
Darrel yang saat ini menjadi orang terpenting dalam mengelola perusahaan dan tentu sebagai orang terpercaya Airyn Petrov, kali ini tengah menunaikan sebuah pekerjaan penting, yaitu mengantarkan Merry Laurent ke bandara, bahkan Darrel baru mengetahui kabar yang membuatnya patah hati lagi, jika wanita itu tengah mengandung anak dari Zaterius, dan Nona Petrov sanga protektif untuk Darrel menjaga Merry dengan baik.
“Ny. Merry, apa tidak masalah jika anda mengabari Tuan Zaterius tentang keberangkatan anda?” tanya Darrel saat membelah keheningan yang terjadi di mobil itu, bahkan Darrel cukup segan untuk menyetel musik lantaran ia tidak mau hal itu menganggu Merry, sebab di kehamilan yang cukup muda ini Darrel sangat mengerti jika emosional seorang ibu hamil sangat mudah melunjak, dan itu tentu efek wajar karna hormon yang meningkat di tubuh wanita.
“Tidak perlu. Aku akan langsung saja menemuinya” balas Merry dengan kalimat santai, sepanjang jalan wajah wanita itu di penuhi akan senyuman, bahkan Darrel tidak mengerti hal apa yang Merry fikirkan hingga ia amat bahagia, namun melihat wanita yang ia sukai diam-diam ini bahagia dengan pria juga mencintainya, tentu Darrel memberikan dukungan penuh dan ia sangat percaya jika sebenarnya Zaterius adalah pilihan terbaik untuk Merry.
Merry hanya membawa sedikit barang dan mungkin ia hanya membawa perlengkapan wajib saja lantaran wanita itu tidak untuk tinggal lama di Amerika, untuk itulah jalanya ke Negeri sana hanya di temani dengan sebuah koper ukuran medium yang tengah di turunkan Darrel.
“terimakasih Darrel” ucap Merry dengan tulus.
“Sama-sama Ny.Merry, biar saja bantu membawanya sampai anda berangkat saja” timpal pria itu untuk menawarkan bantuan.
Namun Merry mengelengkan kepala seolah menolaknya. “Tidak perlu, kau kembali saja ke perusahaan. Dan aku menitip Airyn beberapa hari padamu, jika ada pekerjaan mendesak kirimkan saja ke E-mail ku, sesegera mungkin akan aku respon dengan baik”
“Baiklah, saya mengerti”
“Yasudah kembalilah” paksa Merry saat mendorong tubuh Darrel untuk memasuki mobilnya, membuat pria itu dengan terpaksa pergi dan meninggalkan Merry dengan enggan.
Melihat Darrel sudah melajukan mobilnya tentu wanita yang tengah hamil muda itu memasuki bandara, ia melihat keberangakatanya ke Amerika hanya beberapa menit lagi, untuk itulah Merry duduk di kursi tunggu sebelum jadwal keberangkatanya di kabarkan.
Di hadapan Merry ada sebuah keluarga kecil, bahkan nampaknya mereka baru saja memiliki bayi mungin yang amat rewel di gendongn istrinya, rasanya Merry tidak sabar untuk memberikan kabar bahagia ini pada Zates, jika mereka akan memiliki anak dan adik untuk Airyn, dan bahkan Merry ingin melihat apa yang Zates fikirkan tentang bibi kecil untuk cucu mereka.
*
Sore harinya, Zates tengah mengerjakan beberapa hal di perusahaan, ia bahkan sangat sibuk hari ini dan untuk makan saja Zates tidak memiliki waktu luang, setiap jam sengang selalu ia isi untuk memantau kesehatan hansell dan bahkan Zates bisa memajukan beberapa hari untuk vaksin yang tengah ia uji, setidaknya Zates tidak akan menyia-nyiakan waktu dan memanfaatkan seluruh kemampuanya.
Elsiyana yang baru saja selesai dari acara seminar yang ia hadiri, bahkan dirinya sebagai pembicara itu berjalan ke ruangan Zates dengan membawa ayam goreng serta minuman dingin, wanita itu tentu sudah terbiasa seperti ini dengan Zaterius, di sela jam makan mereka selalu ada pembahasaan setelahnya, bahkan Zates dan Elsiyana tak jarang menghabiskan waktu berjam-jam hanya utuk bicara.
“Permisi Tuan Laos” sapa Elsiyana ketika membuka pintu ruangan Zates, bahkan ia hanya menonggolkan sedikit kepala dari ambang pintu hingga mengalihkan perhatian Zates yang begitu sibuk bercampur khawatir.
“Elsiyana….” Serunya seraya mematikan panggilan tersebut. “Masuklah” ucap Zates ketika mendudukan diri dengan helaan nafas yang semar-semar terdengar.
Elsiyana berlalu kedalam ruangan sambil menenteng makanan dan minuman, ia meletakan semua belajaan yang ia bawa diatas meja yang ada diantara mereka, mata Elsiyana mengakses kerutas di dahi pria itu, nampaknya ada masalah yang ia fikirkan, bahkan Elsiyana melihat ada kekhawatiran dalam di dirinya.
“Ada apa dengan mu Tuan Laos?” tanya Elsiyana kepada pria yang amat ia kagumi.
Membuat Zates mendaratkan permukaan jarinya ke dahi yang berkerut, seolah memijit lembut bagian kepala untuk meluruskan kerutan yang terkesan nyata.
“Aku hanya merindukan Merry, karna terlalu sibuk dari pagi sampai siang aku lupa mengabarinya. Dan ketika aku menghubungi ponselnya, Merry malah berada di luar jangkauan, ketika aku menghubungi Airyn ia mengatakan Merry tengah sibuk, Tapi kenapa rasanya aku tidak tenang sebelum mendengar suaranya” jelas Zaterius dengan malas, ia sungguh khawatir dan tidak bisa tenang, sudah hampir sebulan mereka berjauhan namun baru hari ini Zates tidak mendengar suara istrinya, biasanya Merry selalu mengirimkan beberapa voice ke ponselnya, sekalipun Zates cukup malu untuk membalas voice perhatian itu, tapi tetap saja Zates sangat menyesal degan sikapnya beberapa hari ini, apakah Merry tengah marah padanya? Jika Merry marah padanya tentu saja Zates sangat frustasi sekali.
“Beruntungnya Nona Merry” gumam Elsiyana ketika melihat wajah pria yang ia sukai mencemaskan istrinya sendiri, selama ini Elsiyana berfikir ia akan baik-baik saja jika Zaterius bersama dengan Merry, sebab Elsiyana selama ini tidak pernah menaruh harapan terlalu tinggi di dalam hubungan mereka, tapi seteleh wanita lain mampu menjangkau hati Zates, memilikinya, dan bahkan pria itu menempatkan seseorang di bagian paling penting itu, sungguh rasanya amat pedih, Elsiyana baru menyadari jika ia tidak sekuat itu, dan bulir air mata semakin tertampil jika ia terus merasakan sakit hati yang nyata saat ini.
Gadis itu memalingkan wajah sembari menarik nafas dalam-dalam, ia harus mempertahankan diri dan berusaha mengontrol emosi, saat ini tidak ranah Elsiyana dalam sakit hati, lantaran wanita itu adalah istri dari pria yang ia cintai, pria yang mempu membuatnya merasa bangga, dan pria yang selalu ia inginkan namun tidak berani ia jangkau.
“Kembalilah beberapa hari untuk bertemu dengan Ny.Merry setelah itu baru kembali lagi, untuk apa memaksakan diri bertahan disini, jika hati dan fikiranmu tidak ada di tempat ini, lebih baik tenangkan dirimu dan temui Nyonya Besar Laos secepatnya” usul Elsiyana dengan penuh ketegaran, membuat pria itu terpaku menatap wajah gadis yang selalu memberikan jalan keluar untuk permasalahannya.
“Apa kau tidak mempercayaiku lagi?” bantah Elsiyana seketika, ia bahkan menarik minuman soda untuk di buka dengan elegan sembari meneguknya. “Kembalilah beberapa hari ini, maka seluruh permasalahaan disini akan aku urus, selain itu kita hanya membutuhkan pemantauan saja kepada Hansell, untuk memastikan perkembangan obat dan kondisi tubuhnya. Aku akan melakukan yang terbaik untuk menantumu” sambungnya dengan serius.
Membuat Zates mengambangkan senyuman dengan tulus kearah Elsiyana, jika terus di ingat-ingat lagi Elsiyana selalu menjadi jalan keluar di setiap permasalaan hidupnya, meskipun usianya sangat muda tapi tutur kata yang ia keluarkan amatlah dewasa, mungkin jika ada pria yang memilikinya bagi Zates pria itu cukup beruntung.
“Kau benar, nampaknya aku harus pulang. Lagian aku sangat merindukan Airyn, apalagi ibunya” kekeh Zates dengan wajah memerah penuh malu.
“Nampaknya anda sudah semakin serakah saja” ledek Elsiyana ketika melirik pria itu.
“Bukankah kau yang mengajarinya, aku tidak akan menghindar lagi. Karna saat Airyn mengatakan aku seorang pengecut, sungguh!!! Penghinaan luar biasa seumur hidupku” sontak minuman yang Elsiyana teguk seperti terloncat hingga ia tersedak.
Pria sesempurna ini masih bisa merasa terhina, sungguh lelucon yang cukup mengagetkan Elsiyana. “Aku ingin sekali bertemu dengan anakmu itu, aku ingin melihat versi kecil wanita mu” terus gadis itu kepada Zaterius.
“Versi kecil wanita ku?” ucap Zates ketika membeokan perkataan Elsiyana. “Nampaknya kau benar, ia seperti cimplakan diriku, aku bahkan tidak menyangka saat Airyn marah dan murka tubuhku akan bergindik menyaksikanya, bahkan saat ia menatap tajam saja, aku hampir ingin lari terbirit-birit karnanya”
“Benarkah? Aku ingin sekali bertemu anakmu. Sesekali undang aku bertemu dengannya” pinta Elisyana dengan penuh penasaran, bagaimanapun ia tidak pernah melihat Airyn jika tidak dari kejauhan dan media televisi saja.
“Nanti jika cucu kembarku lahir, kau harus datang ke rumah Airyn” balas Zates ketika meraih minuman kaleng disisinya.
“Mana undanganya?” tanya Elsiyana saat menyodorkan tanganya, ia sungguh bicara dengan amat santai dan penuh candaan, hingga Zates menepuk tangan gadis itu.
“Sekarang undagan tempel saja, nanti aku buatkan undangan kertas khusus untuk mu”
Dan pada akirnya perbincangan mereka terus saja terjadi hingga menghabisi sore bersama, bahkan minuman soda dan ayam paha kesukaan Zates itu sudah di lahap mereka hingga tersisa tulang saja, Elsiyana berpamitan untuk pulang sebab ia memiliki pekerjaan nanti malam, dan Elsiyana akan menghadiri sebuah pesta temanya di dini hari di sebuau kafe mini bar di kota ini.
*
Di ruangan yang penuh dengan perlengkapan medis itu, dan bahkan penjagaan ketat di sepanjang lorong benar-benar menjadikan rumah sakit terbaik kelas A yang berbasis VVIP, saat ini semuanya terkesan sangat hening dan suram, Angel yang tengah tertidur diatas sofa ruangan tentu saja sedang menemani kakaknya yang tengah berpacu dengan banyaknya alat penunjang kehidupan.
Dikra membuka pintu ruangan, ia masuk ke dalam sana dengan amat lambat, bahkan ketika ia mamasuki ruangan tersebut mata pria itu tertuju kearah sahabat karibnya, yaitu Hansell Hamillton, membuat dirinya mendekati Hansell seraya menatapnya lekat-lekat.
“Kenapa kau tidak bangun-bangun” tanya pria itu dengan nada pelan seraya memandang wajah yang amat tenang, bahkan rasanya Dikra tidak bisa membayangkan jika ia akan melihat Hansell di keadaan seperti ini, pantas saja Hansell meminta Airyn untuk tidak melihatnya di keadaan paling menyakitkan.
Lantaran Dikra saja yang hanya sebatas teman dan menganggap Hansell keluarga, sudah separah ini merasakan perihnya perasaan akibat kenyataan yang tidak memiliki kepastian, bahkan tidak ada yang mengetahui akankah Hansell akan membuka matanya kembali atau Hansell akan benar-benar pergi suatu saat nanti, sungguh Dikra tidak sangup memikirkan hal menyedihkan tersebut, ia bahkan amat merasa resah hingga perasaan sakit dan bersalah berkecimbuk di relung hatinya.
Meneteskan air mata penyesalan di landa kesedihan tak bertepi, mengeluarkan sesungukan perih hingga mengerjapkan mata Angel yang begitu tenang tadinya, Dikra menutup matanya seolah ia tidak ingin memperlihatkan air mata ini, namun kenapa setiap kali di tahan malah setiap kali merasakan sakit dan terluka.
Hingga pria itu benar-benar menangis di tepi ranjang baring Hansell ketika merintih sakit pelan-pelan. Dikra menjatuhkan tubuh kearah bawah sambil menyembunyikan wajah untuk meredam suara tangisan, namun tetap saja suara semar-semar itu terdengar ke pendengaran Angel.
Hingga air mata gadis itu keluar begitu saja, namun ia menahan dirinya agar Dikra tidak mengetahuinya, dan Angel berpura-pura untuk menutup mata sambil membalikan badan, ia sungguh tidak bisa memberitahu Dikra jika dirinya sudah sadar dan menyaksikan kepedihan kekasihnya, tentu saja selama ini Angel selalu emosional bahkan beberapa hal sering ia perdebatkan dengan Dikra, namun Angel melupakan jika sebenarnya tidak dia saja yang merasa kehilangan, melainkan Dikra juga merasa amat kehilangan, bahkan pria itu menyembunyikan perasaan itu dalam-dalam dan menangis disaat semua orang tidak melihatnya.
Sungguh, keadaan ini amat menyiksa, dan Angel tidak bisa membayangkan bagaimaan jika kakak iparnya mengetahui hal ini, mungkin Airyn akan hancur dari mereka, dan sudah keputusan terbaik dari kakak untuk menjauhkan dirinya dari Airyn, sebab ada dua janin yang harus Airyn pertahankan dari pada dirinya yang tidak memiliki kepastian, sungguh cinta mereka membuat Angel sangat bangga memiliki kakaknya, di detik terakir dirinya menjemput ketidak sadaran, ia tidak egois pada istrinya, memikirkan istrinya untuk jangka yang panjang, dan kakaknya itu sunguh-sungguh mengiginkan Airyn hidup dengan baik, sebaik dirinya yang berbahagia selama ini, meskipun sekarang tidak ada Hansell di sisinya.