
Air yang terus turun dari shower terus membasahi seluruh tubuh Rafael. Tangannya bahkan tanpa henti menggosok semua anggota tubuh miliknya. Tidak hanya itu, dia bahkan sudah di guyur air selama dua jam lamanya, dan ia masih saja terus berulang-ulang kali memakai shampo dan sabun tanpa ada satu anggota pun yang terlewatkan.
"Sial! berapa lama lagi aku harus mandi agar sentuhan ******** itu hilang dari tubuh dan ingatanku! haissssss, satu minggu aku luluran, melakukan perawatan hanya untuk mempertontonkan semuanya pada lelaki hidung belang itu, haissshh sebenarnya dosa apa yang telah aku lakukan di masa lalu hingga aku harus seperti ini? Ya Allah ampunilah segala dosa hamba-Mu ini!" Gumam Rafeal yang masih terus saja menggosok bagian bahunya yang di peluk erat oleh Temi beberapa jam yang lalu.
Setelah menghabiskan waktu cukup lama di kamar mandi, akhirnya Rafeal keluar lalu perlahan melangkah menuju cermin, sejenak menikmati suasana kamar barunya lebih tepatnya kamar di dalam sarang musuh.
"Selama dua jam aku habiskan waktu untuk memuluskan kedua kaki ku ini, dan ujung-ujungnya...... ahhhh, sebenarnya siapa yang sedang aku tipu? aku justru merasa akulah yang tertipu, nasib ya nasib! ahhaa, sekarang aku tau gimana caranya untuk bertahan di sini tanpa harus terus menerus melihat wajah Temi, sepertinya aku harus pandai memanfaatkan hati bejatnya yang tak bisa melihat gadis mulus. Oke! tenang Rafeal, ayo beraksi!" Jelas Rafeal sembari memandangi pantulan dirinya di cermin sana.
Setelah selesai kembali menjadi Risty, Rafeal beranjak keluar dari kamar di saat yang bersamaan pula, Temi muncul tepat di depan pintu kamarnya.
"Om....!" Ujar Risty.
(Sial! huuuuf baru saja bernafas lega eh muncul lagi nih manusia, hadeeeeuh!) Bisik hati Rafeal yang begitu kesal.
"Wanginya!" Ujar Temi setelah menghirup aroma tubuh Rafeal.
Ulah Temi membuat Rafeal lekas mundur membuat jarak dari Temi.
"Om,,,,hmmmm aku, hmmm aku mau jalan sebentar, boleh? aku penasaran sama istana om ini, aku ingin berkeliling sebentar!" Jelas Risty dengan logat yang begitu manja.
"Ayo om temani!" Tawar Temi.
"Jangan om, aku nggak enak sama para pengawal om. Om tenang saja, aku nggak akan kabur kok, aku suka tempat ini!" Jelas Risty lalu sedikit menyentuh lembut pundak Temi.
"Baiklah sayang!" Ujar Temi dengan mengedipkan matanya.
"Terima kasih om!" Ujar Risty dan segera berlari menuruni tangga.
Rafeal mempercepat langkahnya saat ia sudah di lantai pertama, dan lekas berlari menelusuri setiap lorong yang ada dengan harapan ia akan menemukan pintu keluar menuju halaman rumah.
Rafeal yang berjalan terburu-buru akhirnya menabrak seseorang yang terlihat juga sedang berjalan dengan mengintai ke sekitar.
"Auwwwww!" Teriak keduanya serentak saat kepala mereka saling membentur.
"Kalau jalan matanya jangan di simpan napa? kalau sampai benjol atau aku geger otak, akan aku tuntut kamu!" Gumam Rafeal kesal masih dengan tangan yang terus memeriksa bagian kepalanya yang terbentur.
"Astaghfirullah!" Seru Rakes yang kaget bukan kepalang saat menatap sosok yang kini tepat di hadapannya.
Rakes bahkan segera menjauh lalu membuang pandangannya kearah lain. Penampilan seksi Rafeal sukses membuat Rakes ketakutan.
"Aku nggak sengaja, maaf!" Ujar Rakes masih saja berusaha menjauh.
"Sebegitu takut kah kamu dengan gadis seksi?" Tanya Risty.
"Bukan begitu, hanya saja...." Penjelasan Rafeal terhenti saat tangan Risty mendarat pelan di wajahnya.
"Lepas!" Teriak Rakes bersamaan dengan tangan yang dengan kasar menepis tangan Risty.
"Kamu ini, bukankah kalian yang membelikan aku baju-baju durjana ini!" Cetus Risty.
"Rafeal!" Seru Rakes setelah menatap kembali sosok yang ada dihadapannya.
Kini tangan Rafeal yang mendarat kasar di mulut Rakes.
"Pelankan suara mu itu!" Cetus Rafeal.
Bukannya marah ataupun diam Rakes malah terus saja tertawa setiap kali melirik wujud sang sahabat yang sukses membuatnya ilfil sekaligus ngakak.
"Diam nggak!"Ancam Rafeal dengan tinjunya.
"Slowww brayy, upsss! si Risty seksi, maksudnya." Ujar Rakes.
"Tambah kesal aku! lihat aja aku akan balas dendam pada kalian berdua, tunggu saja pembalasan ku!" Cetus Rafeal lalu beranjak meninggalkan Rakes.
"Tunggu!" Pinta Rakes yang membuat Rafeal kembali menghentikan kakinya.
"Risty, kamu seksi banget!" Seru Rakes dengan terus menatap Rafeal dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Shit!" Gumam Rafeal yang semakin mempercepat langkahnya.
(Semoga kalian berdua akan baik-baik saja, aku harap kali ini tidak ada yang terluka, Rafeal jaga diri kamu baik-baik, saat ini aku benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu. Dengan alasan apapun harusnya aku yang berada di posisimu, tapi ntah mengapa kamu malah merebut tempatku, tak seharusnya kamu membuat dirimu dalam bahaya hanya untuk menempatkan aku di zona aman. Aku janji, aku akan menjagamu dengan baik, tidak akan aku biarkan siapapun menyentuh mu!) Ungkap Rakes sambil terus menatap bayangan Rafeal yang bahkan telah menghilangkan entah kemana.
Suara tepuk tangan yang menggema membuat mata Rakes seketika mencari asal suara tersebut, mata bulat Rakes melotot sempurna pada sosok Fadhil yang berdiri di ujung lorong saja.
"Apa kamu menyukainya?" Tanya Fadhil yang kini tampak perlahan mendekati Rakes.
"Jangan salah paham!" Jelas Rakes.
"Salah paham? bagaimana aku tidak salah paham jika matamu bahkan tidak berkedip sama sekali saat menatapnya, bahkan bayangan saja masih kamu tatap dengan penuh hasrat. Aku yang salah paham? atau kamu yang pura-pura bodoh?" Jelas Fadhil.
"Dengar baik-baik! aku sama sekali tidak tertarik dengan gadis itu, jangan memaksa aku untuk menunjukkan sosok aku yang sebenarnya!" Tegas Rakes dengan tatapan tajam.
"Haaaah! kamu membuat aku merinding! kamu sebenarnya sama dengan om Temi kan? sejak awal aku tau kalau kamu memang ********, jika tidak Lexel tidak akan mungkin merekomendasikan mu!" Jelas Fadhil.
"Apa ini kabar baik, atau malah kabar buruk, yang pastinya dia akan membuat organisasi ini semakin kokoh!" Jelas Fadhil dan ikut meninggalkan tempat tersebut.
______________________
"Ayyo!" Ajak Ivent saat semuanya sedang berada di area parkiran sekolah.
Ajakan Ivent yang hanya fokus pada Zea membuat para member lainnya menatap keduanya.
"Kenapa hanya menatap Zea? apa kamu hanya mengajak Zea pulang dengan mobil mewah mu? lalu bagaimana dengan kami?" Protes Bian.
"Apa aku menyebutkan nama Zea?" Ivent malah mengajukan pertanyaan lainnya.
"Ya udah ayyo!" Ajak Taufan yang langsung masuk ke dalam mobil Ivent.
"Namira! ayoo!" Ajak Rayyan saat yang lainnya mulai bergerak masuk ke dalam mobil tapi Namira justru tak bergeming sama sekali.
"Namira!" Panggil Zea yang langsung menyentuh tangan Namira.
"Iya..." Ujar Namira yang terlihat jelas baru tersadar dari lamunannya.
"Apa kamu masih memikirkan Rafeal?" Tanya Taufan yang kembali keluar dari mobil.
"Tidak, tidak sama sekali, ayoo pulang!" Jelas Namira dan segera masuk ke mobil.
"Harusnya Rafeal tidak pergi dengan cara seperti ini." Keluh Taufan yang juga ikut murung saat kembali mengingat Rafeal yang pindah sekolah bahkan tanpa penjelasan yang akurat pada mereka semua.
"Biarkan dia tenang di dunia barunya!" Cetus Rayyan.
"Semoga teman barunya lebih baik dari kita!" Ujar Bian yang juga ikut masuk ke mobil
"Zea ayoo!" Ajak Ivent lagi.
(Mereka pasti baik-baik saja kan? aku merindukan Chim chim!) Bisik hati Zea dengan memejamkan matanya.
"Ayyo!" Ujar Zea yang ikut masuk ke mobil.
Saat semuanya sudah di mobil, sang sopir pribadi Ivent langsung melaju meninggalkan area parkiran sekolah.
Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam di dalam mobil, akhirnya mobil milik Ivent berhenti di depan rumahnya Rayyan dan Zea, mereka adalah anggota terakhir yang harus Ivent antar.
"Terima kasih!" Ujar Rayyan yang langsung meloncat keluar dari mobil.
"Sama-sama!" Ujar Ivent.
"Sampai jumpa besok!" Ujar Zea.
"Hati-hati!" Ujar Rayyan.
"Oke!" Seru Ivent yang kembali menaikkan kaca mobil dan lekas pergi.
"Ada apa?" Tanya Rayyan saat di sana hanya ada mereka berdua.
"Maksudnya?" Tanya Zea.
"Aku tau saat ini ada hal yang mengganggu pikiran mu, sejak tadi pagi kamu sama sekali nggak fokus. Apa ada masalah? apa ini ada hubungannya dengan Rafeal yang pindah sekolah?"
"Aku baik-baik aja." Tegas Zea.
"Jangan bohong! aku mengenalmu dengan sangat baik, aku paham segala perubahan sikap mu. Jujur, ada apa sebenarnya?"
"Sebenarnya, hmmmmmm aku rindu dia!"
"Kamu kira hanya kamu yang rindu? aku dan mereka semua juga merindukannya."
"Aku tau, kita semua akan berpisah suatu saat nanti, tapi tak pernah aku sangka, Rafeal akan pergi secepat itu dari kita. Aku harap tempat barunya bisa membuatnya nyaman dan bahagia."
"Semoga saja! udah sana gih masuk."
"Oke, aku duluan!" Jelas Zea dan segera memasuki gerbang rumahnya.
"Semoga benar kalau kamu baik-baik saja Zea." Ujar Rayyan dan lekas memasuki gerbang rumahnya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊
Stay terus sama My Princess😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️