Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Menghadiri pesta yang tertunda.



Pria itu mengepalkan tangan ketika menerima penjelasan dari Jilixing ayah tirinya, tentu saja Jemes menuntut sebuah tanggung jawab yang di janjikan oleh Jilixing padanya, namun pria tua itu malah berkilah atas perkataan yang sudah ia ucapkan beberapa waktu lalu.


“Bukankah anda sudah berjanji akan mengeluarkan ayahku dari tahanan Zaterius” ucapnya dengan nada mengarang seolah menegang akan pertentangan yang ia perlihatkan, hampir-hampir menyulut emosi Jilixing yang duduk di ruangan kerja bersama salah satu anak buah kepercayaanya disana.


“James kau harus pintar untuk menyikapi seluruh kekacauan yang terjadi. Jika kita membebaskan ayahmu sekarang juga, hal ini sangat berbahya untuk keberadaan kita. Aku tidak mengetahui hal apa yang di miliki Zaterius untuk menghancurkan markas rahasiaku yang sudah menjajaki dunia bawah tanah selama bertahun-tahun, dan aku juga tidak mengetahui sebesar apa kekuatan yang ia miliki saat ini, karna itulah jangan gegabah dalam menyentuh lawanmu. Di tambah Merry sudah mengetahui kebenaran tentang dirimu, apakah kau yakin wanita itu akan berdiam diri tanpa melakukan apapun? Aku dapat menebak jika saat ini Merry tengah menyiapkan sesuatu untuk melindungi putrinya, hal ini menjadi pertanda jika kesempatan kita untuk menyelinap diam-diam menghancurkan GRUP APV akan semakin sempit, di tambah suami Airyn yang dulunya aku fikir sebagai anjing peliharaan yang jinak, ternyata diluar dugaan. Dia lebih ganas dari yang aku bayangkan"


"Bukankah dengan semua yang terjadi kita sudah kalah talak, sebab terpaksa mundur sebelum menyerang, dan kau masih memaksaku untuk menyelamatkan ayahmu, apa kau ingin bunuh diri untuk mengantarkan kita ke kandang musuh” balas Jilixing dengan penuturan yang masuk akal, sebab ia tidak ingin mencelakai dirinya atas rrsiko sebesar itu.


Bahkan bisa di katakan Jilixing tidak mempedulikan bagaimana Griffin hidup atau mati saat ini, yang ia fikirkan adalah keselamatan dirinya dan juga markas ini. Sebab ketika Jilixing mengambil resiko untuk menyelamatkan pria itu, bisa saja markas yang dimiliki Jilixing kali ini akan benar-benar hancur di tangan Zatesrius, membuat dirinya perlu memutar otak untuk menghadapi manusia berakal raksasa seperti Zaterius dan Merry Lourent, di tambah Hansel Hamillton yang ternyata diluar perhitungan.


Sialnya Jilixing terlalu gegabah dalam menunjukan belangnya kepada musuh, membuat dirinya merasa buntu untuk memilih jalan keluar, sehingga yang paling terbaik dari seluruh pilihan tentu saja bersembunyi sambil memperkokoh kekuatan markas yang masih berdiri hingga detik ini.


“Lalu bagaimana dengan ayahku, kau bahkan berjanji akan mengeluarkanya setelah kau keluar dari Villa Airyn, dan sekarang kau lepas tangan dan mundur karna markasmu menjadi ancaman. Tidakah kau berfikir telah melanggar kesepakatan diantara kita” bantah James dengan nada membentak, membuat Jilixing memanas seolah dipancing akan kemarahan, setidaknya James perlu tau diri akan posisinya, ia bahkan tidak pantas meminta lebih dan menuntut tanggung jawab pada Jilixing, sebab kegagalan kali ini akibat James yang gegabah sampai melukai Merry.


Pria tua itu berdiri dihadapan James dengan tegap sembari melipat kedua tanganya kebelakang, tatapan matanya menyelidik penuh penghinaan sebelum memperhitungkan kata yang akan di keluarkan “Jika kau bicara mengenai kesepakatan diantara kita, aku rasa kau harus mengingaat kembali kesepakatan awal dan tujuan kita. Aku akan menyerahkan Iriana padamu bersama ayahmu, asalkan kau bisa membantuku menghancurkan Grup Petrov. Sedangkan dirimu mendapatkan lebih dari ini, kehancuran Petrov dan juga wanita yang kau cintai. Selain itu kau harus ingat juga tentang ibumu yang masih di dalam tanganku, mau tak mau kau harus memikirkan tentang wanita yang sudah melahirkanmu James, dari pada memikirkan laki-laki yang telah menyiksamu dan memberi luka membekas di masa lalu”


Seketika James mengerjapkan mata seolah perkataan itu menyadarkan dirinya akan masa lalu, kenangan yang bersusah payah ia lupakan itu seperti kembali dengan sendirinya, memberikan bekas yang sama dengan rasa sakit yang tidak pernah berbeda.


Bagaimanapun memang tidak dapat di pungkiri jika James tidak memiliki kesempatan menuntut kepada Jilixing, jika sedari awal dirinya yang mengantarkan diri untuk terjebak dibawah permainan Jilixing, walaupun kali ini James memberontak bukankah ini sudah terlambat, sebab selangkah lagi James akan mendapatkan kedua orang tuanya, dan wanita yang ia cintai.


Sedari usia muda ia sudah bersandiwara di dalam Keluarga Petrov untuk memuluskan rencana Jilixing, bahkan James ikut serta menghabisi satu persatu orang-orang yang terlibat di masa lalu, membuat dirinya berkubang cukup panjang di dalam kesalahan demi kesalahan yang terus terjadi, ketika pria itu berumur 13 tahun James mengetahui jika wanita yang ia sukai yaitu Airyn mendapatkan ketikdak adilan, bahkan James tidak percaya jika Keluarga Petrov hanya memanfaatkan Airyn untuk kepentingaan mereka, ia begitu membenci semua orang di Keluarga Petrov yang sudah menghancurkan keluarganya dan juga berencana melenyapkan gadis muda yang ia sukai.


James mengetahui jika Airyn adalah putri kandung dari Merry Lourent yang diberikan kepada Charllot Farhaven akibat ketidak sempurnaan wanita itu, Merry yang bodoh itu malah menyengsarakan Airyn kedalam wanita yang memiliki jiwa iblis di batinnya, setelah mendapatkan Airyn dan melihat perasaan suaminya mulai tergoncang, dari sanalah Charllot berniat untuk melenyapkan Airyn, namun bagi James yang menyukai gadis kecil bernama Airyn sebab orang pertama yang mengenggam tanganya dengan jemari mungil tanpa dosa, tidak bisa merelakan jika Airyn tersakiti. Apalagi membiarkan hal buruk menimpa Airyn, sehingga ia melakukan tindakan implusif yang mengantarkan tanganya pada kotoran yang harus ditutupi dengan kotoran.


Bagi James yang tidak percaya lagi dengan keluarga dan cinta, sudah mematikan jiwa manusianya selama penghakiman Griffin yang begitu kejam dimasa lalu, tapi dari semua ketidak adilan yang terjadi, seorang gadis kecil itu menepis segala perasaan takut, kecewa, terluka dan menderita, gadis itu dalah Airyn yang datang kepadanya dengan panggilan “Kakak” dengan penuturan lembut dari bibir mungilnya yang mengemaskan, membuat Zates jatuh cinta hingga menganggap Airyn berharga.


Gadis itu mampu menghilangkan mimpi buruk akan siksaan yang James terima dari Griffin, pada masa itu Airyn memanggilnya dengaan panggilan kakak tanpa sandiwara ataupun kebohongan, perlahan-lahan menghancurkan hati keras James yang tidak percaya lagi akan semua orang di hidupnya.


Bagi James, Airyn di masa lalu memberikaan dunia baru setelah memindahkan dirinya dari kegelapan, memeluknya dengan hangat, mengenggam jemarinya untuk melarikan diri dalam penderitaan, dan segala bentuk penyelamatan yang Airyn sendiri tidak sadari saat itu, tapi bagi James semuanya berarti.


Dengan semua kenangan yang selalu terekam hangat di ingatanya, apakah bisa James melepaskan Airyn begitu saja. Apalagi kepada pria lain yang James anggap tidak tulus padanya, dan sekarang Airyn juga di manfaatkan lagi oleh Merry dan Zaterius, hingga suaminya yang memiliki keturuanan langsung dengan darah Farhaven, mengingatkan James akan masa lalu biadab itu. Alasan James tidak bisa menerima hubugan Hansell dan Airyn tentu saja karna pria itu tidak jauh beda dengan semua orang yang memiliki darah yang sama dengan dia(Keluarga Farhaven?) sehingga dendam yang telah mendidih di nadinya, mengikat pria itu akan perasaan tidak terima yang pada akirnya ingin merebut Airyn dari Hansell.


“James, apa kau mengerti!” seketika suara Jilixing menghentikan lamunan James saat mengingat dirinya saat kembali ke masa lalu, ia yang tidanya berniat memberontak kali ini melonggarkan sedikit hati untuk menerima keputusan yang di jatuhkan Jilixing terhadap ayahnya.


“Untuk kali ini aku akan mengalah, tapi aku tidak akan memaafkan mu jika sampai Zaterius mengores sedikit tubuh ayahku”


Ancamnya sebelum berlalu dari sana, membuat senyum Jilixing mengembang seperti mendapatkan ancaman dari seekor peliharaan yang tidak berarti “Jika kau berfikir untuk menghianatiku, jangan lupa dengan satu pengakuanku yang bisa menghancurkan dirimu Tuan Ji” ancam pria itu ketika menghentikan langkah kakinya yang sudah membelakangi Jilixing, membuat Jilixing memudarkan senyum penghinaan sembari menatap penuh waspada pada punggung yang menjauh pergi.


Jika James membuka mulutnya tentu saja Jilixing akan kehilangan apa saja yang sudah ia miliki saat ini, James memang orang yang tidak berarti bagi Jilixing sendiri, bahkan ada segelintir niatan untuk melenyapkan pria itu, tapi mengingat dia juga menjadi kunci terpenting dari semua rencana ini, membuat Jilixing tidak bisa berkutik akan hal itu, bahkan jika James membuka sedikit suara kepada ibunya, tentu segala hal akan hancur, sehingga Jilixing akan lenyap tanpa sisa.


“Sialan!!” bentak pria itu ketika menyadari dirinya semakin terjebak dan juga tersudutkan, membuat wajah Jilixing mengelap seolah api emosinya membara tanpa terkira, bagaimana bisa semuanya berantakan seperti ini, siapa orang yang sudah memberantakinya, padahal Jilixing sudah membuat segala hal terususn rapi.


“Tuan Ji, apakah kita harus membuat perhitungan?” tanya seorang pria yang sedari tadi berdiri disisi Jilixing.


“Tidak! Tidak ada yang bisa kita lalukan” ucapnya dengan nada membantah, sebab segala hal sudah berantakan, padahal Jilixing percaya jika Nona Petrov akan mengetahui tentang kebenaran di masa lalunya, dan disaat itulah Jilixing menyerang karna semua orang berada di titik kelongaran atas sikap waspada, ia sudah menyiapkan segala sesuatu secara menyeluruh untuk mengambil kembali perusahaanya yang di Akuisisi, tapi siapa yang menyangka jika Zaterius malah menganti rencana didetik terakir, untuk menyembunyikan diri sampai akir dari putrinya, sehingga kesempatan Jilixing menghilang untuk meluncurkan rencana, sebab jika ia melepaskan rencana yang sudah tersusun rapi, hal itu akan memberikan serangan balik kepadanya, sebab di tameng pertama ada seorang Zaterius yang memiliki kekuatan dan kekuasaan yang misterius hingga tidak ada yang mengetahui sekuat dan sebesar apa kekuasaanya, yang kedua tentu saja Merry Lourent yang memiliki kemampuan jenius dan juga orang tercedik yang diyakini duplikat Nona Petrov, dan yang ketiga adalah anjing peliharaan yang diangap tidak berbahaya dan ternyata sebuah singa ganas yang siap menerkam siapa saja yang menyentuh istrinya yaitu Hansell Hamillton, dan barulan Airyn Petrov yang tidak bisa disepelekan, dengan tiga lapisan dinding terhebat yang berdiri kokoh untuk Nona Petrov bagaimana bisa Jilixing tetap melanjutkan rencananya, jalan satu-satunya untuk menyerang dengan memporak-porandakan mereka semua, tentu saja Nona Petrov adalah orang yang bisa memporak-porandakan ketiga orang berbahaya tersebut. Jadi yang harus di lakukan Jilixing adalah mengoncang Nona Petrov tanpa melewati tiga orang yang melindungi dirinya.


“Sialnya, itu seperti hal mustahil yang bisa di lakukan” dengusnya ketika begitu kesal atas semua kekacauan yang terjadi, sebab James juga membuat hal ini semakin berantakan.


****


“Zates!!” bentak Merry ketika mendobrak pintu kerja di rumah Zates, bahkan membuat pria itu melirik panjang kearah Merry yang terburu-buru melangkah masuk ke ruang kerjanya dengan menerobos, seketika Zates mengusir Dorbin dari hadapanya, hingga pria itu berlalu dari ruangan tersebut.


“Airyn ke indonesia!” ucap Merry saat meletakan satu lembar kertas berisikan informasi keberangkatan Airyn, bahkan dengan kasar Merry menghempaskanya di tepian meja kerja pria itu hing, sampai Zates membulatkan mata ketika melihat informasi yang Merry berikan “Bukankah kau menduga jika markas yang menghilang di kawasan Korea yang di dirikan oleh Jilixing itu telah berpindah ke Indonesia, jika Airyn ke indonesia hal ini akan menjadi bencana. Jika terjadi sesuatu dengan nya bagaimana--”


Zates menghentikan penuturan Merry dengan tanganya, seolah ia ingin wanita itu tutup mulut karna Zates akan melakukan sesuatu tentang hal ini, melihat tingkah pria itu Merry memandang seolah menuntut pertanggung jawaban dari Zates sembari berdiri tegap menunggu kejelasan. Zates menarik ponsel yang ada dimeja kerjanya, sebelum meletakan ponsel tersebut kedaun telinganya “Siapkan tempat VVIP yang sudah aku batalkan, aku akan menghadiri acara lelang itu” Seketika mata merry menajam atas keputusan Zates yang tadinya membatalkan acara lelang tersebut, sebab hal itu bisa membuat Airyn mengetahui siapa Zaterius sebenarnya. Namun kali ini Zates menyetujuinya sebanarnya apa yang ingin pria itu lakukan.


“Apa kau gila menghadiri acara itu” bantah Merry dengan suara membentak, membuat Zates terdiam sembari menutup telfon gengamnya “Jika kau menghadirinya, hal itu akan membuat Airyn mengetahui jika kau investor misterius yang sudah menyokong peputaran dana di perusahaannya selama ini, meskipun Airyn tidak mengikuti acara seperti ini, aku yakin Darrel adalah orang yang akan menjadi utusannya, pria itu cukup pintar mengetahui keberadaan seseorang, apalagi dirimu. Darrel tidak akan melepaskan kesempatan ini sebab Airyn sudah sangat lama menginginkan informasi tentang investor misterius di perusahaan nya, dan Darrel juga..”


“Merry—“ seketika saja Zates melirihkan nama wanita itu dengan penuh penekanan, membuat Merry tergugu seolah tidak bisa melanjutkan penuturanya barusan “Apa yang ingin kau sampaikan sebenarnya, menceritakan tentang kehebatan Darrel, atau memperingatiku. Kenapa ketika kau menyebut nama pria itu intonasimu terdengar membara-bara, seolah bangga mendeskripsikan dirinya di hadapanku”


Menyaksikan respon Merry yang keterlaluan di hadapanya, seolah mempertontonkan tengah memikirkan pria lain membuat wajah Zates mengelap, seakan api cemburu mulai merasuki dirinya tanpa terduga, tentu saja Zates mengetahui Darrel adalah orang Hansell yang bekerja beberapa bulan dengan Merry, tapi apakah terjadi sesuatu diantara mereka sehingga Merry begitu berapi-rapi membahas tentang pria itu di hadapanya.


“Sebenarnya apa hubunganmu dengan Darrel? Melihat dirimu seperti ini, aku semakin ingin pergi keacara lelang sembari mengandeng dirimu di lenganku, persetan ia mengetahi tentang diriku atau tidak”


“A-aku fikir kau tidak akan sebodoh itu Zates”


“Ya! Tentu saja aku tidak mungkin melakukan hal itu, karna itu akan membuat Airyn mengetahui siapa diriku. Tapi jika aku harus menghadapi pria itu untuk merebutmu aku akan membuat cara lain meskipun untuk menemuinya secara terang-terangan"


"Ada apa dengamu" imbuh Merry dengan tidak percaya akan perkataan Zates yang sangat berterus terang di hadapannya "Apa dia cemburu" sambung Merry dengan bergumam jungkel namun terbaca akan Zates.


"Iya aku cemburu!!" Merry semakin tidak percaya dengan percaya diri yang Zates miliki, hingga ia terpana memandang pria itu tanpa melontarkan kata apa-pun"Jawab pertanyaaku, apa kau memiliki hubungan dengan Darrel?”


“Tidak!!” ucap Merry secara implusif, seolah ia tengah tertangkap basah oleh Zates tengah melakukan sesuatu yang disalah tuduhkan padanya, namun Merry lupa sikap seperti ini malah menjadi pertanda jika Merry tidak ingin zates salah paham padanya, membuat pria itu tersenyum sambil menarik tangan Merry menuju kearah kamar.


“Apa yang kau lakukan” teriak Merry saat memberontak, seolah ia tengah memikirkan pria itu akan melakukan sesuatu yang tidak pantas lagi, bukankah mereka sudah berjanji tidak akan melakukan hal memalukan seperti itu “Jangan macam-macam Zates, ingat janjimu” bentaknya saat merontakan tubuh di gengaman erat Zates, hingga Zates menghentikan langkahnya di depan rak buku, ia memilah-milah beberapa buku yang berjejer rapi disana, sembari menarik satu buku dan membuka bagian yang sudah di tanda, sebuah foto berada disana sehingga Merry terdiam ketika melihatnya secara tenang.


“Airyn ke Indonesia karna ia memiliki Villa disana, tentu saja Villa miliknya berada di kepulauan Bali, kawasan disana sangatlah aman dan itu bukan wilayan Jilixing. Aku dapat berkata seperti ini, karna aku telah memastikanya, meskipun awalnya aku pernah meragukan hal tersebut, tapi aku yakin dengan orang-orang kepercayaanku yang memiliki kekamampuan untuk menguasai wilayah di Indonesia, mereka tidak melihat pergerakan dan keberadaan Jilixing di Indonesia selain perjalan bisnis yang pernah ia lakukan, hal ini menjadi pertanda baik untuk kita, jika Airyn dan Hansell akan disana dalam beberapa waktu dan kita bisa bergerak bebas untuk menghadiri acara lelang”


Jelas Zates dengan tenang, membuat Merry terpana akan fakta tersebut, sejak kapan Airyn memiliki Villa dengan pulau pribadi atas namanya, bukankah Merry mengetahui segela hal tentang Airyn, dan ia yang sudah mengurus segala perpajakan dan mengurus segala hal tentang keuagan dan properti apa saja yang Airyn punya, namun untuk Villa dan pulau ini Merry tidak mengetahui jika putrinya memiliki di indonesia.


“Lalu kenapa kau sepanik itu ketika melihat Airyn akan berangkat ke indonesia, jika semuanya aman terkendali” tanya Merry denga tatapan polos.


“Apakah aku seperti itu di pandangan mu! Aku hanya panik jika melewatkan kesempatan untuk kita melakukan aksi, makanya aku segera menelfon orangku untuk memferivikasi tempat yang tadinya sudah aku batalkan. Untuk itulah, sebagai wanita di sampingku, kau harus berdandan dengan cantik dan juga menunjukan diri pada semua orang disana, aku akan memastikan Jilixing akan menghadiri acara itu, dan jangan lupa kita harus merebut barang yang dia inginkan, jangan pedulikan seberapa besar harganya, karna yang lebih penting mendapatkan barang yang ia incar. Apa kau mengerti!!" Merry menganggukan kepala dengan polos seolah ia tidak memiliki alasan membantah


"Dan juga kau harus bertahan sampai akir” ucap Zates ketika menarik dagu Merry untuk mendongak secara paksa pada dirinya, membuat wanita itu merasa resah ketika kedua mata mereka selalu bertemu.


“B-baiklah, keluar dari kamarku” ucapnya saat memalingkan wajah, sebelum mengusir Zates.


Melihat Merry memerah seperti tadi membuat pria itu ingin selalu mengodanya, namun waktu mereka sudah tidak banyak lagi sebab harus berganti pakaian untuk menghadiri pesta, belum sempat Zates menjangkau pintu kamar, Merry menghentikan langkah pria itu, dengan segera Zates memandang Merry yang ada di depan rak buku di kamarnya.


“Zates, bagaimana dengan Darrel, dia pasti hadir di acara malam ini. Jika ia mengetahui tentang dirimu dan aku bagaimana?” tanya Merry dengan meragu, membuat Zates memalingkan wajah menatap wanita itu, sebelum membalas perkataanya.


“Tenang saja, aku akan mengurus pria itu” ucapnya dengan kalimat rendah namun terdengar berbahaya.


“Mengurus?” ucap Merry saat membeokan penuturan Zates, apakah pria itu akan melenyapkan Darrel untuk menghentikanya “Z-Zates, apa maksudmu. Tidak mungkin kau melakukan sesuatu padanya kan. Bagaimanapun juga Darrel adalah pengantiku dalam membantu Airyn, jika ia tidak ada di perusahaan, bisa saja Airyn akan kewalahan soal pekerjaan, atau nanti ketika Airyn memiliki berbagai masalah siapa yang mengurusnya, bagaimanapun kau tidak—“


Belum sempat Merry melanjutkan perkataanya, Zates mengelap dengan tatapan marah mengancam, ia mengabaikan Merry sambil berlalu membanting pintu itu dengan kesal.


“Apa yang di fikirkan wanita itu. Apakah aku pembunuh berantai baginya, Astaga!! Aku tidak bisa berkata-kata lagi” dengus Zates ketika berada di balik pintu kamar, sebab ia tidak bisa menghilangkan pemikiran Merry yang selalu buruk tentang dirinya, membuat Zates meneriaki para pelayannya untuk mentrasfer rasa kekesalan yang ada, bahkan meminta mereka mengurus segala keperluan nanti malam saja, harus membuat para pelayan merasa tegang akan teriakan Tuanya.


“Apakah Tuan bertengkar lagi dengan Nyonya” ucap mereka dengan rasa takut, bahkan mereka tidak bisa mengeluarkan suara sebab rasa kesal dan teriakan Tuan Zates terlalu mengelegar.


Melihat pria itu pergi dan menghilang, tentu merry bingung, ia berharap Zates tidak akan melakukan sesuatu kepada Darrel, entah kenapa Merry cukup menghargai Darrel sebab ia pria yang memiliki kesetiaan tinggi pada atasanya, bahkan Merry percaya Darrel adalah penganti yang baik untuk meninggalkan Airyn di posisinya kali ini.


Baru saja Merry menaruh foto Villa Airyn yang ada di tangannya, seseorang mengetuk pintu kamar Merry sambil membawakan beberapa barang-barang untuk dirinya, tentu saja Merry melihat barang-batang itu di jejerkan di atas kasur sembari pelayan itu berbaris rapi di hadapan Nyonya Merry.


“Untuk apa semua ini?” tanya Merry dengan bingung, bukankah ia memiliki berbagai macam pakaian baru yang belum ia kenakan di lemari pakaian, bahkan banyak perhiasaan disana, dan juga sepatu, hingga tas bermerek yang berjejer rapi di lemari yang ada di ruangan terpisah yang sengaja di batas dengan ruang tidurnya.


“Tuan Zates meminta anda mengunakan pakaian ini Nyonya, sebab pakaian yang ada dilemari sudah tidak bagus lagi, lantaran itu adalah produk keluaran bulan lalu, pakaian yang datang hari ini langsung dari Disainer nya, dan anda orang pertama yang akan mengunakan rancangan tanganya” ucap wanita itu kehadapan Merry, membuat Merry terpana atas sikap Zates yang begitu konyol, meskipun gaun yang ada dilemarinya adalah keluaran bulan lalu tapi itu jangka waktu yang bisa dikategorikan baru, bahkan Merry belum mengunakanya dan ia harus mengunakan Pakaian yang Zates pilihkan, apakah pria itu terlampau boros atau ingin meninggi di hadapanya.


Merry dengan terpaksa mengunakan gaun berwarna hitam yang melekuk di tubuhnya, tentu saja gaun itu tidak se-sexy biasanya, sebab gaun itu memiliki sedikit lengan yang menutupi bahu Merry dengan indah, di tambah rambut merry yang di biarkan terurai menambah kesan elegan di genstur tubuhnya, selain itu Merry ingin menutupi pungungnya yang terbuka, gaun yang berwarna hitam itu di padukan dengan latar crystal kecil di setiap Inci dipermukaan dasarnya, sehingga gaun itu tidak terkesan polos saja, karna bantuan perhiasan dan pemoles wajah natural yang di aplikasikan di wajahnya, membuat Merry tampil elegan dengan wajah cantik yang ia miliki secara alami.


Zates yang tengah menunggu di bawah dengan setelah jas rapi yang memperlihatkan kekokohan tubuhnya, betapa bangganya melihat wanita yang ia cintai berjalan dari tangga dengan sikap elegan penuh karisma tajam, seolah jantungnya berdegup kencaang tanpa mampu di hentikan, Zates yang tadinya diselimuti kesal dan juga jengkel akan sikap Merry barusan, kali ini mencair dan meleleh ketika mengandeng tangan wanita itu, ia menampilkan senyum tulus bahkan memperlakukan Merry dengan penuh lembut dan sopan, membuat Merry berfikir apakah Zates memiliki gangguan suasana hati, sebab ia selalu mudah marah dan mudah baik setelahnya.


“Tadinya aku sangat jengkel, tapi kecantikanmu malam ini menghilangkan semua itu. Bagaimana bisa aku bersikap cuek dengan wanita secantik ini diusia yang tidak muda lagi” rona malu tertampil diwajah Merry, membuat dirinya ingin menjauhi pria itu, namun Zates dengan posesif mengapai pingul wanita pendampingnya, hingga menuntun Merry melangkahi kendaraan yang sudah menanti mereka.


"Apa kau siap?" lirih Zates ketika memastikan keadaan Merry, membuat wanita itu mengangkat alisnya dengan tajam seolah tidak ada meragu sedikitpun "Baiklah mari kita berangkat" Kendaraan itu melaju untuk menyelusuri jalan di gelap hari, cuaca malam ini bisa dikatakan cukup baik, sehingga membuat Zates tersenyum memandang suasana indah bertabur bintang apalagi bersama wanita yang ia sukai. Bahagaia mana lagi yang Zates butuhkan selain Merry.