
"Tuan Jordan!" Ujar Rakes dengan tatapan maut yang seakan siap menerkam Jordan hidup-hidup.
Melihat Rakes yang mulai tak terkendali membuat Rafeal dan Marvel menggenggam tangan Rakes, keduanya mencoba untuk menenangkan Rakes yang memang berdiri tepat di tengah-tengah keduanya.
"Ada hal penting yang ingin kakek bicarakan dengan kalian bertiga!" Jelas Jordan yang langsung masuk dan mengambil tempat duduk tepat di ranjang Rafeal.
Ketiganya, kembali menoleh kearah dimana Jordan berada, sedangkan para pengawal Jordan langsung keluar dan menutup pintu dari luar.
Rakes mendekat, namun langkahnya langsung terhenti saat seseorang kembali membuka pintu dari luar dan langsung menerobos masuk.
"Tuan Jordan!" Ujar Lexel dengan nafas ngos-ngosan.
"Lexel keluar lah!" Pinta Jordan.
"Bukankah tuan setuju dengan persyaratan yang aku ajukan? lalu kenapa datang ke sini?" Tanya Lexel yang terlihat jelas sedang marah.
"Persyaratan?" Tanya Marvel.
"Kesepakatan apa yang kalian buat?" Tanya Rakes.
"Rakes, Marvel, maafkan aku, aku hanya ingin melindungi kalian, tapi malah jadi semakin runyam!" Jelas Lexel.
"Setidaknya tepati janji tuan dengan Lexel!" Tegas Rakes.
"Bisa kakek bicara lebih dulu, setelah itu terserah mau kalian apa!" Jelas Jordan.
"Iya, setidaknya kita beri kakek kesempatan untuk menjelaskan semuanya sebelum kita mengambil kesimpulan." Jelas Rafeal.
"Terima kasih Rafeal, lepaskan Roger, biar kakek yang mengurusnya!" Jelas Jordan.
"Tuan, bukankah tuan sudah sepakat untuk membiarkan Roger dalam pengawasan Rakes dan Marvel!" Jelas Lexel.
"Tidak sesederhana itu Lexel, terlebih status pekerjaan kalian. Ingat, kalian tidak bisa mengurus masalah pribadi dengan jabatan kalian!" Jelas Jordan.
"Apa kakek yang membuat laporan pada Kepala?" Tanya Marvel.
"Jadi kakek datang terlambat?" Tanya Jordan.
"Jadi maksud kakek ada orang lain di belakang kejadian ini semua?" Tanya Rafeal.
"Apa mungkin....." Ujar Lexel menerka.
"Aku rasa Roger sengaja menjebak kita, dia pasti sudah tau latarbelakang pekerjaan kita. Selama ini dia tidak pernah menyakiti Zea, tapi dia melakukannya, itu pasti karena dia sudah menyusun skenario yang akurat!" Jelas Rakes.
"Kakek sudah buat surat pernyataan, serahkan ini pada Kepala kalian, dan segera alihkan Roger pada pengawal kakek, sebelum mereka lebih dulu menemukannya!" Jelas Jordan lalu menyerahkan amplop putih pada Lexel.
"Apa yang tuan rencanakan?" Tanya Rakes.
"Melindungi semua cucu-cucu kakek. Dan satu lagi, tolong ganti panggilan mu itu, aku kakek mu bukan tuan mu!" Jelas Jordan.
"Akan aku pertimbangkan!" Jelas Rakes.
"Jangan sampai telat, biarkan kakek mendengarnya!" Jelas Jordan dan bangun dari duduknya.
"Biar saya antar tuan!" Ujar Lexel yang langsung berdiri di samping Jordan.
"Kamu juga, permintaan tadi juga berlaku untuk kamu, kakek bukan tuan!" Tegas Jordan.
"Baik tu....kakek, ayo!" Ujar Lexel.
"Lexel langsung serahkan surat ini pada kepala kalian, dan kalian bertiga cepat transfer Roger ke alamat yang sudah kakek kirimkan sisanya biar kakek yang urus, selamat malam!" Jelas Jordan dan langsung pergi bersama para pengawalnya.
"Aku juga permisi!" Jelas Lexel dan lekas pergi.
"Bukan main perannya kakek Jordan, bahkan dia punya kendali dalam dunia kita, luar biasa!" Jelas Rafeal terpukau.
"Menantu dan cucunya woww apa lagi kakeknya!" Jelas Marvel.
"Mulai lagi! udah buruan gerak!" Cetus Rakes yang langsung sigap pergi.
"Siap pak bos!" Seru Marvel dan Rafeal lalu pergi mengikuti Rakes.
__________________
"Zea....!" Panggil Iqbal saat melihat Zea yang begitu sibuk dengan laptop milik Rakes.
Zea yang merasa dipergoki saat sedang beraksi seketika langsung menutup laptop Rakes, lalu buru-buru bangun dari kursi kerja Rakes, hingga tanpa sengaja ulahnya malah membuat gelas pensil Rakes terjatuh ke lantai. Dengan sigap Zea hendak mengutip semua peralatan tulis yang berhamburan dilantai, namun kepalanya malah kejedot dengan sisi meja.
"Auwwww!" Desah Zea dengan tangan yang spontan mengusap bagian kepalanya yang terbentur meja.
"Dasar kamu!" Cetus Iqbal yang bergegas mendekati Zea lalu mengusap kepala Zea.
"Biar ayah yang bereskan, ayo duduk!" Jelas Iqbal yang membantu Zea kembali duduk di kursi lalu ia segera memungut semuanya lalu meletakkan kembali di meja.
"Apa yang kamu cari, sayang?" Tanya Iqbal lalu menarik kursi yang lainnya dan duduk di samping Zea.
"Abang Rakes, ntah mengapa Zea begitu mengkhawatirkannya, Zea takut kalau abang nekat lalu membuat ia sendiri berada dalam bahaya, Zea nggak tau apa yang sedang abang kerjakan, tapi yang jelas perasaan Zea nggak enak, Zea terus saja mengkhawatirkan abang." Jelas Zea.
Perlahan Iqbal membawa Zea kedalam dekapannya, membelai lembut rambutnya lalu mengecup kepala sang putri tercinta.
"Zea ngerti yah, tapi....!"
"Kamu percaya sama Rakes kan?"
Zea hanya menganggukkan kepalanya.
"Rakes akan menyelesaikan tugasnya dengan sempurna apapun caranya."
"Ayah...."
"Jangan terlalu membebani diri dengan pikiran yang nggak jelas. Gimana kabar cucu ayah? sehat kan?"
"Alhamdulillah sehat yah! Uma mana?"
"Uma sudah tidur, kamu juga tidur gih sana!"
"Ayah, sebenarnya ada hal yang ingin aku pastikan sama ayah."
"Tentang apa?"
"Tentang isi laptop abang!"
"Isi laptop? kenapa? Zea, jangan ikut campur dengan pekerjaan Rakes."
"Bukan tentang pekerjaan, tapi tentang diary uma, kenapa abang menyimpannya?"
"Diary uma? apa maksud mu?"
"Apa ayah juga nggak tau tentang diary uma? ayah tidak pernah membacanya?"
"Zea......!"
"Kenapa memperlakukan uma dengan begitu kejam? kenapa menyakiti hati dan batin uma terlalu lama? kenapa ayah dan aku sama saja? kita membuang waktu kita dengan percuma, dengan melukai perasaan orang yang begitu mencintai kita. Ayah kenapa tidak sejak awal ayah mencintai uma? kenapa malah menatap Lestari? kenapa ayah membiarkan uma terluka begitu lama?" Tangis Zea pecah, ia terlihat sangat kacau.
"Zea....."
"Lebih dari itu, aku justru mengulangi hal yang sama dalam hidup aku. Selain diary uma, di sana juga ada diary abang tentang aku, apa yang harus aku lakukan untuk membayar 17 tahun yang sudah abang sia-sia untuk menunggu aku..."
"Zea tenanglah!" Kini Iqbal kembali menyentuh wajah sembab Zea.
"Ayah, aku...!"
"Ayah tidak tau apa yang Rakes tulis tentang mu, ayah juga tidak tau apa tujuan Rakes menyimpan semua cacatan uma, tapi ayah yakin dia pasti punya alasannya tersendiri. Zea, tugas kita sekarang adalah bertahan untuk mereka, tidak mengulangi kesalahan kita dimasa lalu dan juga siap terluka demi mereka."
"Aku bahkan siap mati untuk menggantikan rasa sakit yang abang rasakan."
"Ayah tau sayang, karena memang kita berada dalam situasi dan posisi yang sama. Tidurlah, jaga cucu ayah dengan baik, ayah sayang kamu dan Rakes!" Ujar Iqbal lalu mengecup kening Zea.
Iqbal membantu Zea untuk rebahan ke tempat tidur, lalu menyelimutinya dan setelah Zea benar-benar terlelap barulah ia beranjak keluar dari kamar tersebut.
"Maafkan ayah yang pernah menyakiti uma mu, bahkan dengan rasa sakit yang begitu parah, ayah bahkan pernah memintanya untuk mati agar tidak lagi muncul dalam hidup ayah, ayah pasti terlihat seperti monster kan? tak berperasaan! ayah tau kesalahan ayah tidak bisa kalian maafkan. Zea, maaf karena kamu harus terlahir dari seorang ayah yang begitu brutal, maafkan ayah sayang!" Ungkap Rakes yang perlahan menutup rapat pintu kamar Zea.
__________________
Baru saja beberapa langkah Rakes, Marvel dan Rafeal menempatkan kakinya di ruangan tersebut, ketiganya langsung di sambut dengan tepuk tangan meriah yang menggema di seluruh ruangan.
"Akhirnya kalian datang juga!" Seru Fadhil.
"Kenapa kamu juga bisa ada di sini?" Tanya Marvel kebingungan dengan keberadaan Fadhil yang duduk di kursi dengan kaki tangan yang terikat sempurna.
"Kenapa kaget begitu? slowww!" Ujar Roger yang berada di samping Fadhil dengan kondisi yang sama persis dengan Fadhil.
"Apa yang kalian rencanakan?" Tanya Rakes.
"Menurut mu? kapten Rakes al-Maliki?" Seru Roger dengan senyuman penuh kemenangan.
"Kalian bertiga jangan ada yang bergerak, angkat tangan kalian!" Tegas sebuah suara yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.
"Komandan!" Ujar Rafeal saat melihat sosok sang komandan bersama para pasukan khususnya.
"Jadi ini drama mu?" Tanya Rakes.
"Luar biasa bukan? selamat menikmati!" Ujar Fadhil pelan.
"Kalian bertiga ikut saya ke markas, dan kalian lepaskan sandraan mereka dan juga bawa keduanya ke markas!" Jelas sang komandan dan lekas keluar dari ruang tersebut.
Para pasukan langsung melaksanakan tugas mereka dengan baik, Rafeal, Marvel dan Rakes hanya bisa ikut tanpa protes sama sekali.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida πππππ