
Suara deru mobil yang berhenti di garasi samping rumah membuat Zea yang sedang duduk di teras segera berlari kearah garasi.
Langkah Zea terhenti saat Rakes keluar dari dalam mobil.
"Chim chim sendiri?" Tanya Zea yang dengan spontan langsung berjalan mendekati mobil yang telah terparkir lalu mencoba menempelkan wajahnya pada kaca mobil, ia terus saja mengintip kedalam mobil.
"Abang sendiri." Jelas Rakes lalu mendekati Zea dan langsung merangkul pundak sang istri yang langsung dibuat kecewa dengan jawaban yang baru saja Rakes jawab.
"Katanya mau jemput Rafeal, dimana? kenapa dia nggak ikut pulang?" Tanya Zea.
"Iya, tadi emang abang jemput Rafeal." Jelas Rakes.
"Terus dimana dia sekarang? abang tidak membiarkan dia pulang ke rumahnya seorang diri kan? apa dia nggak mau tinggal disini?" Tanya Zea.
"Udah kamu tenang aja, abang rasa Rafeal bahkan akan lebih cepat sembuh di sana." Jelas Rakes.
"Chim chim! gimana dia bisa cepat sembuh kalau nggak ada yang ngerawat dia..."
"Udah kamu tenang aja, ada Ana yang bakal jagain dia bahkan mungkin sampai dua puluh empat jam!"
"Kak Ana? wowwwww, apa itu artinya Rafeal ikut abang Marvel?"
"Iyap!"
"Waaaah, ide yang bagus! semoga cinta mereka segera mekar bersemi!" Ujar Zea dengan penuh bahagia.
"Sebahagia itu kah kamu jika mereka bersama?"
"Hmmm! aku tau kak Ana adalah gadis baik, sopan dan penuh kasih sayang dan yang paling penting dia anak orang kaya, jadi aku yakin masa depan Rafeal pasti akan terjamin jika dia bersama kak Ana, aku hanya ingin melihat sahabat terbaik ku bahagia."
"Kamu benar Zea, abang juga akan sangat lega bila mereka hidup bersama, paling tidak Ana bisa menjadi keluarga untuk Rafeal. Semoga mereka berjodoh!"
"Aamiin!" Ujar Zea girang.
"Ya udah, ayo masuk!" Ajak Rakes yang langsung mengandeng tangan kanan Zea.
"Gendong!" Pinta Zea yang langsung merentangkan kedua tangannya.
"Manja banget, tumben!"
"Kenapa? apa Chim chim nggak suka!"
"Gila, nggak suka? istri abang yang kecantikannya seketika langsung bertambah saat sedang mood manja gini, semakin imut dan membuat jantung abang berdetak tak karuan."
"Ya udah tunggu apa lagi? buruan gendong!"
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Rakes langsung mengangkat tubuh sang istri, sejenak keduanya saling menatap satu sama lain, lalu perlahan tangan Zea bergerak dan menyentuh wajah Rakes.
"Zea sayang abang!" Ucap Zea penuh ketulusan.
"Khhmmmmmm!" Kedatangan Iqbal yang sejak tadi terus memerhatikan keduanya sama sekali tidak diketahui oleh pasangan suami istri yang terlalu sibuk menatap satu sama lain.
"Ayah...." Ujar Keduanya saat mendengar suara Iqbal.
"Kirain ayah nggak lagi kelihatan, yah maklum dunia serasa milik berdua!" Ujar Iqbal.
"Ayah apaan sih? jangan lebay deh!" Seru Zea.
"Cieeeee! so ayah ngontrak nih ceritanya?" Goda Iqbal yang sukses membuat Rakes semakin malu dan salah tingkah.
"Iri? bilang bos! biar Zea ajukan proposal sama uma!" Jelas Zea.
"Sorry, bos nggak pernah iri tuh! lagi pula ratu ayah lebih cantik dari permaisurinya Rakes, so kenapa ayah harus iri?" Jelas Iqbal.
"Woooow ngajak berantem nih ceritanya! ayah kira uma nggak risih? sebenarnya Zea kasian banget sama uma, padahal uma kan cantik, baik, lembut pokoknya sempurna banget kok mau ya uma sama lelaki macam ayah, udah nggak kaya jelek pula! lihat nih pangeran aku, udah kaya raya wajah tampan membahana waaah sempurna!" Jelas Zea yang tidak mau kalah dari sang ayah.
"Yang ada ayah justru prihatin dengan hidup Rakes, mau maunya dia sama cewek jelek kayak kamu, udah ah, cowok ganteng ini mau melepas rindu sama Ratunya!" Jelas Iqbal dan lekas berlalu.
"Ganteng? dari mananya coba? ayah Jel...." Teriakan Zea langsung terhenti.
"Zea..." Tegas Rakes yang cukup membuat Zea menghentikan ocehannya.
"Kenapa? ayah yang mulai duluan!"
"Zea, jangan lagi bicara seperti itu dengan ayah, bercanda lah sewajarnya, jangan keluar dari batas, dia orang tua kita!" Jelas Rakes dengan begitu lembut, dia tidak ingin Zea tersinggung karena ucapannya.
"Ya tapi kan...." Protes Zea.
"Sayang, kamu paham kan maksud abang?"
"Baiklah!"
"Ayo kita masuk!" Ajak Rakes yang langsung melangkah masuk.
"Terima kasih sudah menjadi suami yang begitu baik untuk aku!" Ujar Zea yang langsung melingkarkan tangannya di leher Rakes.
"Jangan cari gara-gara lagi!"
"Cari gara-gara? maksudnya?"
"Ayo ke kamar!"
"Kenapa?"
"Udah nurut aja sama suami, jangan banyak tanya!"
__________________
"Mami, mami! mami dimana? anak gadis kesayangan mami yang super duper cantik pulang nih!" Teriak Mariana sambil terus melangkah masuk ke rumah.
"Mami, putri semata wayang yang seksinya aduhai ini udah pulang nih mi!" Jelas Mariana yang mulai melintasi ruang tamu lalu menuju ruang keluarga.
"Mam......" Suara Mariana langsung terhenti saat ia melihat sosok Rafeal yang sedang duduk bersama Aryani di ruang keluarga.
"Selalu aja teriak-teriak! kenapa berhenti? terus aja teriak!" Jelas Aryani yang tampak sibuk menata bunga ke dalam vas dengan dibantu oleh Rafeal.
"Kapan datang? mami kok nggak bilang sama aku?" Tanya Mariana.
"Sudah dari tadi disini!" Jelas Rafeal.
"Kenapa mami harus lapor, toh Rafeal datang ke rumah mami bukan ke rumah kamu kan!" Jelas Aryani.
"Mami mah gitu...." Ujar Mariana yang langsung duduk di samping maminya.
"Terus abang mana?" Tanya Mariana.
"Abang lagi pergi, katanya ada hal yang harus di urus." Jelas Aryani.
"Oh jadi lagi nungguin abang pulang?" Tanya Mariana.
"Nggak!" Jawab Aryani.
"Terus?" Tanya Mariana.
"Untuk beberapa hari Rafeal akan tinggal bersama kita!" Jelas Mariana.
"Apa? benarkah?" Tanya Mariana kaget.
"Iya, kenapa nggak boleh ya?" Tanya Rafeal.
"Ini rumah mami kenapa dia yang larang?" Ujar Aryani.
"Siapa yang ngelarang? justru aku lah orang yang paling mendukung, kalau boleh terus aja tinggal di sini selama-lamanya." Jelas Mariana.
"Ana..." Seru Aryani yang langsung memukul bahu Mariana.
"Mami!" Ujar Mariana sambil mengusap bahunya.
"Rafeal, kamu nggak usah hiraukan dia! Ana memang anaknya model gini, nggak ada urat malunya sama sekali! ngasal aja kalau ngomong." Jelas Aryani.
"Nggak apa-apa kok mami!" Ujar Rafeal.
"Gimana mau aku ajak keliling rumah? yah anggap aja kencan pertama kita!" Jelas Mariana.
"Dasar anak bar-bar!" Seru Aryani.
"Nggak usah, terima kasih!" Ujar Rafeal.
"Atau mau aku bantuin ke kamar?" Tawar Mariana.
"Ana...." Tegas Aryani kali ini kening Mariana yang jadi sasaran tangan Aryani.
"Aku cuma mau nolong doang mi!" Jelas Mariana.
"Rafeal, mungkin ke depannya dia bakal buat kamu nggak jaman, tapi tenang aja, jika dia mengganggu kamu mami izinkan kamu untuk memarahi dan jika diperlukan pukul aja, nggak masalah!" Jelas Aryani dengan senyuman lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Mami....." Ujar Mariana.
"Jangan ganggu Rafeal, mami mau ke dapur sebentar!" Jelas Aryani dan lekas pergi.
"Nggak janji!" Teriak Mariana lalu mengalihkan pandangannya pada Rafeal.
"Kenapa?" Tanya Rafeal yang merasa dipandang intens oleh Mariana.
"Aku rasa mami mulai pikun deh, ada pula aku yang gangguin kamu, nggak kebalik? harusnya yang mami takuti itu, anak gadisnya di ganggu kan?" Jelas Mariana.
"Itu artinya mami lebih sayang aku dari pada kamu, buktinya mami nggak mau kalau sampai ada siapapun yang gangguin aku!" Jelas Rafeal.
"Oh ya? hmmmmm, coba kita lihat...." Tantang Mariana yang beranjak dari sofa lalu beralih mendekati Rafeal yang sejak tadi duduk di sofa yang berhadapan dengan dirinya.
"Mau ngapain?" Tanya Rafeal.
"Mau......" Jawab Mariana menggantung lalu mengarahkan tangannya hendak menyentuh wajah Rafeal.
Dengan spontan Rafeal bangun lalu tangannya lebih cepat mendarat di kening Mariana.
"Awwww sakit!" Protes Mariana yang langsung mengusap keningnya yang baru saja dijitak oleh Rafeal.
"Sakit? kasian? so, jangan dekat-dekat ya, terkadang kancil lebih menakutkan dari harimau loh! dudududu adik ku tercantik, terseksi aduhai...." Goda Rafeal dan lekas pergi.
"Hei! tunggu, tunggu aja pembalasan ku!" Cetus Mariana dan segera mengejar Rafeal.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida πππππ