My Princess

My Princess
#024



🍁Dua puluh menit sebelum Zea dan Elsaliani di sekap🍁


Setelah Rakes pergi, dengan cepat Zea segera mencari ponsel miliknya lalu mengirimkan sebuah chat pada Zafran.


#Abang, tolong cek cctv di teras depan dan belakang rumah, sekarang!#


Setelah mengirim chat tersebut Zea masih saja mondar mandir di depan tempat tidur hingga membuat Elsaliani terbangun dari tidurnya.


"Zea, ada apa? apa terjadi sesuatu?" Tanya Elsaliani sambil menyandarkan kepalanya di kepala ranjang.


"Uma tenang, jangan panik, kita baik-baik aja." Jelas Zea lalu mendekati Elsaliani dan duduk di sampingnya.


Perlahan tangan Zea mengusap lembut bahu Elsaliani, seolah mencoba menenangkan Elsaliani yang mulai terlihat begitu khawatir.


"Uma, Zea janji, Zea akan jaga uma dan adik bayi dengan baik. Uma tidak perlu khawatir, tenang, Zea akan terus di samping uma." Jelas Zea dengan tatapan penuh keteduhan.


Ponsel Zea kembali berdering, dengan cepat Zea segera membuka chat yang baru saja masuk.


"Siapa?" Tanya Elsaliani.


"Abang Zafran." Jelas Zea.


Zea langsung memutar video yang baru saja dikirim Zafran, mata Elsaliani dan Zea begitu fokus pada layar ponsel yang memutar vidio yang merekam bagian depan dan belakang rumah Iqbal.


#Mereka datang! Zea, apa kamu butuh bantuan? aku akan menelpon papa#


Seketika chat dari Zafran kembali masuk, membuat Zea dan Elsaliani saling memandang lalu kembali memutar vidio yang kembali masuk di ponselnya.


#Apa mereka meremehkan anak Kapten Iqbal? hanya lima orang, selusin pun aku masih bisa mengurus mereka seorang diri, abang tenang aja. Untuk saat ini tolong lacak keberadaan abang Rakes, aku justru mengkhawatirkan keadaannya.#


Setelah mengirimkan chat untuk Zafran, Zea segera mematikan ponselnya.


"Uma tetaplah disini, jangan kemana-mana, Zea akan membereskan mereka semua lalu secepatnya kembali menemui Uma." Jelas Zea.


"Zea, bagaimana kalau mereka bawa senjata?" Tanya Elsaliani khawatir.


"Tangan Zea terbuat dari besi, jadi uma tenang aja, ingat tetap disini apapun yang terjadi di luar sana." Jelas Zea.


Zea segera keluar dengan tangan kiri yang meraih stik bisbol yang tergeletak di belakang pintu kamar, menggenggamnya erat lalu lekas keluar, setelah memastikan pintu kamar telah terkunci Zea segera berlari kearah teras belakang rumah sesuai vidio yang baru saja ia lihat, para anak buah Fildan menerobos lewat pagar belakang.


"Hai....selamat malam!" Sapa Zea dengan senyuman lebar setelah para anak buah Fildan berhasil membobol pintu belakang.


"Dasar bocah! kamu menyambut kedatangan kami?" Tanya salah satu diantara mereka sambil mengayunkan tinjunya kearah Zea


Zea langsung menghindari serangan tersebut.


"Cuma segitu? om, aku ini pemegang sabuk hitam, tinju anak TK macam itu nggak mempan sama sekali." Gumam Zea dengan nada sinis.


"Oke, aku tidak akan bermain-main lagi, ayo kita mulai!" Seru seorang lelaki yang bertubuh paling tegap dari kelimanya.


Lelaki tersebut langsung memasang kuda-kuda, lalu seketika menyerang yang langsung dihadang dengan stik bisbol yang sedari tadi digenggam Zea, aksi Zea membuat stik bisbol mendarat sempurna di lengan kanan lelaki tersebut hingga membuatnya meringis kesakitan.


"Ayo kita lanjut!" Seru Zea yang langsung menyerang yang lainnya.


Zea bertarung sekuat tenaga, meski beberapa kali terkena pukulan pada bagian kaki dan lengannya, Zea tetap berdiri tegap membalas semua tinju mereka secara brutal, bahkan kekuatan Zea semakin berlipat setelah sebuah tinju mendarat sempurna di mulutnya.


"Haissssss!" Teriak Zea kesal yang langsung mengayunkan stik bisbol ke segala sisi, hingga membuat semuanya terkapar di lantai.


"Kalian harus tanggung jawab kalau sampai Chim chim marah karena kalian menyentuh wajah cantik jelitaku. Haissssss ingin rasanya ku hancurkan wajah kalian semua!" Gumam Zea yang kembali melayangkan stik bisbol namun tidak sampai mendarat di wajah lawan karena tiba-tiba ponsel berbunyi dari salah satu saku celana lelaki tersebut.


"Oke, aku paham sekarang permainan kalian. Baiklah, aku akan jadi artis utamanya." Jelas Zea setelah merampas ponsel tersebut yang mendapat panggilan dari kontak yang tersimpan dengan nama Boss.


"Zea, apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Zafran yang baru saja datang bersama Rafeal.


"Abang Zafran, Rafeal? kenapa kalian bisa barengan?" Tanya Zea yang melihat kedua cowok tersebut menghampirinya secara bersamaan.


"Kami bertemu di depan, lalu aku mengajaknya masuk!" Jelas Zafran.


"Aku dari rumah Rayyan. Apa yang sedang terjadi di sini?" Tanya Rafeal setelah melihat kelima lelaki yang terkapar dengan luka dan memar di sekujur tubuh mereka.


"Ceritanya panjang, hmmmm...mending sekarang kamu ikut aku! dan abang Zafran tolong minta tante Angel untuk ngurus mereka." Jelas Zea.


"Oke, tapi ingat segera atur jadwal kencan abang dengan Qalesya " Jelas Zafran.


"Siap komandan IT!" Seru Zea sambil memberi hormat dan lekas meninggalkan ruangan tersebut.


Rafeal hanya mengikuti semua perintah Zea tanpa protes sama sekali, segala hal dikerjakan dengan begitu detail.


"Apa sudah cukup?" Tanya Rafeal setelah menutup mata Zea dengan kain hitam.


"Beres! uma, sering nonton drama kan? uma pasti bisa melakukannya dengan mudah, ber-actinglah seperti Kim Ji Won, uma bisa kan?" Jelas Zea.


"Akan uma coba, tapi bagaimana kalau kita ketauan? bagaimana dengan nasib Rakes?" Tanya Elsaliani yang mulai mengkhawatirkan keadaan Rakes yang sedang berhadapan dengan Fildan.


"Tante, jika tante bisa acting dengan baik, maka abang Rakes akan baik-baik saja. Apa kita mulai sekarang?" Tanya Rafeal.


"Khmmmmmm! baiklah!" Jawab Elsaliani.


"Uma harus benar-benar kelihatan takut, pikirkan saja hal-hal yang menakutkan, biar terlihat meyakinkan. Rafeal, kita mulai sekarang!" Jelas Zea.


"Oke! satu, dua, tiga!" Ujar Rafeal yang langsung menghubungi Fildan melalui ponsel yang tadi mendapat panggilan dari Fildan.


_________________


"Abang Rakes tolong aku, aku benci gelap!" Teriak Zea histeris yang kembali membuat Rakes semakin terpuruk.


"Bagaimana rasanya melihat orang yang kamu sayangi sedang ketakutan, berteriak meminta tolong sedangkan kamu hanya bisa diam menyaksikan dia yang perlahan-lahan tersiksa lalu merenggang kematian dalam keterpurukan." Jelas Fildan yang terus memaksa Rakes untuk terus menatap layar ponselnya.


"Lepaskan mereka, maka aku akan menyerahkan Badai pada kamu sekarang juga!" Jelas Rakes.


"Bagaimana aku bisa percaya dengan janjimu itu?" Tanya Fildan yang kembali menyenderkan punggungnya di senderan kursi.


"Fildan, jangan sentuh mereka berdua, jika tidak maka aku akan mencabik-cabik tubuh Badai di depan matamu sendiri!" Ancam Rakes dengan tatapan yang begitu mengerikan.


"Rakes, harusnya kamu sadar saat ini kamu tidak berada di posisi yang bisa mengeluarkan ancaman, sekarang aku yang berkuasa." Tegas Fildan diakhiri dengan gelak tawa yang memecah kesunyian malam.


Disaat yang bersamaan listrik padam, seluruh ruangan gelap gulita dalam seketika, membuat semua anak buah Fildan panik.


"Baik boss!" Jawab beberapa suara berbarengan lalu diikuti dengan suara langkah kaki yang terdengar menelusuri ruangan gelap.


sesaat kemudian suara langkah kaki kian mendekat kearah Rakes dan Fildan, secercah cahaya mulai terlihat, hingga akhirnya sosok yang sedari tadi tidak jelas akhirnya berdiri tepat dihadapan Fildan bersamaan dengan lampu yang kembali menerangi seluruh ruangan.


"Kapten Ahmad Iqbal!" Seru Fildan dengan nafas yang seakan mencekal kerongkongannya.


Untuk sesaat Fildan terlihat panik menatap tatapan sangar dari Iqbal, namun sesaat kemudian Fildan kembali optimis, ia seakan menantang Iqbal dengan membalas tatapan sangar tersebut.


"Kapten?" Seru Rakes yang ikut menatap sosok Iqbal.


"Akhirnya sang monster datang juga, bagaimana mau memulainya dari mana? sang istri tercinta atau sang putri tersayang? atau langsung sekalian?" Tanya Fildan sambil memperlihatkan layar ponselnya yang menampilkan gambar Elsaliani dan Zea pada Iqbal.


"Terserah! dari El atau Zea, nggak ngaruh sama sekali!" Gumam Iqbal santai.


"Kapten!" Seru Rakes yang syok mendengar jawaban Iqbal yang tanpa beban.


"Rakes, angkat telpon mu!" Perintah Iqbal ketika Ponsel milik Rakes mulai berdering.


"Kalian mau main-main? kalian pikir aku asal bicara? baik habisi kedua wanita itu!" Gumam Fildan.


"Mau dimulai dari siapa? aku, uma atau teman baik aku?" Tanya Zea dari seberang sambil membuka ikat matanya lalu memperlihatkan wajah mereka bertiga yang tersenyum lebar secara bergantian pada Fildan.


"Ka....ka...kalian? apa yang sebenarnya terjadi? ini tidak mungkin!" Tegas Fildan yang semakin panik.


"Sekarang biar aku yang bertanya, kita mulai dari sang adik yang ***** atau dari sang abang yang sombong?" Jelas Iqbal sambil menodongkan pistolnya tepat di kepala Fildan.


Dari layar ponsel Rakes terlihat jelas sosok Hadi yang berdiri di samping Badai yang terikat diatas sebuah kursi lalu sebilah pisau menempel tepat dileher Badai.


"Apa yang kalian tunggu? serang kedua ******** ini!" Perintah Fildan yang langsung membuat semua pasukannya mengarahkan senjata mereka kearah Rakes dan Iqbal.


"Rakes, arah jam satu!" Titah Iqbal sambil memberi kode pada Rakes.


Setelah melihat Rakes mengangguk, Iqbal langsung beraksi.


"Tembak!" Seru Iqbal.


Iqbal langsung menarik tubuh Fildan ikut bersamanya, sedangkan Rakes dengan cepat langsung menyergap seorang anak buah Fildan, lalu berlindung dibelakang tubuh tersebut. Seketika suara tembakan mulai menggema di udara.


"Serahkan diri kalian? atau kami akan terus melakukan serangan!" Jelas Sebuah suara yang berasal dari utara setelah sebagian anak buah Fildan berguguran.


"Jangan berhenti! bunuh mereka semua!" Perintah Fildan yang berada dibawah kukungan Iqbal.


"Tapi boss!" Keluh salah seorang bawahan Fildan yang mulai ketakutan karena melihat banyak temannya yang tumbang.


"Mau aku perlihatkan drama yang lebih sadis?" Tanya Iqbal.


"Iqbal ******** kamu! jangan sentuh abang aku!" Teriak Fildan.


"Segera minta mereka berhenti atau, dorrrrrr! kepala Badai langsung pisah dari badannya." Jelas Iqbal.


"Kamu benar-benar monster mengerikan Iqbal! akan aku balas semua perbuatan kamu!" Gumam Fildan.


"Aku akan menanti pembalasan mu itu. Fildan, jangan pernah sekalipun menyentuh keluarga aku, jika tidak aku akan melakukan hal yang sepuluh kali lipat lebih mengerikan dari hari ini." Tegas Iqbal.


"Buang senjata kalian semua!" Perintah Mikeal yang baru saja muncul entah dari arah mana.


Disusul dengan kedatangan Hendra, Luqman dan Alam yang langsung mengamankan semua anak buah Fildan yang masih tersisa.


"Angel, nih bagian kamu!" Jelas Iqbal ketika melihat Angel yang baru saja tiba bersama timnya.


"Terima kasih." Ucap Angel.


Angel mendekat lalu segera mengambil alih Fildan dari tangan Iqbal, Angel langsung memborgol kedua tangan Fildan dan menyeretnya ke mobil.


"Setidaknya bawa senjata mu!" Seru Mikeal sambil melemparkan sebuah pistol kearah Rakes yang langsung di tangkap oleh tangan kanan Rakes.


"Aku bawa kok!" Jelas Rakes sambil menunjuk kelantai dimana pisaunya terjatuh tadi.


"Bawa keduanya!" Jelas Luqman.


"Siap!" Jawab Rakes.


"Simpan semua pertanyaan mu itu, malam ini benar-benar melelahkan, besok akan om ceritakan detail kejadian sebenarnya." Jelas Alam yang melihat Rakes direndung rasa penasaran.


"Baik!" Jawab Rakes.


"Ayo pulang, jangan lupa buat laporan dengan benar!" Jelas Iqbal.


"Ingat, laporan!" Tegas Mikeal sambil menepuk pundak Rakes.


"Kamu juga, aku tidak hanya meminta pada Rakes tapi pada tim pasukan khusus juga, bukankah laporan adalah bagian lahan kamu!" Jelas Iqbal lalu bergegas meninggalkan lokasi tersebut.


"Selamat mengetik beribu kata, bey!" Seru Alam dan segara pergi.


"Semoga sukses!" Cetus Hendra yang ikut menghilang.


"Tenang, aku bakal bantu lewat doa, semoga jari kalian akan baik-baik saja!" Jelas Luqman dengan senyuman menggoda.


"Dasar kapten tidak punya perasaan!" Gumam Mikeal kesal.


"Rakes...." Lanjut Mikeal.


"Om kenal kapten Iqbal kan? dia tidak mengizinkan copy paste, assalamualaikum!" Jelas Rakes yang segera menghindar dari jebakan Mikeal.


"Dasar! abang sama ponaan nggak ada yang benar, semuanya gila! yah emang aku yang salah tempat, bisa-bisanya aku manusia terwaras harus bersama dengan mereka para alien, haiiiiiisssss!" Gumam Mikeal kesal.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya😉😉


Stay terus sama My Princess 😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️