
Airyn sedang berada di ruang operasi yang sedari tadi tengah berlangsung, bahkan Hansell begitu gusar menunggu Airyn di luar ruangan, ia tak henti-hentinya cemas dan megatupkan kedua tangan untuk berdoa, bahkan jantung Hansell berdegup sangat kencang tanpa mampu di hentikan, Hansell semakin tidak tenang setiap kali melirik ke arah Ruang Operasi, ia menyaksikan bagaimana Airyn menutup mata saat berada di pelukanya, hingga Hansell tak mampu memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi, sesekali ia berdiri untuk menenangkan diri, namu setiap kali juga cemas melanda fikiran pria itu.
Sudah hampir sore hari, namun belum ada yang keluar dari Ruang Operasi selain perawat yang mondar manding dengan pontang panting, bahkan Hansell mencoba bertanya namun mereka mengabaikan pria itu dengan sikap sopan, tentu Hansell kesal namun ia mencoba mengalah, ia tidak bisa memastikan apapun selain menunggu.
Di ujung lorong terlihat seorang pria berjalan menghampiri Hansell yang tengah duduk di kursi panjang, semakin lama langkah pria itu semakin dekat, pria itu menatap lurus ke arah pria yang terlihat sangat kacau, tentu saja itu James, ia terbang Ke Irlandia setelah mendapatkan informasi terkini tentang Airyn, James tentu merasakan cemas yang tidak kalah hebat dari Hansell, namun sekuat tenaga pria itu mencoba untuk menyembunyikan perasaanya, mendengar langkah kaki yang semakin mendekat membuat Hansell mengangkat kepala dan melirik, ia semakin melihat langkah James yang semakin dekat, hingga Hansell menyipitkan mata sembari menampakan ketidaksukaan kepada pria didepan mata.
“Kenapa kau kesini?” tanya Hansell dengan dingin, sembari menatap tajam kearah Dokter James
“Tentu aku menjenguk pasien ku” tuturnya dengan nada datar
“Bahkan Airyn tidak menganggap kau sebagai dokternya lagi, apa kau lupa ia tidak menyukaimu” balas Hansell dengan kalimat tidak enak didengar
“Tentu aku sadar diri” tutur pria itu sembari berdiri tegap di hadapan Hansell, membuat Hansell berdiri dari duduk untuk menyamakan Dokter James “Aku tau dia tidak menyukai ku” jelas James sembari menatap tajam ke arah Hansell “Tapi aku menyukai Airyn” tutupnya dengan menantang
Membuaat Hansell terdiam sambil mengepalkan tangan, tentu ia marah. Karna pria lain mengakui perasaan untuk kekasihnya kepada Hansell, laki-laki mana yang akan terima, di tambah keadaan yang meyulutkan benang kusut yang semakin berantakan.
“Apa maksud mu!” bentak Hansell saat tangan nya meraih kerah baju milik James, hingga mendorong tubuh pria itu mentok ke dinding, cengkraman itu terasa begitu kuat membuat Dokter James mendesis ketika tubuhnya terhentak ke dinding
"Apa kau tidak bisa mendengar” balas James saat lehernya begitu tercekik dengan cengkraman Hansell “Aku menyukai Airyn” sambungnya dengan kalimat yang di ucapkan susah payah, membuat Hansell menguatkan cengkraman akibat geram yang tidak mampu ditahan
"Kau fikir dirimu siapa, hingga berani mengakui perasaan itu pada ku” bentaknya dengan emosi yang tidak dapat dihilangkan lagi
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan membunuh ku hanya karna aku menyukai Airyn, jika saja Airyn menyukai diriku, dengan senang hati aku menyembunyikan perasaan ini dari mu, dan bermain dibelakang” ledek James disaat nyawanya berada diambang tersenggal “Bukan kah sudah aku katakan padamu Hansell, jika kau tidak bisa menjaga Airyn dengan baik lebih baik kau menjauh dari Airyn, apa kau lupa 5 tahun lalu ia hampir kehilangan dirinya akibat dirimu, dan sekarang dia terluka lagi, apa kau pantas mengakui diri sebagai kekasihnya” balas James dengan susah payah, sebab cengkraman dan sorot mata Hansell benar-benar menyesakan, bahkan tatapan tajam yang ia pancarkan tidak dalam di sembunyikan jika amarah Hansell meledak-ledak kepada James
“Kakak” putus Angel yang tiba-tiba berada ditengah pertengkaran Hansell dan Jemes, bahkan membuat Hansell melonggarkan cengkraman tangan nya, mata Angel melihat kearah pria asing yang belum pernah bertemu dengan Angel sebelumnya, membuat tanda tanya tentang siapa pria itu. Angel sangat khawatir dengan apa yang baru saja di lihat oleh matanya, sangat jarang kakaknya menampilkan emosi seperti yang disaksikan Angel barusan, bahkan kakak nya seperti ingin membunuh lawan bicaranya
“Angel” lirih Hansell dengan nada rendah, membuat tangan Hansell lepas dari pria itu, hingga James bernafas lega saat menghirup oksigen penuh-penuh “Kenapa kau kesini?” tanya nya ke arah Angel, sebab Hansell tau adiknya tidak dalam keadaan baik
“Aku ingin menemui Kak Airyn, apa Kak Airyn baik-baik saja Kak?” tanya Angel dengan ketakutan, bahkan air matanya hampir tumpah disela pertanyaan tersebut, membuat Hansell memeluk adiknya sembari memenangkan Angel
“Airyn akan baik-baik saja sayang” seru Hansell dengan penuh harapan, membuat Angel mengeratkan pelukan ke punggung kakaknya, seketika pria itu melepaskan diri dari Angel, dan memaksa adiknya duduk dikursi tunggu, tentu Angel menuruti apa yang di perintahkan Hansell, melihat adiknya penuh rasa takut dan gemetar, Hansell meredakan emosi karna tak ingin menakuti keadaan Angel lagi.
“Tunggu sebentar, jangan kemana-mana” seru Hansell dengan perintah pasti, membuat Angel menganggukan kepala saat menegadah melihat kakaknya, seketika itu Hansell menghampiri James yang berada diseberangan, ia melirik James agar pria itu mengikuti langkahnya, tentu James mengerti, ia melihat ruang operasi yang belum juga terbuka dan berlalu mengikuti Hansell sembari menghela nafas panjang
“Kenapa?” tanya James ketika mengikuti Hansell yang memasuki lift, bahkan mereka berdua berada di dalam lift dengan keadaan hening, mendengar pertanyaan itu Hansell hanya melirik sambil membuang muka dengan cepat, ia enggan untuk bicara sebelum keluar dari ruan kecil tersebut “Apa yang akan dia katakan” tanya James didalam diamnya, sambil melihat Hansell yang tengah bungkam
Dua pasang kaki sama-sama terhenti di taman rumah sakit yang begitu luas, bahkan banyaknya pasien yang berjalan mengunakan kursi roda tengah di dorong oleh perawat ataupun keluarga mereka, membuat James memperhatikan keadaan sekitar, sebab sebagai seorang Psikolog sudah menjadi nalurinya memperhatikan tingkah laku manusia, ia mengalihkan fokus kepada pria yang ada didepan nya, James hanya berfikir apa yang akan dikatakan oleh Hansell hingga membawa nya sejauh ini
“Mengapa kau tertarik mempelajari manusia James?” tanya Hansell kepada pria itu, membuat James tertegun atas pertanyaan yang baru saja di dengarnya, sangat jarang ada orang yang bertanya seperti itu kepada James sebelumnya
“Tentu karna aku menyukainya, jika bukan sesuatu tersebut menarik perhatian ku untuk apa aku mempelajarinya” balas James sembari mendudukan diri di kursi taman, sedangkan Hansell hanya melirik tanpa mengikuti, membuat James tersenyum sungging ketika tawaran yang ia berikan diabaikan oleh pria tersebut “Kenapa kau bertanya seperti itu?” Balasnya dengan pertanyaan ke arah Hansell
“Aku ingin tahu saja, apa yang melatar belakangi mu mengambil bidang ini, setidaknya dengan kemampuan hebat itu kau bisa memilih jurusan lain yang sesuai dengan otak mu, namun kenapa kau malah memilih ilmu yang tidak pasti seperti Pikologi, sedangkan ilmu pasti yang kau kuasai sangat lah luar biasa, aku rasa kau tidak bodoh mengenali kemampuan mu James” balas Hansell sambil melirik penuh pertanyaan kepada pria tersebut, membuat James menundukan kepala sembari terkekeh dengan lontaran Hansell
“Apa kau sudah melacak latar belakang ku” kekehnya kepada Hansell, membuat pria itu hanya diam tanpa mengeksperesikan apa-apa
“kau teliti sekali Hansell, tak jarang orang memperhatikan hal sekecil itu” tuturnya “Aku memang memiliki kemampuan diatas rata-rata yang dengan mudah membuat ku ingat hanya dengan sekali baca atau penjabaran, ditambah Long-term memory yang sangat kuat juga membuat apapun sulit aku lupakan, meskipun begitu aku juga membenci kemampuan itu, karna ilmu pasti yang aku miliki menuntun aku menjadi manusia monoton yang tidak bisa berubah sama sekali, bahkan membuat aku sulit untuk memahi manusia sedangkan manusia selalu saja berubah,karna di dalam teoriku segala hal itu menjadi pasti ibaratnya aku hanya mengenali 1 tambah 1 sama dengan 2. Akibat keterbatasan itu aku memilih jurusan psikologi sebagai studi ku. mungkin dengan begini aku bisa memperbaiki keterbatasan ku terhadap cara pandang kepada manusia, Entah kau percaya atau tidak yang jelas aku sudah mengatakan faktanya” tutur James dengan sungguh-sungguh.
“Aku tidak dalam keadaan memuaskan fikiran mu, apapun tentang hidupku sangat tidak mungkin aku ceritakan padamu, yang jelas aku sudah mengatakan faktanya, bahwa aku benar-benar sulit memahami sifat manusia, namun sekarang aku mulai memahami itu, dulu aku selalu mengukur hal yang tidak dapat diukur. Seperti cinta, aku mengukur dan membandingkan hal itu mengunakan teori yang aku pelajari agar aku dapat memahaminya, aku mempelajari seluruh teori untuk jauh mengerti tentang manusia dan sifatnya, tapi hingga akirnya malah menuntutku menjadi monoton kembali. Tapi suatu ketika Airyn hadir dan membuatku mempelajari hal yang tidak perlu mengunakan teori, tanpa mempelajari teori aku dapat mengukur rasa sakit lewat merasakan, tanpa mengukur cinta mengunakan alat ukur psikologi aku dapat mengetahui seberapa besar aku mencintainya, bahkan tanpa aku meneliti lebih jauh, aku dapat menarik kesimpulan hanya karna merasakan, aku mulai memahami kehidupan yang sulit setelah aku dapat merasakan, jika bukan karna Airyn hingga detik ini aku tidak akan bisa menjadi manusia” jelas James dengan penuh keyakinan atas apa yang dituturkan nya kepada Hansell, tentu ada rasa cemburu yang memuncak saat mendegar pria itu mengakui prasaan kepada Airyn, namun entah kenapa Hansell malah tertuntut untuk mengerti
“Apa kau tau Hansell, kita mengetahui perbedaan manusia dan binatang adalah akal, tapi didalam hidupku, perbedaan aku dan binatang adalah perasaan, aku memiliki akal yang jenius untuk berfikir, tapi aku malah terjerumus menjadi binatang, aku mengunakan semua ilmu pasti tanpa mampu memahami, aku memakai teori untuk memecahkan masalah, aku mengunakan akal tanpa mau berpikir salah atau benar yang aku lakukan, aku selalu mengukur manusia melalui perspektif ku sendiri, seakan aku menghakimi semua orang itu buruk dan aku yang paling benar, itulah James yang memiliki kemampuan diatas rata-rata, tapi sekarang semenjak ada Airyn aku memiliki perasaan, aku bisa mengetahui rasa cinta hanya dengan perasaan, aku mampu mengalah hanya perkara dia tidak menginginkan ku, bahkan aku mencoba untuk menjauh sebab didunia ini tidak semua hal bisa dipaksakan, jika bukan karna perasaan itu mungkin saja aku akan menjadi kejam, aku dengan mudah mengahapus ingatn Airyn agar melupakan mu secara permanen, dan kuganti dengan diriku yang ada difikiran nya, aku bisa saja melakukan itu sebab aku percaya dengan diriku sendiri, namun aku menyadari satu hal, jika aku melakukan itu mungkin Airyn benar-benar mencintaiku tapi hanya memakai fikiran nya, bukan hatinya”
“Jangan berani-berani nya kau melakukan itu!!! ********! ” geram Hansell dengan murka, bagaimana tidak. Pria itu memiliki niatan yang begitu menyeramkan untuk Hansell terima, bahkan sorot mata Hansell yang sangat tajam menuntun James melihat kemurkaan yang dalam
“Masalahnya aku tidak sanggup melakukanya” tutur James saat lehernya begitu tercekik dengan cengkraman Hansell, mendengar hal tersebut Hansell membanting James kearah samping dengan begitu kasar, membuat pria itu menghirup oksigen dalam-dalam
“Apa kau tidak bisa meredakan emosimu!!” bentak James saat dirinya sering kali berada di ambang kematian akibat cengkraman pria itu, nafas Hansell naik turun atas niatan yang dituturkan James barusan, ia tak habis fikir ada pria yang memiliki niatan sejahat itu kepada dirinya dan Airyn
“Apa yang kau lakukan kepada Airyn?” bentak Hansell dengan kesall, sebab tubuhnya begitu ngeri mendengar hal tersebut, seakan memiliki niat membabi buat James hidup-hidup
“Aku tidak melakukan apapun padanya, apa kau fikir aku berani menyakiti Nona Petrov” balas James dengan cepat, membuat Hansell tak meredakan emosi yang membara
“Waktu Airyn di Korea, kenapa dia sebegitu takut dengan mu? Apa masalah antara kau dan dia?” tanya Hansell dengan ganas, bahkan sorot matanya tak henti menatap kearah James, membuat pria itu terdiam tanpa mampu membalas langsung, seketika ada jeda yang terbentang membuat Hansell menuntut untuk dijawab atas apa yang dipertanyakan
“Aku mengakui perasaan ku padanya” balas James kearah kekasih Nona Petrov
“Sesederhana itu saja?” tanya Hansell sembari merespon cepat, bahkan membuat James mengiyakan sembari menganggukan kepala “Kau tidak bisa membohongiku, aku mengenal kekasih ku James, dia bukan wanita sepenakut itu, kau katakan dengan jujur apa yang kau perbuat padanya hingga dia setakut itu padamu!!” bentak Hansell dengan suara meninggi, membuat James memundurkan diri sembari meraih lehernya untuk diamankan
“Aku akan mengatakan nya, dan kau harus memahami dulu kalimatku, baru memberikan respon” tuturnya dengan gugup, sebab jika ketiga kali lehernya di cengkram oleh Hansell, sudah pasti nyawa James benar-benar terancam
“Katakan!!” tuntut Hansell
“Aku mengungkapkan perasaan ku saat dia meminta ingatakan nya lagi tentang mu, saat itu aku begitu kehilangan akal sebab aku sangat mencintai Airyn, aku mengancam gadis itu” kalimat James terhenti akan penjelasan yang begitu berat dituturkan, bahkan Hansell dengan gusar tidak sabar ingin tahu kejelasan “Aku… aku mengancam akan menghapus ingatan nya tentang mu, jika kau menyakitinya lagi, aku tidak tau apa yang membuat Airyn setakut itu padaku, mungkin benar saat aku kesana menjenguknya, kau telah menyakiti Airyn saat itu, sebab itulah dia takut padaku, jika aku bisa saja menghapus ingatan nya” jelas James, bahkan ia segera menjauhkan diri agar tidak terjangkau oleh tangan Hansell, namun langkah James terhenti saat menyaksikan pria itu mematung diposisi.
“Hansell, apa kau baik-baik saja?” tanya James dengan binggung, bahkan ia memperhatikan wajah Hansell yang datar secara terperinci, membuat James tidak mengerti apa yang difikirkan pria itu hingga hilang kesadaran, Hansell berbalik tanpa permisi, ia dengan cepat meninggalkan taman dan berlalu kedalam rumah sakit
“Benar, aku selalu menyakiti Airyn, bahkan sudah tidak terhitung lagi berapa kali aku menyakitinya” gumam nya didalam posisi diam, kalimat James seperti tamparan yang menyadarkan Hansell “Apa aku egois bertahan?” tanya Hansell kepada diri sendiri, entah kenapa pria itu kehilangan dirinya setelah semua yang terjadi, Hansell seakan hilang percaya diri mengakui ia sangat mencintai Airyn, Hansell hilang kepercayaan diri bersanding dengan wanita kuat seperti Airyn “Entah bagaimana pun aku berfikirk, selama ini selalu Airyn yang menyelamatkan ku, selalu Airyn yang terluka, dan bahkan selalu dia yang tersakiti oleh diriku, jika saja hidup ini seperti kebalikan, aku yang diposisi Airyn. Mungkin saat ini aku akan menjadi pria yang paling bahagia, andai saja hidup ini seperti cerita didalam novel, dimana pemeran pria yang paling kuat dan berkuasa, mungkin saja hidupku tidak akan seperti ini, sekarang semuanya sudah terjadi, Airyn yang paling kuat dan bertahan, dan aku paling lemah tak berguna, apa ini yang dikatakan pria? Bahkan sekarang aku malu dengan diriku, Cih...mengelikan” Hansell mengutuk diri dan kehidupanya, ia tak mampu berucap apapun selain memikirkan semua hal bodoh yang terjadi.
“Kakak.. kau dari mana saja, kenapa lama sekali?” tanya Angel saat berdiri dari duduknya, sedangkan Hansell tidak menghiraukan apa yang dikatakan adiknya itu
“Kakak” bentak Angel dengan kesal, sebab kakaknya itu seperti orang yang kehilangan kesadaran namun masih bisa berjalan.
Perlahan mata Hansell melirik ke arah Angel yang dipenuhi wajah khawatir, Hansell merih pundak adiknya sembari memeluk Angel dengan ketidakberdayaan, membuat adiknya tertegun atas apa yang dilakuakn kakaknya, sangat jarang pria itu melihatkan kelemahan di sorot matanya, namun kali ini Angel dapat melihat hal itu dari Hansell
“Kakak kau kenapa?” tanya Angel sekali lagi sembari membalas pelukan kakaknya
“Angel, apa aku tidak berguna?” celetuk Hansell ketika bertanya kepada adiknya, mendengar hal itu tentu Angel sangat binggung
“Apa maksud kakak”
“Sudah lah lupakan saja” seketika itu Hansell melepaskan diri dari Angel, ia mencium kening adiknya sembari menarik Angel untuk duduk di kursi tersebut “Apa kakak merasa rendah diri? Apa dia menyalahkan dirinya?” tanya Angel saat menatap ke arah kakaknya itu
“Kakak, bagi Angel kakak laki-laki hebat yang pernah Angel miliki, dan Angel juga yakin kak Airyn akan merasakan hal yang sama” singkat gadis itu menatap yakin ke arah Hansell, membuat pria itu memalingkan wajah melirik adiknya
“Terimakasih Angel” balas Hansell dengan senyuman “Hanya saja, kakak tidak yakin dengan diri kakak sendiri” gumamnya di dalam diam.