My Princess

My Princess
#020



"Abang Ro.....ger!" Seru Zea dengan suara terbata-bata.


"Ngapain kamu di kamar abang Rakes?" Tanya Roger sambil melangkah mendekati Zea.


"Aku, hm....aku, hmmmmm!" Ujar Zea kebingungan, dia benar-benar tidak tau harus memberi jawaban apa untuk Roger yang semakin mendekatinya.


Spontan Zea melangkah mundur, membuat Roger kembali mengikis jarak diantara mereka.


"Kenapa? kamu takut ketahuan ya? udah ngaku aja!" Pinta Roger yang kini tepat berdiri di depan Zea dengan hanya berjarak Selangkah.


Zea tidak lagi bisa menghindar karena tubuhnya terhadang dengan meja belajar milik Rakes.


"Aku cuma, aku....aku...!" Zea terus saja mencari alasan apa yang harus dia berikan.


Jarak yang semakin terkikis di antara keduanya membuat Zea segera mengarahkan pandangannya ke lain arah.


"Zea..." Ucap Roger dengan suara yang begitu lembut dan tangan yang perlahan mengusap jilbab pink yang membungkus kepala Zea.


"Kamu tidak perlu menyembunyikan semuanya dari abang, karena abang tau semuanya, abang tau perasaanmu yang sesungguhnya." Jelas Roger dengan mata yang terus menatap wajah jelita milik Zea.


"Abang tau semuanya? sejak kapan?" Tanya Zea yang sedikit merasa lega karena setidaknya Roger tau kalau ia begitu mencintai dan menyayangi Rakes.


"Udah sejak lama, abang hanya tidak ingin membuatmu tidak nyaman, abang ingin memberi kamu waktu dan ruang hingga kamu sendiri yang membuka batas dengan perasaan yang nyaman." Jelas Roger lalu melangkah mundur memberi jarak diantara mereka.


"Terima kasih, karena abang tau perasaan aku yang sebenarnya. Aku bahkan sempat khawatir kalau perasaanku ini justru membuat abang kecewa dan tersiksa, akhirnya aku lega karena abang menerima semua ini tanpa ada hati yang tersakiti."


"Zea, kenapa kamu sibuk mengkhawatirkan hal yang tidak akan pernah terjadi. Kamu tau kan kalau abang sangat mencintaimu, lalu bagaimana mungkin abang akan menolak mu? hanya kamu satu-satunya gadis yang abang sayang dan abang juga tau kalau hanya abang satu-satunya lelaki yang kamu suka, iyakan?" Jelas Roger.


Penjelasan Roger sontak membuat Zea kaget, ia ingin segera menjelaskan semua salah paham diantara mereka, namun setelah mendengar semua curahan hati Roger seakan membuat lidah Zea kelu seketika, ia tidak tau harus mulai menjelaskan dari bagian yang mana, haruskah ia langsung menghantam hati yang ternyata selama ini menanti kehadirannya, atau merusak semua sikap percaya diri Roger yang menyangka bahwa ia mencintainya, bagaimana caranya? Zea benar-benar begitu kebingungan, otaknya tidak bisa bekerja dengan baik.


"Zea, kamu tidak perlu kaget begitu. Abang sudah tau sejak lama kalau kamu memendam rasa untuk abang. Dan satu hal lagi, abang tau kalau sekarang kamu sengaja ke sini untuk menemui abang kan? tante El pasti mengatakan padamu kalau abang datang, iya kan? kamu pasti begitu merindukan abang, maaf karena membuatmu harus menahan rindu." Jelas Roger yang kembali mengusap pucuk kepala Zea.


Roger kembali mendekat, ia hendak memeluk Zea, namun dengan cepat Zea menghindarinya. Zea menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Roger, lalu tanpa sepatah katapun Zea langsung keluar dari kamar tersebut.


Setelah menutup kembali pintu kamar Rakes, Zea segera kembali ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Rakes, ketika tangan Zea menggenggam gagang pintu disaat itu pula sebuah suara kembali memanggil namanya namun kali ini suara tersebut berasal dari arah tangga.


"Zea...!"


Zea segera mengarahkan pandangannya kearah tangga, tatapan tajam Zea membuat Rakes berhenti di tempat. Dengan cepat Zea bergegas mendekati Rakes lalu menggenggam erat tangan kanan Rakes dan menarik tangan tersebut untuk ikut bersamanya.


"Zea lepas!" Pinta Rakes.


"Diam!" Pinta Zea yang kembali menatap mata Rakes.


Zea kembali menarik Rakes ke kamarnya, Sesampai di kamar Zea langsung melepaskan tangan Rakes dari genggamannya.


"Ada apa? kenapa menatap abang dengan tatapan seperti itu? apa abang buat salah?" Tanya Rakes yang tidak bisa mengerti dengan perlakuan Zea padanya saat ini.


"Biarkan aku memeluk abang sebentar saja, saat ini aku benar-benar membutuhkan bahu untuk bersandar, sekali saja!" Pinta Zea lalu mendekat kearah Rakes.


"Stop Zea, jangan cari masalah! abang lelah, abang akan ke kamar abang sekarang." Jelas Rakes lalu kembali melangkah mendekati pintu.


"Aku benar-benar tidak tau harus bagaimana menjelaskan semua ini. Aku mencintai abang, sangat mencintai abang. Tapi aku juga tidak ingin melukai hati orang lain, apa yang harus aku lakukan?" Tangis Zea pecah, ia terlihat begitu rapuh.


"Apa yang Roger katakan? kamu baru saja bertemu dengan dia di kamar abang kan?" Tanya Rakes yang kembali menatap Zea yang kini duduk di tepi ranjang dengan tatapan yang menatap kosong ke lantai.


"Tolong sekali aja, usaplah kepala aku, aku hanya ingin abang menghapus jejak tangan abang Roger dari kepala aku? aku....." Keluh Zea dengan air mata yang kian menetes.


Rakes segera mendekat lalu mengusap lembut pucuk kepala Zea.


"Apa yang ingin abang bicarakan?"


"Abang akan memperingatinya!"


"Tentang apa?"


"Tentang hubungan kita."


"Apa abang tau kalau tadi abang Roger secara tidak langsung menyatakan perasaannya padaku. Selama ini dia menganggap kalau aku mencintainya." Jelas Zea dengan pandangan yang kini beralih menatap punggung Rakes yang berdiri membelakangi dirinya.


"Abang tau semuanya Zea. Bahkan Roger berulang kali mengatakannya pada abang, kalau kamu sangat mencintai begitu juga sebaliknya, abang tau semuanya. Sekarang giliran abang yang harus menegaskan padanya, bahwa orang yang kamu cintai bukanlah dia tapi abang, karena pada akhirnya hanya abang yang boleh memiliki kamu seutuhnya." Jelas Rakes.


"Serius? apa abang benar-benar akan mengatakannya?"


"Hmmm, Zea tetaplah berdiri di samping abang, karena abang mencintaimu bahkan setelah raga kita berada di dunia yang berbeda."


"Terima masih karena telah mencintai aku dengan cinta yang begitu kuat dan tangguh. Aku janji, hanya tangan Abang yang akan aku genggam bagaimanapun alur yang harus kita tempuh, karena hanya Zea yang boleh memiliki Chim chim!"


"Chim chim? siapa?" Tanya Rakes bingung dan segera mengalihkan pandangannya kembali kearah dimana Zea masih duduk.


"Pacar aku!" Jawab Zea tersenyum manja.


"Sejak kapan nama abang jadi Chim chim?"


"Sejak saat ini, itu nama panggilan sayang aku buat abang? kalau abang mau memanggilku dengan sebutan apa?"


"Nggak! jangan panggil abang dengan panggilan aneh itu."


"Aneh gimana sih? itu panggilan termanis, Chim chim!"


"Zea....!"


"Chim chim!" Seru Zea dengan senyuman manisnya yang memamerkan lesung pipi di pipi bagian kanannya, lesung pipi yang akan terlihat sempurna ketika ia berdiri bersebelahan dengan Iqbal lalu sama-sama tersenyum lebar, Iqbal pemilik sisi kiri dan Zea sisi kanan, lesung pipi yang bahkan membuat semua sanak keluarga takjub dengan hubungan ayah anak tersebut, tidak hanya sifat dan watak tapi segala hal antara Zea dan Iqbal terlihat sama.


"Zea...." Gumam Rakes kesal.


"Chim chim hanya milik Zea, sekarang dan selamanya. Aku sayang Chim chim"


"Jannati!" Ujar Rakes.


"Jannati??" Ulang Zea sambil mengernyitkan dahinya tak mengerti


"Surgaku, tidurlah! abang akan menyelesaikan semua salah paham diantar kita bertiga. Assalamualaikum, Jannati!" Jelas Rakes dan segera keluar dari kamar Zea.


"Waalaikumsalam, Chim chim!" Ujar Zea setelah Rakes menghilang dari hadapannya.


Mendapat perlakuan manis dari Rakes membuat wajah Zea merah sempurna. Ada rasa malu yang bercampur bahagia yang kini bersarang di hatinya, ia benar-benar terbuai dengan segala hal yang melekat pada sosok Rakes, bahkan Rakes sukses membuat dirinya mabuk kepayang.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya 😉😉


Stay terus sama My Princess 😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️