My Princess

My Princess
#048



Istri?" ulang Fadhil dan Zea hampir bersamaan dengan mata yang tidak bisa berhenti menatap wajah Rakes, mencoba mencari kebenaran yang sebenarnya dengan apa yang baru saja mereka dengar.


"Kenapa kalian kaget begitu? apa ada yang salah dengan kata 'istri' ??" Tanya Rakes dengan wajah yang begitu santai.


Bukannya menjawab pertanyaan Rakes, Zea malah kabur dari lokasi tersebut, ia segera berlari menuruni tangga dengan terus berteriak memanggil Iqbal dan Elsaliani.


"Ayah, uma....!"


"Ayah, ayah!" Zea kembali memanggil Iqbal sembari mengetuk pintu kamarnya.


"Kenapa teriak-teriak? ini udah tengah malam?" Gumam Iqbal setelah membukakan pintu.


"Ada apa sayang? apa ada masalah?" Tanya Elsaliani yang langsung mengusap pucuk kepala Zea dengan begitu lembut.


"Abang, Zea bingung, Zea sama sekali nggak ngerti!" Keluh Zea yang memang tidak bisa lagi berpikir dengan tenang.


"Apa Rakes sudah pulang?" Tanya Elsaliani.


"Iya!" Jawab Zea


"Apa yang membuat kamu bingung? bukannya semua sudah jelas!" Ujar Iqbal.


"Apa yang jelas? sebenarnya apa yang sudah terjadi tanpa sepengetahuan Zea?" Tanya Zea.


"Rakes udah janji akan menikahi mu, ya udah ayah nikahkan!" Jelas Iqbal.


"Tanpa sepengetahuan Zea?" Tanya Zea.


"Bukannya Zea memang sudah sangat setuju? lalu apa lagi masalahnya?" Tanya Elsaliani.


"Tapi nggak gini juga, harusnya uma dan ayah bagi tau Zda!" Keluh Zea.


"Apa ada syarat sah nikah harus hadir mempelai wanita saat akad nikah?" Tanya Elsaliani yang mencoba menenangkan Zea.


"Tapi...." Keluh Zea.


"Apa abang membuatmu kecewa? maaf!" Pinta Rakes yang masih berdiri di tangga sana lalu lekas kembali ke atas, sedangkan Fadhil hanya menyaksikan tanpa berani memberi komentar.


"Abang!" Panggil Zea.


"Apa yang membuat jagoan ayah kebingungan seperti ini?" Tanya Iqbal.


"Zea senang banget dengan pernikahan ini, Zea bahagia tapi yang tidak Zea mengerti kenapa kalian semua melakukannya secara diam-diam?" Jelas Zea.


"Tanya kan pada Rakes, uma rasa dia lebih berhak untuk menjelaskan semuanya." Jelas Elsaliani.


"Zea, sekarang Rakes suami kamu, jangan lukakan hati dia, karena dia adalah orang yang sangat ayah sayangi." Tegas Iqbal lalu kembali ke kamarnya.


"Tanyakan dengan sopan pada Rakes, semua yang dia lakukan pasti ada alasan dan pastinya ini semua adalah pilihan terbaik yang dia ambil. Zea, bagi uma nggak ada lagi laki-laki yang seperti Rakes di dunia ini. Dia benar-benar sangat mencintaimu, bahkan dia sanggup mengorbankan apa saja demi kamu, uma harus berterima kasih atas semua kasih sayangnya yang begitu melimpah yang dia berikan dengan sangat tulus untuk putri uma, jangan pernah lepaskan Rakes apapun yang terjadi nantinya!" Jelas Elsaliani lalu mengecup lembut kening Zea.


"Zea permisi, uma." Ujar Zea yang segera kembali ke atas.


"Kembalilah ke kamar mu! jangan lagi usik anak-anak uma, uma juga akan mencoba menyayangi kamu sama halnya seperti sayang uma berikan untuk mereka. Fadhil, kamu mengerti kan apa yang uma bicarakan?" Jelas Elsaliani.


"Paham tante, eh uma. Selamat malam!" Ujar Fadhil dan lekas kembali ke kamarnya.


__________________


Setelah berada di kamar Rakes, Zea segera mencari sosok sang pemilik kamar yang sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Setelah menoleh ke sana sini, akhirnya Zea memutuskan untuk mendekati pintu kamar mandi.


"Apa Chim chim di dalam?" Tanya Zea bersamaan dengan tangannya yang mengetuk pintu kamar mandi.


Sejenak menunggu, namun tidak ada respon apa-apa.


"Apa harus aku terobos nih pintu?" Ancam Zea yang sigap untuk membuka pintu tersebut.


"Terobos aja!" Jawab Rakes.


"Chim chim sengaja nantang aku? oke, fine!" Cetus Zea yang langsung memeluk erat tubuh Rakes dari belakang, yang spontan membuat langkah Rakes terhenti.


"Kenapa harus secara diam-diam?" Tanya Zea sambil menyandarkan lembut wajahnya pada punggung Rakes.


"Maaf, harusnya abang bicara lebih dulu sama kamu." Pinta Rakes yang perlahan mengusap tangan Zea yang melingkar di pinggangnya.


"Boleh aku tau alasan Chim chim melakukan semua ini? jujur, aku senang banget tapi hati ini tetap juga ingin tau dengan apa yang sebenarnya terjadi."


"Sebelum berangkat tugas minggu lalu, abang sengaja memintamu sama om Iqbal, dan om Iqbal mengizinkannya. Dan kenapa abang nikah diam-diam, karena abang tidak ingin membuat fokus mu hancur, kamu baru saja masuk sekolah dan abang nggak mau kamu terbebani, lagi pula cuma akad aja kan!"


"Kenapa begitu mencintai aku? bahkan segala hal yang Chim chim lakukan selalu saja demi kepentingan dan kebaikan aku. Kenapa begitu besar cinta yang Chim chim berikan untuk aku?"


"Karena kamu prioritas hidup abang, kamu my princess, kamu Jannati, kamu my everything." Ungkap Rakes.


"Terima kasih karena memilih aku dari beribu wanita terbaik lainnya." Ucap Zea.


"Kamu lah yang terbaik!"


"Waahh! benar-benar kokoh, dinding beton Chim chim nggak main-main, woww!" Seru Zea dengan tangan yang terus meraba punggung Rakes.


"Jangan cuma mau pegang dinding beton doang?" Goda Rakes yang langsung berbalik menghadap Zea.


"Cu......cu.....kup!" Tegas Zea dengan terbata-bata, lalu melangkah mundur dari jangkauan Rakes.


"Kenapa? gimana kalau sekarang beralih ke kotak-kotak atau.....?"


"Stop!" Tegas Zea yang langsung berlari keluar dari kamar Rakes.


"Puas! akhirnya bisa balas dendam juga, abang kira kamu nggak bakal surut, ternyata punya batas juga, jadi pengen gangguin kamu terus, cute nya istri abang!" Ungkap Rakes dengan senyuman lebar.


Seketika pintu kembali terbuka, Zea kembali masuk, membuat Rakes mengernyitkan dahinya dengan sikap Zea.


"Mau melakukannya sekarang?" Tanya Zea yang berdiri tepat di hadapan Rakes tanpa jarak sama sekali.


"Zea!"


"Mau mulai dari mana? Jidat paripurna? pipi merah merona? hidung Pinokio? bibir sexi merekah? leher jerapah? kotak-kotak? dinding beton, atau...!" Goda Zea dengan mata yang mengikuti setiap kata-kata yang ia ucapkan.


"Ayo mulai!" Ajak Zea dengan jemari yang mulai menyentuh leher jenjang Rakes, meski harus dengan bersusah payah.


"Bukannya besok kamu masih harus Ospek?"


"Apa hubungannya?" Tanya Zea yang mencoba menghirup aroma tubuh Rakes.


"Ada hal yang harus abang selesaikan, tidurlah lebih dulu, bey!" Seru Rakes yang terlihat jelas sedang panik.


"Yakin mau keluar dengan hanya memakai handuk?"


"Haisssh!" Gumam Rakes kesal saat menyadari penampilannya saat ini.


"Selamat malam Zauji, my lover Chim chim, mimpi indah, tidurlah! untuk malam ini aku akan berbaik hati, aku tau abang lelah jadi aku nggak bakal nagih jatah. Bey!" Jelas Zea.


Zea berusaha untuk mengecup pipi Rakes meski harus dengan bersusah payah agar bisa mensejajarkan bibirnya dengan wajah Rakes.


Zea segera keluar meninggalkan Rakes yang masih syok dengan perlakuan Zea.


"Benar-benar, persis seperti om Iqbal, nggak ada rasa takut sama sekali, ternyata benar buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya" Ujar Rakes.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE yaπŸ˜‰πŸ˜‰


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❀️❀️❀️❀️❀️❀️❀️