
Pagi kembali menyapa, membuat Airyn tersenyum di pagi hari, ketika sang mentari menyambutnya sepenuh hati. Dia membangunkan diri dan beranjak dari kasur yang hangat dan sangat nyaman. Airyn melihat Angel sudah tidak berada di samping nya, dia bergegas keluar dari kamar untuk menemukan keberadaan Angel.
Airyn menempelkan tangan di permukaan trali yang membatasi lantai atas dan bawah, ia menundukan pandangan kearah bawah, seraya melihat Angel yang telah sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka, tentu saja setelah mengetahui gadis itu baik-baik saja, Airyn bisa menenangkan fikirannya kembali.
Kadang kita harus mencoba menghadapi hal yang tidak mampu kita hadapi sebelumnya, meskipun kata-kata Angel membuat Airyn merasa rendah diri, namun saat ini bukan saatnya untuk mundur dari sisi gadis itu, masih banyak yang harus Airyn lalukan untuk melindungi calon adik iparnya.
Airyn membersihkan diri seraya menganti pakaian tidurnya, ia mengunakan beberapa kosmetik untuk menjaga kelembapan kulitnya di siang hari, gadis itu tetap memeriksa laporan yang masuk ke ponselnya seraya melihat jadwal rapat yang di kirim Merry.
"Astaga padat sekali minggu ini, apa aku harus menundanya" seru Airyn ketika menimbang-nimbang jadwal yang Merry susun dengan baik.
Airyn dan Angel tengah menikmati sarapan sambil membahas beberapa hal, mereka berdua menghabiskanya hingga tak bersisa. Setelah selesai disana mereka berdua memasuki kamar Angel untuk melakukan aktifitas seperti biasa, tentu saja banyak hal yang di ceritakan gadis itu kepada calon kakak iparnya, hingga dengan senang hati Airyn mendengarkan semua hal terkait masa lalu gadis tersebut.
Mereka melakukan aktivitas masing-masing, hari ini Airyn memilih untuk di rumah karna dirinya ingin libur untuk menyelsaikan tumpukan pekerjaan di minggu depan, sedangkan Angel masih saja sibuk dengan ponselnya, mereka menghabiskan waktu bersama hingga hampir sore hari, seketika ponsel Airyn berdering membuat keheningan yang membentang mengalihkan pandangan.
"Hansell" seru Airyn saat melihat nama Hansell tang tertera di panggilan masuk, ia dengan segera mengangkat pangilan dari pria yang cukup di rindukan.
“Hallo Hansell” sapa Airyn sembari menjauh dari Angel, sebab ia cukup malu bicara dengan Hansell di depan adik kandung kekasihnya.
“Hallo sayang, apa kau baik-baik saja?” tanya Hansell dari sana, terdengar jelas nada suaranya begitu cemas saat menanyakan keadaan Airyn.
“Aku baik saja kok, bagaimana dengan mu”
“Aku juga baik, hanya hatiku yang tidak baik, karna merindukanmu" kekah pria itu hingga membuat Airyn salah tingkah "Lalu bagaimana dengan Angel?”
“Angel baik-baik saja” balas Airyn kepada Hansell, seraya mengapai trali pembatas yang ada di depan balkon kamar, bahkan ia memalingkan wajah melirik Angel yang tengag memandang-mandang Airyn di luar kamar.
“Aku merindukan mu” seru Hansell sekali lagi, bahkan saat inu nada suaranya merendah, karna pria itu benar-benar merindukan Airyn, membuat jantung gadis yang mendengar perkataan rindu itu berdegup kencang, entah kenapa ia selalu gugup meskipun hubungan mereka semakin akrab.
“Aku juga” balasnya sembil melihat ke arah taman yang berada di depan, mata Airyn begitu sendu memandang kearah depan, bahkan dirinya sangat malu saat mendengar ucapan rindu, dan sangat malu saat membalas hal itu.
“ssekarang kau ada dimana?” tanya hansell dari balik sana, membuat Airyn mengkerutkan kening atas pertanyaa itu, bukankah Hansell tahu jika Airyn di irlandia dan di rumahnya.
“Aku ada di rumahmu” balas Airyn dengan polosnya, membuat Hansell terkekeh mendnegar perkataan gadis menyebalkan dan selalu membuatnya merindu.
"Aku tahu sayang, tapi aku ingin mengetahui kau ada dimana? Apa kau tengah di taman, dapur, kamar, lobby ruang tamu--"
"Aku ada di balkon" dengus Airyn dengan jengkel saat gadis itu mempermainkanya.
"Apa yang kau lakukan disana?" Tanya Hansell sekali lagi, membuat Airyn melipat kedua tanganya seraya melihat kearah bawah.
"Aku hanya melihat taman dan kolam ikan yang ada di bawah, seolah sengaja dibuat untuk seseorang yang ini berada di balkon" serunya ketika menjelaskan, membuat Hansell mengetahui balkon mana yang Airyn pijaki.
"Apa kau ada di balkon kamar Angel?" Tanya Hansell pada kekasihnya, membuat Airyn menganggukan kepala seolah membenarkan setelahnya ia menjawab dengan suara.
“Begitukah, coba lihat kebelakang” Airyn mengikuti perintah Hansell, dia melihat kearah belakang yang langsung berhadapan dengan pintu kamar.
Betapa kagetnya Airyn saat seseorang membuka pintu kamar Angel, bahkan membuat mata Airyn melebar tak percaya, jika saat ini Hansell tengah berdiri di depan matanya , Angel yang berbaring di kasur kaget melihat kedatangan kakak kandungnya
secara tiba-tiba.
“Kakak” Angel menyambar Hansell dengan begitu rindunya, tentu saja pria itu membalas pelukan hangat kepada adiknya, sembari memberikan senyuman hangat kearah kekasihnya yang saat ini memandang Hansell dengan kasih sayang.
“Aku merindukan kakak. Sudah lima tahun kakak tidak pernah kembali, dan hari ini pulang, aku sangat bahagia” seru Angel saat melihat kearah kakaknya, bahkan Hansell cukup tersentuh atas ucapan yang di lontarkan oleh Angel.
“Kakak juga merindukan mu” Hansell memeluk Angel sekali lagi, sembari mengusap kepala adiknya dengan penuh sayang, tapi mata pria itu masih setia memandang kearah Airyn yang tengah menghampiri dirinya, tentu saja Angel mengerti jika dua pasangan itu saling merindukan, dia melepaskan diri dari pelukan kakaknya, sedangkan Airyn melangkah kearah mereka, melihat kekasihnya yang begitu di rindukan, Hansell meraih tangan Airyn hingga begitu lekat bahkan sangat sulit terlepaskan.
“Angel kakak akan meminjam kakak iparmu” ujarnya tanpa tahu malu, membuat Angel mengeluarkan jempol seolah menyetujuinya, tentu Airyn sedikit malu.
Hansell berlalu ketika menarik kekasihnya, menuju kearah kanan, pria itu mengandeng tangan Airyn kearah kamar yang berada di samping kanan kamar Angel, Hansell membuka ganggang pintu sembari tersenyum kearah Airyn, seketika dua manusia itu menghilang di balik pintu tersebut.
Tentu saja mereka memasuki kamar Hansell yang penuh dengan setting dongker di sekelilingnya, berpadu dengan arsitektur amerika classik dan berbagai benda-benda disana, salah satu lemari pajangan berwarna kayu murni dengan ukirin sederhana namun menampilkan kesan mewah di pinggiran. Banyak sekali pelakat-pelakat yang di miliki dan tersusuh rapi, berbagai piagam dan beberapa sertifikat juga terpampang nyata, membuat Airyn melihat keseluruh bagian untuk melihat kamar yang sangat rapi.
"Kamar siapa ini, apa ini kamarmu?" tanya Airyn dengan berbasa basi, membuat Hansell terkekeh atas pertanyaan retorika yang di sampaikan Airyn.
"Jika kau sudah tahu, kenapa kau bertanya" serunya seolah menarik hidung mancung kekasihnya yang cukup mengemaskan.
"Bukankah ini sudah tidak kau tempati. Kenapa barang-barangnya masih tertata rapi disini" tanya Airyn, sebab ia sudah tinggal di negara lain, seharusnya Hansell membawa beberapa barang-barangany, tapi seprtinya tidak ada yang kosong di kamar itu, bahkan semua benda tersusun rapi.
Hansell yang tengah melepaskan pakaian hangat yang ia kenakan, tersenyum kearah Airyn, bahkan pria itu menarik tangan gadisnya untuk duduk di pinggir ranjang, saat ini Hansell tidak mengunakan jas formal seperti biasa, ia mengunakan baju rajutan yang di padukan dengan pakaian Hangat berwarna coklat tua. Bahkan tubuh bidangnya saja sangat kekar hingga mempertontonkan ketampanan pria itu.
“H-Hansell” Airyn menahan tubuh pria itux tentu saja ia sangat malu ketika pertanyaan Hansell sangat menyudutkan, bahkan kali ini pria itu mengintimidasi Airyn di bawah tatapan matanya.
“Apa kau tidak merindukan ku?” tanya pria itu sekali lagi, membuat Airyn semakin engan membalas perkataan Hansell.
"Jika aku katakan aku rindu, itu berarti aku rindu, tapi apa kau tidak lapar” tanya Airyn seraya menjauhkan diri dari Hansell, bahkan suara gadis itu terdengar pengertian di telinga Hansell, membuat dirinya tidak bisa menahan diri lagi.
"Aku lebih tertarik memakan mu"
"Jangan coba-coba melakanya di sinu Hansell" ancam Airyn ketika meninggikan nada suara membentaknya. "K-Kau tahu kan kita ada di rumahmu, ada Angel di rumah ini. Aku tidak ingin Angel salah paham dan membenciku"
"Dia tidak akan membencimu" bujuk pria itu saat menarik tangan Airyn untuk kembali duduk, mau tak mau gadis itu menuruti Hansell, tanpa melawannya.
"Baiklah jika kau tidak mau, aku akan mengahrgai itu. Tapi lain kali aku tidak akan menoleransi" serunya dengan mengancam, membuat Airyn bergindik ngeri ketika membayangkan bagaimana luar biasnya pri itu.
“Hansell kenapa kau kembali?” tanya Airyn saat mengalihkan pembicaraan, membuat Hansell membentang diri di ranjangnya yang sudah lama tidak ia tiduri.
“Tentu saja aku merindukan kekasih ku, menurutmu untuk apa lagi, sayangnya gadis itu tidak merindukan ku” balas Hansell sambil mencebikan bibirnya, membuat Airyn terkekeh ketika Hansell merasa jengkel.
“Benarkah, aku juga merindukan mu. Tapi sayangnya bukan waktu yang tepat” Airyn membentang diri di samping pria itu, ia memeluk tubuh Hansell untuk memberikan kenyamanan.
Tentu saja Hansell tersenyum saat Airyn mengerti keinginan dirinya, pria itu mengkecup kepala Airyn berulang-ulang, entah bagaimanapun dirinya selalu saja merindukan gadis ini bahkan setelah mereka bertemu, tetap saja rasa rindu itu semakin mengebu.
“Apa kau fikir aku kembali hanya sekedar merindukan mu?” seketika suara Hansell memberat membuat Airyn terdiam, dia berfikir apa maksud dari ucapan Hansell barusan, Airyn melepaskan diri ketika memandang Hansell dengan penuh pertanyaan “Aku kesini untuk menghukum mu”
"Apa yang aku lakukan, sampai kau menghukum diriku" bentaknya dengan tidak terima, bahkan baru saja Airyn ingin bangkit, pria itu menarik tubuhnya untuk tetap di ranjang.
Hansell menindih Airyn di bawah pandangan matanya yang sendu, senada dengan usapan lebut di wajah Airyn yang indah, ia menatapnya dengan penuh cinta hingga jantung Airyn terasa berdebar, bahkan Hansell tidak pernah semenarik hari ini, penuh kelembutan saat bersikap, sangat bercahaya ketika di pandangan, serta dirinya yang tampan itu membuat Airyn terpesona.
Hansell mendekatkan permukaan wajahnya, seolah ingin mengkecup bibir gadis yang ia cintai, membuat Airyn semakin gugup ketika meneguk salivanya dengan berat, ia bahkan menutup mata seolah pasrah saja, hingga hembusan nafas Hansell terasa begitu dekat, bahkan Airyn sangat siap apapun yang terjadi, hingga sebuag sentuhan di permukaan hidungnya yang mancung membuat gadis itu membuka mata, pria itu tidak menciumnya melainkan menarik permukaan hidungnya hingga menjentik jidatnya.
“Kenapa kau berhenti” celetuk Airyn dengan penuh kesal, bagaimanapun dia sudah menyiapkan diri, bahkan dirinya masih menikmati bagaimana Hansell tengah merayu.
“Memangnya apa yang aku lakukan padamu, sampai kau membentaku” balas Hansell saat menatap kedua mata Airyn dengan padangan merendahkan, hingga wajah gadis itu mengelap ketika sadar jika dirinya di permainkan.
"Sayang apa kau tengah berharap lebih" sambung Hansell untuk mengejek lagi, bahkan ia sangat sadar bagaimana Airyn menahan gejolak marahnya dan juga rasa malunya, tapi ia tidak mengurungkan niata. untuk menghina "Apa kau tengah bersiap-siala untuk sesuatu hal lebih. Jika memang begitu, aku siap melakukanya" baru saja Hansell ingin mencondongkan tubuhnya kearah Airyn, gadis itu menepis tubuh Hansell untuk menjauh, meskipun begitu Hansell dengan segera menahan Airyn agar tetap dalam tindihanya.
“Hansell” Airyn meninggikan nada suaranya, seakan dia tidak senang akan sikap pria itu.
“Kenapa kau marah? Apa kau malu, apa aku tengah menghinamu?" wajah Airyn mengelap ketika menatap Hansell, ia tidak tahu apa kesalahanya hingga Hasell mempermainkanya seperti ini, rasanya Airyn ingin bersembunyi sebab ia sangat malu melihatkan wajahnya.
"Apa aku orang lain bagimu?" serunya dengan nada rendah, saat mengusap pipi Airyn yang lembut. Bahkan membuat gejolak emosi Airyn tidak bisa di kendalikan, ia mengalirkan air mata saat merasa di permalukan, membuat Hansell menjatuhkan diri untuk mencumbu gadis itu, bahkan Airyn ingin menolak tapi Hansell memaksa, seolah tak ada kekuatan lagi hingga keduanya saling menangapi satu sama yang lainyan.
“Lepaskan” lirihnya seolah tidak ingin lagi, membuat Hansell melepaskan Airyn dari dekapanya untuk membiarkan kepada gadis itu jatuh ke dada bidangnya.
Airyn menengelamkan kepalanya disana, sembari menyembunyikan sikap malu saat menangis hanya karna Hansell mengodanya, melihat tingkah tersebut tentu saja Hansell terkekeh, dia hanya mencoba untuk mengoda kekasihnya, tenyata Airyn memang terpancing dan menangis tanpa di duga, Hansell mengacak-ngacak rambut Airyn hingga gadis itu semakin malu, dia menempel keras kedada Hansell, seakan tak ingin lepas.
“Sayang, aku hanya bercanda, lihat aku” bujuk pria itu, namun Airyn mengelengkan kepala saat bersembunyi di dada bidang Hansell “Apa kau tidak merindukan ku?” tanya Hansell sekali lagi, membuat Airyn mengelengkan kepala dengan cepat, tentu Hansell semakin tersenyum menyaksikan tingkah lugu itu, rasanya ia cukup keterlaluan sehingga memberikan ruang untuk Airyn tenang.
“Aku menghukum mu karna kau tidak merindukan ku!!" tegas Hansell pada Airyn, membuat gadis itu terkesiap saat Hansell menindih dirinya.
"Apa yang kau lakukan" teriak Airyn dengan tidak percaya.
"Aku akan memberikanmu hukuman yang cukup menyenangkan" serunya ketika mengenggam kedua tangan Airyn dengan erat.
"Ini bukan meyenangkan, ini sama saja jika kau menyiksaku"
"Tidak sayang, aku tidak akan menyiksamu, aku hanya memberi hukuman saja atas kesalahan yang kau lakukan"
"Tidak Hansell.......... "
"Hansell............ " Teriakan Airyn seolah menjadi penentu seberapa kejamnya Hansell malam itu, bahkan Airyn tidak berdaya dengan kekuatan kekasihnya yang luar biasa.
“Maafkan aku, aku mencintai mu” Hansell memeluk tubuh mungil yang sudah kelelahan, disaat tubuh Airyn tidak mengunakan sehelai benang pun, membuat Hansell benar-benar sangat terhangatkan. Hanya selembar selimut yang menutupi keduanya, ketika gadis itu memejamkan mata setelah siksaan yang di berikan Hansell padanya.
“Ini hukuman karna kamu selalu bertindak sesuka mu tanpa memberitahu ku apapun” gumam pria itu di dalam hati, sebab ada rasa jengkel saat mengetahui Airyn merencanakan semua hal yang terjadi sendiri, Hansell hanya takut gadis ini mencelakai dirinya, karna itulah Hansell tidak dapat melakukan apa-apa, sebab faktanya Airyn selalu saja melindungi Hansell, tapi Airyn tidak sadar kebenaranya akan mereka berdua.
Airyn tertidur di dalam pelukan Hansell, sedangkan pria itu mencium pipi kekasihnya berulang-ulang, dia membaringkan Airyn sembari menyelimuti tubuhnya, hansell membersihkan diri di kamar mandi, setelah selesai dia membaringkah diri sambil memeluk Airyn kembali, entah mengapa Hansell benar-benar merindukan Airyn hari ini.