
"Abang Marvel...." Panggil Kania pelan dengan mata yang terus menatap dalam wajah Marvel yang terlihat masih begitu khawatir.
"Kenapa? apa ada yang sakit?"
"Aku baik-baik saja. Maaf karena telah membuat abang khawatir!"
"Harusnya abang yang minta maaf. Maaf karena abang tidak bisa menjaga mu dengan baik!" Jelas Marvel dengan kepala tertunduk.
"Abang...."
"Hmmmmm!"
"Berhentilah menangis!" Ucapan Kania malah membuat Marvel semakin tidak bisa menahan tangisannya.
"Abang, abang nggak tau jika saja Rafeal tidak muncul di sana, memikirkannya saja membuat abang gila! jika saja sesuatu yang buruk terjadi pada kalian bertiga, abang.....abang....." Penjelasan Marvel terhenti karena ia terus berusaha menahan isak tangisnya.
"Jangan lagi menyalahkan diri abang, lagi pula kami bertiga tidak ada yang terluka parah. Berhenti menangis, atau abang ingin melihat aku ikut menangis?"
"Tidak...." Tegas Marvel yang berusaha menghapus air matanya.
"Kania....." Panggil Angel yang baru saja datang.
Angel dan Hendra langsung mendekati ranjang tempat dimana Kania berbaring. Keduanya segera memastikan keadaan sang putri tercinta, tangis Angel pecah saat melihat lebam di wajah Kania. Marvel sedikit menjauh memberikan Angel dan Hendra ruang yang cukup untuk ketiganya berbagi rasa.
Angel dan Hendra yang begitu panik dengan keadaan Kania membuat mereka tidak merasakan akan hadirnya Marvel di ruangan tersebut, perlahan Marvel semakin menjauh lalu keluar dari ruang rawat Kania.
Dengan kepala yang masih tertunduk Marvel terus melangkah menelusuri lorong rumah sakit hingga akhirnya ia memutuskan untuk duduk di kursi tunggu yang saat ini sedikit sepi dari biasanya.
"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri!" Seru Rafeal yang langsung duduk di samping Marvel.
"Kamu? kenapa disini? bagaimana dengan luka mu?" Tanya Marvel.
"Udah tenang, aku belum mati, aku baik-baik aja." Jelas Rafeal yang langsung menghentikan tangan Marvel yang mencoba mengecek bagian tubuhnya yang terluka.
"Dimana Ana?"
"Lagi ngurusin biaya rumah sakit. Gimana keadaan Kania?"
"Baik, dia sedang bersama tante Angel dan om Hendra."
"Syukurlah!"
"Terima kasih karena sudah menyelamatkan mereka berdua!"
"Terima kasih doang? paling nggak traktir makan di restauran mewah kek!" Canda Rafeal.
"Aku serius, terima kasih karena sudah menyelamatkan dua wanita berharga ku!"
"Hmmmmm, lagi pula mereka berdua juga tanggung jawab aku kan? mereka adalah orang penting dalam hidupmu maka itu artinya mereka juga keluarga aku!" Jelas Rafeal.
"Aku tau, kalau kamu juga menyayangi mereka berdua, terima kasih untuk semua itu!"
"Pasti dong, aku sayang banget sama Kania...eh iya aku sayang banget sama Kania dan Mariana, mereka sudah aku anggap sebagai adik-adik aku!" Jelas Rafeal.
"Aku tau!" Ujar Marvel dengan senyuman dan langsung merangkul bahu Rafeal.
"Ternyata ada di sini rupanya!" Seru Rakes yang baru datang dan langsung bergabung dengan kedua sahabatnya.
"Gimana? apa semuanya udah beres?" Tanya Marvel.
"Tentu!" Tegas Rakes bangga.
"Good job!" Seru Rafeal lega.
"Apa lukanya baik-baik aja?" Tanya Rakes.
"Tentu!" Seru Rafeal dengan gelak tawa.
(Rafeal, sampai kapan kamu akan menyembunyikan perasaanmu? sebenarnya hati kamu terbuat dari baja atau apa? kenapa kamu begitu baik pada ku, kamu bahkan memendam rasa dalam diam hanya karena aku juga mencintai wanita yang sama dengan mu, kamu bahkan lebih berhak memilikinya dari aku, tapi kenapa kamu bersikap seolah semuanya baik-baik saja, apa yang harus aku lakukan? aku tidak ingin terus membuat mu terluka! maafkan aku, maaf, karena aku juga mencintai Kania) Bisik hati Marvel dengan mata yang terus menatap sosok Rafeal yang saat ini bahkan tertawa lepas bersama Rakes, seolah tidak terjadi apapun, semuanya baik-baik saja.
"Ayo ke ruang rawat Kania!" Ajak Mariana yang baru saja datang menghampiri ketiganya.
"Ayo!" Jawab Marvel, Rakes dan Rafeal dan ketiganya secara bersamaan bangkit dari kursi lalu lekas mengikuti Mariana menuju ruangan dimana Kania di rawat.
Pelan-pelan Rakes membuka pintu kamarnya lalu menutupnya kembali, Ia terus melangkah menuju tempat tidur tepat dimana Zea sedang tertidur dalam posisi tidur miring menghadap kearah jendela. Rakes melepas jaketnya lalu perlahan berbaring di samping Zea, tangan Rakes dengan lembut menyentuh perut Zea lalu mencoba untuk memeluknya dari arah belakang. Rakes membenamkan wajahnya di leher Zea, lalu menangis di sana.
Rakes terus berusaha menahan tangisannya namun ia sama sekali tidak bisa, entah apa yang terjadi tangisannya malah terdengar semakin memilukan hingga pada akhirnya membuat Zea terbangun.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Zea dengan suara sedikit parau lalu tangannya mencoba untuk mengusap lembut tangan Rakes yang memeluknya.
"Hmmmmmm!" Ujar Rakes disela-sela tangisnya.
"Tenanglah, semuanya pasti akan membaik seperti sediakala." Ujar Zea.
"Zea...."
"Iya..."
"Ternyata selama ini abang salah!" Ungkap Rakes.
"Salah?" Tanya Zea yang memang tidak mengerti dengan apa yang Rakes katakan.
"Hmmmmm, abang kira tidak ada siapapun yang mencintai seseorang sebagaimana yang abang lakukan, tapi ternyata abang salah, cinta abang bahkan tidak sebanding dengan cinta yang dia berikan untuk gadis yang dia cintai!" Jelas Rakes.
Zea mengubah posisi tidurnya, ia kini menghadap Rakes.
"Siapa yang sedang Chim chim ceritakan?" Tanya Zea dengan tatapan yang begitu serius.
"Rafeal! dia bahkan dengan senyuman melepaskan gadis yang ia cintai untuk lelaki yang ia percaya bisa menjaga gadis itu lebih baik dari yang ia lakukan, dia bahkan terus bertahan dengan cinta dalam diam, dia bahkan melakukannya dengan sangat baik. Abang, abang justru merebut kamu dari Roger!" Jelas Rakes dengan air mata yang kian menetes.
"Aku tau cinta Rafeal memang luar biasa tapi Chim chim juga harus tau kalau cinta Chim chim tidak kalah dari cinta Rafeal. Rafeal melepaskan Kania untuk abang Marvel, karena dia tau abang Marvel baik, abang Marvel akan mengorbankan segala yang ia miliki untuk melindungi Kania. Sedangkan abang Roger, dia tidak sama seperti abang Marvel, mungkin jika Chim chim melepaskan aku untuknya aku justru tidak akan pernah bahagia, aku tidak akan seberuntung Kania." Jelas Zea yang langsung memeluk Rakes lalu membenamkan wajahnya di dada kekar Rakes.
"Jangan pernah berfikir ada orang yang lebih mencintaiku dari Chim chim, karena aku tidak butuh siapapun lagi selain Chim chim!" Tegas Kania.
"Abang sayang kamu, Jannati!" Ucap Rakes lalu mengecup lembut kepala Zea.
"Apa yang terjadi dengan Kania?"
"Besok kita jenguk dia di rumah sakit."
"Apa yang terjadi? apa dia terluka?" Tanya Zea panik.
"Tenanglah, semuanya baik-baik saja, hanya sedikit luka ringan, setelah dirawat selama dua atau tiga hari juga bakal sembuh. Jangan khawatir, Kania beruntung karena memiliki Marvel dan Rafeal." Jelas Rakes.
"Hmmmmmmm!" Ujar Zea lalu mengangguk paham.
"Maaf kerena abang membuatmu dan Raze Junior terbangun di tengah malam!"
"Alih-alih minta maaf, aku lebih suka kalau chim chim tanggung jawab."
"Maksudnya?"
"Ya tanggung jawab...." Goda Zea yang mulai menggerakkan jemarinya menuju dinding beton sang suami.
"Zea...." Ujar Rakes saat tangan Zea terus merayap di seluruh dinding betonnya.
"Oke, kalau dinding beton nggak boleh, kotak-kotak pun jadi!" Seru Zea yang segera memindahkan tangannya ke dada Rakes.
"Tidurlah! jangan menggoda abang terus-menerus." Ujar Rakes sambil menyentuh kepala Zea.
'Cup' Zea melakukannya dengan begitu cepat lalu kembali membenamkan wajahnya di dada Rakes.
"Good night!" Ujar Zea.
"Good night My Princess!" Ucap Rakes lalu mencoba memejamkan matanya, keduanya tertidur lelap melewati malam yang begitu melelahkan.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊
Stay terus sama My Princess😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️