
Mata Kania terus saja menatap wajah Rafeal yang kini perlahan mulai membuka matanya. Dengan tatapan yang begitu teduh nan lembut, Rafeal kini menatap lekat wajah Kania.
"Biar aku panggil yang lainnya!" Ujar Kania dan hendak bangun untuk memberi tau yang lainnya bahwa Rafeal sudah sadarkan diri.
Namun tangan Rafeal seakan tidak melepaskan tangan Kania, ia tidak ingin Kania beranjak darinya.
"Kenapa? apa ada yang sakit?" Tanya Kania khawatir.
"Kania, apa Rakes dan Marvel baik-baik saja?" Tanya Rafeal dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Hmmmm, mereka berdua baik-baik saja." Jelas Kania.
Rafeal kembali memejamkan matanya, sekilas ia terlihat begitu lega dan bahagia.
"Apa abang tidak berarti untuk diri abang sendiri? kenapa selalu menjadikan mereka prioritas?"
"Jika Rakes terluka maka Zea juga akan ikut terluka, dia pasti akan ketakutan dan jika yang terluka adalah Marvel, kamu pasti akan menangis dan terpuruk terlalu dalam, dan abang tidak ingin kamu menangis, tapi jika abang terluka, semuanya akan tetap baik-baik saja."
"Abang pikir kami semua tidak khawatir dengan keadaan abang? Jika abang terus begini, bagaimana kalau aku justru akan jatuh cinta sama abang? bagaimana kalau aku ingin memiliki abang?"
"Kania..."
"Tolong lupakan aku, tolong buka sedikit hati abang untuk kak Ana, tolong jangan buat aku serba salah!"
"Kania, abang tidak pernah meminta mu untuk mencintai abang!"
"Tapi semua sikap abang, semua pengorbanan abang seolah terus membuat aku menatap pada abang. Aku tidak ingin menyakiti abang Marvel ataupun abang, jadi aku mohon, tolong lupakan aku, terimalah ketulusan kak Ana."
"Kania, jadi selama ini sikap aku membuat kamu terluka?"
"Bukan itu maksud aku..."
"Maafkan abang!"
"Jangan minta maaf, aku mohon terimalah kak Ana, dia bahkan semalaman menjaga abang di sini, dia benar-benar mencintai abang, mungkin bahkan cintanya untuk abang melebihi cinta abang untuk aku, tolong hiduplah dengan bahagia, aku hanya ingin melihat abang bahagia." Jelas Kania lalu perlahan menyentuh wajah Rafeal.
"Kania.....!"
"Jika abang tidak datang pada kak Ana maka aku yang akan datang pada abang, ayo kita kabur dari sini, ayo kita hidup bahagia berdua!" Jelas Kania yang kini justru merebahkan kepalanya di bahu Rafeal, isak tangisnya terdengar begitu pilu hingga membuat Rafeal ketakutan.
"Jangan tangisi semua ini, berhentilah menangis, dada abang serasa sesak melihat air mata mu." Pinta Rafeal.
"Maafkan aku!" Pinta Kania yang semakin larut dalam tangisnya.
"Baiklah, abang akan datang pada Ana! berjanjilah untuk tidak meninggalkan Marvel, berjanjilah sama abang!"
"Hmmmm, aku janji aku akan selalu menemani sahabat abang sampai kami menua bersama." Jelas Kania.
"Terima kasih!" Ucap Rafeal dengan senyuman bahagia.
____________________
"Apa sudah siap? ayo kembali ke rumah sakit!" Ajak Marvel yang perlahan masuk ke kamar Mariana lalu mendekati sang adik yang duduk termenung di ujung tempat tidurnya sana, Mariana bahkan tidak menyadari kedatangan Marvel.
Marvel duduk di dekat Mariana lalu perlahan mengusap rambut panjang Mariana yang di kuncir bak ekor kuda.
"Abang..." Ujar Mariana lalu menoleh pada Marvel.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? jangan terlalu khawatir, dia akan segera bangun!" Jelas Marvel.
"Abang apa kita jahat pada mereka?" Pertanyaan Mariana sontak membuat Marvel kebingungan.
"Maksudnya?" Marvel balik bertanya.
"Abang, meski menyakitkan aku tetap harus bicara jujur pada abang."
"Ada apa? bicaralah!"
"Aku melihat cinta untuk Rafeal di mata Kania!"
"Maksud kamu?"
"Aku rasa Kania mencintai Rafeal, bukankah kita kejam jika berada diantara mereka?"
"Kenapa abang sama sekali tidak menyadari itu semua, abang kira Kania mencintai abang. Jadi selama ini, haisssh! berapa banyak luka yang telah abang toreh pada keduanya, apa yang harus abang lakukan?"
"Aku akan kembali ke Paris, apa abang mau ikut dengan ku?"
"Haruskah?"
"Ayo, demi kebahagiaan orang yang kita sayang, bukankah kita harus sedikit berkorban? Ayo temui mereka untuk terakhir kalinya!" Jelas Mariana.
"Hmmmm, ayo!" Ajak Marvel yang langsung menyambut hangat tangan Mariana yang sejak tadi terulur kearahnya.
_____________________
"Zea...." Panggil Rakes pelan sambil menyentuh wajah Zea yang tertidur lelap di atas sofa.
'Cup' Sebuah kecupan mendarat di kening Zea membuat sang empunya perlahan membuka matanya.
"Chim chim!" Seru Zea girang lalu cepat-cepat bangun dan memeluk erat tubuh Rakes.
"Gimana keadaan kamu?"
"Baik, apa abang terluka?" Tanya Zea yang mulai memeriksa seluruh tubuh Rakes.
"Abang Oke!" Jelas Rakes yang langsung menghentikan tangan Zea yang terus meraba-raba tubuhnya.
"Abang juga rindu pada kalian berdua." Ucap Rakes yang kembali mengecup kening Zea.
"Oh ya, Rafeal? gimana keadaannya? apa dia terluka parah?" Tanya Zea khawatir.
"Hmmm, lumayan parah, tapi kamu tenang aja, dia pasti akan baik-baik aja, dia kuat dan tangguh!" Jelas Rakes.
"Aku tau, aku tau kalau dia itu benar-benar tak terkalahkan!" Jelas Zea yang memang begitu kenal dengan sosok Rafeal.
"Abang mau mandi lalu kembali ke rumah sakit!" Jelas Rakes.
"Aku ikut!" Rengek Zea.
"Nggak boleh sayang!"
"Tapi...."
"Zea, kamu paham kan kenapa abang melarang?"
"Pergilah, terus aja tinggalkan aku sendiri, pergi dan tak usah kembali!" Gumam Zea.
"Kamu marah?"
"Au ahh!" Cetus Zea yang kini menyembunyikan wajahnya di sandaran sofa.
"Sayang, kamu beneran marah? kamu beneran mengusir abang?"
"Au....."
"Zea....!" Panggil Rakes yang mencoba merayu Zea.
"Udah pergi sana!"
"Sejak kapan kamu manja gini?"
"Manja? hello! siapa yang manja, aku lagi marah!"
"Jadi marah nih ceritanya?"
"Ya iya!"
"Beneran nih marah sama abang?" Tanya Rakes menggoda sambil membuka jaketnya.
"Iya!" Tegas Zea.
"Yakin?" Tanya Rakes yang kini malah melepaskan kaosnya.
"Chim chim ngapain? kenapa buka baju di ruang tamu? apa Chim chim mulai pikun? ini bukan kamar!"
"Terus kenapa kalau ini ruang tamu?"
"Chim chim!" Ujar Zea yang langsung membuang pandangannya kearah lain.
"Waaah! apa abang harus terus buka bukaan?"
"Chim chim!" Ujar Zea yang kini malah memukul bahu Rakes.
"Maafkan abang, ayo mandi! ayo jenguk Rafeal bersama!" Ajak Rakes yang langsung mendekap tubuh mungil Zea kedalam dekapannya.
"Zea....!" Seru Rayyan yang baru saja datang.
Langkah Rayyan langsung terhenti saat melihat Zea yang sedang di peluk erat oleh Rakes, mata Rayyan terlihat begitu memerah, terlihat jelas kalau dia sedang berusaha menahan gejolak api cemburu yang seakan membuat seluruh tubuhnya panas.
"Rayyan!" Ujar Zea.
Rakes segera mengenakan kembali kaosnya lalu berdiri dari duduknya.
"Abang mau mandi, dan kamu, lain kali kalau bertamu paling tidak berilah salam!" Tegas Rakes dan berlalu begitu saja, Rakes segera naik ke atas meninggalkan mereka berdua.
"Rayyan!" Ujar Zea.
"Jadi benar lelaki itu suami mu?" Tanya Rayyan.
"Apa kamu pikir aku berbohong? abang Rakes suami aku." Jelas Zea.
"Apa kamu terpaksa menikah dengannya karena telah terlanjur mengandung anaknya?" Tanya Rayyan yang semakin tidak bisa mengendalikan dirinya.
'Plakkkk' Tangan Zea mendarat di pipi kanan Rayyan, tatapan Zea terlihat di penuhi dengan amarah dan juga rasa kecewa.
"Rayyan, kamu sadar kalau kamu sedang menghina suami aku? dia lelaki baik-baik, dia bukan lelaki yang seperti kamu tuduhkan, dan anak aku bukan anak haram. Camkan itu baik-baik! aku kecewa sama kamu!" Gumam Zea penuh amarah.
"Zea, tunggu!" Panggil Rayyan saat Zea pergi meninggalkannya.
"Zea....!" Panggil Rayyan saat Zea terus menaiki tangga tanpa lagi peduli pada dirinya yang terus memanggil nama Zea.
"Zea, maafkan aku!" Pinta Rayyan dengan penuh rasa bersalah.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida πππππ