
"Lepaskan dia! aku bilang lepaskan tangan kamu dari tubuhnya!" Teriak Rakes dengan suara lantang, amarahnya begitu menggelegar, wajahnya bahkan di penuhi dengan keringat.
Tubuh Rakes masih saja berdiri tegak tepat di hadapan Vikram yang sedang mencengkeram tubuh mungil Zea didalam genggamannya.
"Dia, dia harus mati untuk menggantikan ayahnya! karena monster itu telah merusak hidupku tanpa ada sisa sedikitpun!" Gumam Vikram yang mulai mencekik leher Zea.
Posisi Zea benar-benar diujung tanduk, matanya bahkan memerah menahan rasa sakit yang disebabkan oleh Vikram, namun ia sama sekali tak berkutik dan memberontak, ia tetap berdiri tegap meski rasa sakit terus menjalar ke seluruh tubuhnya.
'Dorrrr' Suara peluru yang berhembus tanpa jeda membuat tubuh Vikram ambruk dalam sekejap mata di susul dengan tubuh Zea yang ikut jatuh kelantai. Darah segar terus mengalir dari dada dan bahu Vikram hingga mengenai baju dan jilbab Zea.
Tangan Hadi yang perlahan mengusap lembut bahu Rakes membuat semua ingatan akan kisah dua belas tahun silam menghilang seketika. Rakes yang tadinya terus menatap lantai kosong kini beranjak mengarahkan pandangannya pada Hadi yang terus menatapnya dengan tatapan yang begitu teduh.
"Apa kamu ada di sana saat kejadian itu?" Tanya Mikeal pelan.
"Rakes, jika benar kamu ada di sana, maka katakan semuanya, katakan apa yang kamu lihat!" Pinta Lukman.
"Aku, aku....." Ujar Rakes yang terus berusaha menahan perasaannya.
"Aku tau bahwa kamulah alasan kenapa Iqbal memilih untuk diintrogasi secara tertutup. Rakes, kamu tau kan kalau bukan Iqbal yang melakukannya? dan om juga tau, kalau kamu juga bukan pelakunya!" Jelas Alam.
"Sebaiknya kamu bicara dengan jujur, agar kami bisa melakukan sesuatu dengan tepat!" Jelas Rafeal.
"Rakes...." Ujar Marvel dan langsung mendekap erat tubuh Rakes.
"Kita akan putuskan caranya besok, saat ini lebih baik kita cek keadaan pak Iqbal lebih dulu!" Jelas Lexel.
"Aku setuju dengan Lexel! dan aku akan minta Angel untuk membantu kita!" Jelas Hendra.
"Lalu bagaimana dengan uma? dimana uma?" Tanya Zafran yang seketika begitu panik dengan keadaan Elsaliani.
"Uma tersayang kamu sekarang aman, dia sedang di rumah bunda diantar sama mama mu dan Andika." Jelas Alam.
"Hufffff, syukurlah!" Ucap Zafran lega.
"Rakes, kita akan bahas lagi besok pagi, om harap kamu bisa mengambil sikap dengan tepat!" Jelas Mikeal dan lekas pergi.
"Kalian juga istirahat, sampai jumpa besok pagi!" Ujar Lukman yang ikut keluar bersama Mikeal.
"Papa juga kembali ke kantor. Lexel, jaga mereka bertiga jika mereka bertingkah langsung hubungi saya." Jelas Hadi.
"Siap pak!" Jawab Lexel lantang.
"Kami pamit!" Ujar Alam yang ikut pergi dengan disusul oleh Hendra dan Hadi.
"Ayo istirahat!" Ajak Lexel.
Rakes sejenak menatap tajam kearah Rafeal dan Marvel seolah sedang menyampaikan pesan singkat dan anehnya kedua sang sahabat seolah paham dengan apa yang Rakes maksud, lalu ketiganya langsung beranjak ke kamar untuk istirahat.
"Kamu jagalah di sini, biar kami yang jaga Rakes di dalam!" Jelas Rafeal.
"Baik pak!" Jawab Lexel yang langsung menghentikan langkahnya di depan pintu kamar.
Rakes, Marvel dan Rafeal bergegas masuk ke kamar dan langsung menutup rapat pintu kamar.
______________________
"Iqbal, bicaralah! apa kamu akan terus diam?" Tanya sang atasan yang kini duduk tepat dihadapan Iqbal.
Sejak kemarin malam Iqbal masih saja diposisi yang sama, ia masih betah duduk tanpa menoleh sama sekali pada sang atasan yang bahkan terus keluar masuk untuk menemuinya di ruangan tersebut.
"Aku yang membunuhnya!" Tegas Iqbal, masih dengan jawaban yang sama.
"Iqbal, aku tau bukan kamu pelakunya. Meski aku baru menjadi atasan kamu selama beberapa tahun ini, tapi aku tau cara kerja mu dengan baik. Kapten, tidak harusnya aku memanggilmu dengan pangkat asli mu, Mayor Ahmad Iqbal Ardimas Saka." Jelas sang atasan yang memiliki nama lengkap Kolonel Hamdan Syafwi.
"Tapi akulah pelakunya!" Tegas Iqbal.
"Iqbal....." Gumam Hamdan dengan penuh amarah ia bahkan meninju meja yang berada diantara keduanya.
"Pikirkan kembali jawabanmu dengan baik, aku akan kembali besok pagi. Sebelum atasan petinggi turun tangan, aku harap semuanya bisa kita selesaikan tanpa harus mencabut pangkat kamu secara tidak hormat, sama halnya dengan Vikram." Jelas Hamdan dan lekas pergi meninggalkan Iqbal seorang diri di ruangan kecil tersebut.
"Jaga atasan kalian dengan baik, jika ada yang janggal langsung hubungi saya!" Perintah Hamdan pada para prajurit yang berjaga di luar ruangan Iqbal.
"Siap!" Jawab semuanya lantang dan Hamdan pun lekas pergi.
____________________
Bola mata Zea terhenti pada bagian tubuh Vikram yang terkena empat peluru. Tangan Zea mulai gemetar dan perlahan bergerak hendak menyentuh bagian bahu Vikram yang masih mengeluarkan darah segar.
Secepat kilat Rakes berlari menghampiri Zea lalu dengan cepat menghentikan tangan Zea yang hampir saja menyentuh bahu Vikram. Tangan Rakes langsung membawa tubuh lemah Zea ke dalam dekapannya.
"Tidak ada yang terjadi, kamu tenanglah!" Pinta Rakes yang terus berusaha menenangkan Zea.
"Abang, abang Rakes!" Ujar Zea dengan suara melemah.
Rakes melepaskan tubuh Zea dari dekapannya lalu ia segera melepas seragam SD yang melekat ditubuh Zea yang telah dipenuhi dengan noda darah. Zea hanya diam saat Rakes melepas segaramnya, lalu tanpa jeda Rakes melepas seragam miliknya lalu memakaikannya pada Zea.
"Abang..." Ujar Zea dengan tangan yang menyentuh lembut tangan Rakes.
"Hari ini sama sekali tidak terjadi apapun, kamu paham maksud abang kan? tidak ada kejadian apapun!" Tegas Rakes.
Tangan Rakes mencoba merapikan seragam miliknya yang kini membalut tubuh Zea.
"Seragam abang bahkan hampir menutupi seluruh tubuh kecilmu, maaf! Abang janji, nanti akan abang belikan seragam yang baru, jadi sekarang pakai punya abang dulu." Jelas Rakes dengan senyuman.
"Zea, kamu baik-baik saja?" Tanya Roger yang ikut mendekat.
"Hmmm!" Jawab Zea dengan menganggukkan kepalanya.
"Roger, bawa Zea keluar dari tempat ini, naiklah taksi untuk pulang, abang akan mengurus semuanya." Jelas Rakes.
"Tapi abang!" Bantah Roger.
"Kamu harus melindungi Zea, kamu mencintainya kan? kamu tidak ingin dia terluka kan?" Jelas Rakes.
"Hmmmmm!" Jawab Roger.
"Bawa dia pulang!" Pinta Rakes.
"Hmmm!" Roger hanya mengangguk lalu segera membawa Zea bersamanya.
"Apa abang Rakes akan baik-baik saja? dia akan segera menyusul kita kan?" Tanya Zea yang terus saja menatap sosok Rakes meski kakinya terus melangkah menjauh dari Rakes.
"Iya, abang Rakes akan segera pulang!" Tegas Roger yang semakin menggenggam erat tangan Zea.
"Abang Rakes!" Teriak Zea lantang hingga membuatnya terbangun dari mimpi panjangnya.
"Kak Zea...." Ujar Qalesya yang ikut terjaga karena teriakan Zea.
"Maaf, kakak malah membuat mu terbangun!" Pinta Zea yang langsung menyentuh rambut Qalesya.
"Kenapa harus minta maaf! apa kakak mimpi buruk? biar aku panggilkan Kania dan kak Ana di kamar sebelah!" Jelas Qalesya.
"Tidak perlu Qalesya, ini udah tengah malam, jangan ganggu tidur mereka dan kamu, kembalilah tidur, kakak baik-baik saja!" Jelas Zea.
"Beneran?" Tanya Qalesya memastikan.
"Iya..." Jawab Zea dengan mencoba untuk tersenyum.
"Baiklah, selamat malam, kakak juga tidur lagi ya!"
"Iya..."
Keduanya kembali berbaring, tak butuh waktu lama Qalesya telah terlelap kembali, berbeda halnya dengan Zea yang masih saja gelisah dan gundah.
(Ayah, sebenarnya apa yang terjadi? apa ini ada hubungannya dengan mimpi Zea? Apa yang harus Zea lakukan? ayah tolong tetap bertahan, Zea dan uma tidak akan pernah bisa berdiri tegak jika ayah kenapa-napa. Jika mimpi tadi benar adanya.... ayah, apa ini ada hubungannya dengan Chim chim? sebenarnya siapa yang sedang melindungi siapa? apa yang harus Zea lakukan? Zea sayang ayah, uma, Raze Junior dan juga Chim chim.) Ungkap hati Zea yang terus saja dirasuki oleh bebagai pikiran tak jelas.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊
Stay terus sama My Princess😘😘😘
KaMsaHamida❤️❤️❤️❤️❤️