Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Lift Darurat



“Meskipun aku akan mengerti akan hal serumit itu. Aku masih belum bisa menerima jika kedua orang tua yang aku anggap sudah tiada, ternyata selama ini ada di sekitarku dan kalian melihat bagaimana aku terluka dan merasa kehilangan tanpa siapa-siapa, bahkan aku sudah berdamai dengan seluruh rasa kecewa itu. Jadi untuk itulah biarkan aku sendiri, aku tidak bisa menrimana kalian dengan tangan terbuka setelah kecewa yang amat besar sudah kalian berikan” seru Airyn kepada Merry dan Zates hingga ia beranjak dari sana.


“Tidak bisa!” bentak Zates dengan nada membantah, membuat Airyn membalikan badan menatap pria itu seperti mengancam dan menunjukan pertentangan, tentu seperti seorang anak yang melakukan perlawanan pada ayahnya “Bagaimana bisa aku membiarkan mu sendiri. Jika kau memiliki dua janin cucuku dirahim mu” sontak perkataan Zates yang mengagetkan itu, membuat Airyn terpana tanpa mampu berkata-kata.


“J-Ja-Janin aa... apa?” secara alami Airyn meraih perutnya untuk di sentuh seraya merasakan apa yang di katakan pria itu, akibat rasa kaget secara tiba-tiba membuat detak jantung Airyn berdetak dengan cukup kencang, seolah dirinya tidak bisa fokus merasakan perutnya yang cukup melendung, tentu Airyn merasakan perubahan itu, tapi ia menyangka hanya karna faktor kegendutan sebab ia tidak pernah melakukan diet selama beberapa bulan terakir ini, akibat nafsu makan yang cukup meningkat, jadi untuk mengatasi perutnya yang membuncit, Airyn sering mengunakan pakaian longar agar menutupi, tapi sekarang ia di suguhkan oleh pernyataan yang mencengangkan, dari orang yang mengenalkan dirinya sebagai ayah biologis Airyn.


“Aku dan Merry akan menjadi kakek dan nenek, bagaimana bisa aku membiarkan kau sendiri tanpa sepantauan ku. Bagaimapun aku juga seorang Dokter, dan kau sudah menjadi pasienku hari ini. Maka sampai cucuku lahir aku akan memantau perkembanganya dan juga menjaga dirimu dengan baik" ujar Zates dengan sikap cuek tapi sangat amat peduli, bahkan Airyn yang tengah sibuk memeriksa perutnya di lingkupi haru yang yang tak berujung.


“Kandungamu masih 7 minggu, beruntung kau tidak mengalami mual atau sampai muntah-muntah hebat, seperti ibu hamil pada umumnya apalagi ini anak pertama, itu sangat baik dan membantu. Tapi aku tidak bisa menjamin kau akan baik-baik saja setelah mengetahui kehamilanmu, sebab biasanya, saat seorang ibu mengetahui akan kehamilanya, secara alami itu bisa memancing rasa mual dan juga muntah dengan sendirinya” seru Zates kehadapan putrinya, membuat Airyn tidak bisa percaya bahkan ia mulai merasakan perutnya kembang kempis di permukaan tanganya yang ia tempelkan, bahkan Airyn tidak bisa menghentikan senyum bahagia di wajahnya hingga ia ingin memeluk suaminya detik itu juga.


“Hansell dimana?” tanya Airyn dengan heboh hingga membuat Merry dan Zates terpana, mereka saling melemparkan pandangan bingung atas respon Airyn yang di liar dugaan.


“Sayang..” seru Hansell yang tiba-tiba membuka pintu dari arah belakang dan hadir disaat Airyn membutuhkan.


“Hansell aku hamil!!” teriak Airyn sambil memeluk tubuh suaminya tanpa ada sikap malu-malu diantara mereka berdua, bahkan Hansell menyambut kebahagian itu dengan memeluk Airyn sekuat tenaga dan rasa hangat.


“Aku sudah tahu sejak tadi, dan aku sangat bahagia atas itu. Kita akan menjadi orang tua, apa kau sesenang itu sekarang” balas Hansell seraya menguatkan pelukan istrinya dan mencium kening Airyn di depan Merry dan Zates, yang masih terpana memandang mereka.


“Tentu saja aku sangat senang, bukankah ini yang kita tunggu-tunggu. Dan kau bagaimana, apa kau senang, kita sudah punya anak sekarang?” tanya Airyn saat mendongkan wajah dengan senyum ceria di tambah wajah manisnya pada Hansl, meskipun wajahnya sedikit pucat tanpa polesan apapun tetap saja Airyn selalu cantik dimata Hansell.


“Tentu saja aku senang. Bukankah kita sudah menanti hal ini sama-sama. Apa kau tahu sayang, jika kau kemungkinan mengandung anak kembar” ujar Hansell dengan bahagia, membuat Airyn terpana akan perkataan suaminya itu, bahkan mengandung saja sudah membahagiakan, tapi sekarang ada dua janin di perutnya, bagaimana bisa Airyn mengatasi kebahagian yang berlimpah ini.


“Siapa yang mengatakannya? Bagaimana bisa?” tanya Airyn dengan bingung kehadapan Hansell, sebab tidak ada dokter kandungan disini, bagaimana bisa Hansell memastikan hal itu.


“Tuan Zates yang mengatakanya, jika ia mendengar dua detak jantung di perutmu. Tentu saja kehamilan anak kembar kemungkinan besar bisa di akibatkan faktor genetik yang mendominan, bagaimanapun ibuku adalah anak kembar, dan ayahmu juga anak kembar katanya, jadi secara tidak langsung kita berdua memiliki gen tersebut. Jika begini apakah kita bisa membuat 4 anak kembar sekaligus” ledek Hansell dengan wajah bodohnya, membuat Airyn memukul kepala pria itu seraya memandang kearah Zates yang ada di belakang.


“Ternyata dia benar ayahku” batin Airyn dengan wajah kusam, seraya berlalu meninggalkan ruangan itu, hingga Hansell mengejar istrinya dan pergi dari sana meninggalkan Merry, membuat Zates dan Merry amat bingung akan tingkah putri dan menantunya yang diluar dugaan, apakah Nona Petrov yang terkenal dingin dan juga mengerikan itu benar-benar Airyn putri mereka, serta Hansell Hamillton yang menjadi pemimpin di merkas besar kerajaaan bawah tanah adalah menantu mereka yang bodoh.


Zates terkekeh melihat hal barusan. seperti sebuah drama percintaan yang di padukan gendre komedi di dalamnya, bahkan membuat Zates cukup terpana melihat sikap itu dari putrinya, ternyata dibalik sikap dua orang yang cukup mengerikan, ada sikap bodoh dan konyolnya yang hanya mereka berdua yang mengerti dan memahami, tentu Zates tidak mampu menghilangkan sikap bahagia dibalik tawanya yang tulus, membuat wajah Merry memerah menyaksikan seberapa tampanya Zates saat ini.


“Apa kau mau membuat adik untuk Airyn?” tanya Zates ketika mengoda Merry, membuat wanita itu terloncat dari duduknya, seolah tidak percaya akan perkataan yang Zates ucapkan.


“Tutup mulutmu, kita bahkan bukan pasangan suami istri. Bagaimana kau bisa bicara hal memalukan seperti itu padaku” ujarnya dengan wajah gugup yang bisa Zates baca.


“Tapi kita sudah memiliki seorang putri yang sebenatar lagi menjadikan kita kakek dan nenek, aku rasa cukup mengasikan jika cucu kita memiliki paman dan tante kecilnya” sambung pria itu tanpa tahu malu, membuat Merry membalikan badan dengan segera, untuk beranjak dari sana menuju pintu krluar “Mari menikah Merry” kali ini langkah Merry terhenti saat membelakangi Zates, ia bahkan cukup terpana akan apa yang ia dengar barusan, hingga detak jantung Merry berdegup kencang tanpa mampu mengatakan apapun, tapi apakah itu mungkin untuk mereka? Masih pantaskah Merry mengharapkan sebuah keluarga, atas apa yang ia lakukan dimasa lalu, bahkan kepada Zates sendiri. Sebegitu banyak wanita di samping pria itu, kenapa Zates memilih Merry dan memperlakukan Merry dengan baik, membuat Merry merasa tidak pantas menerima kebaikan pria itu.


Hingga wanita itu mengabaikan perkataan Zates, untuk pergi kearah luar dan menutup pintu hingga meninggalkan Zates sendirian tanpa jawaban “Apakah tidak ada kesempatan untuk kita?” gumam Zates dengan rasa pedih akan penolakan yang terus menerus terjadi padanya.


****


Pasangan yang tengah berbahagia itu, sedang beristirahat di kamar mereka sambil membicara masalah dan kesalahpahaman antara Airyn dan Hansell. Sebuah pesan peringatan masuk keponsel Zates, membuat pria itu bangkit dari posisinya seraya berlari kearah luar, tentu saja ia meghampiri Hansell dan Airyn yang ada di kamar mereka, sebab tengah bersiap-siap untuk kembali, melihat Zates yang cukup khawatir dengan sikap heboh yang hampir saja merusak pintu itu, membuat Airyn dan Hansell berdiri melihat Zates yang panik tak kepalang.


“Hansell cepat bawa Airyn keluar dari sini untuk menuju lift rahasia yang ada di ujung lorong, tepat di persimpangan tangga tingkat tiga” ucapnya dengan tergesa-gesa, membuat kening Hansell berkerut seolah tidak mengerti perkataan pria itu, melihat mereka kebingungan Zates berdecak kesal.


"Shit!! Sial! Ikuti aku" teriaknya.


“Apa yang terjadi?” tanya Hansell ketika membawa Airyn detik itu juga.


“Aku mendapatkan sebuah sinyal berbahaya yang terpasang di markas bawah tanah ini, mengingat ini sangat curam membuat bom itu dengan mudah menghancurkan tanpa ada terjadi kehancuran diatasnya, hal ini sama saja dengan penguburan kita secara masal, hingga tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Untuk keadaan seperti ini aku sudah membuat perisapan, jika sewaktu-waktu hal ini terjadi, jadi cepat keluar, aku akan menemui Merry sebelum kita pergi ke lift darurat” jelas Zates sambil lalu, tentu dengan penuturan cepat hingga wajah panik yang terlukis jelas, ia bahkan berlari menghampiri Merrry yang ada di kamar utama, membuat Airyn dan Hansell mengikuti Zates dibelakang, sebab hanya Zates yang mengetahu lift rahasia itu.


Baru saja Zates membuka pintu kamarnya, sebuah asap terakses di penciumanya yang tajam, seorang ahli kimia yang biasanya mengembangkan biteknologi dan memiliki laboratorium, Zates meyakini asap yang terhirup sedikit dengan indra penciumanya, adalah obat untuk menghilangkan kesadaran seseorang, tentu saja jika asap itu terhirup dalam jumlah besar, kondisi target akan lumpuh seutuhnya, namun beruntung Zates mengenali aroma ini, membuat dirinya menutup pintu dan menjauhkan Airyn dan Hansell dari sana.


“Merry telah berada di bawah pengaruh obat hingga kesadaranya menghilang, pergilah kearah tengah dan aku akan membawa Merry keluar dengan segera” ucapnya denga cukup panik, membuat Airyn sebegitu cemas memandang kearah Zates, entah kenapa tidak bisa di pungkiri wajah Zates adalah perwujudan ayahnya.


“H-Hati-Hati” seru Airyn dengan rasa gugup, entah mengapa ia sangat mencemaskan pria itu, membuat Zates tersenyum akan perhatian Airyn pada dirinya, dan memaksa mereka beranjak dari sana, sebab tidak ada waktu untuk menunda lagi, mengingat bom waktu itu terus berjalan mencampai ambangnya.


“Airyn, ayo kita pergi” ajak Hansell untuk membawa istrinya dengan hati-hati. Namun baru saja Hansell menuju ruangan tengah, beberapa orang mengepung mereka, membuat pria itu yakin jika orang yang tidak dikenali itu adalah musuh, tapi melihat tidak ada senjata api, menjadi nilai bonus bagi Hansell, dengan cekatan pria itu menutup mata istrinya seraya menarik pistol dari balik jas yang ia kenakan dengan gerakan pasti tanpa terbaca, Hansell melepaskan peluru kehadapan musuh-musuhnya dan menumbangkan mereka tanpa menyerang, hingga Airyn cukup kaget atas apa yang di dengar oleh telinganya.


"Maafkan aku sayang" seru Hansell dengan rasa bersalah, bagaimanapun hal ini pasti membuat Airyn ketakutan, tapi Hansell tidak memiliki pilihan lain, selain melindungi istrinya.


Saat Zates masuk ke dalam kamar itu sebuah asap sudah memenuhi ruangan, sialnya itu adalah asap yang bisa menghilangkan kesadaran seseorang melalui aroma therapy yang di pasang, jika begini dapat di pastikan seseorang secara diam-diam sudah manyelinap keruang bawah tanah ini, dan meletakan benda itu dikamar utama yang bertujuan untuk Zates, tapi sayangnya Merry yang terkena.


Zates menutup hidungnya dengan sebagian pakaian yang ia sobek, seraya menenangkan diri untuk menghitung detik dan waktu dalam berlari mengangkat Merry yang sudah tertidur di bawah pengaruh obat.


Sekuat tenaga Zates menghentikan dirinya untuk bernafas, dan berlari menarik Merry hingga Zates mampu mengeluarkan wanita itu dari sana, bahkan tidak sampai hitungan menit Zates berhasil mengambil tubuh wanitanya untuk di keluarkan dari kamar, namun setelah keluar nafasnya sedikit pengap dan juga ia sedikit pusing, membuat Zates perlu menyadarkan diri dan juga harus mempertahankan kesadaran, Zates tidak bisa hilang kesadaran sebelum Airyn dan Merry baik-baik saja, setidaknya harus sampai kedalam zona aman.


Mata Zates di suguhkan dengan bebrapa orang yang sudah di lumpuhkan oleh Hansell, jika begini dapat di pastikan orang-orang yang Hansell bawa sebagian merupakan pengkhianat, membuat mata Zates beradu kehadapan Hansell, seraya berjalan untuk menarik sebuah pintu yang membuat mereka berhadapan langsung dengan kaca transparan yang sangat tebal, Zates menempelkan jemari tanganya untuk diusapkan ke permukaan kaca bening, hingga sebuah layar dengan tombol-tombol timbul seperti layar ponsel. Membuat Hansell dapat mengerti jika ruangan ini sangat terjaga dengan privasi aman yang cukup kondusif, tapi mengapa sampai ada yang bisa meletakan sinyal berbahaya di dalam sini, jika bukan orang dalam yang sudah mengenalinya.


“Tuan Zates apa anda baik-baik saja?" Tanya Hansell ketika melihat pria itu mengendong Merry dengan batuk-batuk yang medera dirinya, bahkan nampak sekali keadaanya tidak sesehat sebelumnya, membuat Airyn cukup cemas hingga menatap Zates tanpa mengalihkan pandangan dari ayah biologisnya itu.


Sesuai perkataan pria itu, mereka berjalan menaiki sebuah tangga yang cukup tinggi dengan 40 anak tangga dan lapisan batu tebal sebagai anak tanganya, bahkan membuat Zates cukup kewalahan mengendong Merry yang ada di pungungnya, sedangkah Hansell yang membawa Airyn yang cukup lemas karna gugup di tambah dirinya yang mengandung, bersusah payah menanjak kearah atas, melihat hal itu Hansell menambah dua kali lipat kecepatanya hingga menempatkan Airyn di bagian atas tangga, sambil turun kebawah untuk membantu Zates membawa Merry.


Setelah sama-sama sampi di puncak, alaram di jam tangan yang Zates setel itu semakin nyaring berbunyi, hal itu menjadi pertanda jika waktu yang tersisa hanya tinggal 5 menit saja.


“Kita harus cepat pergi dari sini, sebelum markas ini hancur lebur dan mengubur kita hidup-hidup di ruangan bawah tanah” tegas Zates dengan memperingati Hansell dan Airyn, seraya berbelok kearah kanan untuk mengikuti lorong yang ada di sekitarnya, Zates mengendong Merry seperti biasa, namun melihat hal itu Airyn melepaskan diri dari Hansell, seolah ia tidak bisa lemah seperti ini disaat ada yang perlu di perhatikan lebih dari dirinya.


“Hansell kau bawa ibuku saja, biar aku membantu Tuan Zates” bantahnya, membuat Hasell menganggkan kepala seraya mengambil alih Merry, sedangkan Zates yang berdiri dengan kepala pusing membuat Airyn secara alami menahan pertahanan tubuhnya, membuat pria itu mengulas senyum pada putrinya seolah ia mengerti jika Airyn juga sama lemasnya dengan Zates, sebab Airyn juga menghirup sedikit asap itu.


“Aku baik-baik saja Airyn, gunakan tenagamu untuk bertahan, bagaimanapun kalian harus keluar hidup-hidup dari sini”


“Apa maksdumu. Kita harus keluar. Karna aku ingin membuat perhitungan dengan kau dan Merry” bantah Airyn dengan tangan mengepal, seolah ia tidak bsia menyampaikan seberapa cemas dirinya saat ini.


“Baiklah, jangan buang waktu lagi, waktu kita tidak banyak” ucap Zates kepada putrinya, hingga mereka semua berlari dengan semampunya untuk melintasi lorong panjang yang melingkup setinggi tegak mereka, bahkan waktu yang bergulir terasa sangat sebentar hingga membuat mereka berada di ujung ajal.


Butuh 1 menit lewat 20 detik untuk mencapai ujung dan menaiki sebuah tangga yang memiliki 10 anak tangga, membuat mereka tertatih menapakan kaki dengan kekuatan yang tidak boleh berhenti, bagaimaapun waktu yang berjalan seperti berpacu dengan sebuah usaha yang sangat keras untuk mereka kerahkan. Hingga mengabiskan waktu 1 menit 30 detik untuk mencapai ujung kanan lorong itu, dan sekarang waktu mereka hanya tersisa 130 detik membuat Zates dapat memperkirakan mereka akan bisa mencapainya tepat waktu, sebab setelah menaiki tangga ini mereka hanya berbelok sedikit hingga mencapai persimpangan, setelah itu mereka perlu berbelok kearah kanan dari tempat berdiri untuk menuju kesebuah lift darurat.


Namun baru saja Zates hampir sampai ke persimpangan tubuhnya terhayung, matanya berkunang-kunag hingga ia ambruk, membuat Airyn berteriak kearah Zates, hingga suara istrinya membuat Hansell memalingkan wajah kebelakang.


“Ah sial!!” umpat Hansell saat melihat jika waktu yang tersisa tidak banyak, Airyn memanggil nama Zates namun pria itu hilang kesadaran, membuat Airyn menangis di hadapan Zates, sambil memanggil namanya.


“ayah. Jangan lakukan ini lagi padaku. Cukup sekali aku menyaksikan kejadian meyeramkan itu, apa kau akan membuatku menyaksikan kematian untum kedua kalinya, jika kau akan meninggal semudah ini, untuk apa kau memiliki wajah yang sama dengan ayahku, jangan lakukan ini lagi padaku, aku takut” tangisan Airyn dan panggilan Airyn itu membuat Hansell cukup terluka, namun bagaimanapun ia tdak bisa membuang waktunya, hansell berlari sekuat tenaga meskipun rasanya kaki pria itu begitu gemetar dan hampir tumbang, Hansell mengingat apa yang Zates katakan sehingga ia meletakan Nerry tepat disebuah kaca transparan yang sangat kokoh. Sambil berlari dengan tertatih menghampiri Zates dan istrinya.


“Kau harus bertanggung jawab padaku, bukankah kau bilang akan bertanggung jawab pada cucu mu” isak Airyn ketika menguncaang bahu Zates, namun pria itu tidak sadarkan diri dan tidak memberikan respon positif.


“Airyn…” seru Hansell dengan nafas terengah hingga memperlihatkan bagaimana susahnya Hansell saat ini, bahkan ia menghirup dalam-dalam udara yang ia butuhkan agar menunjang detak jantungnya.


“Hansell, ayahku dia—“


“Airyn!! Sadarlah! Kendalikan dirimu! Jika kita bisa keluar tepat waktu, kita bisa baik-baik saja, sekarang waktu terus berjalan, jika kau seperti ini, kita semua akan mati sia-sia. Saat ini kita hanya memiliki 82 detik, jadi dengarkan aku baik-baik, berlari sekuat tenagamu untuk menghampiri Merry, dan buka kata sandi yang di katakan oleh Tuan Zaterius, maka aku akan membawa beliau kearah sana”


“Tidak Hansell, jika kita tidak tepat waktu bagaimana? Aku tidak bisa hidup tanpamu, dan bagaimana dengan ayahku yang barus saja aku jumpai, aku tidak bisa” racau Airyn tanpa sadar, membuat Hansell menarik pundak istrinya untuk menyadarkan Airyn.


“Airyn—“ kali ini suara Hansell terasa seperti mengancam “Kau harus percaya kita bisa selamat dari sini hidup-hidup, jadi tolooong Airyn!! tolong bekerjasama” melihat ekpresi Hansell membuata Airyn sadar, bahkan ia berdiri dengan mengusap air matanya, sambil berlari sekuat tenaga meskipun harus bergantung kearah dinding.


Dengan segera Hansell mengangkat tubuh pria itu, untuk naik kepunggungnya meskipun kekuatan Hansell memudar, setelah berhasil secara perlahan Hansell menguatkan pertahanan kakinya yang gemetar, untuk berjalan tegap hinga mampu berbelok kearah kanan dan menuju ke lift darurat.


Airyn menyentuhkan permukaan kulitnya hingga sebuah layar tampil disana, meminta kata sandi untuk dibuka, membuat wanita itu memencet angka lahirnya dengan tangan terbuka, dan Airyn berhasil hingga kaca tersebut terbelah menjadi dua, sambil menarik tubuh ibunya secara perlahan meskipun kekuatanya mulai memudar, dan Airyn berhasil memasukan Merry dalam dinding transparan seraya membuka pintu lift, dan menarik tubuh merry ke dalamnya.


Airyn membalikan kepalanya hingga lehernya berputar melihat Hansell yang sempoyongan menopang ayahnya di punggung, bahkan nampak sekali bagaimana kesusahan Hansell hingga membuat Airyn tidak tega. Wanita itu berlari kearah Hansell dengan batuk yang terus bergulir dari mulutnya untuk keluar dan mengaung di lorong.


“Hansell apakah kau baik-baik saja, kau sangat tidak baik” seru Airyn seraya membantu tubuh ayahnya yang ada di gendongan Hansell, sialnya waktu mereka tingal 15 detik, dan pintu kaca tebal itu tertutup otomatis dan perlu memasukan kata sandinya untuk memasukinya lagi.


Airyn semakin gemetar ketika berpacu dengan waktu hingga ia cukup tegang, membuat Hansell mengajukaan jari telunjukanya hingga memencet angka-angka kelahiran Airyn dengan kecepatan tidak terduga, namun di detik terakir itu sebuah goncangan seperti gempa dahsyat mulai mengoyangkan mereka, membuat jiwa waspada Airyn ikut serta bangkit dan detak jantungnya meningkat drastis, dengan segera Haansell menarik istrinya untuk masuk dengan paksa hingga tubuh mereka terpental, beruntung Hansell mampu menangkap Airyn dengan segera sebab mengamankan posisi istrinya yang tengah hamil muda, sampai ledakan di depan mata mereka menghancurkan lorong-lorong dengan batu kokoh yang berubah menjadi serpihan kapas yang mengembang di udara, semuaya hancur lebur kecuali ruangan di kaca transparan itu yang tidak hancur lebur, yang merupakan temlat mereka berpijak, membuat kedua mata Airyn terpana menyaksikan kehancuran yang maha dahsyat, begitupun dengan Hansell yang melihat kehancuran markas dengan mata kepalanya sendiri.


Mereka segera masuk ke lift darurat, sebab meyakini tempat mereka berpijak sebentar lagi akan ikut hancur, sebeb ada sebagian yang retak. Lift yang mereka masuki cukup luas hingga tubuh Hansell dan Airyn melemas serta Merry dan Zates hilang kesadaran dan terbujur disana.


Airyn menangis sejadi-jadinya, melihat apa yang sudah ia lalu dan melihat bagaimana ia tidak berdaya kehilangan Merry dan orang yang baru saja ia kenali ini, bahkan Airyn cukup gemetar membuat ketakuta kakinya memghilang dan terasa kebas yang membuat fikiran Airyn kacau balau.


Hansell yang bersimpuh dengan pasrah dengan istrinya yang terpana dengah wajah tak berdaya, menghela nafas dengan sangat lega, ia memeluk istrinya yang dirasa cukup terlukul, membuat Airyn menangis sejadi-jadinya di dalam rasa nyaman dan perlindungan hangat padanya.


“Sayang, lupakan semuanya” seru Haansell dangan sikap tenang, bahkan ia menjaga intonasi seuaranya meskipun banyak rasa sakit di dadanya aat ini, tapi mengingat perkataan Zates yang tidak boleh membiarkan Ziryn tertekan atau stres, membuat Hansell perlu bertahan sekuat tenaga.


“Aku takut Hansell, aku hampir kehilangan semuanya, A-Aku takut... ” seru Airyn saat memeluk suaminya hingga menangis sejadi-jadinya di tubuh Hansell, bahkan wanita itu menarik baju Hansell sebagai pegangan tanganya yang gemetar.


“Tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja, anggap saja kita tengah bermain sebuah permainan seru dan mendapatkan kemenangan sesudahnya”


“Apa kau gila! Aku hampir mati disana dan hampir kehilangan dirimu, karna diriku tidak berdaya, jika terjadi sesuatu bagaiman aku menjalani hidup setah ini” dengus Airyn saat memukul tubuh Hansell hinga membuat Hansell terkekeh, ternyata candaan itu bisa membuat Airyn mulai bertingkah ketus seperti dirinya semula.


“Semuanya baik-baik saja, buktinya kita bisa menyelamatkan orang tua ini” seru Hansell dengan nada bercanda, sebab hal ini bisa menjadi salah satu cara menenenangkan istrinya yang di landa ketakutan.


Tentu lift itu memanjat kearah atas bahkan Airyn dapat merasakan waktu mereka cukup lama berada di dalam sana, sebab sepertinya kecepatan lift itu dibuat sangat lambat dari lift biasa.


“Hansell, Aku lelah”


“Tidurlah, aku akan mengendongmu nanti” seru pria itu saat memeluk Airyn serta mencim keningnya, bahkan di dalam duduk pasrah dan tubuh tidak berdaya itu Hansell berusaha menjaga istrinya agar dalam perlindungan tubuhnya, tidak membiarkan ia hilang kesadran, sebab Airyn jauh lebih penting dari apapun yang Hansell rasakan.