
Zea terlihat begitu sibuk memasukkan semua buku-buku yang berserakan di meja ke dalam ransel, ia terlihat begitu buru-buru bahkan buku yang ia masukan bukannya masuk tapi malah terjatuh dibawah kolom meja.
"Haissssh dasar buku-buku tidak berprikebukuan! orang lagi buru-buru malah kalian ajak berantem segala, ishhh!" Gumam Zea kesal dengan tangan yang menghentakkan ransel ke atas meja.
Ulah Zea cukup membuat gelas pensil terjatuh hingga membuat semua pulpen dan pensil berjatuhan ke lantai.
"Mati aku, udah setengah tujuh pula, bakal di gantung sama bu Susi!" Gumam Zea.
Zea langsung merunduk lalu masuk ke kolom meja untuk mengambil buku yang tadi ia jatuhkan.
"Zea, ngapain?" Tanya Rakes yang melihat Zea masih di bawah kolom meja sana.
"Main bola!"
"Oooo main bola, semoga menang!" Ujar Rakes dengan senyum.
"Chim chim, tolongin!" Pinta Zea sembari menunjukkan kearah pensil dan pulpen yang berserakan di lantai.
"Apa kamu ngajak gulat meja? sampai semua barang-barang di atas meja berceceran ke lantai." Ujar Rakes yang langsung mengutip semuanya.
Zea segera bangun lalu berlari ke depan cermin untuk memakai jilbabnya. Mata Zea kembali mencari sesuatu ke sana-sini dengan tangan yang masih memegang bagian jilbab di bagian lehernya.
"Sini!" Pinta Rakes.
Rakes langsung mengambil alih jilbab Zea lalu memasangkan peniti di sana, di susul dengan memasang peniti di bagian kedua ujung jilbab yang terulur menutupi dadanya.
"Ada lagi yang bisa abang bantu?"
"Kaos kaki!" Jelas Zea sambil mengangkat rok sekolahnya memamerkan kedua kakinya yang mengenakan kaos kaki yang berbeda.
Tangan Rakes langsung melepas kedua kaos kaki tersebut.
"Turunlah sarapan, abang akan cari pasangannya."
"Terima kasih!" Ucap Zea yang langsung mengecup pipi kanan Rakes lalu segera berlari ke luar.
"Macam macam tingkah mu Zea! sampai kaos kaki berbeda pun kamu pakai!" Ujar Rakes sambil menepuk Jidatnya lalu kembali mencari kaos kaki sang istri tercinta.
_______________
"Uma, ayah!" Seru Zea yang langsung duduk disamping Elsaliani.
"Rakes mana?" Tanya Iqbal.
"Masih siap-siap!" Jelas Zea yang langsung melahap roti yang ada di hadapannya.
"Terus kamu nggak bantuin dia? Zea, kamu itu istrinya harusnya kamu yang siapkan semua keperluan dia." Jelas Elsaliani.
"Uma, abang Rakes serba bisa, yang ada kalau Zea yang bantu bukannya lebih cepat eh malah bakal lebih ribet." Jelas Zea.
"Dasar istri durhaka!" Cetus Iqbal.
"Ayah apa-apaan sih? ayah tersayang, abang Rakes itu cowok mandiri, semua bisa dia lakukan sendiri, bukan seperti ayah yang apa-apa harus uma yang bantuin, sampai masangin tali sepatu aja harus uma yang lakuin." Jelas Zea dengan nada yang berusaha menggoda Iqbal.
"Biarin, suka-suka ayah dong, kan ayah manjanya sama istri sendiri!" Cetus Iqbal.
"Mulai lagi deh perang dunia ke tiga!" Ujar Elsaliani yang memang sudah terbiasa dengan kelakuan dua orang tersebut.
"Nih kaos kakinya!" Ujar Rakes yang baru saja bergabung di meja makan sambil membawa sepasang kaos kaki yang berwarna abu-abu.
"Ahhhha! jadi cewek kok manja banget sih, masa kaos kaki aja harus di cariin sama suami, entah-entah seragam pun suami yang pakaikan!" Goda Iqbal.
"Biarin, sama suami sendiri pun, nggak masalah dong!" Ujar Zea.
"Harusnya itu istri yang ngurus suami bukan suami yang ngurus istri!" Jelas Iqbal.
"Zea gini juga gara-gara mirip ayah, coba aja kalau mirip uma, pasti bakal mandiri." Seru Zea.
"Eh, kok jadi ayah yang salah?" Protes Iqbal.
"Terus siapa? ayah nggak amnesia kan? darah ayah mengalir kental loh di tubuh Zea!" Jelas Zea.
"Rakes ayo kita pergi, kalau nungguin peperangan ini reda bakal pekak telinga kita." Ujar Elsaliani yang segera bangun dari duduknya.
"Ayo uma, kita sarapan di luar aja!" Jelas Rakes yang juga ikut bangun.
"Sayang!" Panggil Iqbal bersamaan dengan Zea yang memanggil Rakes dengan manja. "Chim chim!"
"Kenapa? udah selesai perangnya?" Tanya Elsaliani.
"Mas minta maaf!" Pinta Iqbal.
"Zea juga minta maaf!" Ujar Zea.
"Selamat pagi!" Ucap Fadhil yang baru saja bergabung di meja makan.
"Ayo sarapan!" Ajak Elsaliani.
"Iya tante." Ujar Fadhil yang langsung mengambil tempat di sebelahnya Rakes.
Semuanya kembali melanjutkan sarapan mereka yang tadi sempat tertunda karena peperangan antara ayah dan anak.
___________________
"Haaaaaaah! aku nggak telat kan?" Tanya Zea sambil membuang nafas kasar karena dari tadi terus berlarian mengejar waktu.
Zea berhenti di depan ruang guru dimana para sahabat lainnya sudah berkumpul.
"Kita nggak bakal di cincang kan sama bu Susi?" Tanya Bian yang mulai khawatir.
"Udah tenang aja, paling di suruh keliling lapangan doang, yok masuk!" Jelas Rafeal yang langsung mengetuk pintu ruangan tersebut.
"Masuk!" Seru suara dari dalam sana.
Keenamnya bergegas masuk, lalu segera menghadap Susi yang memang sudah berada di meja kerjanya.
Keenamnya langsung berbaris rapi di depan meja Susi. Suasana kantor memang masih sepi hanya beberapa guru saja yang baru datang.
"Bagaimana? apa kalian sudah tau apa kesalahan kalian?" Tanya Susi.
"Tidur saat jam pelajaran." Jelas Zea.
"Bicara saat guru sedang menjelaskan materi!" Jelas Namira.
"Lain lagi?" Tanya Susi.
"Nggak ada!" Jawab Bian yang langsung mendapat tatapan horor dari kelima temannya.
"Maaf!" Pinta Bian yang paham dengan tatapan yang lainnya.
"Kesalahan kalian yang paling fatal adalah kalian tidak peka pada sahabat kalian sendiri." Jelas Susi.
"Kurang peka apa bu? kami ini soulmate, ikatan batin kami kuat, kurang peka di mana coba?" Jelas Taufan.
"Masih belum paham dengan ucapan ibu?" Tanya Susi.
"Udah ibu to the poin aja lah!" Pinta Bian.
"Bu, kami mengaku salah! tolong katakan dimana salah kami, kami akan memperbaikinya." Jelas Rayyan
"Salah kalian adalah kalian diam ketika teman kalian tidur, dimana solidaritas kalian? harusnya kalian tidak membiarkan teman kalian melakukan kesalahan, apa kalian sudah mengerti?" Jelas Susi.
"Iya bu!" Jawab Rafeal yang langsung serentak diikuti oleh yang lainnya.
"Sekarang kembali ke kelas, bersihkan ruangan kelas, jangan ada sampah sedikitpun!" Jelas Susi.
"Baik bu!" Jawab semuanya serentak.
"Oke, pergilah!" Ujar Susi.
"Iya bu, terima kasih, selamat pagi!" Ujar Rayyan yang langsung bergegas keluar dengan diikuti oleh kelima sahabatnya
________________
"Zea, boleh kita bicara sebentar?" Tanya Rayyan ketika semuanya sedang berjalan keluar kelas, karena memang bel pulang baru saja berbunyi.
"Oke, bicaralah!" Pinta Zea.
"Kalau gitu kami duluan, ayo pulang!" Ujar Rafeal yang langsung merangkul yang lainnya untuk ikut bersamanya.
"Bey Zea, sampai jumpa besok!" Ujar Namira dengan senyuman.
"Bey, jaga Namira dengan baik, kalau sampai kalian macam macam nih tinju bakal melayang." Tegas Zea.
"Siap Bigbos!" Jawab Bian, Taufan dan Rafeal hampir bersamaan lalu keempatnya segera meninggalkan Rayyan bersama Zea.
"Mau bicara apa?" Tanya Zea.
"Maaf!" Pinta Rayyan yang langsung membuat langkah Zea terhenti.
"Untuk apa?"
"Untuk semua kelakuan kasar aku, aku salah, saat itu aku benar-benar cemburu hingga aku tidak bisa mengendalikan diriku. Aku janji aku akan menghapus perasaan ini untuk mu, kita sahabat selamanya." Jelas Rayyan.
"Aku senang akhirnya Rayyan yang bijak dan baik hati kembali lagi!" Ucap Zea dengan wajah yang begitu bahagia.
"Ayo pulang!" Ajak Rayyan.
"Ayo!" Ujar Zea.
"Zea tunggu!"
"Ada apa?"
"Coba lihat! bukannya yang sedang berjalan disamping kepala sekolah itu Rakes?"
"Abang Rakes?"
"Iya, itu memang Rakes." Jelas Rayyan ketika wajah Rakes terlihat Jelas.
"Kenapa abang disini? lebih dari itu, kenapa dia bersama kepala sekolah?" Tanya Zea yang masih menatap kearah dimana Rakes dan kepala sekolah berada.
"Tugas kuliah kali, ayo pulang! sudah lama kita nggak pulang bareng." Ajak Rayyan.
"Ayo pulang!" Ujar Zea yang langsung ikut pulang bersama Rayyan.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ