
"Haisss sial!" Gumam Rakes yang langsung beraksi mengejar sosok Temi yang seharusnya telah berhasil mereka amankan.
Meski harus menahan rasa sakit yang berkecamuk di bagian bahunya, Rakes tetap berlari untuk mendapatkan Temi kembali. Darah segar yang kian menetes membasahi bajunya tidak membuat tekat Rakes surut, dengan cepat ia keluar dari ruangan tersebut lalu memburu Temi yang bahkan sama sekali tidak terlihat lagi meski hanya bayangan belaka.
Tangannya terus menekan tombol lift namun tidak ada reaksi apapun, hingga membuat Rakes semakin kesal.
"Haissss, akan ku bunuh kalian semua!" Gumam Rakes dengan kaki yang menendang kasar pintu lift membuat beberapa orang yang melintas dibuat takut dengan ulahnya tersebut.
"Akan ku tangkap meski harus aku ke neraka sekalipun!" Tegas Rakes yang semakin menggepal tinjunya.
Rakes segera beralih menuju jendela, mencoba memantau sosok yang ia cari melewati jendela namun hasilnya tetap nol.
"Blokir semua pintu masuk" Tegas Rakes.
Rakes beralih menuju tangga darurat lalu bergegas menuruninya berharap yang diburu bisa ia dapatkan.
"Aku sedang di pintu utama gedung, dan di sini tidak terlihat siapapun, tidak ada yang mencurigakan!" Jelas Rafeal.
"periksa semua orang yang lewat, jangan biarkan siapapun keluar dari gedung ini sebelum aku sampai." Perintah Rakes yang terus menuruni tangga.
"Oke!" Jawab Rafeal yang langsung mencegat semua orang di pintu masuk.
"Apa yang terjadi?" Tanya Zea yang tidak paham dengan situasi yang ada.
"Temi pasti lolos, makanya Rakes jadi se-brutal ini." Jelas Rafeal.
"Apa? Rakes? sejak kapan kamu memanggil abang Rakes dengan hanya menggunakan nama saja? dan Temi? siapa dia? dan satu hal lagi, kenapa kalian semua di gedung ini?"
"Nanti pasti akan ku jawab semua pertanyaan mu! kamu tenang aja ingatan aku kuat kok, jadi kamu tidak harus mengulang pertanyaannya!" Jelas Rafeal yang dengan senyuman lebar.
"Nggak lucu!" Cetus Zea.
"Ada apa ini? kenapa kamu menghadang para tamu keluar?" Tanya seorang satpam.
"Aku, hmmm aku sedang bertugas, jadi tolong jangan halangi aku atau semuanya akan semakin kacau!" Jelas Rafeal sambil memperlihatkan tanda pengenalnya lalu kembali menyelipkan kartu tersebut ke dalam jasnya.
"Baik pak!" Jawab satpam tersebut.
"Haaaaaahss!" Seru Rakes yang baru saja tiba dengan keringat yang bercucuran dan nafas ngos-ngosan.
"Dimana ******** itu?" Tanya Rakes yang langsung memeriksa semua orang yang ada di pintu utama.
"Rakes tenanglah! orang yang kita cari tidak ada di sini." Jelas Rafeal mencoba menenangkan Rakes.
"Lepas! aku tau dia pasti berada diantara mereka semua." Jelas Rakes yang terus memeriksa satu persatu.
Rakes tak terkendali ia bahkan melakukannya dengan cara kasar, Zea yang melihat wujud Rakes yang saat ini mulai ketakutan ia bahkan melangkah mundur menjauh dari Rakes.
Langkah Rakes terhenti, ia berdiri dengan tatapan mematikan pada setiap wajah yang ia pandangi hingga matanya beradu dengan mata Zea yang berdiri jauh darinya.
"Haaaaah!" Seru Rakes dengan nafas kasarnya.
Kedua tangannya yang tadi sibuk memeriksa setiap orang kini beralih menjambak rambutnya sendiri, perlahan matanya menoleh pada lantai yang mulai dikotori oleh tetesan darah dari bahunya. Mata Zea mengikuti tatapan Rakes yang akhirnya juga terhenti pada darah yang masih terus menetes.
Disaat itu pula tubuh Rakes ambruk ke lantai, ia jatuh pingsan tak sadarkan diri. Rafeal segera mendekat lalu lekas mengangkat tubuh Rakes.
"Rakes tumbang, kamu ambil alih semuanya, aku akan bawa Rakes ke rumah sakit!" Jelas Rafeal.
"Oke, aku sedang dalam perjalanan menuju lokasi! jaga Rakes." Jelas Marvel.
"Dia kehilangan target, tim kapten Iqbal pasti sedang berusaha menemukan Temi." Jelas Rafeal.
"Aku akan segera bergabung dengan mereka." Jelas Marvel.
Rafeal langsung membaringkan tubuh Rakes di kursi penumpang, Zea masih berdiri di dekat mobil.
"Masuklah!" Pinta Rafeal.
Zea masih mematung ia terlihat begitu kebingungan dengan apa yang sedang ia saksikan.
"Zea masuklah! kamu tidak ingin Rakes kenapa-napa kan?" Tanya Rafeal bersamaan dengan mendorong tubuh Zea masuk ke dalam mobil.
Rafeal bergegas masuk ke dalam mobil dan lekas menjalankan mobil menuju rumah sakit terdekat.
"Kalian membuatku asing dengan semua ini?" Jelas Zea yang masih saja memandang wajah Rakes.
"Aku bahkan merasa begitu asing dengan abang Rakes, dia terlihat begitu berbeda dari biasanya. Abang, apa aku yang membuat abang berubah seperti ini? aku kan yang menjadikan abang se-megerikan ini?" Lanjut Zea dengan air mata yang mulai menetes.
Perlahan tangan Zea menyentuh bagian luka di bahu Rakes lalu mencoba menekannya agar darah berhenti menetes.
"Kenapa abang begitu mencintaiku?" Tanya Zea yang di ikuti dengan isak tangis yang tak mampu ia tahan lagi.
Zea mulai menciumi seluruh wajah Rakes, tangan kirinya masih menekan bahu Rakes sedangkan tangan kanannya mulai mengusap lembut rambut Rakes yang mulai memanjang hingga menutupi kedua matanya.
"Aku janji, aku juga akan mencintai abang dengan penuh kegilaan!" Ungkap Zea dengan tatapan penuh kepastian.
Mobil terus melaju melintasi jalan.
________________
"Dimana El?" Tanya Iqbal yang terlihat begitu berantakan.
Iqbal yang baru saja tiba di rumah sakit segera menghampiri Mikeal yang sedari tadi menunggu El di ruang UGD.
"Dokter masih belum keluar!" Jelas Mikeal yang juga terlihat begitu khawatir.
"Apa dia terluka? apa dia kesakitan? apa keadaannya parah?" Tanya Iqbal.
"El mengalami pendarahan, dan juga beberapa luka di bagian wajah dan lehernya." Jelas Mikeal dengan wajah yang tertunduk.
"Sial! haiiiiiisssss!" Gumam Iqbal penuh emosi dengan tinju yang mendarat sempurna di dinding rumah sakit.
"Abang tenanglah! jika abang seperti ini, El akan lebih kesulitan." Jelas Mikeal yang segera menghentikan Iqbal yang kembali ingin meninju dinding.
"Duduklah, El wanita yang kuat, aku yakin dia dan bayinya akan baik-baik saja." Jelas Mikeal lalu merangkul Iqbal untuk duduk di kursi tunggu.
Sejenak menunggu akhirnya dokter yang menangani Elsaliani keluar dengan didampingi oleh dua orang suster.
"Bagiamana keadaan istri dan anak saya?" Tanya Iqbal yang langsung menghadang dokter.
"Saat ini kondisi istri bapak masih sangat lemah, kami masih harus melakukan operasi pada kandungannya." Jelas Dokter tersebut.
"Apa maksud dokter?" Tanya Iqbal.
"Maaf pak, bayi bapak sudah meninggal, dan kami harus segera melakukan operasi." Jelas Dokter.
"Kamu bohong kan? katakan kalau kamu bohong!" Gumam Iqbal penuh amarah.
"Abang tenanglah! dok, lakukan yang terbaik. Selamatkan El." Jelas Mikeal.
"Kami akan berusaha selebihnya kita serahkan pada Allah, kalau begitu kami akan segera membawa ibu Elsaliani ke ruang operasi." Jelas Dokter.
"Terima kasih dok!" Ujar Mikeal.
"Segera persiapkan ruang operasi dan juga segera pindahkan pasien ke ruang operasi." Perintah sang Dokter.
"Baik dok!" Jawab kedua suster tersebut.
Mereka bergegas meninggalkan ruang tunggu. Tubuh Iqbal yang begitu lemah langsung terduduk kembali di kursi.
"Ya Allah ujian apa lagi ini? apapun suratan-MU, tolong beri aku dan keluargaku kesabaran dalam menjalaninya. Aku ikhlas ya Allah, aku ikhlas!" Tangis Iqbal pecah, dadanya terasa begitu sesak.
"Tenangkan hati abang, kita harus tetap kuat, karena jika kita tumbang maka El akan semakin hancur, kita harus menguatkan El, kita doakan semuanya baik-baik saja. Ayo kita ke ruang tunggu operasi." Jelas Mikeal.
Keduanya mulai beranjak menuju ruang tunggu operasi.
___________________
"Zea....!" Panggil Mikeal ketika melihat Zea sedang duduk gelisah di ruang tunggu dengan di temani oleh Rafeal.
"Om, ayah? kenapa kalian di sini?" Tanya Zea yang segera memeluk tubuh Iqbal yang terlihat begitu rapuh.
"Uma mu sedang di operasi! lalu kalian kenapa di sini?" Jelas Mikeal.
"Rakes juga sedang berada di dalam ruang operasi!" Jelas Rafeal.
"Ayah, uma dan adek bayi baik-baik saja kan? mereka semua baik-baik saja kan?" Taya Zea yang semakin ketakutan.
"Hmmmm, uma, adek bayi dan juga Rakes mereka akan baik-baik saja. Uma dan Rakes adalah manusia terbaik yang pernah ayah temui selama hidup ayah, meski mereka tidak memiliki hubungan darah tapi keduanya terlihat sama, mereka begitu sabar, begitu pemaaf, tidak pernah membenci, dan mereka selalu saja mengorbankan perasaan dan keinginan mereka demi orang yang mereka cintai. Allah menyayangi orang-orang yang sabar dan taat pada-Nya, uma dan Rakes pasti akan selalu dalam lindungan Allah, pasti!" Jelas Iqbal yang semakin mempererat pelukannya.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ