
Suara lantang Rafeal cukup membuat yang lainnya kaget apa lagi saat ini mereka sedang menikmati makanan mereka di sebuah Resto yang tidak terlalu jauh dari danau.
"Harus!" Tegas Zea yang bahkan bangun dari kursinya.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Rakes.
"Nggak ada!" Jawab Zea dan Rafeal serentak.
"Apa yang sedang kalian coba lakukan?" Tanya Marvel yang ikut khawatir dengan apa yang sedang direncanakan oleh kedua mantan sahabat tersebut.
"Tidak ada izin untuk kalian berdua, aku tau pasti kalian merencanakan sesuatu dengan para club kalian kan? apapun alasannya aku tidak akan mengizinkan kalian berdua, apapun itu!" Tegas Rakes.
"Nggak bisa gitu dong!" Protes Rafeal.
"Kami juga punya privasi kali, lagi pula kami sudah cukup dewasa untuk membuat keputusan!" Jelas Zea.
"Dewasa? siapa yang kalian sebut dewasa?" Tanya Marvel.
"Lalu apa kamu kira kita berdua masih bocah?" Gumam Rafeal kesal.
"Sebenarnya apa yang sedang kalian debat kan?" Tanya Mariana.
"Apa kak Zea dan abang Rafeal merencanakan sesuatu? apa itu balapan?" Tanya Kania.
"Balapan?" Ulang Marvel dan Rakes serentak.
"Wowwww pasti bakal seru banget, aku boleh ikutan nonton kan?" Tanya Mariana penuh semangat.
"Mulai nanti malam pintu rumah akan terkunci rapat, tidak ada satu orang pun yang boleh keluar." Jelas Marvel.
"Kenapa abang Marvel jadi ikut jahat sih?" Tanya Zea.
"Zea, perasaan abang nggak enak, abang takut sesuatu yang buruk terjadi pada kalian!" Jelas Marvel.
"Parno banget sih abang, ayo Zea kita balapan!" Jelas Mariana.
"Nggak ada balapan!" Tegas Rakes.
"Memang sebaiknya kak Zea tidak ikut serta, aku juga khawatir." Jelas Kania.
"Zea, dengarkan aku, kali ini berbeda dengan balapan sebelumnya, aku yakin pasti ada sesuatu yang sedang Dion rencanakan." Jelas Rafeal.
"Dion?" Ujar Marvel.
"Siapa lagi itu, musuh bebuyutan kalian?" Tanya Mariana.
"Aku tau gimana Dion itu, aku mohon kak Zea tidak terusik dengan kata-katanya." Jelas Kania.
"Sudah ayo pulang!" Jelas Rakes yang langsung menggendong Azan dan Uzun lalu lekas ke mobil.
"Tapi aku sudah terlanjur mengiyakan tantangan ini." Jelas Zea.
"Biar abang yang datang, sekarang ayo kita pulang jangan ubah Rakes menjadi ganas." Jelas Marvel dan lekas meninggalkan meja.
"Ayo Kania..." Ajak Mariana dan langsung disambut oleh Kania keduanya membiarkan Rafeal dan Zea berdua.
"Kan sejak awal sudah aku tegaskan, jangan ikut!" Tegas Rafeal.
"Tapi ini akan berdampak besar bagi club kita!" Jelas Zea.
"Berhenti memikirkan tentang harga diri, kita bukan sedang berurusan dengan manusia. Ikuti perintah Rakes, jangan buat dia marah. Ayo pulang!" Ajak Rafeal.
"Baiklah!" Ujar Zea nurut dan keduanya segera keluar dari resto tersebut.
_______________________
"Abang....!" Panggil Zea lalu perlahan melangkah mendekati sosok sang suami yang sedang asyik bermain dengan si kembar tepatnya di atas tempat tidur sana.
"Apa sayangnya Daddy haus? ayo kita minum!" Ujar Rakes yang bahkan mengabaikan Zea yang hendak menyentuh pundaknya.
Sebelum tangan Zea menyentuhnya Rakes telah lebih dulu menggendong Azan dan Uzun ke dalam gendongannya lalu turun dari tempat tidur.
"Maaf!" Pinta Zea dengan kepala tertunduk.
"Ayo sayang kita ke dapur!" Jelas Rakes yang langsung pergi meninggalkan Zea.
Tubuh Zea seketika ambruk dilantai, air matanya pun perlahan menetes.
"Maafkan aku!" Tangis Zea sembari memeluk tubuhnya sendiri.
"Abang....." Panggil Zea saat Rakes kembali masuk namun tanpa Azan dan Uzun.
"Ayo....!" Ajak Rakes dengan mengulurkan tangannya kearah Zea.
"Kemana?" Tanya Zea sambil menatap Rakes yang berdiri di hadapannya.
"Ke arena!" Jelas Rakes yang langsung meraih tangan Zea lalu membantu Zea untuk berdiri.
"Katanya nggak boleh!" Ujar Zea sembari mengusap air matanya.
"Jangan nangis lagi dan juga jangan lagi membuat abang marah." Jelas Rakes lalu menyentuh lembut pipi Zea yang telah dibasahi air mata.
"Maaf!"
"Uzun sama Azan mana?"
"Sama Kania dan Ana! udah, sana gih pakai jilbab!"
"Hmmmmmm!" Ujar Zea langsung menurut
_____________________
"Mau kemana?" Tanya Rafeal saat melihat Marvel sudah lengkap dengan penampilan serba hitam.
"Balapan!" Jawab Marvel singkat.
"Balapan? aku ikut!" Jelas Marvel.
"Nggak!" Tegas Rakes.
"Nggak iya nih! kok cuman aku yang nggak boleh ikutan?" Protes Rafeal.
"Kalau kita semua pergi, terus yang jagain Ana, Kania dan si kembar siapa?" Tanya Zea.
"Haissssh! Marvel aja yang tinggal, biar aku yang balapan!" Tegas Rafeal.
"Emang kamu bisa balapan?" Tanya Zea yang memang kenal betul dengan Rafeal.
"Terserah! Pergi sana dan tak usah kembali lagi!" Tegas Rafeal yang lekas pergi tanpa lagi mau mendengarkan penjelasan yang lainnya.
"Yakin nih nggak mau aku balik lagi? ntar nangis darah loh!" Goda Marvel.
"Ciihhhh! Aku justru bakal senang banget, udah nggak usah pulang lagi!" Teriak Rafeal.
"Dasar maniak!" Cela Zea kesal.
"Apa sebaiknya kita batalkan saja rencana kita?" Tanya Rakes.
"Udah, ayo kita selesaikan semua ini, aku juga udah lelah melayani mereka semua!" Jelas Marvel yang langsung keluar.
"Ayo!" Ajak Zea yang langsung merangkul Rakes lalu mengikuti Marvel yang telah lebih dulu ke mobil.
____________________
"Sayang, kenapa sih? kok tiba-tiba rewel gini!" Gundah Mariana yang terus mencoba menenangkan Uzun yang sejak tadi begitu rewel.
"Sini kak, biar Kania yang tenangin!" Ujar Kania lalu mengambil alih Uzun ke dalam gendongannya.
"Azan mana?" Tanya Mariana.
"Udah tidur sama abang Rafeal!" Jelas Kania.
"Baguslah, untungnya mereka nggak nangis barengan!" Ujar Mariana lega.
"Uzun, anaknya Mama Nia, kenapa sayang? kenapa nangis terus? lapar atau haus?" Tanya Kania khawatir.
"Udah aku kasih susu, tapi dianya nggak mau, tangisnya malah menjadi-jadi!" Jelas Mariana.
"Sini sama abang!" Pinta Rafeal yang baru saja datang lalu mengambil alih Uzun.
"Jagoan papa Rafeal kenapa sih? mau main ya? cup cup cup!" Ujar Rafeal yang terus mencoba menenangkan Uzun.
"Pa pa pa!" Seru Uzun disela sela tangisnya.
"Papa di sini sayang!" Ujar Rafeal lalu mengecup pipi Uzun.
"Pa pa....!" Gumam Uzun yang semakin menjadi-jadi.
"Kenapa tiba-tiba perasaan aku jadi seperti ini?" Ujar Kania yang diiringi tetesan air mata.
"Kania..." Ujar Mariana yang langsung memeluk erat tubuh Kania yang terlihat kian melemah.
"Aku, aku...!" Gundah Kania yang tidak lagi mempu mengendalikan dirinya dengan tubuh yang ambruk di lantai.
"Kania...." Ujar Rafeal yang ikut gelisah.
"Ada apa dengan kalian bertiga? jangan buat aku ketakutan!" Pinta Mariana.
"Awwwwww!" Teriak Rafeal bersamaan dengan suara yang mendengung keras di telinganya.
_________________________
Kruuuuuuuuum.........
Sebuah truk yang entah dari mana munculnya secara tiba-tiba menghantam motor membuat sang pengemudi terhempas melayang lalu di menit berikutnya tubuh tersebut menghantam aspal........
πππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida πππππ