My Princess

My Princess
#156



"Bruuuuuuuuk" Kali ini tinju Iqbal yang mendarat di perut Damar membuat Damar terjatuh ke pojok ruangan.


Kedatangan Iqbal membuat polisi yang bertugas malah menjauh lalu memberi akses untuk Iqbal.


Dengan kasar tangan Iqbal menarik kerah baju Damar lalu menyeretnya paksa untuk ikut bersamanya.


Iqbal melempar tubuh Damar ke dalam sel dimana Lestari di tahan. Tubuh Damar jatuh tepat di hadapan Lestari yang baru saja membuka mata karena kedatangan Iqbal.


"Iqbal...." Ujar Lestari yang bergegas menghampiri Iqbal, lalu tangannya langsung menyentuh tangan kanan Iqbal.


"Lepas!" Tegas Iqbal yang dengan spontan menarik kasar tangan dari genggaman Lestari hingga membuat tubuh Lestari terjatuh ke lantai.


"Iqbal, sayang..." Ujar Lestari pelan.


"Berapa banyak orang yang akan kamu kirim untuk menyakiti keluarga ku? sebenarnya apa yang kamu inginkan dari aku? hubungan kita sudah berakhir sejak kamu mengandung anak dari lelaki lain! dan soal kematian pak Vikram, itu semua ulah mu, itu karena kamu!" Jelas Iqbal dengan suara lantang.


"Kamu menuduh ku selingkuh, kamu membuang aku karena aku hamil dengan lelaki lain, lalu bagaimana dengan diri kamu sendiri, kamu bahkan menikahi wanita lain, kamu bisa bersama wanita cupu itu, lalu kenapa aku tidak bisa melakukannya dengan lelaki lain?" Gumam Lestari dengan amarah yang kian meluap.


"Cukup Lestari! wanita cupu yang kamu hina itu adalah istri sah aku, wanita yang begitu aku cintai, jadi aku mohon berhenti mengganggu keluarga aku, selagi aku memintanya secara baik-baik." Tegas Iqbal.


"Tidak Iqbal. Aku akan terus menghancurkan mereka semua, termasuk Rakes." Jelas Lestari.


"Bukankah kamu menyaksikannya sendiri? kamu ada di lokasi saat itu, aku, aku lah yang membunuh pak Vikram bukan Rakes, lalu kenapa kamu menyeret dia dalam masalah kita?" Jelas Iqbal.


"Lestari, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa ceritanya berbeda?" Tanya Damar yang begitu kebingungan.


"Tanyakan saja pada wanita yang begitu kau cintai itu! kalian akan membusuk di penjara!" Tegas Iqbal dan lekas pergi meninggalkan mereka begitu saja.


"Lestari, jadi selama ini kamu menipu aku? kamu manfaatkan perasaan aku untuk ambisi mu, kamu gunakan aku untuk mendapatkan kembali lelaki yang kamu cintai, tega kamu!" Jelas Damar dengan tatapan yang di penuhi dengan amarah.


"Damar..."


"Cukup Lestari, aku tidak bisa lagi percaya pada satu pun ucapan yang keluar dari mulut mu itu!" Cetus Damar yang terus menjauh dari Lestari.


"Aku hanya ingin balas dendam untuk kematian papa aku, aku hanya ingin kekasih aku kembali, apa aku salah?"


"Kamu gila, bagaimana kamu bisa menyebut suami orang sebagai kekasih mu? terlebih kamu menyeret Rakes dalam masalah ini, dan karena kamu, aku hampir saja membunuh Rakes." Jelas Damar yang begitu frustasi.


"Tapi..."


"Cukup! aku bilang hentikan! aku muak, aku gerah dengan semua ini, tetap di situ dan jangan dekati aku!" Tegas Damar yang langsung membuat langkah Lestari terhenti.


___________________


"Abang.....!" Panggil Zea yang perlahan mendekati ranjang Rakes.


"Zea....!" Ujar Rakes, Erina dan Hadi hampir bersamaan.


"Apa kata dokter pa?" Tanya Zea lalu berdiri di samping Hadi.


"Hasilnya baru akan keluar besok, untuk saat ini Rakes hanya harus istirahat full." Jelas Hadi.


"Zea, jangan berpikir terlalu banyak, semuanya baik-baik saja. Lalu bagaimana keadaan uma mu?" Tanya Erina.


"Uma baik-baik saja ma." Jawab Zea.


"Ayah mu mana?" Tanya Hadi.


"Lagi keluar, katanya ada hal yang harus ayah urus." Jelas Zea.


"Lalu siapa yang jagain uma?" Tanya Erina khawatir


"Mama Tia." Jawab Zea.


"Papa harus pergi!" Jelas Hadi.


"Kemana pa?" Tanya Erina.


"Sayang, abang harus susul Iqbal, dia pasti sedang rencanakan sesuatu." Jelas Hadi dan lekas pergi.


"Hati-hati!" Ujar Erina.


"Ma, aku...." Rakes menghentikan ucapannya saat ia mendapati Zea yang terus saja menatap dalam dirinya.


"Istirahatlah! jangan buat istri kamu khawatir. Zea, mama jenguk uma mu sebentar ya sayang." Jelas Erina.


"Iya ma." Ujar Zea.


Erina lekas keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Rakes bersama sang istri tercinta.


"Zea...." Ujar Rakes pelan.


"Diam lah! jangan katakan apapun!" Tegas Zea lalu sedikit merapikan selimut Rakes.


"Zea..." Ujar Rakes kali ini bersamaan dengan tangannya yang menyentuh lembut tangan Zea yang masih menggenggam selimut.


"Aku bilang berhenti bicara! jangan buat aku marah!" Tegas Zea lalu melepaskan tangannya dari genggaman Rakes.


"Maaf ab....." Zea langsung mengecup bibir Rakes, membuat ucapan Rakes tergantung seketika.


"Cepatlah sembuh! aku ingin kita segera pulang!" Jelas Zea lalu menyentuh lembut wajah Rakes yang terlihat masih syok dengan serangan Zea.


"Zea, percayalah kalau abang baik-baik saja. Luka ini akan segera sembuh, ayo berbaring di sini!"


"Bagaimana kalau aku malah menyentuh luka Chim chim? aku duduk disini aja."


"Ayo buruan!" Desak Rakes.


"Baiklah!"


Perlahan Zea mulai berbaring di sisi kanan Rakes, Setelah tubuh Rakes terbaring sempurna, tangan Rakes langsung mendekap wajah Zea di dada bidangnya.


"Chim chim..."


"Hmmmmmmm"


"Tolong jangan tinggalkan aku dan Raze Junior, aku benar-benar ketukatan! jangan lagi terluka, jangan buat aku marah. Aku, aku takut..." Jelas Zea dengan air mata yang perlahan mulai menetes, tangan Rakes mempererat dekapannya di kepala Zea.


"Maaf, maafkan abang karena membiarkan kamu ketakutan."


"Aku maafkan, tapi jangan ulangi lagi, aku tidak suka!"


"Zea....."


"Hmmmmm."


"Abang, sebenarnya abang...."


"Apa? apa mau kabur lagi dari rumah sakit! jangan harap!" Tegas Zea yang langsung memeluk bahu Rakes.


"Sorry, sorry, aku nggak sengaja!" Jelas Zea yang hendak bangun namun langsung di cegah oleh Rakes.


"Abang masih ingin seperti ini, tetap disini." Ujar Rakes pelan sembari mengecup lembut dahi Zea.


"Ayo istirahat!" Ujar Zea.


"Love you my Jannati." Ujar Rakes dengan senyuman bahagia.


_____________________


"Bagaimana?" Tanya Rafeal saat melihat Marvel kembali bersama dengan Lexel dan Ivent.


"Ntahlah! lalu keadaan Rakes gimana?" Tanya Marvel.


"Besok baru keluar hasilnya, sekarang dia baik-baik saja." Jelas Rafeal.


"Ibu El gimana?" Tanya Lexel.


"Tante El juga baik-baik saja." Jelas Rafeal.


"Lalu kenapa kamu di sini?" Tanya Marvel.


"Terus? apa aku harus jadi obat nyamuk buat mereka berdua? bisa-bisanya mereka tidur berduaan begitu di rumah sakit." Jelas Rafeal yang tadi memang sempat ke ruang rawat Rakes lalu menyaksikan pemandangan yang bikin status jomblonya meronta-ronta.


"Ooooh cemburu nih ceritanya, makanya buruan cari pacar jangan jomblo mulu!" Jelas Marvel.


"Lagian suka-suka mereka dong mau ngapain, kan halal!" Jelas Lexel.


"Mau aku bantuin kenalan dengan cewek cantik?" Tanya Ivent.


"Hahhhhhhh! kalian, apa mau aku buatkan kubur massal buat kalian bertiga?" Gumam Rafeal kesal.


"Wusssssh roman romannya mulai tensi nih!" Goda Marvel.


"Abang Marvel, abang Rafeal!" Ujar Sebuah suara yang baru saja keluar dari pintu rumah sakit.


"Mutia!" Seru Rafeal dan Marvel.


"Mu.....Mutia!" Ujar Lexel yang dengan spontan berdiri tegap.


"Kalian ngapain di sini? apa ada yang terluka?" Tanya Mutia.


"Rakes di rawat di sini, lalu kamu?" Tanya Marvel.


"Aku baru aja beberapa minggu kerja di sini, ya udah ayo kita jenguk abang Rakes." Jelas Mutia.


"Nanti aja!" Seru Rafeal.


"Kenapa?" Tanya Mutia kebingungan.


"Abang!" Teriak Mariana yang baru saja datang bersama Kania.


"Ana, Kania!" Ujar Marvel saat keduanya bergabung dengan mereka.


"Dimana uma dan abang Rakes? sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kak Zea pergi tanpa pamit?" Tanya Kania.


"Mereka baik-baik saja, tenanglah!" Jelas Rafeal.


"Siapa dia?" Tanya Mariana.


"Dia Mutia, putri atasan kami! Mutia kenalkan ini Ana adik abang, dan ini Kania kekasih abang." Jelas Marvel


"Hai aku Mutia." Ujar Mutia yang begitu ramah.


"Ana" "Kania" Ujar Keduanya bergantian.


"Abang Rafeal, bisa kita bicara sebentar?" Tanya Mutia.


"Dengan abang? ada apa?" Tanya Rafeal kebingungan.


"Hanya sebentar kok!" Ujar Mutia yang langsung membuat Mariana tak tenang.


(Apa yang ingin dia bicarakan? kenapa tiba-tiba dada aku sesak mendengarnya. Ada apa dengan aku? Tenang Ana, tenang!) Gundah hati Mariana yang mulai tak nyaman dengan keadaan yang ada.


"Udah abang Rafeal pergi aja, pasti ada hal penting yang ingin kak Mutia bahas." Jelas Kania.


"Ya udah ayo!" Ajak Rafeal.


"Adik ipar yang baik!" Ujar Kania lalu mengusap pelan bahu Rafeal.


"Adik ipar?" Tanya Mutia dan Ivent hampir bersamaan.


"Ya adik ipar!" Jelas Kania dengan senyuman.


"Kania, apa maksud kamu?" Tanya Marvel


"Lah calonnya kak Ana ya pasti calon adik ipar aku kan? kan aku calon istri abang!" Jelas Kania.


"Apaan sih, nggak lucu deh Kania!" Ujar Marina yang langsung masuk ke rumah sakit.


"Ayo Mutia!" Ajak Rafeal.


"Ayo!" Ajak Mutia.


"Kania..." Ujar Marvel setelah Mutia dan Rafeal pergi.


"Aku tau kak Mutia suka sama abang Rafeal kan?" Tanya Kania.


"Kok kamu tau?" Tanya Ivent.


"Semua orang pasti tau lah, orang terlihat jelas di wajah kak Mutia. Dan abang Lexel, kalau cinta jangan di pendam, nyatain! jangan sampai nyesal!" Jelas Kania dan lekas masuk ke rumah sakit.


"Kania ngomong apaan sih! nggak jelas!" Ujar Lexel yang salah tingkah dan beranjak pergi.


"Dasar Kania, jeli nya minta ampun!" Cetus Ivent dan segera menyusul Lexel.


"Kania tunggu!" Pinta Marvel dan lekas berlari menyusul Kania yang telah lebih dulu masuk ke rumah sakit.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ