My Princess

My Princess
#034



Zea terus melangkah menelusuri halaman rumahnya, ketika ia sampai tepat di depan pintu depan, entah kenapa ingatannya segera kembali pada kejadian dua puluh menit yang lalu, tepatnya diarea parkiran sekolah.


"Rayyan, aku nebeng ya!" Pinta Zea yang langsung mendekati motor Rayyan.


"Jemputan kamu mana?" Tanya Bian dengan mata terus jelalatan ke sepanjang jalan didepan gerbang sekolah.


"Ayah lagi ngantar uma periksa kandungan." Jelas Zea.


"Abang Rakes mana?" Tanya Rafeal.


"Kuliah! udah ayo jalan." Pinta Zea yang langsung naik ke motor Rayyan.


"Sorry Zea, aku udah janji sama teman aku, aku nggak bisa ngantar kamu." Jelas Rayyan dengan nada yang begitu tegas.


"Ya udah, aku ikut kemana kamu pergi, lagian di rumah bakal sepi sorang diri" Jelas Zea.


"Zea, ada hal yang ingin kami bahas secara pribadi tanpa ada seorangpun yang mendengarnya" Jelas Rayyan.


"Kamu kenapa sih Rayyan? biasanya juga kamu yang selalu ngajak Zea pulang bareng! kenapa hari ini kamu malah menolaknya?" Tanya Rafeal yang tidak paham dengan jalan pikiran Rayyan saat ini.


"Itu dulu beda ceritanya sama sekarang, aku harus pergi sekarang juga, dia pasti sedang menunggu kedatangan aku, Zea turun!" Jelas Rayyan.


"Ayo Zea! aku akan mengantarkan mu pulang!" Ajak Taufan yang langsung menarik tangan Zea untuk masuk ke mobilnya.


"Pak, kita ngantar Zea dulu!" Jelas Taufan pada sang sopir pribadinya setelah ia dan Zea berada di kursi belakang.


Zea yang masih kebingungan sambil memikirkan sikap Rayyan yang memperlakukannya begitu dingin dan acuh seketika buyar karena kini kesadarannya telah kembali.


Zea segera membuka pintu rumah dan lekas masuk.


"Rayyan, apa perubahan mu disebabkan oleh keputusan aku yang memilih abang Rakes? maaf, karena tanpa sengaja aku malah menoreh luka di hatimu, aku paham dengan rasa kecewamu, aku harap kamu akan secepatnya kembali menjadi Rayyan sahabat terbaikku." Ungkap Zea penuh harap sambil terus melangkah menaiki tangga hingga akhirnya ia sampai di kamarnya.


Setelah mengganti seragam dengan kaos abu-abu yang berlengan panjang dan rok kembang yang berwarna senada, kini Zea melepas lelah dengan menghempaskan tubuhnya keatas ranjang, lalu sejenak menarik napas lega, mencoba membolak-balik tubuhnya ke setiap sisi kasur.


Suara bel yang berulang kali di tekan membuat Zea mau tidak mau harus bangkit dari rebahannya, setelah mengenakan kerudung dengan acak-acakan dan ngasal, Zea segera berlari menuju pintu depan.


"Maaf apa benar ini rumahnya Tuan Saka?" Tanya Seorang kurir pengantar barang setelah Zea membukakan pintu.


"Iya, kenapa?" Jelas Zea.


"Ada kiriman barang untuk tuan Saka!" Jelas Sang kurir sambil memperlihatkan nama serta alamat yang tertera pada kotak yang ada ditangannya.


"Oke" Ujar Zea yang membaca nama yang tertera pada kota tersebut.


"Apa tuan Saka ada di rumah?"


"Nggak ada, belum pulang!" Jelas Zea.


"Mbak adiknya kan? mbak aja yang terima gimana?"


"Adik? Aku bukan adiknya, tapi aku ini putri tercintanya!" Tegas Zea dengan raut wajah menakutkan.


Zea langsung mengambil kotak tersebut dengan kasar.


"Tanda tangan disini mbak!" Pinta sang kurir yang menyodorkan selembar kertas serta pulpen pada Zea.


"Udah kan!" tegas Zea setelah mencoret kertas tersebut dan langsung masuk tanpa peduli pada sang kurir yang masih kebingungan dengan sikap Zea.


Zea meletakkan kotak yang baru saja ia terima di atas meja lalu menatapnya lekat, ia begitu tidak sabar untuk melihat apa isi dari kotak yang terbalut tersebut.


____________________


"Nih!" Ujar Marvel lalu meletakkan pesanan Rakes diatas meja tak lupa menyelipkan secarik kertas dibawah gelas.


"Jika ada yang mencurigakan, nanti malam kita ketemu di tempat W." Jelas Marvel dengan suara pelan.


"Selamat menikmati!" Ujar Marvel dengan senyuman lebar lalu bergegas kembali bekerja melayani pelanggan lainnya yang telah menenui kafe.


Rakes perlahan meneguk kopinya lalu membuka lipatan kertas yang tadi Marvek selipkan.


"Kiriman? peringatan?" Ulang Rakes yang terus berusaha memikirkan sesuatu yang dimaksud oleh Marvel.


"Zea!" Ujar Rakes penuh khawatir.


Rakes segera membuka ponselnya lalu secepatnya mengecek keberadaan Zea. Titik merah yang menjadi pusat perhatian Rakes masih berada di dalam pekarangan rumah Iqbal, membuat Rakes sedikit lega.


"Bagaimana?" Tanya Marvel yang mendekat lalu kembali mengelap meja yang ada di sebelah meja yang Rakes tempati.


"Princess di rumah!" Jawab Rakes yang tetap fokus dengan ponselnya.


"Apa Harimau ada di rumah?"


Rakes memberi jawaban dengan menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana kalau...!" Ucapan keduanya yang serentak malah menggantung, keduanya saling menatap bahkan kedua mata mereka terlihat bak sedang berkomunikasi memberi jawaban tersendiri atas kejadian ini.


"Go!" Seru Marvel yang segera meninggalkan meja tersebut.


Rakes segera keluar dari cafe lalu segera ke parkiran, sosok Marvel keluar setelah menggantikan seragam kafenya.


tanpa babibu mereka langsung meluncur dengan motor mereka masing masing.


________________


"Ah buka ajalah! kelamaan kalau harus nunggu ayah pulang, lagi pula ini pasti belanjaan online nya uma, cuma mau lihat doang kok." Gumam Zea yang sedari tadi hanya menatap kotak yang sejak beberapa puluh menit yang lalu terus ia pandangi.


"Tapi.....? Ah udah ah buka aja!" Tegas Zea pada hatinya yang masih bimbang membuka atau menunggu sang pemilik pulang.


Setelah bergulat dengan hatinya sendiri akhirnya tangan Zea menyentuh kotak tersebut dan perlahan membuka kertas yang membalut rapi kotak tersebut.


Satu lapis berhasil Zea buka, hingga menampilkan kertas lainnya, Zea kembali membuka hingga untuk ke sekian kalinya.


Hingga terlihatlah sebuah kotak kue.


"Cuma kue? cih jika hanya kue kenapa harus di balut seheboh itu, dasar kurang kerjaan!"


Zea mengangkat kue tar yang berwana pink tersebut dari kotaknya.


"Selamat menikmati, semoga kamu menyukainya!" Baca Zea pada tulisan yang yang tertera jelas pada bagian atas kue.


"Nggak biasanya uma pesan kue, biasanya juga minta dibelikan sama ayah atau Chim chim. Uma pasti kena virus belanja online nih!" Gumam Zea lalu berusaha untuk menyentuh kue tersebut.


"Stop!" Teriak Rakes dan Marvel hampir bersamaan, dengan cepat keduanya mendekat.


Marvel mengambil alih kue yang hampir Zea sentuh.


"Biar aku cek!" Jelas Marvel.


"Bagaimana?" Tanya Rakes cemas.


Tangan Marvel mulai merusak tatanan kue yang begitu indah, namun hanya butuh waktu beberapa detik saja untuk menghancurkannya.


"Menjauh lah! Pinta Rakes.


"Aku akan tetap disini!" Tegas Zea.


"Dapat!" Seru Marvel setelah menghancurkan kue tar tersebut hingga membuat Zea dan Rakes segera menatap pada Marvel.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya😘😘


Stay terus sama My Princess ya😉😉


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️