
Meski gerimis perlahan menjadi hujan lebat, membasahi setiap isi bumi, hal tersebut tidak membuat langkah Marvel terhenti, ia terus saja keluar dari mobil miliknya lalu segera berlari memasuki sebuah cafe yang bernuansa klasik. Meski hampir semua kemejanya basah, ia sama sekali tidak peduli, matanya bahkan sibuk mencari seseorang yang begitu ia rindui.
Langkah Marvel terhenti di sebuah meja dekat jendela paling ujung sana, rintik air yang terjatuh dari ujung kemeja dan rambutnya membuat Kania segera bangun lalu mendekati Marvel.
"Abang!" Ujar Kania dengan mata yang masih saja memandangi Marvel dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Maaf, abang telat delapan menit! maaf karena membuat mu menunggu terlalu lama!" Jelas Marvel.
Mata bening Kania terhenti pada wajah Marvel yang masih basah, lalu tangan Kania perlahan mengusap sisa air hujan yang masih menempel pada wajah Marvel.
"Ayo!" Ajak Kania yang langsung menggandeng tangan kanan Marvel.
"Kemana?"
"Pulang!"
"Apa kamu marah?"
"Marah? hmmmmm aku marah!" Jelas Kania.
"Maaf!"
"Apa abang tau kenapa aku marah?"
"Karena abang telat!"
"Abang, aku tidak se-egois itu! Ayo pulang, abang harus ganti baju. Udah tau hujan bukannya di tunda dulu eh malah hujan-hujanan, basah kan jadinya? ayo!" Jelas Kania yang langsung menarik Marvel untuk keluar dari cafe.
Meski hujan sama sekali belum reda, Kania bahkan tidak peduli, ia segera berlari menuju mobil Marvel. Keduanya masuk ke mobil.
"Mau ke rumah abang?" Tanya Marvel setelah menjalankan mobilnya.
"Hmmmmm apa kak Ana ada di rumah?"
"Lagi OTW!"
"Oke, ayo ke rumah abang!" Jelas Kania girang.
"Siap tuan putri!" Jelas Marvel yang langsung meluncur menuju rumah keluarga besar Revtankhar.
______________________
"Katanya udah di jalan tapi kok nggak nyampe-nyampe ya? nyasar kemana sih?" Gumam Mariana yang terlihat kesal.
Tangan kirinya masih menggenggam erat koper pink miliknya sedangkan tangan kanannya sibuk bermain di layar ponsel.
Mariana yang sudah hampir sepuluh menit berdiri di depan bandara terlihat jelas semakin kesal. Ia bahkan sibuk menghubungi sang abang hingga dia tidak sadar jika sejak tadi ada dua lelaki yang terus memantaunya dari kejauhan.
"Sebel! tau gini aku minta di jemput pak Ujang aja, haissssss! kesel!" Gerutu Mariana yang tidak bisa menghubungi Marvel.
Disaat Mariana semakin emosi di saat itu pula kedua lelaki yang tadi memantaunya kini mulai beraksi.
Lelaki yang mengenakan masker hitam perlahan mendekat dari arah dalam bandara sedangkan yang satunya lagi nampak berjalan santai dari arah jalan raya. Keduanya mendekati Mariana dari arah yang berlawanan.
Saat sosok yang muncul dari luar semakin mendekat, tangannya yang sedari tadi berada di dalam saku jaket lalu perlahan ia keluarkan hingga terlihatlah sebilah pisau yang ia genggam erat, sosok yang datang dari dalam pun kian mendekat, di saat keduanya hampir mencapai pada posisi Mariana di saat itu pula sebuah batu kecil melayang tepat mengenai kening lelaki yang datang dari dalam bandara.
"Awwwwww!" Jeritnya kesakitan lalu segera berganti haluan karena Mariana menatap kearahnya.
'Bruuuuk' Sosok tubuh kekar yang menghantap bahunya membuat lelaki yang tadinya hendak mengeluarkan pisau segera menyimpannya kembali.
"Upssss sorrrrry!" Seru Rafeal dengan memasang wajah kaget kerena mendapati orang yang ia tabrak terjatuh di jalan.
Mata tajam lelaki tersebut seolah ingin memakan Rafeal hidup-hidup.
"Aku nggak sengaja!" Jelas Rafeal dengan memamerkan deretan gigi putihnya.
Rafeal segera menghampiri Mariana lalu mengambil alih koper yang ada ditangan Mariana.
"Ayo pulang tuan putri!" Jelas Rafeal dengan suara lantang, Rafeal sengaja meninggikan nada bicaranya agar kedua lelaki tadi mendengarnya.
"Dimana abang Marvel? kenapa kamu yang jemput?" Tanya Mariana namun tetap mengikuti langkah Rafeal.
"Nanti aku jelaskan! sekarang ikut aja permainan ku!" Bisik Rafeal pelan.
"Tuan putri, dayang akan mengawal tuan putri 24x24 jam, full time!" Jelas Rafeal.
"Anak buah yang teladan!" Seru Mariana dan langsung masuk ke dalam mobil.
Rafeal pun segera masuk setelah meletakkan koper ke bagasi.
"Apa kamu punya musuh?" Tanya Rafeal setelah mulai mengemudi.
"Nggak ada tuh!" Jelas Mariana.
"Coba diingat dulu! mereka terlihat jelas ingin mencelakai kamu!" Jelas Mariana.
"Apa jangan-jangan!!" Ujar Mariana menggantung.
"Kenapa? apa kamu ingat seseorang?" Tanya Rafeal yang begitu penuh ambisi.
"Apa mereka pengagum rahasia ku? secara aku kan cantik jelita, kaya raya, berpendidikan, pastinya banyak yang menggilai diriku!" Jelas Mariana.
"Gila!" Gumam Rafeal pelan lalu kembali fokus menyetir.
"Tunggu!" Seru Mariana yang sontak membuat Rafeal kembali serius.
"Apa?"
"Dari tadi kamu terus memanggil aku dengan panggilan 'kamu' hello aku jauh lebih tua dari kamu, panggil aku kakak, dasar anak SMA!" Jelas Mariana.
"Dasar bocah nggak sopan!" Gumam Mariana.
"Iya, iya, iya kak Mariana Revtankhar. Puas!" Seru Rafeal kesal yang begitu ingin memamerkan tahun lahirnya namun sebisa mungkin ia tahan, ia tidak ingin semua yang sudah tenang tiba-tiba kembali kacau.
"Back ke cerita semula, kenapa kamu yang jemput? dimana abang Marvel?" Tanya Mariana.
"Aku cuma menuruti perintah tuan muda, kan tuan muda OTW kencan sama sang pujaan hati!" Jelas Rafeal.
"Hmmmmmm gitu rupanya, semoga kencan mereka lancar dan menyenangkan!" Ujar Mariana penuh harap.
"Lalu bagaimana dengan kencan kita?" Tanya Rafeal.
"Kita? maksudnya aku sama kamu? ihhh amit-amit, aku nggak selera sama brondong!" Cetus Mariana.
"Siapa juga yang mau sama tante rempong!" Gumam Rafeal.
"Ngajak berantem!" Cetus Mariana yang langsung mendorong kepala Rafeal.
"Dasar!" Gumam Rafeal yang hendak membalas perlakuan Mariana namun segera ia urungkan.
Rafeal kembali fokus menyetir sedangkan Mariana akhirnya berdiam diri menikmati perjalanan pulang mereka.
____________________
"Indah banget!" Seru Zea yang begitu takjub akan pemandangan di sekitar.
Hamparan pepehonan dengan dedaunan yang bernari riang mengikuti irama angin membuat suasana semakin nyaman di tambah dengan deretan bukit-bukit tinggi yang begitu memanjakan mata setiap kali memandangnya.
"Ayo masuk!" Ajak Rakes saat keduanya keluar dari mobil.
"Ini villa Chim chim?" Tanya Zea saat mendapati sebuah villa nan megah tepat di depan mata.
"Punya papa!" Jelas Rakes yang langsung membawa semua belanjaan mereka lalu segera membukakan pintu.
"Tempatnya indah banget, jadi pengen lama-lama berada di sini!" Jelas Zea lalu mengikuti Rakes yang telah lebih dulu masuk.
"Mau istirahat dulu atau langsung jalan-jalan?" Tanya Rakes saat keduanya berada di kamar.
"Ayo jalan-jalan!" Ajak Zea yang langsung memeluk lengan kanan Rakes.
"Kalian nggak capek?" Tanya Rakes yang perlahan mengusap perut rata Zea.
"No! tenaga kami masih full. Ayo buruan sebelum matahari terbenam!" Jelas Zea.
"Ayyo!" Ajak Rakes yang langsung berjongkok di depan Zea.
"Kenapa?" Tanya Zea.
"Naiklah! abang akan membawa kalian jalan-jalan!" Jelas Rakes.
"Baiklah!" Ujar Zea dengan senyuman.
Zea langsung naik keatas punggung Rakes.
Dengan terus mengendong Zea, Rakes terus berjalan menelusuri hamparan perkebunan teh yang begitu luas.
"Udaranya sejuk banget!" Ujar Zea sembari mempererat rangkulan kedua tangannya pada leher Rakes.
"Apa kamu menyukainya?"
"Banget!" Seru Zea girang lalu meletakkan dagunya tepat di bagian bahu kanan Rakes.
"Zea...."
"Hmmmm, kenapa?"
"Bagaimana kalau perut kamu semakin membesar?"
"Bagus dong! itu tandanya Raze Junior akan segera hadir di tengah-tengah kita!"
"Lalu bagaimana dengan sekolah mu?"
"Sebenarnya apa yang Chim chim khawatirkan?"
"Tidak ada! hanya saja.....!" Rakes menggantungkan ucapannya.
"Saat ini prioritas utama dalam hidup aku adalah Raze Junior dan Chim chim, selebihnya aku nggak peduli!" Jelas Zea.
Zea sedekit mengangkat wajahnya lalu mengecup pipi kanan Rakes di saat yang bersamaan pula seorang gadis muncul tepat di hadapan keduanya.
Rakes menghentikan langkahnya, Zea pun cepat-cepat menghentikan aksinya.
"Rakes!" Seru gadis tersebut girang dan senyuman merekah penuh bahagia.
"Naina!" Ujar Rakes.
"Zea, ini Zea kan? adik kesayangan kamu, aku ingat banget senyuman dia. Jadi ingat waktu kecil dulu, kamu ingatkan pas keluarga besar kamu liburan kesini, udah lama banget! waktu itu kamu masih di gendong Rakes dan sekarang pun masih sama. Padahal tahun telah banyak berganti, tapi kalian masih saja terlihat seperti dulu." Jelas Naina panjang lebar membuat Zea dan Rakes terdiam membisu mendengar semua cerita yang masih begitu melekat dalam ingatan Naina meski waktu telah lama berlalu.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊
Stay terus sama My Princess😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️