
Kedua mobil yang membawa tim pasukan Rakes dan juga Roger berserta Fadhil berhenti di sebuah gedung kumuh, tidak hanya sepi dan gelap gedung tersebut bahkan di pasang dengan garis polis.
Roger dan Fadhil di seret keluar dari mobil, bersamaan dengan Rakes, Rafeal dan Marvel yang keluar dari mobil sang komandan.
"Ini bukan markas, lantas kemana kita semua akan dibawa?" Tanya Rafeal setengah berbisik pada kedua sahabatnya yang berdiri menghimpit dirinya.
"Sepertinya kita sedang syuting!" Jelas Rakes yang sedikit mulai lega karena melihat Roger baik-baik saja.
"Bawa mereka berdua masuk! kalian bertiga juga ikut!" Perintah sang komandan.
"Siap laksanakan!" Tegas Rafeal, Rakes dan Marvel serentak bahkan mereka berdiri tegak dan sigap.
Semua pasukan ikut masuk, tanpa protes mereka terus mengikuti langkah sang kapten yang memandu mereka menuju atap dari bangunan tersebut.
Setelah menjejakkan kaki di atap sana, seketika mata mereka disilaukan oleh cahaya yang mengarah kearah mereka.
"Tuan Jordan!" Ujar Rakes saat melihat siapa yang sedang menunggu mereka di atap.
"Komandan? apa ini? apa yang sedang kalian rencanakan?" Tanya Marvel yang mulai emosi karena di atap tidak hanya ada Jordan dan para pengawalnya tapi juga ada Lestari sang tahanan yang harusnya mendekam di penjara.
"Apa komandan merencanakan sesuatu?" Tanya Rafeal.
"Apa apaan ini? apa yang kalian lakukan?" Tanya Fadhil penuh amarah.
"Bukankah ini yang kamu mau?" Tanya Roger.
"Dasar pengkhianat!" Cela Fadhil.
"Kamu pikir aku tidak tau kalau kamu sedang menjadikan ku sebagai umpat untuk memburu abang dan kakak ipar ku!" Jelas Roger.
"Kenapa sekaget itu?" Tanya Iqbal yang baru saja tiba dan ia langsung mendekati Fadhil.
"Roger!" Gumam Fadhil semakin kesal.
"Kamu lupa sesuatu Fadhil, kamu lupa kalau ikatan darah itu mengalahkan segala ambisi dan amarah! kamu ingin membuat Rakes dan Roger saling membunuh kan? dan sayangnya mereka tidak akan pernah melakukan itu, mereka berbeda dengan mu dan mama mu!" Jelas Iqbal dengan tatapan horor.
"Roger!" Ujar Rakes yang perlahan melangkah mendekati Roger.
"Maafkan aku abang!" Pinta Roger.
"Kenapa minta maaf, seharusnya sejak awal abang terus melindungi mu!" Ujar Rakes yang langsung mendekap erat tubuh Roger.
"Bajingan!" Gumam Fadhil bersamaan dengan tangannya yang langsung mengarah pada Rakes.
sebuah pisau yang entah di mana Fadhil sembunyikan, seketika langsung menancap di punggung Rakes, membuat tubuh Rakes ambruk kedalam pelukan Roger.
"Bajingan!" Gumam Marvel yang langsung menyerang Fadhil.
Iqbal yang berdiri di dekat Fadhil pun langsung menghadang Fadhil dan membuat Fadhil berada di bawah kendalinya.
"Iqbal, lepaskan dia!" Teriak Lestari yang berada dibawah sandraan pengawal Jordan.
"Rakes!" Panggil Rafeal khawatir.
"Abang, abang....!" Panggil Roger yang sudah di penuhi dengan air mata.
"Tenanglah, aku baik-baik saja!" Jelas Rakes dengan terus memamerkan senyumannya.
"Sebaiknya kita pergi dari sini!" Jelas Sang komandan.
"Aku sudah meminta Angel dan pasukannya datang, kalian semua pergilah, biar aku yang urus mereka semua!" Jelas Hadi.
"Cepat bawa Rakes ke rumah sakit!" Teriak Jordan yang begitu marah saat sang cucu terluka.
Dengan cepat Roger dan Rafeal langsung membawa Rakes bersama, dengan diikuti oleh sang komandan dan juga Jordan berserta para pengawalnya.
"Jika sesuatu terjadi pada Rakes maka aku akan membunuhmu!" Gumam Marvel penuh amarah dengan tinju yang terus ia tahan.
"Marvel pergilah, biar papa yang bereskan mereka berdua." Jelas Hadi.
"Tapi....." Keluh Marvel.
"Papa janji kalau mereka akan menebus semua perbuatan mereka terhadap keluarga kita!" Jelas Hadi.
"Kamu percaya sama om kan? dan kamu juga tau betul kalau mereka juga musuh om, om tau perasaan mu, om juga tau betul apa yang harus om lakukan!" Tegas Iqbal.
"Baiklah, aku percaya sama papa dan pak Iqbal." Jelas Marvel dan lekas pergi.
"Iqbal, lepaskan anak ku!" Gumam Lestari yang kini berada dalam kukungan Hadi.
"Anak? kamu yakin dia anak mu?" Tanya Iqbal.
"Diam kamu bajingan! dasar tukang selingkuh, pengkhianat!" Cela Lestari.
"Ma...!" Ujar Fadhil.
"Jika memang kamu benar seorang ibu, kamu tidak akan pernah mejadikan anak mu sebagai alat untuk pembalasan dendam mu, kamu bahkan lebih mengerikan dari seorang monster!" Jelas Hadi.
"Monster? kalian yang mengubah aku menjadi monster!" Gumam Lestari.
"Ternyata penjara sama sekali tidak membuat mu jera, maka aku tidak akan mengirim mu ke sana lagi!" Jelas Iqbal.
"Apa rencana mu? apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Lestari yang mulai ketakutan.
"Fadhil, buatlah pilihan yang bijak, ikut mama mu atau mulai dari awal bersama om?" Jelas Hadi.
"Apa maksud mu?" Tanya Lestari.
"Bukankah abang Hadi menawarkan pilihan yang tepat? demi masa depan anak mu, agar dia tidak hidup sebagai anak dari seorang pembunuh!" Jelas Iqbal.
"Harusnya kalian membunuh ku setelah apa yang telah aku lakukan? kenapa malah menawarkan aku kehidupan yang layak?" Tanya Fadhil.
"Kami tidak sebusuk mama mu!" Jelas Iqbal.
"Tidak Fadhil mereka hanya ingin menjebak mu! sama halnya dengan apa yang mereka lakukan pada mama beberapa tahun lalu!" Jelas Lestari.
"Lestari! apa sampai akhir kamu akan tetap menjadikan anak mu sebagai tumbal?" Gumam Iqbal yang semakin emosi.
"Fadhil!" Gumam Lestari.
"Aku tidak ingin hidup seperti mama, mama juga tidak mau aku melakukan hal yang sama seperti mama kan? aku tidak ingin jadi anak yang merenggut nyawa orang tuanya sendiri, maafkan aku ma!" Jelas Fadhil yang sudah berlinang air mata.
"Fadhil!" Gumam Lestari semakin emosi.
"Iqbal bawalah Fadhil pulang, serahkan ia pada Erina, biar abang yang urus Lestari!" Jelas Hadi.
"Nggak bang, aku yang akan menamatkan cerita ini, aku yang akan menghukumnya!" Jelas Iqbal.
"Nggak Bal, abang yang akan melakukannya, kali ini percayalah sama abang!" Jelas Hadi.
"Tapi...." Keluh Iqbal.
"Serahkan dia pada kami, dia tahanan kami!" Jelas Angel yang baru datang bersama Hendra, Mikeal, Alam, Luqman dan juga dua orang bawahan Angel.
"Biar Angel yang urus, ayo buat laporan tentang kejadian ini!" Jelas Luqman.
"Kenapa kalian bisa muncul disini?" Tanya Iqbal.
"Tuyul kali muncul! ayo pulang, jangan sampai kita harus menulis laporan sepanjang jalan tol!" Jelas Hendra.
"Menulis! bukankah kita punya jurnalis!" Jelas Iqbal yang langsung berlalu dengan membawa serta Fadhil.
"Dasar licik!" Cela Mikeal.
"Selamat menjalankan tugas!" goda Hendra.
"Ciiih!" Cetus Mikeal.
"Aku kembalikan tahanan mu, aku harap kamu bisa menghukumnya dengan hukuman yang tepat!" Jelas Hadi lalu menyerahkan Lestari pada bawahan Angel.
"Pasti!" Jelas Angel.
"Sayang aku pamit, selamat berkerja!" Jelas Hendra dan menyusul Hadi.
"Ayo pulang!" Ajak Luqman lalu merangkul Mikeal.
"Haiiiiiissss!" Gumam Mikeal kesal namun tetap mengikuti langkah Luqman.
"Bawa dia ke mobil!" Perintah Angel.
"Biak buk!" Jawab keduanya.
Lestari langsung dibawa ke mobil dengan di susul oleh Angel.
____________________
"Kenapa menatap ku seperti itu?" Tanya Rakes saat perlahan membuka mata dan menatap sekeliling ranjangnya yang di kelilingi oleh Rafeal, Marvel, Roger, Zea, Lexel dan Andika yang terus menatap pada dirinya.
"Jelaskan semuanya!" Pinta Rafeal yang langsung menyentuh wajah bingung Rakes.
"Aaah lukanya, tenang aja sudah baikan kok." Jelas Rakes.
"Apa abang sedang becanda?" Tanya Roger.
"Abang serius!" Tegas Rakes.
"Bicara sebelum aku menarik lidah mu keluar!" Gumam Marvel yang mulai kesal.
"Jangan membuat ku takut!" Jelas Rakes.
"Jangan becanda!" Ujar Lexel.
"Kalian kenapa? kenapa seolah aku sedang diintrogasi?" Tanya Rakes.
"Pak, sebenarnya...." Penjelasan Andika tertahan.
"Zea, kenapa mereka jadi begini?" Tanya Rakes.
"Haissssss! sampai kapan kamu akan merahasiakan soal darah mu pada kami semua?" Gumam Rafeal yang tidak lagi bisa menahan diri.
"Bukan aku, dokter yang bicara pada mereka semua!" Jelas Zea saat Rakes terus menatapnya.
"Sebaiknya besok dilanjutkan lagi, biarkan pak Rakes istirahat!" Jelas Andika mencoba melerai keadaan.
"Nggak!" Tegas Marvel, Rafeal, Roger dan Lexel serentak yang justru membuat suasana semakin mencengkam.
"Bukankah seharusnya kita meminta penjelasan dari Roger?" Tanya Rakes yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Aku akan bicara setelah abang cerita!" Jelas Roger.
"Buruan!" Desak Rafeal.
"Udah cukup! keluar! suami aku butuh istirahat!" Jelas Zea.
"Zea...." Ujar Rafeal dan Marvel serentak.
"Terserah kalian lah, aku ngantuk!" Jelas Zea lalu beralih ke sofa.
"Iya aku akan cerita!" Ujar Rakes menyerah.
"Tunggu apa lagi?" Tanya Rafeal tidak sabar.
"Iya, dasar kalian!" Gumam Rakes lalu mulai bercerita tentang keadaan dirinya.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida πππππ