My Princess

My Princess
#151



Dalam waktu yang bersamaan dua unit mobil sedan dan satu motor berhenti tepat di depan gerbang rumah Adimaja Saka. Jam masih menunjuki pukul tiga pagi, namun semua itu tidak membuat langkah mereka semua terhenti, sempat terdiam di mobil masing-masing tanpa berani keluar lebih dulu, meski lewat kaca mobil, mereka terlihat saling melihat kearah mobil satu sama lain, hingga akhirnya si pengendara motor melepas halmnya.


"Ayah....!" Seru Zea dan lekas keluar dari mobil dengan di ikuti oleh Ivent.


"Zea, kenapa kamu juga ada di sini?" Tanya Iqbal yang langsung mendekap erat sang putri tercinta.


"Ayah, Zea....!" Ujar Rakes yang juga ikut keluar dari mobil yang satunya lagi di susul oleh Rafeal.


"Rakes...." Ujar Iqbal yang perlahan sedikit melepaskan pelukannya dari tubuh Zea.


"Apa kalian disini karena ingin memastikan keadaan uma?" Tanya Rakes.


"Memangnya kenapa dengan uma?" Tanya Iqbal dan Zea bersamaan.


"Fadhil bilang, target utama mereka bukan pak Iqbal tapi tante El!" Jelas Rafeal.


"Lestari benar-benar ingin bermain dengan ku, baiklah! akan aku ikuti mau mu!" Gumam Iqbal dan lekas membuka pintu gerbang.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Rakes lalu mendekati Zea.


"Periksa aja sendiri!" Jawab Zea yang langsung merentangkan kedua tangannya.


Disaat yang bersamaan Ivent dan Rafeal langsung memalingkan pandangan mereka ke arah lain.


"Kalau bicaramu nyeleneh gini, abang yakin kamu pasti baik-baik saja." Ujar Rakes yang segera mengikuti Iqbal yang telah lebih dulu masuk.


Jawaban Rakes membuat Ivent dan Rafeal tertawa, bahkan Rafeal segera menghampiri Zea.


"Rakes itu nggak mempan sama permainan anak kecil yang model gini!" Goda Rafeal sembari menepuk tangan Zea yang masih terentang.


"Apaan sih!" Cetus Zea kesel.


"Lagian suami sendiri kok di goda? langsung terkam aja kali!" Ujar Ivent dan segera pergi.


"Kamu, eh Ivent! sejak kapan kamu ketularan penyakit alien ini? berani kamu ya!" Jelas Zea semakin kesel.


"Eh sesama alien dilarang menghina! Zea, aku kasih saran ni ya, Rakes itu pemalu dan cuek, kalau emang kamu kebelet langsung serang aja, dia manusia yang nggak peka sama kode. Dasar bocah alien, ayo masuk!" Jelas Rafeal yang segera masuk.


"Huuuuf! sabar Zea, sabar! ini bukan waktu yang tepat untuk mengajari kedua bocah itu sopan santun! lihat aja bakal aku pelintir tuh mulut!" Cetus Zea dan bergegas masuk.


"Kok gelap?" Tanya Zea yang baru saja melangkahkan kakinya di rumah Adimaja Saka.


Dengan sigap Rakes langsung menarik Zea ke dalam pelukannya.


"Shhhhhhhit! jangan berisik!" Ujar Rakes pelan.


"Apa mereka-mereka benar-benar memulai permainan ini? di rumah bapak!" Gumam Iqbal dengan emosi yang meledak-ledak.


"Apa yang harus kami lakukan pak?" Tanya Rafeal.


"Kita berpencar!" Tegas Iqbal.


"Siap!" Jawab Ivent, Rafeal dan Rakes serentak bersamaan dengan menyalanya lampu di seluruh ruangan.


"Satu, dua, tiga, empat, lima! formasi yang kurang lengkap, dimana bocah kaya itu?" Jelas Seorang lelaki kekar setelah menghitung mereka satu-persatu.


Mata Iqbal langsung tertuju pada lelaki tersebut, ia terlihat duduk santai di sofa dengan kedua kaki yang ia letakkan diatas meja lalu sang anak buah yang berjaga di berbagai sudut yang jumlahnya bahkan mencapai ratusan orang.


"Siapa kamu? kenapa begitu lancang masuk ke rumah ku?" Tanya Iqbal yang terus berusaha menekan emosinya.


"Aku? aaaaah! aku baru ingat kalau kita memang belum pernah bertemu sama sekali kan! baiklah, senang bertemu denganmu secara langsung Iqbal, dan hai Kamu Rakes kan? aku dengar banyak tentangmu, kamu titisan monster ini kan?" Jelasnya panjang lebar sambil menatap tajam sosok Rakes.


"Apa mau mu? siapa kamu sebenarnya?" Tanya Rakes.


"Aku, kenalkan namaku Damar suami sahnya Lestari, wanita yang dulu pernah kamu sia-sia kan, Iqbal. Aku akan membalas semua perbuatan mu terhadap wanitaku, anak ku dan juga pak Vikram, mertua ku." Jelas Lelaki yang ternyata bernama Damar.


"Ternyata kamu lelaki bodoh yang dimanfaatkan oleh wanita jalang itu?" Gumam Rafeal yang ikut geram.


"Jaga mulut mu!" Gumam Damar yang begitu marah jika Lestari di hina.


"Kenapa marah? apa kamu bodoh? atau kamu memang tidak punya otak untuk berpikir? kamu jelas-jelas dimanfaatkan oleh wanita jalang itu!" Jelas Zea.


"Diam!" Gumam Damar.


"Apa mereka salah? kamu hanya di jadikan boneka untuk memenuhi hasratnya Lestari!" Tegas Iqbal.


"Berhenti! atau akan aku pecahkan kepalanya!" Seru Marvel yang baru datang dengan membawa serta Fadhil bersamanya.


Marvel dan Lexel baru saja datang, keduanya mejadikan Fadhil sebagai tawanan mereka.


"Dimana kamu mengambil nya?" Tanya Rafeal.


"Di mobil kamu, dasar ceroboh! kenapa meninggalkan senjata ampuh di luar sana!" Jelas Lexel yang langsung bergabung.


"Upsss! sorry, lupa, soalnya barangnya nggak berkualitas!" Cetus Rafeal.


"Pa, jangan hiraukan aku! hancurkan mereka semua, ini semua demi almarhum kakek dan juga mama! mereka sudah menghancurkan keluarga kita!" Jelas Fadhil.


"Menghancurkan keluarga kalian? kalau ngomong jangan kayak banci, siapa yang menghancurkan keluarga siapa? mama kamu sendiri yang melakukannya!" Tegas Zea penuh emosi.


"Oke, baiklah, ayo kita bermain!" Jelas Damar yang mengambil ponsel dari saku jaketnya lalu segera menghubungi seseorang.


"Bawa turun mereka semua, sekarang juga!" Perintah Damar.


"Siap bos!" Jawab seseorang dari seberang sana.


"Kalian? apa yang kalian lakukan pada keluarga ku, haaaashhhh!" Gumam Rakes kesal.


"Apa kamu berencana menjadikan keluarga aku sebagai ancaman?" Tanya Iqbal yang terlihat mulai tenang.


"Iyap! tebakan mu tepat!" Jelas Damar.


"Haaaah! kenapa harus mengancam aku, kalau kamu ingin membunuh mereka, lakukanlah! bunuh saja!" Jelas Iqbal dengan tatapan datar.


"Ayah!" Ujar Zea.


"Kamu benar-benar monster, Iqbal!" Cetus Damar sinis.


"Marvel, tembak Fadhil!" Perintah Iqbal.


"Apa?" Tanya Marvel.


"Tembak saja bocah itu, lagi pula kita semua akan mati kan! jadi akan lebih seru kalau kita mulai dari dia!" Jelas Iqbal.


"Bajingan kamu! lakukanlah! bunuh dia, dan aku juga akan melakukan bagian ku!" Jelas Damar yang langsung menyambut kedatangan Elsaliani dengan menodongkan pisau tepat di bagian leher Elsaliani.


"Masss!" Lirih Elsaliani pelan bahkan ia memejamkan matanya saat ujung pisau mulai menembus jilbabnya dan mulai terasa di bagian lehernya.


"Iqbal! jangan biarkan mereka menyakiti El!" Ujar Ayu yang juga berada dibawah kukungan salah satu anak buah Damar.


Tak hanya Ayu dan Elsaliani, tapi Tia juga menjadi sandraan mereka.


Selanjutnya Ada Adimaja dengan wajah yang babak-belur karena sejak tadi melawan para anak buah Damar untuk melindungi menantu dan istrinya.


"Bapak!" Teriak Zea histeris saat melihat kondisi Adimaja, Zea hendak berlari mendekatinya namun Rakes segera mencegahnya.


"Nggak Zea, tenanglah! kamu tidak inginkan kalau mereka kembali menyakiti bapak kan?" Jelas Rakes mencoba menenangkan Zea yang kian memanas.


"Abang, aku nggak bisa tenang, lihat uma, mama Tia, bunda dan juga bapak, mereka....mereka....." Gundah Zea diiringi dengan tetasan air mata.


"Abang paham perasaan kamu, tapi coba tenanglah dulu, please!" Ujar Rakes pelan lalu memeluk erat tubuh Zea.


"Bagaimana? mau barter? kamu boleh pilih kok siapa yang ingin kamu selamatkan, bapak, bunda, istri atau istri teman! terserah!" Jelas Damar.


"Aku tidak berniat untuk menukar Fadhil sama sekali! aku akan membunuh Fadhil!" Tegas Iqbal lalu mendekati Fadhil dan mengambil alih pistol dari tangan Marvel.


"Kamu boleh pilih, kepala, perut, hati, mata atau apa saja terserah kamu, akan akan menembak bagian yang kamu pilih!" Jelas Iqbal.


"Oke, aku juga akan melakukannya!" Jelas Damar yang semakin mengeratkan pisau ke lehernya Elsaliani.


'Doooor!' Sebuah peluru terlepas tepat sasaran membuat suasana semakin memanas.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ