Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Istri?



Baru saja Merry mengeluarkan pendapat, mobil itu berhenti secara mendadak membuat Zates memalingkan wajah melihat pengawalnya tengah membukakan pintu untuk mereka, tentu saja Merry tidak bisa menerima sebab ia merasa di permainkan untuk waktu yang lama, sadar sikap Merry tidak akan mudah di tenangkan, Zates mengarahkan tanganya untuk memerintahukan pengawal itu menutup pintu mobil agar memberikan mereka beberapa ruang untuk bicara, sebab Zates harus menenangkan emosi Merry yang tengah meluap-luap pada dirinya.


Pria itu berpindah tempat ke samping Merry, menarik tubuh Merry untuk mendekat seraya mendorong dirinya agar tersudutkan, bahkan ia menempatkan sebelah tanganya untuk menahan agar wanita itu menatap kedua matanya tanpa berpaling, mulut Merry yang ingin menyampaikan protes langsung di tutup dengan tiga jari Zates yang di tempelkan, seolah ia mengisyaratkan Merry tidak boleh berucap apapun selain mendengarkan penuturan dirinya.


“Bukankah sudah aku katakan, aku mencintaimu sudah dari dulu, bahkan jauh sebelum kita terjerat dalam hubungan transaksional untuk kepentingan Louis dan Charllot, apakah kau tidak bisa berfikir. Bagaimana mungkin seseorang bisa menerima ajakan tersebut jika tidak memiliki alasan, dan alasan aku melakukanya sudah di pastikan karna aku mencintaimu jauh sebelum kau menyadarinya. Untuk seorang wanita yang aku kenal cukup pintar, seharusnya kau bisa berfikir, apakah sebelum itu kita pernah bertemu atau berinteraksi, namun bukan aku yang membodohi dirimu. Kau sendiri yang tidak pernah menyadari kehadiranku, hingga kau terbodohkan dengan cinta dan obsesimu kepada Louis, kau sendiri yang tidak mempedulikan siapa diriku, bahkan kau tidak pernah menganggap keberadaanku, bagimu hanya ada Louis di dunia ini, jadi untuk apa aku memperkenalkan diriku jika hatimu saja tidak pernah bertanya-tanya atau meragu, apakah benar Louis pria yang bersama mu malam itu. Tapi untuk segala luka dan sakit itu, aku menerima semuanya Merry! Karna aku tidak ingin melukai dirimu sebab sebegitu mencintai adik ku. Tapi untuk saat ini, terlalu banyak yang mencoba melukai kita, karna itulah aku memperkenalkan diriku, agar kau sedikit membuka mata kepalamu. Siapa yang salah sebenarnya! Awalnya aku ingin membohogi kalian agar kalian bisa bahagia, tapi semua keadaan malah menyulitkan dan aku malah terancam akan kejahatan yang tertuju pada wanita yang aku cintai dan putriku, untuk itulah aku minta maaf atas segala hal ini. Tapi aku juga minta maaf, tidak bisa mundur lagi”


Tegas Zates dengan mata mengancam, membuat Merry megerjapkan mata seolah bungkam akan penjelasanya, tentu saja apa yang pria itu ucapkan sangat benar, selama ini memang tidak ada keraguan di hati Merry tentang Louis Petrov, bahkan jika di fikir lagi pria ini hadir juga tidak menyakiti dirinya dan Airyn, sebab kehadiran Zates juga untuk menyelamatkan Airyn dan juga melindungi putrinya. Tapi sebanrnya hal apa yang terjadi sehingga masih banyak keraguan untuk Merry mempercayai Zates.


“A-A-Aku--”


“Tidak perlu mengatakan apapun, atau tidak perlu merasa menyesal, kau bahkan tidak perlu percaya padaku, karna aku tidak membutuhkan kepercayaanmu. Aku tidak akan memaksamu untuk menyukaiku, sebab aku tidak membutuhkan balasan atas perasaan sepihak diantara kita. Kali ini kita akan melakukan perjalan cukup panjang, jadi ikuti saja kemana kita akan melakukan perjalanan ini” ucapnya, baru saja Merry mencerna perkataan Zates, pria itu menarik jemari Merry untuk keluar dari mobil yang mereka tumpangi.


Mata Merry terbelalak ketika melihat sebuah pesawat yang di sediakan di hadapanya, bahkan beberapa anak buah Zates tengah mengepung titik penjagaan untuk melindungi mereka, seolah Merry dan Zates tengah pergi kesuatu tempat yang jauh, namun apa yang bisa Merry kemungkakan, saat tangan pria itu mengenggamnya dengan erat, seakan membawa Merry menaiki pesawat dengan paksa, apapun yang akan terjadi nanti, Merry akan mencoba mengikuti pria itu tanpa membantah, bahkan ia tidak ingin berkata apapun lagi, sebab ia tidak siap mendengarkan penjelasan dari mulut Zates yang menyakitkan, bahkan pria itu mampu membalikan keadaan hingga membuat Merry merasa bersalah.


“Sialan!!” umpat Merry saat hati dan tubuhnya bertolak belakang, bahkan ia tidak bisa berkata apapun lagi ketika Zates dengan bangga melingkarkan tanganya ke pingul Merry tanpa tahu malu, membuat pramugara dan pramugari yang ada disana memberikan sambutan hangat pada mereka, tentu saja dengan posesif Zates menempatkan Merry di sisinya dengan rapat, meskipun masih banyak tempat yang lebar di ruang pesawat itu.


“Apa kau ingin menikmati anggur?” tanya Zates dengan sikap memanjakan, bahkan Merry tidak menyangka pria itu bisa berubah secepat ini, tadinya dia bicara dengan sikap mengancam penuh dendam, namun kali ini Zates malah bersikap lembut hingga memabukan, sebenarnya orang seperti apa Zates hingga mudah berubah seenak hatinya.


“Tidak, aku sedang tidak ingin meminum Alkohol” bantahnya seolah enggan, bahkan ia memalingkan wajah kearah samping untuk menjauhi Zates, tentu saja pria itu terbiasa dengan sikap penolakan yang di lakukan oleh Merry, karna ia mencintai wanita itu dengan segala sikap menyebalkan ini.


“Apa kau tahu, hanya kau yang berani menolak ku, berhubung kau adalah wanita istimewa yang berbeda dengan wanita lainya, aku akan mentoleransi sikap menyebalkan ini. Tapi kau harus menikmati sesuatu agar tidak kelaparan nantinya” ucap Zates ketika mulai bersabar, membuat Merry membalikan wajah untuk menentang kedua mata pria itu.


“Ti-dak!” balasnya dengan penuturan tegas yang jelas, bahkan ia sebegitu kesal dengan sikap memaksa Zates, mendengar penolakan tersebut apa yang bisa Zates lakukan, bahkan ia tidak bisa marah ataupun membenci Merry sekalipun wanita itu sering membangkang, tetap saja tidak ada alasan untuk tidk menyukai ibu dari putrinya.


“Baiklah, aku mengalah untuk mu, tapi jika nanti kau kelaparan, katakan saja” ucapnya ketika menangkup kedua pipi Merry untuk mengkecup kening wanita itu penuh sayang, membuat Merry terdiam sembari hilang kesadaran, apakah pria itu sadar atas sikap lembut yang sangat romantis barusan, bahkan selama ini tidak pernah ada pria yang bersabar untuknya, atau peduli pada dirinya, tapi Zates malah sebaliknya.


“Jangan menatapku seperti ini lagi, jika tidak aku akan melupakan toleransi moral yang aku berikan padamu sata inj” sambung Zates ketika mencubit hidung Merry dengan mengemaskan, bahkan ia tertawa dengan tulus hingga memancarkan dirinya yang berbeda, seolah pria yang begitu lembut, hangat dan sangat berwibawa, demi apapun Merry tidak bisa berkutik bahkan tidak bisa menolaknya sama sekali "Tapi jika kita sudah sampai di rumah nanti, aku akan melepaskan nilai moral itu, dan jangan lupa menatapku dengan penuh peduli seperti tadi" bisiknya ketika menghembuskan nafas hangat di permukaan telinga Merry, hingga wanita itu memerah penuh malu.


“Lepaskan tanganmu” kali ini Merry harus menguatkan hatinya aga tidak tergoda, sebab bisa saja ini hanya sebuah sikap untuk menipu Merry, setidaknya jangan biarkan jantungnya terus menerus berdebar untuk pria itu, karna Zates seperti musuh yang tidak bisa di tebak apa keinginan sebenarnya.


Setelah beberapa lama di tengah perjalanan, zates menutup kedua matanya untuk mengistirahatkan fikiran, meskipun ia tidak hilang kesadaran setidaknya metode ini mampu menghilangkan sedikit kelelahan yang Zates rasakan, Merry yang duduk di sampingnya berulang kali memutar arah kekiri dan kanan, bahkan ia sedari tadi tidak memiliki ketenangan, membuat Zates membuka kedua matanya sembari melirik Merry yang ada di sisi.


“Apa kau lapar?”


“Tidak” bantah Merry dengan sikap tegas, bahkan ia sebegitu cepat menangapi tanpa berfikir, tentu saja jawaban Implusif yang Merry lontarkan menarik perhatian Zates, membuat pria itu melirik kearah perut Merry yang sedari tadi tidak mengkonsumsi makanan apapun, wanita itu selalu menolak hal apapun yang di tawarkan bahkan ketika Zates membujuk dirinya, Merry tetap dengan argumen membantahnya yang final, tentu Zates mengerti Merry tengah kepalaran, karna itulah ia selalu gelisah sebab perutnya yang datar itu sudah menagih makan sebagai kebutuhan, namun sikap apa yang tengah di jaga wanita itu, hingga menahan laparnya seperti ini.


“Apa aku melakukan kesalahan padamu?” sambung pria itu dengan sikap tenang, berusaha merusak pertahanan Merry, hingga memenangkan hal ini.


“Kau bahkan belum makan dari tadi malam, dan menolak untuk sarapan, dan kali ini sudah hampir malam, apa kau yakin akan menolak untuk mengkonsumsi makanan?”


tanya pria itu ketika menatap mata Merry dengan sungguh-sungguh, membuat Merry menelan salivanya sebelum menjawab perkataan dari Zates.


“Aku tidak lapar!” ucapnya dengan sikap enggan, meskipun begitu Merry mengusap permukaan perutnya yang sangat lapar, namun ia masih saja kesal hingga membuat dirinya begitu malas menangapi Zates, melihat tingkah Merry kali ini tentu Zates sudah mengerti. Ada harga diri yang tengah ia jaga, bahkan Zates sangat paham hal apa yang mungkin menjadi alasan dari sikap pembangkang wanita itu.


“Apa kita pasangan kekasih, dan aku tengah membujuk kekasihku untuk memaksanya mengisi perut yang sudah menagih kebutusan” celetuk pria itu tanpa tahu malu, membuat Merry membulatkan mata seolah malu mendengar penuturan Zates.


“Apa kau gila. Pasangan kekasih apanya, memalukan sekali. Dari mana datang kepecayaan diri itu”


“Dari sikap mu hari ini. Aku sadar kau masih kesal akibat penuturan sepihak yang aku lontarkan di dalam mobil, tentu hal itu melukai harga dirimu karna tidak mampu membantah sebab kau merasa bersalah bukan. Tapi jangan mengacaukan perutmu hanya karna marah padaku, nanti kita akan berbincang lagi, karna aku ingin kau menemui narasumber terpercayaku untuk menagih penjelasan dari diriku, untuk itulah. Jangan menahan laparmu, karna aku tidak ingin wanita yang aku cintai mati kelaparan”


Tentu saja Zates bicara dengan sangat lembut, bahkan aura tampanya sangat dahsyat menerjang pertahanan diri Merry, hingga wanita itu terdiam ketika Zates membelai pingiran rambutnya dengan jemari, penuturanya seperti seorang pria dewasa memberi pengertian kepada wanita yang ia cintai, bahkan Merry tidak pernah mengerti kenapa ia di perlakukan seperti ini oleh Zates.


“A-aku…” belum sempat Merry mengedepankan argumenya, pria itu mengusap pipi Merry seolah memberi pengertian, tentu saja satu tanganya di layangkan sebagai pertanda pada pramugari yang sedari tadi berada di pojokan seperti sebuah pajangaan yang siap menyenangkan Zates, ia berlengak-lengok menuju kearah Zates dengan paras cantik dan usia yang cukup muda, bahkan ia bertutur lembut seolah begitu pengertian melayani tamu kali ini.


“Siapakan makanan untuk istriku” penuturan Zates kali ini membuat Merry tercengang, bahkan ia ingin membantah namun pria itu melampaui dirinya “Serta siapkan sebotol Wiski untuk diriku, setelah itu pergilah dari sana, karna aku tahu anda sangat kelelahan untuk terus berdiri bukab” seketika itu wajah wanita cantik yang ada di hadapan Zates mengelap, seolah penolakan secara terang-terangan di lempar kewajahhnya, bukankah klienya malam ini adalah Tuan Zates yang cukup terkenal itu dengan sikap playboy, bahkan rekan satu profesi dengannya pernah menjadi permainan Tuan Zates, dan tentu saja kompensasi yang di berikanya tak tanggung-tanggung, sehingga dia rela berdiri sembari menatap Zates dengan maksud mengoda untuk menarik simpati pria tampan tersebut, namun siapa yang menyangka secara terang-terangan Zates menolak dirinya mengunakan wanita yang ada di sampingnya sebagai alasan.


“Baik tuan, tapi--” mata Zates menajam seolah kilau peringatan mengancam, membiat wanita itu memilih pergi untuk beranjak dari sana, wajah mengelap yang di tampikan pria itu seolah tidak nyaman untuk di pandang, tentu Merry menatap kearah Zates yang sebegitu terang-terangan mengusir wanita tersebut, sebelum pria itu menatap kearah Merry sebab menyadari tengah di pandang.


“Kenapa kau menolak wanita itu, bukankah dia sangat cantik?” tanya Merry ketika menatap kedua mata Zates.


“Tentu saja ia sangat cantik, sayangnya dia mengodaku di waktu yang tidak tepat, di saat ada wanita di sampingku. Meskipun aku adalah pria yang tidak tega menolak wanita yang datang dengan suka rela, tetap saja aku menghargai tiap wanita yang ada di sampingku meskipun dia bukan seseorang untuk di seriuskan. Karna itu sudah menjadi prinsipku sayang”


Ucapan yang Zates berikan membuat wajah Merry terkesan begitu jengkel, bahkan raut wajahnya seperti berubah menjadi datar, entah kenapa ada ketertarikan ketika melihat hal itu di wajah Merry, membuar Zates berfikir Merry tengah marah akibat cemburu bukan.


“Ksnapa aku merasa kau sangat sedih dengan perkataanku? Apa kau tengah cemburu” seketika saja Merry menepis tangan pria yang mulai menarik dagunya dengan lancang.


“Siapa yang cemburu padamu. Aku hanya sedih untuk wanita itu, ia sedari tadi berdiri disana untuk waktu yang cukup lama, melirik kearah dirimu yang begitu sengaja menghindarinya, setelah kau memanggil dirinya kau malah melukai harga dirinya. Apa kau berfikir aku akan sedih untuk pria seperti mu, aku hanya sedih karna diriku yang menjadi alasan kau menyakiti wanita lain”


Sontak penuturan Merry membuat Zates merasa kesal bahkan ia tidak mengerti kenapa wanita itu tidak bisa mencintainya, padahal Zates tidak memiliki alasan melukai Merry.


Setelah makanan itu di sajikan, Zates memberikan kartu pengenalnya kepada pramugari yang melayani Merry, tentu saja ada jengkel yang terpaksa di pendam dalam oleh Merry, bukankah ini yang ia inginkan, agar pria itu menghargai wnaota barusan, tapi kenapa ia juga merasa semakin jengkel dari barusan, alih-alih bersikap menyedihkan Merry menyantap seluruh makanan yang di hidangkan tanpa tahu malu, membuat Zates ingin sekali menertawakan wanita yang ia cintai, namun Zates tidak ingin merusak suasana hati Merry lagi, setidaknya Merry mau menyantap makanan untuk sumber tenaganya sebelum mereka mendarat di Irlandia.