Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Airyn dalang-nya!



Airyn malakukan beberapa olahraga aman bagi ibu hamil, sebab siang ini Airyn akan mengecek kandunganya bersama Hansell ke Rumah Sakit, tentu Airyn sangat bahagia melihat perkembangan sang bayi di perutnya yang cukup aktif, bahkan Airyn tidak menyangka hari ini ia akan muntah setelah menyicupi keju berpadu mayonais di salad sayur, rasanya ada gejolak mual yang tidak bisa Airyn kendalikan hingga ia mengeluarkan seluruh isi perutnya yang tidak seberapa, bahkan setelah muntah Airyn merasa sangat lemas dan tidak bertenaga, Hansell yang pagi itu ingin berangkat bekerja membatalkan janjinya dengan seorang Investor dan juga membatalkan rapat penting dengan perusahaan cabang di Amerika, ia memilih menyelesaikanya beberapa pekerjaan di rumah sambil menemani Airyn ber-olahraga.


Istrinya sudah selesai mandi, ia tengah memilih pakaian untuk hari ini, mengingaat tengah musim dingin Airyn mengunakan pakaian tertutup yang cukup tebal, bahkan ia tidak henti memandangi perutnya yang mulai membesar.


Hansell yang tengah berada dimeja kerja tertawa renyah saat Airyn berkaca-kaca di depan cermin besar, apakah Airyn tidak sadar jika badanya mulai melebar semenjak ia hamil anak kembar, tapi Hansell menyukai postur tubuh istrinya yang berisi dengan badan montok serta pipi bulat yang chubby, Airyn terlalu cantik setelah menjadi seorang wanita hamil, bahkan ada kecantikan dari dalam yang terpancar di dirinya.


“Sayang, kita akan terlambat jika kau terus melihat perutmu, segeralah siap-siap” ucap Hansell yang berada cukup jauh dari istrinya, membuat Airyn menolehkan kepala dengan tawa polos seperti sang malaikat.


“Aku lupa, rasanya aku tidak sabar untuk kelahiran mereka, apa kau tidak sabar melihat cetakan-mu Hansell, apa mereka akan seperti ku atau seperti mu. Tapi aku sangat berharap kedua anak kita mengambil nilai baik dari kita berdua” hingga senyum indah melukis di wajah Hansell, tentu ia setuju akan harapan baik yang Airyn panjatkan dalam Do'anya.


Wanita itu memilih kosmetik yang ada dimeja rias untuk di poleskan ke kulit wajahnya, bahkan ia sudah tampil senatural mungkin seolah sangat siap untuk berangkat, Hansell yang tengah menanti tentu mengandeng tangan istrinya dengan hati-hati, mereka berdua menaiki mobil yang sudah menunggu di lobby rumah untuk meluncur ke Rumah Sakit.


Setelah sampi di Rumah Sakit mereka memasuki ruang Dokter Kandungan untuk memeriksakan kehamilan Airyn, bahkan ketika melakukan USG, Hansell mengenggam jemari istrinya seolah gugup tak karuan, belum pernah ia berfikir akan menikah dengan Airyn dan melakukan USG anak kembar mereka, bahkan Hansell sebagai suami menemani istrinya dengan begitu setia.


Mata mereka terpaku pada Ultrasonografi atau layar USG yang menampilkan gambaran dan juga kondisi janin yang bertumbuh di perut istrinya, bahkan Dokter itu menjelaskan dengan teliti terkait perkembangan dua janin yang bertumbuh dengan sehat di perut Airyn, dokter wanita yang di khususkan oleh Hansell itu, cukup kagum mendengar Nona Petrov tidak mengalami mual-mual hebat mengingat ia mengandung dua anak kembar.


Ada rasa haru ketika mendengar detak jantung bayinya, bahkan Hansell melihat janin yang bertumbuh sebesar biji kacang merah dengan ukuran panjang beberapa senti meter saja, tentu membuat Hansell tidak menyangka itu adalah calon anaknya yang tengah berproses untuk tumbuh.


“Janin ibu Airyn cukup sehat, sebab bayinya tumbuh dengan cepat sebanyak 1 Mili Meter per hari, meskipun di minggu kedelapan ini memiliki panjang 1,27 cm, tapi mata janin sudah mulai terlihat di wajah dengan membentuk kelopak mata dan retina yang berpigmen. Saat ini jantung bayi berdetak sekitar 140-170 denyut per menit, hal ini menjadi pertada normal dan janin sangat sehat. Semua organ yang dimiliki sudah mulai menampakan perkembanganya, sehingga tidak ada yang di cemaskan lagi, selain anda harus meningkatkan konsumsi Protein dengan tinggi serat dan juga rutin berolahraga untuk menjaga kesehatan tubuh” jelas Dokter itu pada Hansell yang tengah mengenggam jemari istrinya seraya melihat layar USG, Airyn yang mendongakan kepala tentu sangat bahagia bahkan ia tidak menyangka akan menjadi seorang ibu.


“Apakah saya bisa mengetahui jenis kelamin anak saya dok?” tanya Hansell pada Dokter itu, membuat ia tersenyum sambil melihat kearah Hansell.


“Pada kehamilan 8 minggu kita belum bisa menentukan jenis kelamin anak, karna belum cukup umur untuk mengenalinya, ibu dan bapak bisa mengetahui jenis kelamin bayi ketika kandungan ibu Airyn berusia 14 minggu, saya akan membuat jadwal konsultasi rutin untuk kalian nantinya” ucapnya kepada pasangan itu.


Membuat Hansell dan Airyn selesai dengan beberapa konsultasi dengan Dokter kandungan, tentu Airyn tidak di perbolehkan stres ataupun kelelahan, ia sangat dianjurkan mengurangi pekerjaan untuk fokus pada kehamilanya yang masih muda, Airyn bahkan dikatakan memiliki bebah pikiran namun beruntung nafsu makanya bertambah sehingga tidak terlalu berpengaruh pada janin, ada beberapa vitamin yang diberikan untuk Airyn jika sewaktu-waktu mual yang baru saja ia alami hari ini bertambah parah.


Hansell membantu istrinya memasuki mobil setelah selesai konsultasi, namun sedari tadi ponselnya terus berdering membuat Hansell mengangkat ponsel itu setelah Airyn duduk di kabin penumpang di mobil mewah mereka.


“Ada apa?” tanya Hansell ketika menutup pintu mobil, bahkan ia bersikap ketus saat mendapati Adward yang menelfon dirinya.


“Aku sudah mendapatkaan data yang kau inginkan” balas pria itu, membuat Hansell cukup puas atas kinerja Adward, tentu saja ia tersenyum penuh kemenangan setelah mendapatkan hasil yang di butuhkan. “Dan hari ini aku akan terbang ke Neraga mu untuk bertemu langsung, terkait pemutusan kontrak ku dengan Nona Petrov. Bagaimanapun kontrak itu kami sepakati dengan cara tatap muka, sangat tidak sopan untukku jika tidak bertegur sapa dengan mantan kekasih untuk memutus hubungan kerjasama” sambungnya, membuat Hansell geram atas apa yang pria itu ucapkan.


“Tutup mulutmu, jika tidak akan aku hancurkan dirimu dalam waktu semalam” ancamnya dengan tatapan kesal yang mulai menghancurkan moodnya.


“Tenanglah, aku hanya bercanda. Aku ingin kau juga menyiapkan mental atas fakta yang aku berikan. Aku tutup telfonya, sampai nanti” seketika Hansell memandang panggilan yang berakir sebelah pihak, ia tidak mengerti kenapa pria itu menelfon dengan mendadak sambil mengatakan sesuatu yang mencurigakan, tapi tanpa berfikir lagi Hansell memilih pergi sebab istrinya sudah menanti sedari tadi.


*****


Keesokan harinya, Hansell telah kembali pulang setelah menyelesaikan rapat jam 1 siang, bahkan ia sudah membuat janji dengan Adward yang sudah dikabari kepada Airyn, tentu Airyn tidak memeprmasalahkan hal itu, sebab ia menuruti apa yang Hansell inginkan.


Hansell yang duduk di ruang tamu menutup dokumenya saat pelayan mengatakan jika tamu mereka sudah sampai di rumah ini, tentu Sebagain tuan rumah ia memerintahkan mereka untuk memberitahu hal ini kepada Airyn yang tengah berada dikamar untuk turun menemui Adward.


“Selamat siang Tuan Hansell” sapa pria itu dengan ramah, sambil mendudukan diri di hadapan Hansell yang cukup berjarak, bahkan Hansell hanya tersenyum melihat tingkah Adward yang sok akrab padanya, palayan datang menyuguhka kopi hitam dengan cemilan untuk pria itu, bahkan tanpa pikir panjang ia menegukanya untuk menghargai tuan rumah.


“Sebenarnya aku sudah sampai tadi malam, tapi rasanya tidak etis bertamu dengan seorang yang sudah berumah tangga dimalam hari, untuk itulah aku membuat temu siang ini” ucapnya dengan basi basi, membuat Hansell memiringkan kepala memandang Adward di seberang duduknya.


“Jangan bersikap percaya diri, apakah data yang kau berikan itu cukup akurat dan juga data yang aku butuhkan, jika kinerjamu mengecewakan kau tahu sendiri akibatnya” balas Hansell dengan tatapan merendahkan, membuat Adward terkekeh memandang kearah pria itu.


“Tidak masalah, istriku tengah di kamar. Sebentar lagi dia akan turun dan menandatangai pemutusan kontrak itu”


Ruangan membentang hening, mereka diam di posisi masing-masing, tentu menungguu Nyonya Hamillton yang tengah bersiap-siap untuk turun.


Adward memandang Hansell yang ada di depanya, apa yang akan dilakukan pria itu setelah mengetahui hal ini? Bahkan Adward cukup kasihan jika pria itu mengetahui kerkaitan Airyn dengan bom senyap itu, apakah Adward setega ini mengatakan fakta mengejutkan pada pria yang tengah cinta-cintanya dengan istrinya, bahkan mengingat mereka di pulau Bali saja dapat dilihat bagaimana saling mengertinya dua orang itu, tetapi kali ini?


Tentu fakta yang akan di berikan Adward berpotensi untuk meruntuhkan segala perspektif mereka tentang hubungan yang terjalin, bahkan sampai mempertanyakan? Apakah mereka saling mencintai dan saling membahagiakan, atau mereka dua orang berbeda yang tak pernah saling memahami.


Hal apa yang di dapatkan pria itu, seolah perkataanya sedari malam selalu membuat Hansell penasaran. Memangnya fakta seperti apa yang akan Hansell terima hingga ia akan dibuat terkejut akan data yang dibawa Adward, tapi bagaimanapun Hansell akan mengetahui dalangan, dan akan membalaskan dendam kepada orang yang hampir mencelakai Airyn.


“Adward..” putus Airyn ketika memecah keheningan diantara dua pria itu, tentu saja mata Airyn terpaku pada dua orang yang saling bertatapan panjang, tapi menyimpan banyak pertanyaan yang terlontar dari sorot mata mereka. “Apa kau sudah lama menungguku?” tanya Airyn sambil berbasa-basi pada tamunya, tentu saja ia mengetahui jika Hansell akan memutus kontrak antara dirinya dan Adward, untuk itulah aairyn tidak terkejut atas kedatangan pria yang dimasa lalu pernah menjadi kekasih kontraknya.


“Aku baru saja sampai” balasnya saat melihat perubahan tubuh Airyn, wanita yang sudah menjadi istri Hansell itu, cukup berisi dengan perut yang sedikit melendung, bahkan wanita itu mengunakan pakaian yang menempel pada tubuhnya hingga perut melendung itu seperti di pertontonkan pada orang yang melihat dirinya.


“Apa kau tengah hamil?” tanya Adward kepada mantan kekasih yang hanya diatas kertas saja.


“Iya, kehamilanku sudah mencapai minggu kedelapan” ujarnya dengan bahagia, bahkan ia mengelus perutnya seolah Airyn tidak bisa menahan diri memamerkan kehagian atas anak yang ia kandung.


“Kau bahagia sekali Airyn, aku cukup senang atas kehamilanmu” seru pria itu kepada Airyn yang tawa polos penuh ikhlas, entah bagaimana Adward menyimpan ketertarik pada Airyn sedari dulu, hanya saja Airyn tidak pernah membiarkan hubungan mereka berlabuh kejenjang yang lebih serius, tapi melihat ia bahagia rasanya Adward melihat istri masa depan yang mungkin akan seperti Airyn jika tengah mengandung anaknya, mungkin saja semua wanita di dunia ini akan semakin cantik dengan jiwa keibuanya yang terlihat jika tengah mengandung seorang anak.



“Mana kontraknya” tukas Hansell, sebab ia tidak bisa suka melihat Adward terpana pada istrinya, bahkan Hansell memindahkan tubuhnya di samping Airyn, seolah menjadi penghalang untuk Adward mendekati istrinya.


Melihat tingkah posesif Hansell, Adward tersenyum sambil mengeluarkan kontrak persetujuan atas pembatalan mereka, membuat Airyn meraih pulpen untuk menanda tanganinya, sehingga Adward dan Airyn tidak memiliki kontrak apapun.


Mereka berbicara beberapa hal, hingga Airyn meminta izin untuk kekamarnya, membuat Hansell dan Adward di tingalkan di ruang tamu yang cukup besar, bahkan tidak ada orang lain lagi selain mereka berdua. Mata Hansell terpancar menuntut hal penting yang ia inginkan, membuat Adward memandang penuh perhitungan pada Hansell, sebelum mengeluarkan data itu.


“Apa kau yakin siap untuk menerimanya?” tanya pria itu kepada Hansell, membuat suami Airyn itu tersenyum sungging seolah merendahkan Adward, dengan berat hari pria yang sudah menyiapkan data itu mengehela nafas dengan berat.


“Aku tidak mengerti bagaimana menjelaskanya, tapi aku hanya berpesan untuk melihat penyebabnya dari pada harus mempertanyakan kenapa. Aku tidak menyarankan kau melihat hal ini di rumah, sebab bisa saja membuat dirimu kehilangan kontrol, jadi lebih baik kau mencari tempat tenang untuk membacanya sendirian” Adward menyodorkan map yang diberikan Zaterius tentang Airyn yang menjadi dalang pengeboman markas itu, setidaknya dengan data ini membuat Hansell membuaka sedikit matanya, dan mulai mengenali istrinya untuk memahami Airyn dengan perhatian penuh.


Tangan Hansell mengapai map itu, tapi Adward menahanya di detik yang sama, membuat kedua mata mereka menatap seolah saling mengancam “Tadinya aku ingin pergi setelah menyerahkan map ini, tapi melihat reaksimu yang tidak mengindahkan perkataanku, membuat aku ingin ikut campur sedikit. Biar aku katakan garis besarnya”


sontak perkataan pria itu membuat Hansell semakin geram, meskipun ia bersikap tenang dan juga terlihat tidak peduli, di dalam hatinya sudah menerka banyak kemungkinan namun berhasil di sembunyikan dengan baik.


“Istrimu yang memesan bom senyap itu, dan ia juga yang sudah menanamkanya di bangunan bawah tanah, dengan tujuan mengubur kalian hidup-hidup” sontak mata Hansell terpana mendengar perkataan pria itu, bahkan ia beranjak dari duduknya untuk meraih kerah kemeja yang di kenakan Adward untuk melampiaskan emosi yang tertahankan.


“Tutup mulutmu!!” bentak Hansell dengan kalimat mengancam, bahkan mata bulat yang membesar itu terlihat ganas untuk menatap tajam kepada Adward, bahkan tubuh Hansell dibuat merinding atas perkataan pria itu, tentu Hansell tidak bisa menahan dirinya lebih lama untuk terus tenang, di tambah orang itu mengatakan sesuatu tentang istrinya.


“Aku tidak ingin ikut campur, tapi aku cukup menghargai Airyn. Untuk itulah aku memintamu menyikapi hal ini dengan sedikit bijaksana. Seperti perkataanku diawal, lihatlah penyebab kenapa Airyn ingin mengubur kalian semua hidup-hidup beserta dirinya, dari pada harus mempertanyakan kenapa ia melakukan hal itu. Di dalam map itu ada data mengenai transaksi yang istrimu lakukan dengan sangat rapi, aku mengunakan koneksiku untuk mendapatkanya, tentu aku sama terkejutnya denganmu, tapi aku sadar dibalik tindakan yang ia lakukan, pasti ada penyebab yang tidak bisa di jelaskan”


Seru Adward dengan nafas sesak akibat cengkraman tangan Hansell yang kuat, mendengar perkataan pria itu, Hansell menghempaskan Adward seolah ia tidak ingin memandang wajahnya lagi. "Astaga cengkramanya, untung saja aku tidak meninggal"