.
"Nggak mau!" Cetus Zea yang malah memasukkan buku tersebut ke dalam tasnya.
"Jangan resek deh, bentar lagi jam pelajaran di mulai, kamu nggak berniat buat aku di berdiriin di depan kelas kan?" Jelas Rafeal.
"Udah cukup nyonteknya, sekarang buat aja sendiri, dari SMP nyontek terus." Tegas Zea.
"Iya yah, kok aku nggak kepikiran ya? kalau diingat-ingat lagi memang Rafeal nggak pernah tuh ngerjain tugas sendiri, selalu aja paste." Jelas Taufan.
"Ya kan...." Cetus Rafeal yang langsung di sela oleh Rayyan.
"Terlalu sibuk dengan game, selalu saja lupa sama tugas. Cepat selesaikan!" Tegas Rayyan.
"Au ah!" Gumam Rafeal yang akhirnya menyerah.
Rafeal segera mengeluarkan buku tugasnya lalu segera menyelesaikannya.
Jam pelajaran di mulai, pagi ini ibu Susi terlihat begitu ceria. Ia mulai menjelaskan materi dengan begitu baik.
"Apa ada pertanyaan?" Tanya Susi setelah mengakhiri paparan materi pelajaran.
"Cieee cieeeee, hari ini ibu kelihatan berseri seri banget! kenapa bu? dilamar ya?" Tanya Bian dengan suara lantang.
"Ah kamu bisa aja,,,,!" Ujar Susi tersipu malu.
"Kami siap kok mendengar curhatan ibu!" Seru Seorang siswi lainnya.
"Uuuuuuwuuu!" Teriak seisi kelas yang membuat suasana semakin tak terkendali.
"Udah diam! oke, waktu ibu sudah habis, dan untuk tugas yang kemaren tolong ketua kelas kumpulkan dan bawa keruangan ibu." Jelas Susi yang mulai merapikan mejanya.
"Baik bu..." Jawab ketua kelas yang tak lain adalah Rayyan.
"Bu, pak Marvel datang enggak?" Tanya seorang siswi.
"Iya bu, udah tiga hari pak Marvel nggak keliatan, jadi kangen dengan wajah tampannya." Jelas Siswi lainnya.
"Dasar ganjen." Cela Bian.
"Tampan? dari mananya, orang jelek gitu di bilang tampan. Haisssh!" Gumam Rafeal pelan namun Zea masih bisa mendengarnya dengan jelas.
Mata Zea langsung menatap tajam kearah Rafeal.
"Kenapa? marah? aku nggak hina suami elo kali!" Cetus Rafeal.
"Dasar tukang iri! lagian menurut aku abang Marvel lebih ganteng tuh dari kamu, eh abang. Au ah, bingung mau manggilnya gimana" Jelas Zea.
"Ciiih!" Ujar Rafeal.
"Sudah-sudah! kalian tugasnya belajar bukan ngegombal, ibu permisi." Jelas Susi yang langsung keluar dari kelas tersebut.
Setelah pelajaran Biologi, kini waktunya mata pelajaran matematika.
Selama satu minggu ini pelajaran matematika adalah mata pelajaran yang kedatangannya begitu ditunggu oleh para siswi, bukan karena mereka mulai menyukai pelajarannya melainkan mereka mengangumi sang gurunya.
Marvel melangkah menuju mejanya, lalu mulai membuka buku pelajaran.
"Kemaren bapak nggak masuk, bapak sakit ya?" Tanya seorang siswi.
"Maaf bapak ada acara keluarga, dan bapak sudah minta pak Rudi untuk menggantikan bapak, baiklah kita lanjutkan pelajaran kita." Jelas Marvel.
"Kerennya, luar biasa, aura pak Marvel memang wooow!" Ungkap Namira yang ternyata diam-diam mengagumi Marvel.
"Rafeal, kerjakan soal nomor 1 di papan tulis." Pinta Marvel setelah mengakhiri penjelasan tentang materi.
"Aku? maksud kamu aku?" Tanya Rafeal spontan yang membuat seisi kelas segera menatap kearahnya.
Tangan Zea langsung memukul lengan Rafeal, mendapat tatapan horor dari Zea, membuat Rafeal menyadari apa yang barusan ia lakukan.
"Iya, emang ada murid lain yang bernama Rafeal selain kamu? cepat maju!" Perintah Marvel.
(Waaah, bakalan asyik nih kalau bisa ngerjain anak songong tiap hari! wahwahwah, senangnya lihat tuh muka kesal tapi tak bisa berbuat apa-apa) Bisik hati Marvel girang.
(Ciiiih! Tunggu aja pembalasanku, dasar Harimau ber-roh siput. Aku akan balas dendam!) Gumam Rafeal kesal.
Rafeal segera bangun lalu mengerjakan soal sesusai perintah Marvel, hanya butuh waktu dua menit, Rafeal sudah berhasil menjawab soal yang jawabannya hampir memenuhi seluruh papan tulis.
"Puas elo!" Gumam Rafeal dengan suara pelan dengan mantap Marvel.
"Bagus! ternyata kamu pandai juga, bapak kira kamu nggak akan bisa menjawabnya dengan baik!" Jelas Marvel.
"Makasih atas pujiannya pak, saya boleh kembali duduk kan?" Tanya Rafeal dengan senyum menawan.
"Iyah silahkan kembali ke kursimu!" Ujar Marvel dengan senyuman yang tak kalah menawan.
"Nggak nyangka, ternyata kamu hebat juga! kenapa nggak dari dulu pintarnya?" Jelas Bian yang terkagum dengan sosok Rafeal yang tiba-tiba terlihat begitu pintar.
"The power of game!" Seru Rafeal.
"Jangan menatap aku seperti itu!" Tegas Rafeal setelah kembali duduk dan mendapati Zea yang terus saja menatapnya.
"Aku tunggu penjelasan versi kamu!" Tegas Zea dan kembali fokus pada buku pelajarannya.
Disisi lain, tepatnya di kelas Dua belas sana, Rakes terlihat begitu larut dalam perannya, dia terlihat menikmati setiap karakter yang dia mainkan, kali ini bahkan ia terlihat bak guru sebenarnya, dengan akurat dan jelas ia terus memaparkan setiap materi pembahasan, para murid bahkan terlihat begitu larut dalam penjelasan Rakes hingga tanpa terasa bel istirahat menggema keseluruh penjuru sekolah.
"Baiklah anak-anak, cukup sampai di sini pertemuan kita hari ini, lusa kita lanjutkan kembali beberapa poin yang belum sempat bapak jelaskan hari ini, oke kalian boleh keluar lebih dulu!" Jelas Rakes.
"Baik pak...!" Jawab beberapa siswa.
Rakes terlihat sedang merapikan semua peralatan mengajarnya, sedangkan beberapa siswa siswi mulai beranjak meninggalkan kelas, karena memang ini sudah waktunya mereka menyerbu kantin.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya Cindy yang kini berdiri tepat di depan meja Rakes.
"Terima kasih, tapi bapak bisa membawanya sendiri kok. Bukannya jam segini kalian harusnya ke kantin?" Jelas Rakes yang masih sibuk mengumpulkan barangnya.
"Aku masih kenyang, nggak apa-apa pak, biar aku bantu!" Ujar Cindy yang langsung membantu Rakes.
Cindy langsung menyusun beberapa buku lalu siap untuk membawanya.
"Ayo pak!" Ajak Cindy yang lebih dulu keluar dari kelas dengan membawa buku Rakes di tangannya.
"Baiklah!" Ujar Rakes menurut.
Rakes segera menyusul Cindy, keduanya terus berjalan beriringan menuju kantor guru.
"Bapak sakit ya?" Tanya Cindy sambil terus berjalan.
"Nggak!" Jawab Rakes singkat.
"Terus kenapa nggak masuk sekolah? udah hampir seminggu loh bapak nggak kelihatan."
"Hmmm, ada urusan keluarga." Jawab Rakes.
"Oooo, lamaran pak ya?"
"Bukan, hmmmm uma saya dirawat di rumah sakit." Jelas Rakes.
"Oooh semoga cepat sembuh, salam untuk umanya bapak!" Jelas Cindy.
"Terima kasih doanya, InshaAllah nanti bapak sampaikan salamnya."
"Sama-sama pak!" Ujar Cindy.
"Ehh eh...lihat tuh bukannya itu guru Kimia baru? waaah gila! Cindy emang keren, dia bahkan bisa lengket gitu sama pak Rakes." Ujar seorang siswi yang melihat kedekatan Rakes dan Cindy.
Zea yang memang sedang melintas ikut mendengar apa yang baru saja di katakan oleh siswi tersebut, dengan spontan Zea segera mengarahkan pandangannya kearah dimana Rakes dan Cindy sedang berjalan.
"Mau kemana?" Tanya Namira yang memang sedang bersama Zea, keduanya baru saja dari kamar mandi.
"Kamu duluan aja ke kantin, jangan lupa pesankan bakso setan buat aku ya!" Jelas Zea yang segera berlari menghampiri Rakes dan Cindy.
"Pak, bapak di cariin pak Kepsek! beliau meminta saya untuk mengantarkan bapak ke ruangannya!" Jelas Zea yang berdiri tepat di hadapan Rakes.
"Kamu, bukannya kamu anak kelas sepuluh?" Tanya Cindy yang begitu kesal dengan kedatangan Zea.
"Iya, ayo pak saya antar bapak ke ruang kepala, takutnya ntar saya di bilang nggak amanah loh, mari pak!" Jelas Zea.
"Baiklah, Cindy terima kasih ya udah bantu bawakan buku bapak, bapak permisi." Ujar Rakes yang segera mengikuti Zea.
(Sial tuh bocah! ganggu aja, ihh kesal deh! lihat aja aku akan buat kamu nyesal karena merusak momen bahagia aku!) Hati Cindy terus memaki dengan menghentakkan kakinya dengan penuh rasa kesal.
"Zea, ini bukan jalan ke kantor Kepsek loh!" Jelas Rakes yang masih saja mengikuti Zea.
"Bodo amat!" Cetus Zea.
"Ada apa? kamu cemburu?"
"Udah stop, jangan ngikutin aku terus! aku mau makan!" Jelas Zea.
"Loh bukannya tadi kamu sendiri yang minta abang...."
"Sssssssstt! jangan keras-keras, ntar di dengar sama yang lain." Tegas Zea yang segera menatap wajah Rakes.
"Maaf!"
"Aku yang minta maaf! aku jadi menggila tanpa terkendali saat melihat Chim chim barengan sama cewek tadi." Jelas Zea.
"Maaf!"
"Jangan minta maaf terus! aku mau ke kantin dan sekedar informasi, soal di panggil sama pak Kepsek, aku bohong."
"Abang tau! udah sana gih makan, abang kembali ke kantor, Assalamualaikum Jannati." Ujar Rakes pelan dengan senyuman khasnya dan segera melangkah meninggalkan Zea.
"Tuh kan meleleh lagi nih hati, senyumannya aja bikin gerah seketika gimana kalau beraksi langsung klepek-klepek deh!" Ungkap Zea dan segera berlari menuju kantin untuk menyantap bakso favoritnya bersama dengan para pasukan yang memang sudah menunggunya sejak tadi.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ