
Baru saja Zaterius keluar dari Ruang Operasi bersama Elsiyana di sampingnya, pria itu melepaskan masker dengan sarung tangan karet yang ia gunakan, bahkan Zates meleparkanya dengan kasar seperti tidak bisa menahan emosi atas apa yang terjadi, Elsiyana menatap sendu pada pria yang ia cintai sepenuh hati itu, namun rasanya Zates tidak bisa menahan gejolak emosinya hari ini.
“Dokter anda harus kuat” ujar Elsiyana yang kala itu tengah menenangkan Zates yang kacau balau atas pria yang terkapar sebagai menantunya di meja operasi.
Dengan kemampuan medis selama bertahun-tahun lamanya, tentu tidak di ragukan lagi kualifikasi dirinya sebagai seorang Dokter, dan Zates orang yang memberikan pertolongan pertama pada Hansell di tempat kejadian, tapi sayangnya Hansell tidak mampu bertahan sebab dirinya kehilangan banyak darah, bahkan terjadi pendarahaan fatal yang mengakibatkan Hansell hilang kesadaran. Beruntung ada bala bantuan seperti pesawat yang datang di tempat kejadiaan di daerah perbatasan, membuat penerbangan mereka memerlukan beberapa menit saja menuju Rumah Sakit, Zates tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Hansell tidak mendapatkan bantuan tepat waktu. Namun seperti apapun Zates berusaha, tetap saja semuanya telah hancur dan berantakan.
"Dokter Laos" tegur Elsiyana pada pria itu, membuat Zates mendongakan dagu melihat kearahnya "Anda Harus tenang"
“Bagaimana aku bisa tenang dan menerima semua ini Elsiyana!! Aku tidak peduli dengan apapun yang terjadi, Hansell harus bertahan bagaimanapun caranya” bentak Zates dengan kesal, bahkan ia kehilangan ketenangan seperti bukan dirinya.
Tentu saja pria itu amat menyesal atas apa yang terjadi, andai saja dirinya yang berada di posisi Hansell sekarang, mungkin segala hal akan menjadi lebih baik, tapi kenapa harus Hansell yang mengalami semua ini, hingga kesempatan untuk menyelamatkanya saja nyaris tidak ada lagi.
“Dokter Laos!! Kau seorang Dokter, kita tidak bisa melakukan sesuatu yang melanggar kode etik kedokteran, bagaimanapun kau tidak bisa memperbaiki takdir yang sudah terjadi pada hidup seseorang, dengan memberikan pria itu pada istrinya, hal tersebut merupakan jalan keluar terbaik untuk saat ini!!” tegas Elsiyana dengan begitu yakin, membuat Zates berdecak jengkel atas kata-kata barusan.
Elsiyana mengerti akan posisi Zates saat ini, tapi ia tidak akan membiarkan pria itu melakukan sesuatu yang fatal, meskipun Hansell adalah menantunya dari anak kandungnya sendiri, tetap saja Zates tidak bisa mengambil alih tubuh Hansell tanpa persetujuan Airyn, wanita itu perlu mengetahui keadaan suaminya, jika Hansell di sembunyikan seperti ini, bisa saja pihak rumah sakit atau Dokter lainya yang bersangkutan akan terkena imbas masalah, bahkan Zaterius yang di klaim sebagai Dokter handal yang paling jenius, mungkin akan kehilangan itu semua atas tindakan ilegalnya.
Dengan kemungkinan yang terjadi, mana bisa Elsiyana membiarkan Zates merusak reputasi karir baiknya dan namanya hanya karna rasa tidak terima atas kenyataan ini. “Aku akan menghubungi pihak resepsionis untuk mengabari Airyn” sambung Elsiyana ketika melangkah untuk pergi, hinga Zates mencegatnya dengan pandangan kebencian yang amat kental tertera di gurat wajah mengerikan itu.
“Apa yang kau lakukan!!” bentak pria itu hingga suaranya mengelegar di sepanjang lorong rumah sakit, bahkan mengalihkan tatapan Elsiyana. Tentu Zates yang lembut dan penuh pengertian itu, kali ini bersikap murka tanpa mampu di kendalikan, nampak sekali gurat marah di wajahnya yang membuat Elsiyana tidak pernah melihat sosok seperti ini sebelumnya.
Sebanyak apa lagi wajah Zates yang tidak di ketahui oleh Elisyana, bahkan rasanya membuat Elsiyana cukup sedih atas kenyataan tentang mereka yang tidak mungkin bersama. Namun kali ini Elsiyana cukup pengertian terhadap perasaanya yang terluka, hatinya yang tersiksa, dan dirinya yang pasrah. Meskipun demikian tetap saja, Zates tidak berhak memutuskan apa yang terbaik untuk Hansell, bagaimanapun menerima kenyataan adalah jalan keluar yang terbaik untuknya dan juga Airyn.
“Bagaimana bisa aku memberikan suami anak ku dalam keadaan sekarat padanya, apa kau fikir aku bisa mengangkat kepala untuk berdiri lagi di depan Airyn, setelah sekian banyak yang terjadi dan banyak yang Airyn lalui hingga ia mulai menerima dan berdamai dengan dirinya. Bahkan Airyn sudah mulai bahagia dengan dua anak yang bertumbuh di rahimnya, dan suami yang ia cintai. Tapi kau memaksa diriku mengantarkan jenazah suaminya yang kemarin malam masih di sampingnya dan juga masih memeluknya, apa kau fikir aku bisa melakukanya! Bahkan aku tidak bisa membayangkan bagaiman Airyn setelah hari ini” ucap Zates ketika meneriaki Elsiyana dengan emosi yang meluap-luap, bahkan amarahnya pada wanita itu tidak tanggung-tanggung.
“Lalu apa yang akan kau lakukan!!" balas Elsiyana yang tidak ingin mengalah lagi. "Apa kau mau memasangkan seluruh alat medis untuk penunjang hidupnya, jika kau melakukan itu, sama saja jika kau terus menerus menyiksa Hansell. Kau sadarlah Zates, di dunia ini hidup dan mati seseorang sudah di tentukan, semakin lama kau menyimpan ini dari anakmu, maka semakin sulit untuk Hansell dan juga Airyn mendapatkan kebahagiaan, jangan terus menyiksa orang-orang di sekitarmu dengan sikap pengecut itu" Zates terdiam seolah nafasnya yang tidak beraturan itu menandakan ia mulai mencerna kata-kata Elsiyana. "Apa kau ingin kabur lagi? Apa kau ingin berbohong lagi untuk menyembunyikan fakta dari anakmu? kaburlah jika kau mau!!!! Tapi ingat, jangan pernah kembali! Bahkan jangan pernah mengharapkan kebahagian lagi!!” terus Elsiyana yang kala itu di cengkram oleh Zates hingga tersudut kearah dinding, bahkan membuat wanita itu tidak merasakan sakit atas cengkraman yang mungkin menghentikan aliran darah di pergelangan tangannya.
“Kau bahkan baru memulai kehidupan dengan Nona Merry, dan kali ini kau ingin kabur lagi!! Apa kau yakin!" celanya ketika mengantungkan argumentasi yang belum ia selesaikan "Dirimu bukan Tuhan yang bisa menghidupkan seseorang, dan kau bukan malaikat yang bertugas untuk membahagiakan orang di sekitarmu. Tidakah kau belajar dari kenyataan, ketika kau bertindak sebagai malaikat untuk membahagiakan adikmu, dia malah berubah haluan menjadi sebaliknya, kau berusaha mengalah atas kebahagiaanya, tapi lihat adikmu, apa dia bahagia setelah itu? Kau bahkan hanya berani kabur dan menghindar, sebab tidak sanggup menghadapi kenyataan. Sekarang aku sudah mulai simpati atas keberanianmu yang mulai serakah untuk dirimu sendiri, tapi kali ini simpatiku hilang lantaran kau menyangkal lagi kenyataan itu!!"
"Dengan tidak memberitahu Airyn sama saja kau akan membuat kebohongan lain untuk anakmu sendiri, sedalam apa lagi luka yang akan ia terima hanya karna ego-mu, Ha!! Jangan pikirkan dirimu sendiri, tapi pikirkan putrimu yang saat ini mungkin jatuh pingsan atas kehilangan suaminya!!” tegas Elsiyana dengan nada membentak, membuat mata Zates meredup sebab ia sudah paham garis besar egoisnya. Bahkan cengraman kuat itu mulai longar ketika Zates mengusap kepalanya dengan gusar.
****
“Airyn ada dimana?” tanya Merry ketika berdiri dari ambruknya, ia menegakan badan dengan tegap seolah siap menghadapi anak yang sudah di lahirkan dari rahimnya.
Untuk kali ini Merry tidak akan lari, ia akan menghadapi putrinya bagaimanapun caranya, bukankah sedari awal Merry telah melakukan kesalahan jadi sudah sepantasnya ia menebus kesalahan itu.
“Nona Petrov ada di Rumah Sakit HS” seru Darrel yang kala itu ingin mengikuti langka Merry.
“Selesaikan saja masalah perusahaan, aku akan ke tempat Airyn untuk melihatnya” cegat wanita itu ketika menghentikan langkah Darrel, membuat Darrel terdiam seolah tidak bisa berkata, bagaimanapun perusahaan adalah tanggung jawabnya saat ini, untuk itulah ia akan mengurus segala hal lalu kembali ke rumah sakit nanti.
Merry duduk di kabin penumpang, air matanya mengalir tanpa di sadari, seolah ia tidak bisa berfikir lagi atas apa yang tengah terjadi, awalnya Merry merasa semua ini akan mudah untuk selesaikan, tapi kenapa semuanya malah kacau balau, bahkan Merry sudah mempersiapkanya sedari dua bulan lalu, tapi segalanya gagal selain hasil akir, yaitu Jilixing di tahan di markas utama.
Tapi itu tidak ada gunanya jika keadaan sudah semakin rumit, Hansell tengah berjuang antara hidup dan mati, Airyn terbaring di rumah sakit karna tekanan emosional, dan masalah media serta opini masyarakat diluar kendali, bahkan Merry tidak mampu berkata apapun selain menjalaninya dan menerima semua ini.
“Zates, aku mohon selamatkan Hansell” ucap Merry saat berdoa pada langit, bahkan memanjatkan harapan tertinggi untuk kesembuhan Hansell yang paling di harapkan, hanya Hansell jalan satu-satunya untuk menenangkan Airyn, jika terjadi sesuatu yang buruk pada Hansell, tentu saja keadaan akan semakin buruk bagi Airyn.
Hingga mobil itu telah sampai di Rumah Sakit swasta terbesar di Negara ini, ia mulai mengumpulkan keberanian untuk menemui Airyn, setidaknya Merry tidak bisa membiarkan putrinya berjuang sendirian dan Merry juga tidak bisa meninggalkan Airyn begitu saja, di saat wanita itu tengah berjuang di kamar rumah sakit ini.
Merry berlalu ke bangsal Airyn, ia melihat putrinya terbaring diatas ranjang dengan adik iparnya yang kala itu menjaga Airyn sepenuh hati, membuat langkah kaki Merry menuntun untuk masuk kesana, kedua mata itu melihat Airyn yang sepertinya tengah tertidur lelap, tentu saja sebelum masuk ke kamar ini Merry sudah berkonsultasi dengan Dokter yang menangani putrinya.
Dokter sudah menjelaskan akan keadaan Airyn, akibat tekanan emosional yang di rasakan membuat tubuhnya melemah, di tambah Airyn tengah hamil, tentu hal itu sangat berpengaruh pada tubuhnya dan kondisi bayinya, meskipun saat ini kandugannya baik-baik saja, tetapi tidak bisa di pungkiri jika kondisi kehamilanya akan memburuk jika ia tetap dalam keadaan tertekan.
"Nyonya Merry, syukurlah anda sudah datang" ucap Angel yang kala itu beranjak dari duduknya, membuat Merry meraih pundak Angel untuk memberikan usapan lembut pada gadis itu, bahkan sebentuk senyum terimakasih ia ulaskan dengan tulus.
"Kak Airyn tengah istirahat di bawah pengaruh obat, dan kata dokter kandunganya baik-baik saja. Hanya saja kakak mengalami tekanan emosional dan banyak fikiran, sehingga tubuhnya kurang stabil yang menyerang sistem imunya yang melemah" jelas Angel pada ibu dari kakak iparnya itu.
"Aku sudah paham Angel, sebab sebelum masuk ke ruangan ini, aku sudah berkonsultasi dengan Dokter. Tapi terimakasih sudah menjaganya"
"Tentu saja, Kak Airyn adalah kakak iparku, tentu sudah menjadi keluargaku. Sudah sepantasnya aku menjaganya, karna dia adalah keluarga yang aku miliki setelah kakak"
Membuat Merry menarik tubuh Angel seraya memberikan pelukan kepada gadis itu, rasanya Merry semakin takut akan Hansell, jika terjadi sesuatu dengan Hansell, tidak hanya Airyn saja, melainkan gadis malang ini. Bagaimana dengan Angel jika terjadi yang tidak-tidak pada kakak kandung tang hanya ia miliki di dunia ini. "Maafkan aku Angell" gumam Merry saat memberikan pelukan penuh penyesalan padanya.
****
Saat ini Frada dan juga Dikra tengah mengurus beberapa pihak untuk menekan berita, dan kedua orang itu tengah menuju ke stasius televisi untuk menemui seseorang, tentu saja mereka menemui Reporter Jenny yang merupakan pembawa berita terkenal di Negara ini, bahkan wanita itu termasuk orang berpengaruh yang bisa memonopoli publik dengan kemampuanya, sebab memiliki rentetan koneksi keluarga yang sangat terkenal baik di bidangnya masih-masing.
Menurut berita yang beredar, karir Jenny melejit karna pengaruh koneksi, namun sebenarnya itu juga termasuk kerja kerasnya sendiri, tetapi ketika latar belakang Jenny terkuak ke Media, semua orang berspekulasi jika ia tengah mengunakan koneksi dalam menempati posisi sekarang, namun untuk orang-orang yang selalu berkomentar di balik jarinya, tentu saja mereka paling pandai dalam berdalih, tapi buta tentang fakta sebenarnya.
“Apa mereka sudah datang?” tanya Jenny pada anak bawahanya yang kala itu mengikutu langkah gadis tersebut.
“Sudah Nona, mereka sudah menanti anda di ruangan” balasnya, seraya mengejar langkah Jenny yang amat gesit.
“Sudah berapa lama mereka menunggu ku?”
“Baiklah! Tinggalkan aku sendiri, aku ingin bicara secara pribadi dengan mereka” tegas Jenny, hingga langkah Jenny terhenti untuk menghadang Reporter pria itu untuk masuk ke ruangan kerjanya.
“T-Tapi Nona, Direktur meminta saya untuk menemani anda--”
“Kau mengikuti dia atau diriku!! Sekarang pergilah! Aku ingin bicara secara pribadi dengan orang-orang itu” Tegas Jenny sekali lagi dengan tatapan tajam nan mengancam.
Membuat pria yang berprofesi sebagai Reporter itu cukup takut untuk mengajukan protes, ia tidak mampu membantah perkataan Jenny lantaran wanita itu sangat berpengaruh akan karirnya, bahkan ia memilih undur diri dengan canggung seraya meninggalkan Jenny yang berlalu masuk ke ruangan.
“Astaga!! Jika begini aku pasti akan di omeli oleh Direktur. Kenapa dia selalu sesuka hatinya” gerutu sang Reporter saat melihat tingkaah Jenny yang menyebalkan, sebab tidak mampu ia lawan.
Sedari awal Jenny sudah menunggu kedatangan orang-orang Nona Petrov, bahkan Jenny sudah menyiapkan beberapa hal untuk masalah yang menimpa Nona Petrov, semenjak berita yang mengabarkan Nona Petrov meledak di masyarakat, tentu nama Jenny juga ikut terseret kedalamnya, lantaran beberapa pihak mengakait-kaitkan dirinya yang mengunakan orang dalam untuk mencapai tempatnya hari ini, hal itu terjadi bukan tanpa alasan, melainkan keterlibatan Jenny beberapa bulan lalu dengan Nona Petrov, membuat ia tidak bisa mendiamkan masalah yang heboh hari ini, bahkan pihak yang menghujat dirinya, meminta Jenny untuk membuat sebuah klarifikasi, tapi Jenny sadar ia tidak bisa bertindak sesuka hatinya, lantaran saat ini Jenny tengah terlibat dengan seorang wanita yang luar biasa berpengaruh dan penting, dan tentu saja tidak mampu ia usik. Bahkan salah sedikit saja mungkin mampu menghancurkan apa yang ia punya, untuk itulah Jenny memilih tenang dengan bermain pintar.
“Maaf saya sudah membuat kalian menunggu” sapa Jenny dengan ramah, seraya duduk di depan mereka, tentu saja setelah sapaan itu, Dirka dan Frada membalas sikap hormat wanita cantik tersebut.
"Tidak apa-apa, saya sangat berterima kasih jika anda mau membantu kami, Nona Jenny” serunya Dikra ketika menyahuti perkataan Jenny. “Perkenalkan nama saya Dikra, dan ini rekan saya Frada” sambung pria itu saat menjabat tangan Jenny, tentu Frada juga melakukan hal yang sama, setelah mereka saling mengenal Jenny mulai masuk ke dalam pembahasanya.
“Aku cukup kaget dengan E-mail yang di kirimkan padaku. Aku tidak menyangka situasi akan serumit itu akan identitas Nona Petrov" ucap Jenny ketika bicara tenang di depan orang-orang Airyn "Nona Petrov dan Tuan Hansell memiliki silsilah keluarga, namun pada kenyataanya Nona Petrov bukanlah anak mereka, melainkan anak Merry Lourent dan Tuan Zates. Aku sangat mengerti jika konflik keturunan di masa lalu sangat berpengaruh, untuk itulah menjadikan Nona Merry sebagai ibu sambung. Namun jika kalian meminta saya membicarakan tentang hasil Tes DNA saja, apa kalian yakin opini publik akan berubah?”
“Maksud anda apa?” tukas Dikra kepada Jenny.
“Sekarang banyak pihak yang angkat bicara atas permasalahan ini, bahkan orang yang meminta klarifikasi atas dua orang yang mereka anggap sebagai aib internasional, bahkan berita keduanya sudah berjejer di mana-mana. Namun kalian mengatakan jika keduanya tidak bisa mengklarifikasi permasalahan ini, dan memintaku untuk menyebarkan Tes Genetik tentang Nona Petrov pada media, apa kalian yakin semuanya bisa diatasi dengan cara semudah ini? Anggap saja sebagai orang yang berpihak pada kalian, aku akan memahami dan mempercayai hanya dengan selembar kertas ini. Tapi sebagai orang yang menentang dan mengangkat bicara hingga memperbesarkan masalah, ini hanya akan di jadikan celah untuk menjatuhkan Nona Petrov. Untuk itulah, sedari awal surat atau penjelasan orang terdekat tidak berguna untuk merubah opini publik, Tuan Dikra” jelas wanita itu ketika menatap tegas kearah Dikra, membuat Dikra mengusap kepalanya dengan gusar sebab rentetan kata yang di ucapkan Jenny sangat apik.
“Lalu apa yang harus kami lakukan?” timpal Frada yang sedari tadi memilih diam, kali ini mulai menanyakan apa kemauan wanita itu.
“Lakukan pemeriksaan secara Live dan melibatkan beberapa pihak medis. Aku akan memberikan acara Ekslusif untuk pembuktiaan ini” seru wanita itu ketika melemparkan hasil tes DNA yang tengah ia genggam ke permukaan meja, membuat mata Dikra membulat seolah tidak mampu berkata-kata lagi.
“Apa kau gila! Itu sama saja dengan menghina Nona Petrov, kau tahu bukan dia bukan orang sembarangan”
“Tapi dia tetap seorang manusia! Anda harus sadar, setinggi dan sekuat apapun kekuasaan dan pangkat seseorang. Jika di mata masyarakat ia adalah sampah, dia tetap saja tidak berarti. Semakin kau berada di posisi tertinggi, semakin mudah mengoyangkan akarnya, bahkan dengan berita sekecil ini saja mampu meruntuhkanya. Mungkin hari ini kalian mampu menangkal keanjlokan saham dengan apa yang kalian miliki, kalian juga mampu membungkam orang dengan kekuasaan yang kalian punya, dan hari ini kalian telah meluncurkan scandal seseorang untuk menutupi scandal Nona Petroc. Tapi mau sampai kapan? Apa kalian yakin Nona Petrov mau melakukan hal melelahkan seperti itu seumur hidupnya!” tegas Jenny dengan sikap bijaksana, bahkan tiap kata yang ia ucapkan sangat masuk akal, hingga Dikra tidak mampu mengajukan bantahan.
“Aku sudah memberikan jalan keluar terbaik, bahkan aku sudah menyiapkan diri untuk membantu Nona Petrov. Meskipun pihak stasiun televisi melarang, akan aku gunakan cara belakang untuk siaran Live khusus terhadap Nona Petrov dalam membantunya. Namun jika kalian tidak bekerjasama, aku rasa kita akan berakir sampai disini. Dan, disaat kesalah pahaman menjadi besar, aku tidak akan mampu membantu, bagaimanapun aku tidak bisa mengambil resiko” terusnya dengan sikap latang, bahkan Jenny beralih ke kursinya seolah ia sudah selesai dengan perkataanya.
“Baiklah Nona Jenny. Aku rasa kau tidak mau membantu kami” ketus Dikra dengan jengkel, membuat Jenny terkekeh atas perkataan pria itu.
“Aku adalah orang yang paling ingin membantu Nona Petrov, bahkan melihat sikapmu yang tidak bisa memutuskan apa-apa, membuat aku yakin, jika kalian menyelesaikan ini sendirian tanpa Nona Petrov mengetahuinya bukan. Jika kalian berbicara akan measalah ini padanya, apa kalian yakin Nona Petrov akan menolak jalan keluar ku, karna menurutku dia adalah orang yang paling menginginkan peluang ini. Sebab saat ini, suaminya adalah hal yang paling utama, sekarang satu Negara tengah menghujat dirinya, meminta mereka berpisah untuk tidak melanjutkan hubungan aib itu. Apa kau yakin desakan masyarakat yang tidak berakhlak itu akan membuatnya membukam media dan bermain jalan belakang membereskanya, aku rasa ia tidak akan melakukan hal seperti itu! Sebab, bagi Nona Petrov, dirinya membutuh penerimaan masyarakat atas hubungannya dengan Tuan Hansell, untuk itulah aku yakin, jika Nona Petrov akan suka rela untuk melakukan peluang yang aku berikan” sambung Jenny saat menghadap kearah mereka yang ada di ambang pintu, membuat mata Dikra mengilau tatapan tajam saat argumenya selalu di patahkan, apakah sebagai pembawa berita memang kemampuanya berdebat dengan orang lain hingga sangat apik, bahkan ia mampu mengerti keadaan dengan sangat rinci, tanpa sang lawan mampu membantah.
“Cukup mengesalkan” gumam Dikra sambil berlalu dari sana, tentu saja ia tidak ingin berlama-lama dan tidak ingin melakukan apapun lagi.
Setidaknya Dikra sangat mengerti point utama yang Jenny katakan. Jika masalah utamanya adalah Hansell Hamillton, Nona Petrov pasti rela melakukan apapun untuk suaminya, jika begini, kenapa ia harus bekerja keras membungkam media.
Hanya saja Hansell tengah berjuang atas hidup dan matinya, bagaimana bisa Dikra mengatakan kondisi pria itu pada Nona Petrov, bahkan jika itu terjadi bisa saja nanti sesuatu yang buruk malah menyakiti Airyn.
“Sial!!” bentak Dikra yang tengah menyetir mobil, ia bahkan menghempaskan tanganya kearah setir dengan begitu kesal.
“Ada apa denganmu, apa kau kesal pada Nona Jenny?” tanya Frada yang ada di samping pria itu.
“Tidak! Aku kesal kenapa Jilxing!! Kenapa ia bisa melakukan hal itu pada Hansell, dan aku sangat kesal kenapa aku tidak melakukan apapun untuk membantunya, bahkan aku sangat kesal ketika Hansell harus mendapatkan penderitaan ini. Jika sesuatu terjadi padanya, aku tidak bisa melihatkan wajahku pada Angel, aku sangat merasa bersalah!!” bentak Dikra dengan geram, bahkan rasanya ia ingin menghilang ke dunia lain seolah tangung jawabnya sangat begitu berat.
“Kau tidak bisa meninggalkan Angel!! Bagaimanapun selain dirimu tidak ada yag bisa merawatnya, aku tidak berharap terjadi sesuatu pada Hansell. Tapi jika sesuatu yang terburuk terjadi, kau sudah pasti bertanggung jawab penuh pada Angel!”
“Aku tahu!” sambung Dikra dengan nada rendah, membuat Frada menghela nafas dengan berat melihat hal ini.
Seketika ponsel Frada berbunyi, hingga mengalihkan pandangan matanya. Tentu saja panggilan masuk itu dari Nona Merry, dengan segera Frada mengangkatnya. “Bagaimana dengan Nona Jenny?” tanya Merry yang berada di rumah sakit, bahkan ia menutup pintu kamar sebab menelfon di luar kamar inap anaknya.
“Dia menolak untuk memberitakan Tes DNA itu. hanya saja, Nona Jenny memberikan sebuah usulan” seru gadis yang saat itu duduk tenang di samping Dikra. Membuat Merry memasang pendengarannya dengan baik untuk mendengar perkataan Frada “Dia mengusulkan untuk Nona Petrov melakukan Tes Genetik secara live agar masyarakat tidak menuding adanya sindikat kecurangan, bahkan ia mengusulkan melibatkan banyak pihak untuk membereskan masalah ini agar kedepanya Nona Petrov tidak perlu cemas atas masalah yang menimpa” ucapnya, membuat Merry memijit kepalanya dengan kasar seolah ia sudah memikirkan hal yang sama sebelumnya.
“Baiklah, terimakasih Frada” serunya dengan nada rendah. Membuat mata Frada membulat ketika jawaban Merry begitu enteng tanpa ada pertanyaan ataupun sikap tidak terimanya.
“Baiklah? Apa anda tidak masalah dengan itu?” celetuk wanita itu dengah heboh, membuat mata Dikra melirik ke wajah yang begitu kaget.
“Aku sudah memikirkan hal yang sama sebelumnya, tentu saja aku yakin tidak berpengaruh jika kita hanya mengeluarkan surat Tes Genetik saja. Dengan apa yang Airyn dan Hansell miliki, masyarakat akan menuding mereka mengunakan cara belakang menutupinya, tapi jika kita melakukanya seperti Pewarta Jenny katakan, itu adalah jalan keluar terbaik”
“Oh, begitu. Benar juga apa yang dikatakan wanita itu, jadi bagaimana? Apa anda akan melakukanya?” tanya Frada sekali lagi, membuat Merry terdiam saat melihat pintu kamar putrinya.
“Aku akan memikirkanya” sambung Merry dari balik ponsel, hingga mereka sama-sama mematikan posel untuk mengakiri panggilan.
“Apa yang harus aku lakukan” fraustasi Merry yang kala itu sangat kebingungan, disatu sisi Airyn tidak menerima dirinya dan Zates, jadi tidak mungkin Merry bisa mengajukan diri atas klausul yang di ajukan oleh Pewarta Jenny.
Namun di keadaan ini, jalan satu-satunya adalah melakukan Tes DNA secara live untuk membuktikan aslinya sebuah Tes tersebut. Namun apakah ini mungkin? Sebab jika Airyn melakukanya, sama saja dengan Airyn mengakui Zates dan Merry sebagai orang tuanya sendiri, tapi kenyataanya Airyn tidak bisa menerima mereka. Rasanya pilihan apapun sangat sulit dan rasanya Merry tidak bisa bertindak apa-apa selain menunggu kepeutusan Airyn. Ia tidak ingin bertindak sesuka hatinya lagi, untuk masalah kali ini Airyn yang memiliki kuasa untuk memutuskan seperti apa akirnya.