Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Hansell tidak sebodoh itu?



Mobil yang membawa Zates telah sampai diparkiran bawah tanag Rumah Sakit, beberapa perawat yang sudah mengunakan masker dengan pakaian medis lengkap menghampirinya, menarik tubuh Zates untuk di pindahkan ke ranjang dorong sesegera mungkin, bahkan membuat seluruh Dokter dan Perawat terbirit-birit menyambut kedatangan pria itu dengan keadaan yang cukup menegangkan.


Dari ujung lorong sebuah sepatu kets yang berbebenturan dengan keramik marmer rumah sakit di sekitar ruang Emergency VVIP itu, membuat seluruh orang memberikan jalan padanya, mata Merry tentu saja memandang kedatangan Dokter wanita yang mungkin seumuran dengan Merry, bahkan kilau matanya saja sepintas lalu dapat diartikan jika orang itu menatap tajam kearah dirinya, sebelum berlalu keruang Emergency dan menutup seluruh akses dari dalam sana.


Tentu saja kepanikan bercampur bingung melanda Merry, hingga membuat ia bertanya-tanya mengapa seluruh orang di sekitaran Zates memandang Merry seolah memandang orang yang mereka kenal, bahkan bisa di pastikan sebelumnya Merry tidak pernah berinteraksi dengan orang-orang disekitaran Zates itu, apa yang sebenarnya terjadi sehingga ia merasa terancam untuk berdiri disisi Zates saat ini, apalagi melihat tatapan tidak suka dari Dokter wanita barusan.


Beberapa jam berlalu di dalam ruangan itu, bahkan Merry tidak sadar jika ia berdiri cukup lama sembari mencuri pandang kearah dalam yang mungkin tidak akan mendapatkan akses apapun, Merry tidak henti mengatupkan kedua tanganya dengan cemas seolah ia berdoa agar pria itu baik-baik saja, seharusnya Merry tidak membuat keributan dan mengikuti protokol yang Zates katakan sebelum berangkat, bahkan hampir tiga kali pria itu memperingati Merry untuk tidak bicara dan memahami segalanya di samping Zates, namun rasa tidak percaya bercampur bingung mendorong sikap agresif Merry untuk mengencar jawaban dari James.


Sialnya, Merry bertingkah bodoh disaat yang tidak tepat.


Wanita yang mengunakan seragam berwarna putih dengan sarung tangan karet serta masker medis yang ia kenakan, perlahan menyingkirkan benda itu untuk di buang ketempat sampah yang ada di bagian luar, matanya tertuju pada Merry seolah menunggu penjelasan dari sang Dokter, tentu saja wanita itu adalah orang yang cukup dekat dengan Zates lantaran profesi mereka sebagai seorang Dokter dan pernah menjadi anak didik Zates ketika ia melanjutkan pendidikan profesinya di masa lalu, bahkan beberapa tahun belakangan Zates mulai melonggarkan jadwalnya untuk mengistirahatkan tubuh yang dirasa tidak muda lagi, sebagai seorang dokter yang cukup mengenal kepribadian Zates dan mengetahui tentang siapa Merry membuat Elsiyana sedikit tidak suka akan wanita itu, mungkin sekitar dua tahun belakangan Elsiyana tidak mendengar kabar dari Zates yang cukup di hargainya, dan tiba-tiba ia mendapatkan informasi yang cukup mengagetkan seperti ini, di tambah ada seorang wanita yang bernama Merry di sisi Zates, membuat Elsiyana yakin pria yang bodoh itu mengorbankan dirinya lagi untuk wanita ini.


“Dokter bagaimana keadaan—“ belum sempat Merry menyambar Elsiyana dengan pertanyaan, dokter Elsiyana berkacak pinggang di hadapan Merry seolah tidak bersikap sopan seperti seorang Dokter pada umumnya.


“Apa lagi yang perlu ia korbankan untuk mu, ha! Apakah perlu ia mengorbankan nyawa untuk wanita yang tidak menganggap keberadaanya di bumi ini” bentak Elsiyana seoalah tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi.


Dimasa lalu ia ingin sekali menemui wanita bernama Merry untuk melemparkan sederet kebenaran kehadapan wajahnya, namun Elsiyana yang tidak memiliki hak untuk itu rasanya cukup tahu diri, tentu Merry tergugu atas perkataan wanita yang baru saja ia temui hari ini, bahkan emosi yang ia keluarkan ke hadapan Merry membuat wanita itu bertanya-tanya, atas dasar apa Dokter tersebut berbicara sekasar itu kehadapan Merry.


“Nona, aku tidak pernah mengenal anda sebelumnya. Saya rasa bersikap kurang sopan kepada orang asing itu termasuk tindak kejahatan”


“Lalu bagaimana dengan sikap tidak tahu diri yang hanya mementingkaan kebahagiaan sendiri dan tidak sadar siapa yang selama ini membahagiakan dirinya. Apakah itu tidak termasuk kejahatan!”


Balas wanita itu dengan penuturan yang menohok, bahkan sempat membuat Merry Lourent terpana seolah ia tidak mampu berkata-kata “Aku hanyalah seorang Dokter yang bisa menghilangkan rasa sakit dan juga penyakit yang di derita oleh pasienku di tubuhnya. Tapi untuk sakit hati yang di derita mereka selama bertahun-tahun aku tidak memiliki ranah untuk menyingkirkan itu. Aku tidak mengerti hal apa yang menarik dari dirimu sehingga Dokter Laos sebegitu inginnya berkorban nyawa hanya untuk wanita yang tidak pernah tahu tentang keberadaanya. Apa kau pernah merasakan bagaimana di posisinya, mencintai orang yang tidak bisa mengenal dirinya, menjaga orang yang tidak sadar siapa dirinya, dan bahkan melindungi wanita yang saat ini tidak menyisihkan sedikit hati untuknya. Apalagi yang lebih malang dari rasa sakit ini, selama bertahun-tahun dia merelakan kebahagiaan nya demi orang lain, berharap kau hidup degan bahagian dan melepaskan masa lalumu, dan juga berharap kau dengan sepenuh hati berbangga diri mengakui diri untuk memeluk putrimu. Tapi apa yang kau lakukan untuknya, kau malah mencintai pria lain, rela dijadikan seperti boneka oleh seseorang selama bertahun-tahun, dan rela menyembunyikan fakta dari putrimu tentang siapa dia sebenarnya. Sebenarnya kesetiaan apa yang ingin kau tunjukan pada majikan yang sudah menyengsarakan hidupmu, dan kau malah membantu mereka untuk menyengsarakan putrimu, jika saja kau sedikit pintar, dan memiliki hati yang cukup lapang untuk melepaskan pria yang tidak mungkin mencintaimu, mungkin sedari awal kau akan sadar tentang apa yang salah sebenarnya”


Sambung Elsiyana kehadapan Merry dengan tatapan menyelidik penuh emosinal, entah kenapa ia merasa puas bertemu wanita yang selama ini tidak mungkin ada di hadapanya, berhubung Zates tengah terbaring di dalam koma sebab kehilangan cukup darah, membuat Elsiyana tidak akan melewatkan kesempatan ini.


“Nona Merry, mari kita jujur saja. Alasan putrimu tidak mengetahui siapa dirinya sebenarnya, itu semua adalah karna dirimu bukan. Kau yang bersikeras untuk menutupi hal ini hingga akir, meskipun Louis Petrov ingin membuka fakta itu semenjak istrinya meninggal, tapi ia mengurungkan niat karna kau menolak. Biar aku tebak apa alasanya, alasan utamanya karna kau ingin terlihat berkorban untuk Louis Petrov dan juga ingin menunjukaan padanya jika kau rela memberikan apapun untuk dirinya dan wanita yang ia cintai. Apa kau tahu, hal apa yang salah dari semua itu, orang yang kau kenal dengan sebutan Zates juga terpaksa menyembunyikan diri karna kau sendiri yang tidak ingin mengakui Airyn. Jadi untuk menghormati keputusanmu, ia rela menghilang dan juga membiarkan semua kebohongan. Apakah kau tidak bisa menyimpulkan jika semua yang terjadi hanya karna keegoisanmu semata. Apakah aku perlu mengingatkan bagaimana hancurnya putrimu ketika kehilangan Louis Petrov yang ia anggap ayah kandungnya, apa yang kau lakukan saat itu. Membiarkan putrimu menjalani hidup dengan rasa sakit sendirian, serta menyokongnya untuk kesuksesan yang di harapkan Louis Petrov. Apa pernah kau ingin memberitahu kebenaran padanya? Tidak kan, bahkan kau ingin menutupi ini sampai akir!! Mari kita persingkat saja, kekacauan yang terjadi serta ketidak bahagiaan putrimu sebelumnya, sebenarnya itu salah siapa? Dirimu kah atau Zaterius Laos Petrov”


Sontak perkataan yang di lontarkan dengan kalimat menuduh yang hampir-hampir diakui Merrry kebenaranya, membuat wanita itu melangkah mundur, segala memori tentang masa lalu, bahkan segala hal yang baru saja di ucapkaan oleh Elsiyana padanya membuat Merry tidak bisa mempercayai dirinya sendiri.


Apakah dirinya yang sudah egois dan menghancurkan segalanya. Atau apakah dirinya yang menyebabkan Airyn menderita.


Tapi Merry tidak berniat seperti itu lalu kenapa malah jadi begini, dan wanita itu siapa hingga berani bersikap kasar padanya dengan menghakimi tanpa mendengarkan sisi Merry sendiri.


“Atas hak apa kau bicara seperti ini padaku, apa kau fikir dirimu pantas ikut campur dan ambil adil dalam menghakimiku sesuka hatimu” balas Merry untuk pertahanan dirinya, meskipun ia sulit berkata-kata saat mendengaar perkataan wanita itu, tetap saja tidak pantas orang asing menghakimi Merry sesuka hati.


“Kau fikir Zates orang yang mudah berbicara tentang dirinya kepada orang lain, dan aku yakin kau mengetahui sisinya yang suka mengkelompokan sesuatu itu bukan. Jadi kau fikir aku dibagian mana bagi Zates?" penuturan itu terjadi jeda untuk Mery menerka, membuat Elsiyana tersenyum penuh kemenangan pada wanita tersebut "Jadi, berdasarkan hal itu saja aku memiliki hak untuk bicara seperti ini padamu!!”


Sontak Merry terpana, ia mencerna penuturan Elsiyana dengan baik-baik, bahkan wanita itu menjadi tujuan ketika Zates memiliki luka tembak dan dilarikan di bawah pengawasan dirinya, namun di sisi lain wanita itu juga mengerti tentang Merry dan masalah yang mereka hadapi, jika begini apakah Elsiyana cukup berarti bagi Zates sehingga wanita itu berada diantara dua sisi sifat Zaterius yang cukup misterius itu. Tapi kenapa hati Merry terasa sakit seolah ada sesuatu yang tidak bisa ia terima.


“Kau seharusnya bisa mencegah segala kekacauan ini sedari awal, namun kau terlalu buta dan bodoh. Sehingga tidak bisa melihat kebenaran, bahkan kau tidak bisa membedakan dua orang berbeda yang ada disekitarmu. Sayang sekali nasib Zates terlibat dengan wanita seperti dirimu Merry, yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Biar aku katakan satu kali lagi, jika kau menginginkan sesuatu yang mustahil untuk kau gapai, maka Zates yang akan mengapainya untukmu, semustahil apapun keinginanmu dia tetap berjuang mewujudkan impian itu. Jadi untuk itulah, lebih baik kau mundur dari hidupnya jika kau tidak bisa memberikan yang sebaliknya”


Ucap Elsiyana ketika memasukan kedua tanganya ke kantong jas dokter yang melekat cantik di tubuhnya, Merry tentu saja masih penuh dengan bau darah yang cukup amis, sehingga Elsiyana tidak percaya Zates akan secinta ini pada wanita seperti Merry.


"Apa maksud perkataanmu--” sanggah Merry dengan wajah mengelap, bahkan ia seperti di hina tanpa sebab dan di tendang tanpa alasan. Memangnya sepenting apa wanita itu di hidup Zates hingga berani bertingkah seperti ini di hadapan Merry, jikapun Merry ingi membela diri, sedari tadi ia bisa saja membalikan perkataanya, namun rasa bersalah dan juga rasa menyesal mulai hadir di hatinya terhadap Zates, membuat Merry seperti orang bodoh yang berdebat dengan lawan, tentu bisa di pastikan sebelumnya Merry bukan orang yang bisa terkalahkan dengan mudah, tapi kali ini malah sebaliknya.


“Apa kau masih bodoh” hina Elsiyana saat mendengar penuturan Merry yang masih bertanya pada dirinya “Tentu aku mengatakan jika Zates mencintaimu dengan sangat, bahkan seperti orang gila hingga ingin bekorban nyawa untuk wanita yang tidak mencintai dirinya. Tapi, kau malah sebaliknya pada pria malang itu, untuk itulah lebih baik kau mudur dan usir Zates pergi sebelum penyesalan yang menjadi ujung hidupmu”


Wanita itu berlalu dari sana, meninggalkan Merry yang terasa di tampar oleh orang yang tidak ia kenal, bahkan Merry merasa sebagaian penuturanya adalah kebenaran, membuat Merry terduduk dengan pasrah untuk memikir ulang atas apa yang sudah ia lewatkan dan abaikan.


***


“Sayang, aku ingin melintasi altar pernikahan kita dan juga melemparkan bunga pada tamu undangan, bahkan aku ingin yang menangkapnya adalah Angel dan Dikra. Bagaimana bahagianya melihat mereka menangkap bunga itu” ucap Airyn ketika bermanja di pelukan Hansell, seolah mereka tidak lelah bercerita dan menghabiskan waktu berdua di dalam sana, bahkan Airyn yang tidak seperti ini malah menjadi istri yang berbeda selama mereka terkurung di tempat yang Hansell tidak tahu dimana.


“Aku juga ingin, tapi aku sangat ingin ketika anak-anak kita yang mengiringi dan menjadi pendamping kedua mempelai” ucap Hansell untuk melucu, membuat Airyn mengangkat kepala sembari menjamkan kedua mata bulatnya pada pria bodoh itu.


“Apa kau ingin ku bunuh!!” ancam Nona Petrov pada suaminya, etah bagaimanapun perkataan Hansell benar-benar mengandung emosi yang membanjiri momen mesra yang Airyn ciptakan diantara mereka “Jika kau ingin anak-anak kita yang menjadi pendamping mempelai, bukankah itu membutuhkan waktu 5 tahun kedepan untuk mewujudkannya, belum mengandungnya, belum lagi mengurusnya agar mereka tumbuh dan bisa berjalan. Apa kau benar-benar ingin menunda selama itu untuk pesta pernikahannya" celetuk Airyn dengan jengekel sebelum melanjutkan penuturanya "Astaga Hansell bagaimana bisa kau setega itu padaku”


Bantak wanita itu saat melayangkan protes tidak suka pada suaminya, tentu saja Hansell tertawa sembari mencubit hidung mancung di wajah mungil Airyn untuk mengolok-ngolok wanitanya dengan sikap manja.


“Aku hanya bercanda. Tentu saja aku sangat ingin memiliki pesta pernikahan sesegera mungkin, setidaknya aku ingin di dalam perutmu sudah tumbuh janin yang bisa menjadi saksi meskipun ia belum hadir di dunia ini” ucap Hansell ketika mengelus perut istrinya, membuat Airyn terpana akan keinginan suaminya yang sederhana namun terasa sulit diberikan, bagaimanapun juga mereka sudah berusaha namun sepertinya tidak mudah mewujudkan keinginan itu jika semesta belum mengizinkan, di tambah kesibukan kerja dan beberapa masalah yang terus terjadi, bahkan membuat Airyn terlalu menyibukan diri dengan masalah pribadinya, melupakan jika saat ini ia memiliki suami, melupakan bagaimana dirinya sebagai seorang istri, dan pernikahan yang telah terjadi beberapa bulan terakir ini.


Bagaimanapun Hansell tetaplah seorang suami yang ingin menjadi ayah bukan. Tapi selama pernikahan dan menjalankan hubungan Airyn dan Hansell tidak pernah serius untuk membicarakan tentang momongan, apakah Airyn benar-benar melewatkan kehidupan rumah tangga mereka hanya perkara hal yang tidak masuk akal yang telah mendera hidupnya.


“Kenapa tidak. Kita akan keluar dari sini. Dan aku akan mewujudkan harapan mu, dan harapanku, dan kita akan membuat keinginan itu terwujud diwaktu yang sama” seru Hansell dengan menenagkan istrinya, membuat Airyn sangat bersyukur memiliki suami seperti lelaki itu


.


Jika di pikir-pikir lagi, Airyn tidak pernah baik menjadi seorng istri, bahkan Airyn tetap kekanak-kanakan dan juga melupakan kodratnya sebagai Nyonya Hamillton. Meskipun begitu, tidak bisa di pungkiri jika Airyn juga mencitai Hansell dengan sangat, walaupum ia terlalu fokus pada masalah yang terus terjadi di hudupnya.


Dan selama ini, Hansell sangat pengertian dan menghargai tiap keputusan yang Airyn inginkan, Hansell tetap percaya dan juga memeluknya ketika semua orang berpandangan berbeda tentang Airyn, Hansell selalu menjadi tameng terdepan untuk melindugi dirinya dari rasa sakit, ia selalu bisa membuat Airyn tertawa meskipun hidupnya selalu di lingkari kesedihan yang mendera, Hansell selalu menerima Airyn kembaali sekalipun Airyn mencampakan dirinya untuk menjauh pergi, selama ini telah banyak yang Hansell berikan untuk Airyn, memberikan seluruh hati dan juga mengorbankan diri.


Jika harus di pikir-pikir lagi, Airyn tidak pernah memikirkan hal sekecil ini sebelumnya, ia selalu sibuk dengan masalah yang ia anggap besar dan perlu di tangani di waktu bersamaan. Namun Airyn melupakan kehidupan berharganya yang lebih penting dari perkara masalah, yaitu suaminya Hansell.


“Aku ingin memiliki pesta pernikahan, dan aku ingin mengandung anak mu. Apakah masih bisa aku melakuaknya” pinta Airyn ketika meraih tangan Hansell, seolah ia meminta kesempatan itu untuk dimiliki sekali lagi, tapi dengan posisi sekarang ini apakah mungkin.


“Kenapa tidak. Apa kau ingin keluar dari sini?” tanya pria itu dengan sikap memesrai, meskipun ia tidak melepaskan tatapan matanya dari wajah istrinya, hingga Airyn menganggukan kepalanya dengan sangat.


****


Tepat 16 jam akirnya Zates membuka mata dan bangun, ia melihat Merry tertidur di pinggir ranjangnya sembari mengenggam jemarinya, membuat jantung Zates berdebar seolah rasa bahagia tidak bisa di sembunyikan, Zates memandang sikap Merry yang begitu posesif mengengam tanganya dengan erat, hingga Zates berpikir, ada hal apa yang membuat Merry menjadi seperti ini, tentu saja ini bukanlah Merry yang ia kenal.


Belum sempat Zates mengusap kepala wanita itu, Merry dengan segara mengerjapkan mata, menegadahkaan kepala meskipun dengan pandangan berkabut, sebelum ia bisa memandang dengan sempurna.


“Zates kau sudah bangun. Apa aku perlu memanggil Dokter, aku akan memanggilnya” ucap Merry dengan heboh, seolah rasa senang dan lega membuat dirinya kepanikan diwaktu bersamaan, namun pria itu menahan tangan Merry yang membuat ia mengalihkan pandangan pada jemari mereka yang terjalin erat, tentu pipi Merry memerah dengan malu, apakah ia ketahuan telah menyentuh pria itu ketika tidak sadarkan diri, jika begini Merry akan dianggap melakukan pencabulan bukan.


“Tidak apa-apa, aku bisa memeriksa diriku sendiri. Jangan lupa aku juga Dokter, jadi aku dapat merasakan bagaimana kondisi tubuhku” ucap pria itu saat menarik Merry untuk keposisi semula “Yang membuatku tertarik, ada apa dengan tanganmu” ucapnya seraya tersenyum manis, seolah tidak bisa berhenti mengoda wanita itu.


“T-tidak tahu, kau yang mengenggam tanganku” ucapnya ketika melonggarkan kekuatan saat mengenggam tangan Zates tentu saja Zates tertawa seolah tidak bisa menahan sikaap lucu dari Merry “Kenapa di usia yang sudah menua kau semakin mengemaskan” ledeknya dengan tidak tahu malu, mebuat Merry menghempaskan tangan mereka, seolah perkataan Zates mengundang jengkel meskipun menjadi sedikit penghiburan.


Merry membantu Zates meneguk minuman untuk menelan obat meskipun dengan cara yang abnormal, hingga berulang kali Merry menjadi kepiting rebus yang memerah dengan sempurna, entah kenapa sikap Zates kali ini benar-Benar membuat Merry berdebar sampai menatapnya saja terasa kurang nyaman.


Mereka berbicara banyak hal dan Merry mendengarkanya tanpa kata membantah, ia menerima berbagai hal-hal yang Zates ceritakan, tentu saja Merry dapat merasakan bagaimana sisi lain dari Zates meskipun tidak bisa di pungkiri Zates memang pria yang cukup aneh.


“Zates. Kenapa kau tidak melepaskan Airyn dan Hansell” tanya Merry kehadapan pria itu, membuat Zates memandang wanitanya sembari menjawab perkataan Merry, namun wanita itu dengan cepat mencela untuk melanjtkan penuturan yang belum ia selesaikan “Kau tidak bermaksud menyakiti mereka, lalu untuk apa kau menahan mereka di sana. Setidaknya dua orang itu bukan orang sembarangan yang bisa meninggalkan posisi mereka untuk waktu yang cukup lama. Aku rasa kau harus melepaskan putri dan menantumu” Sontak penuturan Merrry membuat kecanggungaan diantara keduanya.


Apakah Merry sudah mengakui jika Zates ayah kandung Airyn, dan mereka telah memiliki seorang menantu yang dicintai putrinya, tapi bukankah percakapaan seperti ini, seperti percakapan seorang Suami Istri, keduanya memalingkan wajah seolah malu untuk saling menantap.


“Merry..”


“Hm…”


“Apa kau fikir menantumu bodoh?” lirih Zates dengan pertaanyaan ambigu, membuat Merry terdiam seolah tidak bisa menjawab apapun “Hansell tidak sebodoh yang kau fikirkan. Mereka akan keluar dengan sendirinya dari sana. Karna sepertinya diantara kalian pria itu seperti megetahui kebradaanku, bahkan beberapa kali ia mungkin bisa mendapatkan fakta kongkrit tentang semua masa lalu yang terkubur. Sehingga di saat itu aku mulai berfikir, ia lebih bisa diandalkan dari yang kita bayangkan”


Mata Merry membulat, menangih sebuah penjelasan atas apa yang Zates bicarakan, benarkan Hansell seperti itu, tapi kenapa ia bersikap sebaliknya selama ini, bahkan ia seperti tidka berguna sama sekali. Hanya saja jika Merry berfikir lagi, alasan Hansell membuat pertengkaran di gudang tahanan itu juga menjadi fakta jika dia tidak sebodoh yang Merry bayangkan, bahkan Merry tidak pernah berfikir sejauh itu.


“Jika tidak ada kamu di sampingnya, Hansell dengan mudah bisa melarikan diri dari sarangku, bahkan Hansell bisa membongkar tempat itu jika ia mau, sayangnya ia belum mengetahui jika aku tidak akan mungkin melukaimu Merry. Karna itulah, aku lebih dulu mengundangmu, sebelum membawa Hansell kesana, dan menarikmu dari sisinya bisa menjadi pertanda agar dia semakin kebingungan atas apa yang terjadi, sebab pertengkaran yang ia lakukan dengan anak buahku, adalah bukti untuk memastikan seberapa berharga kalian untuk aku tahan, dan Hansell memdapatkan fakta jika aku tidak akan mungkin melukai kalian berdua, untuk itulah aku menarikmu, agar ia tetap waspada"


"Apa kau yakin Hansell tidak sebodoh itu. Jika benar dia tidak mudah di hadapi, kenapa kau menculiknya"


"Hm...karna aku ingin memberitahu kalian siapa aku sebenarnya, dan apa yang salah dari kekeacauan yang terjadi. Lupakan tentang itu, apa kau tidak ingin tahu kenapa aku memilih dirimu menjadi yang pertama untuk ke markas itu, sebab jika aku membawa Hansell, maka aku akan gagal, sebab ia tidak mudah terkalahkan”


Sontak penuturan Zates membuat Merry terpana, benarkah Hansell yang dianggapnya bodoh itu bisa sepintar itu, tapi kenapa ia tidak menunjukan kekuatanya dan malah bertingkah biasa saja “Karna untuk berdiri di samping Airyn, Hansell perlu bertingkah lemah. Untuk menerkam para musuh yang diam-diam akan menghancurkan istrinya. Dari arah depan Airyn mungkin terlihat berkuasa dan membuat Hansell tidak berati disampingnya, tapi apa kau bisa membayangkan apa-apa saja yang sudah Hansell lakukan untuk menyokong Airyn dari belakang. Kehancuran perusahaan Jilixing sepenuhnya ulah Hansell, bukan diriku”


sontak Merry terpana, bahkan Merry tidak percaya akan perkataan pria itu.


“Benarkah?”


“Apa aku terlihat berbohong?”


“Tidak”


“Jadi Airyn akan baik-baik saja disana. Saat ini Hansell mungkin tengah mepermainkan istrinya. Aku sengaja membius Hansell agar ia tertidur sebelum Airyn datang , jika aku tidak melakukan itu. mungkin semuanya akan gagal dan pria itu bisa menghancurkan tempat itu dan memporak-porandakan identitasku. Dia sangat mengerikan dari Airyn” ucap Zates dengan terkekeh membuat Merry terpana dan terdiam seolah tidak percaya akan penuturan pria itu.