Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Mungkin kita terlalu lelah.



Tentu saja perjalanan yang di tempuh cukup panjang, sehingga wanita itu memeluk lengan Hansell untuk menidurkan diri di samping suaminya, Hansell masih belum mengerti kenapa Airyn sebegitu manja padanya, bahkan Hansell tidak mengerti hal apa yang membuat Airyn rela berpergian sejauh ini, tapi mengingat wajah istrinya yang begitu mengemaskan ketika meminta ke Indonesia Membuat Hansell tidak sanggup menolak.


Tentu saja tempat kunjungan kali ini berada di daerah perairan bali, membuat wajah Hansell berbinar bahagia melihat antusias istrinya sedari tadi, ia mengusap kepala Airyn seraya membuai Airyn di dalam tidurnya, tentu saja Hansell sudah menunda beberapa pekerjaan dan melimbahkan segalanya untuk diurus oleh sekretaris barunya, dan juga wanita bernama Jungkyung itu sudah di pecat secara sepihak bersamaan dengan Keluarga Choi yang menerima ganjaran atas sikap putrinya.


Bahkan dengan tidak tahu diri mereka ingin membalas dendam pada Airyn membuat Hansell tidak mampu mentoleransi lagi, hingga ia menjatuhkan keluarga Choi sampai berkeping-keping dan segala yang mereka miliki hancur dan lenyap, lagian untuk perusahaan yang melakukan pencucian uang, serta pengelapan dana, dan mengunakan bahan berbahaya sebagai produksi makanan kemasannya, hingga keluarganya di ranah hukum sebagai penerima suap terbesar dalam meloloskan penjahat, bagaimana bisa di diamkan begitu saja, tidak hanya merugikan masyarakat, keluarga busuk itu juga telah merugikan pemerintahan, membuat Hansell tidak segan untuk menghancurkan dengan tanganya sendiri tanpa sepengetahuan Airyn.


Tentu saja memberikan ganjaran yang setimpal atas perbuatan yang mereka lakukan adalah harga mahal karan menyakiti istrinya, sekalipun mereka tidak melakukan kesalahan pada Hansell tetap saja menargetkan istrinya sama saja mengusik dirinya.


“Apakah kita belum sampai?” tanya Airyn ketika membuka kedua matanya yang tadi terpejam, membuat Hansell memandang kearah Airyn yang baru saja terbangun.


“Belum, apa kau membutuhkan sesuatu?” tanya Hansell dengan pengertian sebab Airyn terlihat meringis kesakitan semenjak dirinya membuka mata.


“Perutku sakit sekali, apa karna aku belum makan?” tanya Airyn ketika menyentuh permukaan perutnya yang datar, membuat wajah Hansell berubah panik seolah tidak bisa mengontrol ketenagan.


“Apa kau yakin perutmu sakit, tunggu sebentar! Aku harus memanggil Dokter kesini” ucap Hansell seketika seolah ia tidak bisa mendiamkan hal ini, namun Airyn mencegat tangan suaminya, sebab ia merasa perih hanya perkara kelaparan, dan juga Airyn tidak sesakit itu hingga suaminya harus membangunkan Dokter di dini hari seperti ini, tentu saja mereka sudah menyiapkan segala hal untuk keberangkatan kali ini, termasuk tim Dokter jika sewaktu-waktu terjadi kendala kesehatan tanpa terduga, namun Airyn merasa ini tidak pantas saja.


“Sayang, kau harus diperiksa agar kita tahu apa yang terjadi sebenarnya” ucap Hansell dengan kalimat pengertian, membuat Airyn mengelengkan kepala dengan keras seraya menolak mentah-mentah perhatian suaminya.


“Aku tidak ingin menemui Dokter, aku ingin makan saja” ucapnya dengan membantah, bahkan Airyn membuat wajah memelas hingga Hansell ikut luluh tanpa mempertahankan argumenya, entah kenapa Airyn merasa benci ketika Hansell terus mengatakan tentang Dokter, bahkan ia merasa takut sekali ketika pria itu ingin memanggilkan Dokter untuk memeriksa Airyn, padahal Airyn merasa baik-baik saja.


Kali ini Hansell mengalah akan istrinya, ia memanggil beberapa pelayan di pesawat itu untuk menyiapkan makanan bagi Nyonya Hamillton, tentu saja dengan segera mereka menghidangkan berbagai makanan untuk Airyn, entah itu daging, sayuran sup hangat dan juga buah-buahan sampai salad, bahkan Airyn mememinta potingan daging harus disajikan menjadi dua porsi makan dari biasanya, sehingga mereka semua menyediakan hal itu dengan segera dari ruang pendingin khusus di dalam pesawat yang merupakan Holding Room.


Sebelum makanan itu di hidangkan kepada Nona Petrov, segala sesuatu sudah melalui berbagai macam proses pengolahan yang panjang, sehingga sangat terjamin kesehatanya sebab telah lulus uji di laboratorium sehingga kualitas bahan makanan terjamin, para pramugari yang menghidangkan makanan kali ini mengunakan perlengkapan kesehatan untuk menghindari bakteri, tujuanya menjaga kualitas makanan agar tetap sehat, sebab tamu mereka bukanlah orang sembarangan, jadi pelayanan yang diberikan harus sesuai dengan standar tamu VVIP.


Airyn melahap makanan dengan begitu nikmatnya, membuaat Hansell tersentuh sembari menyingkirkan rambut yang menganggu di pinggiran wajah istrinya, melihat Airyn begitu semangat saja sudah membuat Hansell kenyang, hingga ia berfikir berapa lama lagi mereka harus berada di pesawat ini, sebab Hansell merasa begitu bosan, ia tidak bisa tertidur sebab sedari tadi istrinya selalu gelisah, membuat Hansell menjaga kesadaran untuk menjaga Airyn di dalam sana, siapa yang tahu akan apa yang terjadi nanti, sebab disana tidak ada Hansell dan Airyn saja, melainkan beberapa orang-orang baru yang terpaksa ada, jadi waspada sudah wajib diberikan Hansell untuk menjaga istrinya.


Akirnya pesawat itu mendarat di Bali, seketika Hansell dan Airyn dinanti oleh mobil yang menunggu kedatangan mereka, bahkan Tuan Hansell dan Nyonya Hamillton sisuguhkan dengan sikap sopan penuh hormat, ada beberapa dari mereka yang menjadi Translator antar bahasa untuk kunjugan Airyn, namun seketika Airyn menolak hal itu.


Mengingat Airyn mahir berbahasa indonesia membuat ia tidak membutubkan Traslator, sebab ia hampir menguasai setengah bahasa di Dunia, membuat dirinya tidak membutuhkan Traslator yang disediakan, tapi anak buahnya yang terlanjur menyiapkan translator untuk perjalanan keduanya, tetap memberikan kompensasi meskipun orang itu tidak jadi bekerja.


Setelah sampai di sebuah tempat yang menanti dirinya dengan Helikopter, membuat Airyn turun dari pesawat bersama dengan Hansell yang mengandeng tanganya, Airyn menaiki Helikopter bersama suaminya dan beberapa anak buahnya, sebab pulau yang Airyn miliki itu harus mengunakan akses Kapal atau Helikopter keseberang sana, meskipun tempatnya hanya sebuah pulau terpencil dengan Villa mewah bak kastil di negeri dongeng tetap saja Airyn tidak sabar lagi mendatangi tempat itu, dan juga melihatkan pada Hansell betapa cantik pulau yang ia miliki, saat ini hanya beberapa pelayan yang berada disana, meskipun begitu Airyn selalu mengecek beberapa kali tentang Villa tersebut dari orang yang ia percayai yaitu Bi Rani.


Setelah turun dari Helikopter yang mereka tumpangi, Hansell di suguhkan dengan pepohonan kelapa yang menjulang tinggi diantara tepian di sepanjang pantai, tentu saja Villa Airyn jauh dari tepian pantai, seolah sengaja dibuat dipertengahan pulau, meskipun begitu Airyn memang membentuk pulaunya bukan seperti hutan yang asri, melainkan Villa lengkap dengan berbagai hal yang ia butuhkan disana.


Mata Hansell masih memandang sekitaran pulau, tentu saja ia melihat pondok-pondok berbambu dengan atap daun kepala yang sebelumnya tidak pernah Hansell bayangkan, mungkin sepanjang masa hidupnya baru kali ini Hansell melihat hal seperti ini.


Selain itu Airyn seperti sengaja menempatkan orang-orang yang mengurus Villanya untuk menetap di pulau ini, bahkan ia membuat supermarket yang bisa dikunjungi untuk kebutuhan makanan ringan atau hal apapun yang di perlukan, tak luoa juga ada berbagai tempat SPA, GYM, yang hampir sama dengan konsep di rumah mereka. Selain itu Airyn memberikan lambang APV disana, seolah menjadi tanda jika pula ini milik dirinya, meskipun begitu ia tidak menghilangkan satu pohonpun meskipun membangun sebuah bangunan disana.


Tangan Hansell yang setia mengenggam jemari istrinya, masih saja melirik kiri dan kanan untuk mempelajari tempat ini, membuat Hansell cukup tersentuh akan salah satu ayunan kayu yang terbuat kokoh di sekitaran pantai, bahkan di halaman depan Villa dibangung tempat BBQ yang sepertinya wajib dimanapun Airyn membangun rumahnya ataupun Villanya.


Bahkan Hansell terpana jika pilihan warna Airyn bukanlah putih melainkan cream dengan perpaduan kayu khas indonesia dan ukiran unik di pingiranya, beserta kaca trasparan untuk jendela di bagian depan, bagaimana kagetnya Hansell melihat pakaian pelayan yang berbeda dari pakaian pelayan moderen di Korea dan juga Irlandia, mereka mengunakan pakaian daerah khas bali dengan nuansa nusantara yang membuat turis seperti Hansell terpana.


Bukankah indonesia adalah Negara yang sudah merdeka, tapi kenapa orang-orang disekitarnya masih mempertahankan kebudayaanya dan juga tidak menghilangkan cara berpakaian asli di pulai Bali ini. Padahal sebagaian besar orang diluar sana sudah terkontaminasi dengan moderenisasi, tentu hal ini membuat Hansell sedikit kagum akan tempat yang Airyn kunjungi.


“Selamat datang Nona Airyn” sapa seorang wanita yang mengunakan kebaya bali sebagai pakaian mereka, bahkan mengikat pingangnya mengunakan selendang dengan rambut tersanggul berhiasi bunga terselip ditelinga, Hansell yang masih terpana di samping istrinya ditarik oleh Airyn untuk menyapa wanita anggun nan ayu itu.


“Terimakasih Bu Rani” sapa Airyn dengan ramah, membuat Hansell bingung atas bahasa yang mereka gunakan, bagaimanapun ia mengerti jika Airyn memahami berbagai bahasa di dunia, dan indonesia termasuk bahasa yang Airyn kuasai, tapi bagi Hansell yang tidak mengerti tentu saja itu menjadi bingung dan canggung atas apa yang harus dilakukanya, selain mengikuti apa yang Airyn perintahkan.


“Saya merasa bangga anda kesini setelah beberapa tahun tidak pernah kembali Nona Airyn, apakah dia suami anda?” sapa Bu Rani dengan ramah, membuat Airyn menarik Hansell untuk memperkenalkan diri kepada Bu Rani.


“Benar Bu, ini suami Airyn. Namanya Hansell” jelas wanita itu dengan ramah, sembari tersenyum kearah Bu Rani, membuat Bu Rani yang memiliki nama lengkap Anak Agung Ayu Maharani Aditya Karang, tersenyum kembali kearah Hansell dan Airyn.


Hansell yang seketika diajukan kehadapan wanita ramah dengan pembawaan ayu ini merasa sediki canggung, mau tak mau ia menundukan kepala dengan telapak tangan yang ditempelkan seolah memberikan salam di budaya mereka.


“Hallo” sapanya dengan bingung membuat Airyn dan Bu Rani terkekeh akan tingkah Hansell, seketika Bu Rani menjelaskan beberapa hal disana, dan ia menuntun dua pasangan itu untuk melihat pertunjukan yang sudah menanti mereka di halaman rumah.


Tentu saja Bu Rani dan beberapa warga dari seberang sana sengaja melakukan hal ini untuk Nona Airyn yang memberikan berbagai bantuan untuk desa mereka di masa lalu, sehingga Bu Rani sangat menghargai wanita muda dengan jiwa dewasa diumurnya yang masih belia.


Hansell terpana ketika disambut dengan sebuah tarian yang sangat indah dan begitu unik, seolah Hansell di perlakukan seperti seorang tamu penting yang perlu mengikuti proses adat di bali, tarian penyambutan tamu di bali ini diiringi dengan alat musik tradisional yang rata-rata dipukul sehingga mengeluarkaan nada yang cukup indah di pendengaran, Hansell masih menyimak kejadian yang terjadi sebab istrinya seperti keasikan berbicara dengan wanita itu dan bahkan menikmati pertunjukan, seolah ia sangat paham dan terbiasa akan semua hal, namun melupakan suaminya yang merupakan orang baru disana.


Dengan terpaksa Hansell bersikap tenang menonton pertunjukan yang seperti orang bodoh di sisi istrinya, namun berjalannya waktu Hansell sedikit terpesona jika Airyn menyukai hal seperti ini. Setelah tarian itu selesai Airyn dan Hansell memberikan sepatah kata sambutan dan terimakasih kepada warga, bahkan mereka diberikan bunga yang dikalungkan dileher kedua pasangan itu.


Setelah beberapa lama akirnya semua keadaan tenang, Hansell yang tadi berfikir akan tidur setelah sampai di Villa, ternyata malah mengikuti acara tanpa terduga, Airyn tengah mendudukan diri di dalam kamar sambil mengeluarkan barang-barang yang ia perlukan, namun pria itu malah berbaring tanpa menganti pakaian, bukankah perjalanan cukup panjang untuk di tempuh dan Hansell malah berniat menidurkan diri, membuat Airyn mengeluarkan sisi wanita nya secara alami.


“Hansell mandilah dulu, aku akan menyiapkan makanan untukmu, setelah itu baru tidur” ucap Airyn dengan memaksa, membuat Hansell membalikan badan seolah malas mengikuti perintah istrinya, sebab ia benar-benar mengantuk dan lelah


akan pejalanan yang cukup panjang.


“Hansell ayolah...Mandi dulu...” sambung Airyn dengan rengekan pada suaminya, seolah Airyn tidak suka jika Hansell membiarkan tubuhnya dipenuhi bakteri yang sedari semalam berjangkit, seharunya Hansell harus mandi dan membersihkan diri sebelum tidur di ranjang mereka.


“Sayang. Aku lelah sekali, biarkan aku tidur sebentar” balas pria itu dengan malas


“Tidak mau!!”


“Hansell--” ucap Airyn dengan meninggikan nada bicaranya dan terus memaksa suaminya.


“Airyn..” lirih Hansell dengan penuturan yang semakin malas yang mungkin mulai memuakan.


“Hans---“


“Airyn!!” seketika Hansell membuka matanya sembari menduduki diri di pinggir ranjang menatap Airyn dengan pandangan tidak suka “Aku sudah mengikuti kemauanmu untuk pergi kesini meskipun aku harus mengabaikan pekerjaan ku yang menumpuk, aku tidak tidur semalaman karna harus menjagamu di pesawat ditambah kau selalu merengek ingin ini dan itu, dan saat sampai di Villa aku fikir akan bisa istirahat, tapi ternyata harus mengikuti acara yang kau siapkan. Aku sudah mengikuti segala hal tanpa membantah, kenapa kau tidak bisa membiarkan ku tidur untuk sebentar saja. Aku juga manusia Airyn, aku butuh istirahat!!!” bentak Hansell degan nada meninggi, meskipun ia tidak bermaksud ingin marah pada istrinya, namun intonasi jengkelnya begitu menusuk hingga Airyn terdiam di posisi.


Hening membentang di pertengahan emosi yang bergolak di hati Hansell, atas sikap istrinya yang tidak pengertian.


“A-aku akan keluar, tidurlah” lirih Airyn dengan wajah ditekuk bersalah, jika dipikir-pikir Airyn selalu memaksa Hansell dan tidak menyadari bagaimana suaminya telah berusaha menuruti segala hal disampingnya, tapi Airyn juga tidak mengetahui kenapa Hansell harus seperti itu, jika ia mengantuk, kan Hansell bisa tidur saja. Toh, Airyn tidak meminta untuk dijaga, jika Hansell tengah tidur, Airyn juga tidak akan membangunkanya di pesawat untuk meminta ini itu, tapi kenapa Hansell harus seperti ini. Merasa terbebani atas apa yang ia lakukan untuk Airyn, jika sedari awal Airyn membuat Hansell terasa tertekan ia sangat menyesal akan hal itu. Tapi kenapa harus memendam kejengkelan jika Hansell tidak tulus melakukanya, embuat Airyn sangat sedih akan sikap Hansell yang menyakiti dirinya..


Airyn berlalu dari sana dengan wajah ditekuk bersalah, entah kenapa air matanya menetes seolah dilukai tanpa sengaja oleh suaminya, melihat Airyn keluar tanpa membantah perkataanya membuat pria itu menajamkan mata dengan jengkel, apa yang membuat Hansell sekesal ini pada istrinya, apakah karna dirinya lelah atau kerna Hansell tidak tulus menemani Airyn kesini.


“Sial!! Terserah saja” umpatnya dengan kesal, saat membanting tubuh dengan kasar untuk tidur diranjang empuk yang sudah menagih dirinya tidur dan terlelap, Airyn berada dibalik pintu kamar dengan air mata yang menderas, ia berusaha mengusap air matanya seolah menahan suaranya agar tidak keluar.


Bagaimanapun Airyn hanya ingin Hansell membersihkan diri lalu makan siang sebelum akirnya dia tidur untuk istirahat, tapi sepertinya Airyn sudah membuat Hansell kesal dan marah, jadi ia tidak bisa memaksakan diri untuk membujuk suaminya.


Airyn memilih menenangkan diri seraya berjalan kearah dapur, wanita itu mengambil semua bahan makanan dan rempah-rempah indonesia yang khas, ia mengolah beberapa bahan makanan di dapur mewah yang berhiasan kayu dengan ukiran batik indonesia di pinggiranya, tentu saja beberapa pelayan membantu dirinya hingga Airyn larut berkomunikasi dengan pelayan itu dan menghilangkan rasa sakitnya, Airyn membuatkan makanan khas indonesia untuk Hansell sebab beberapa waktu lalu Airyn memang sengaja mempelajarinya, bagi Airyn makanan khas indonesia memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi untuk seorang pemula dari negara asing, sebab di Indonesia memiliki rempah khas yang cukup sulit dikenali oleh orang dari negara asing sepertinya, membuat Airyn membutuhkan bantuan pelayan yang merupakan orang pribumi untuk mengenali rempah makanan tersebut.


“Wangi sekali......” ucap Airyn dengan bahagia, saat senyumnya merekah ketika hasil makanan itu sesuai dengan ekspektasi, Airyn menuangkan beberapa mangkuk sup sapi itu ke wadah dengan semangkuk nasi sebagai pasangannya, tentu saja Airyn telah membayangkan bagaiman lahapnya Hansell memakan makanan ini “Hansell Pasti sangat suka” ucap Airyn ketika memindahkan sup sapi ke mangkuk, namun tanganya terhenti ketika mengingat suaminya tengah kelelahan.


Airyn berpindah ke meja makan untuk menikmati makanan itu, ia begitu lahap menyicipi masakanya yang di puji habis-hanisan oleh pelayan yang makan satu meja dengan Airyn, bahkan mereka mengatakan jika makanan Airyn sudah sama persis dengan tangan orang indonesia dalam mengolahnya, membuat mereka kagum jika wanita bule itu bisa memasak sehebat ini, di tambah kekayaan yang cukup mencengangkan ini, bagaiman bisa ia mahir dalam mengolah makanan.


Mereka semua beranjak dari tempat makan, sebelum membereskan dapur yang berantakan, begitupun Airyn yang sudah selesai dengan makanannya, dan ia tengah berfikir akan Hansell yang belum memasukan apapun keperutnya “Lupakan tentang Hansell yang marah. Aku harus kekamar untuk mebawakan makanan kepada suamiku, mungkin jika Hansell bangun ia bisa langsung menyicipinya, tapi ini tidak akan enek jika sudah dingin dan harus dipanaskan lagi. Bagaimana ini” seketika Airyn bingung akan apa yang harus ia lakukan, hingga memutuskan untuk memindahkan beberapa daging dengan aroma sup yang kental akan rempahnya, untuk dibawakan ke kamar.


Airyn akan memberikan makanan ini sesuai keadaan, jika Hansell tidak tidur Airyn akan meminta maaf dengan sup sapi ini, tapi jika suaminya tidur Airyn akan kembali dan meletakan sup di panci agar tetap panas.


Baru saja Airyn membawakan makanan dengan nampan serta air minum diatasnya, ia bersirobok dengan Hansell yang sudah menganti pakaian dengan rambut basah sesudah keramas, membuat kedua mata mereka saling memandang tanpa mampu mengalihkan tatapan, tentu saja Hanselll tidak bisa tidur nyenyak setelah membentak Airyn dan membuat istrinya terdiam, bahkan ketika mengingat wajah Airyn yang takut dengan menunduk, membuat hati Hansell berdenyut pedih dan sakit, hal itulah yang membuat Hansell mengikuti kata istrinya sebelum ia keruang tamu ia sudah membersihkan diri.


Jika dipikir-pikir apa yang Airyn minta untuk kebaikan dirinya sendiri, mengingat Hansell juga memiliki asam lambung yang cukup parah, apalagi jika ia terlambat makan hal ini bisa saja membuat zat asam di tubuhnya meningkat.


“H-Hansel…” lirih Airyn dengan air mata berlinang, bahkan tanganya bergetar memapah nampan itu, melihat suaminya berdiri dengan rambut basah seusai mandi menjadi pertanda jika Hansell mendengarkan ucapnya, tentu Hansell semakin merasa bersalah seolah tidak bisa meminta maaf dengan kata-kata saja.


“Sayang, kenapa menangis” ucap pria itu saat menarik nampan yang Airyn bawa untuk di letakan di tempat, sebelum memeluk Airyn dengan sayang “Maafkan aku ya...” ucapnya dengan penuturan lembut, bahkan membuat Airyn semakin menderaskan air matanya tanpa mampu menghentikan isakan itu. Bukan sakit yang Airyn rasakan, ia hanya terharu atas sikap Hansell yang membuat dirinya tersetuh hingga mengerogoti jiwa.


Keduanya saling berpelukan bahkan Hansell merasa sedih ketika keharuan melingkup mereka, Hansell memberikan ciuman di kening istrinya seraya menarik Airyn untuk duduk di tepi ranjang “Apa yang kau buat?” tanya pria itu ketika membujuk Airyn sembari mengusap lembut air mata istrinya.


“Aku membuatkan sup sapi khas indonesia yang kaya akan rempah di Negara ini” ucapnya dengan sesungukan, membuat Hansell tersenyum sembari melirik nampan itu, wanginya tentu semerbak hingga perut Hansell menagih untuk di isi.


Ternyata apa yang Airyn katakan ada benarnya, seharusnya Hansell mandi dan mengisi perut sebelum tidur, sebab tubuhnya terasa segar setelah melakukan itu, namun karna kelelahan Hansell malah membentak Airyn hingga menyakiti istrinya, membuat pria itu memeluk Airyn dengan posesif, ia seperti tidak rela di tinggalkan dan tidak ingin Airyn berubah.


“Suapi aku ya..” pintanya dengan manja, membuat pipi Airyn memerah sembari menjauhkan tubuh Hansell dengan malu, Airyn yang sama bersalahnya tentu saja menarik sup itu dari nakas yang ada didekat mereka, ia menyuapi Hansell secara perlahan hingga pria itu tidak menduga ini seenak itu, bahkan lebih nikmat dari ekspektasinya barusan.


“Sayang ini apa?” tanya Hansell dengan bingung, sebab baru kali ini Hansell melihat daging sapi di masak dengan tulang-tulangannya, sebab selama ini Hansell selalu memakan daging dibagian empuknya yang bisa di potong tanpa ada tulang seperti itu, meskipun sedikit aneh dengan rasa yang nikmat membuat Hansell semakin penasaran.


“Ini namanya sup tulang sapi, sup ini dibuat dengan kaldu sapi alami dari tulangnya sehingga rempah-rempah pilihan menjadikan perpaduan aroma wangi dan juga rasa nikmat bagi lidah turis manapun, karna kau pecinta sup aku membuatkanya untuk mu. Hansell apa kau tahu biasanya orang Indonesia makan mengunakan tangan, jadi untuk tulang seperti ini mereka akan mengunakan tangan dalam mengigitnya, apa kau mau aku suapi dengan tangan?” tawar Airyn seketika hingg membuat Hansell terpana, sebab Culture budaya yang berbeda memberikan rasa shock yang mendera, hingga Airyn terkekeh dengan tatapan Hansell yang membulat kearahnya.


"Bukankah makan mengunakan tangan itu tidak sopan" seru pria itu kehadapan istrinya.


"Tapi di indonesia makan mengunakan tangan adalah sikap yang sopan. Bagaimanapun kita tidak di Korea sayang, ini adalah Indonesia jadi kita harus menyesuaikan dengan budaya setempat. Cobalah" imbuhnya Airyn, membuat Hansell memandang istrinya dengan kurang yakin.


Tanpa segan Airyn mengambil tulang itu dan menyodorkannya kemulut Hansell “Gigitlah!” ucapnya ketika mengajukan tulang sapi itu kemulut suaminya yang masih terpana.


“Apa kau tidak mengerjaiku? Apakah benar seperti ini cara makannya” tanya Hansell dengan curiga sembari mamandang Airyn


yang begitu berbinar menyodorkan tulang itu pada mulutnya.


“Apa kau tidak percaya padaku?”


“Percaya!!”


“Jadi cobalah” ucapnya ketika menahan tulang sapi di hadapan mulut Hansell sebab pria itu masih meragu untuk mengigitnya dan membuka mulutnya “Astaga!! Tanganku sakit sekali” ucap Airyn dengan meringis, sembari mengoda Hansell untuk cepat bertindak, seketika Hansell mengigit daging yang masih menempel di tulang sapi, ia merasakan citra daging yang empuk dengan aroma sup yang khas, benar kata Airyn kaldu di sup itu dibuat secara alami dari tulang sapi hingga meresap ke dagaing, seolah citra dagingnya sangat sempurna untuk di nimati bersama nasi, membuat Hansell tidak percaya mengingit daging dari tulang sapi adalah cara makan yang paling nikmat, tanpa segan Hansell meraih tangan istrinya untuk mengigit daging yang Airyn pegang.


Keduanya saling terkekeh saat berbicara mengenai indonesia yang unik, mungkin bagi Hansell ke Indonesia bukanlah menjadi pilihan yang salah untuk bulan madu mereka, bahkan membuat kedekatan Airyn dan dirinya semakin terasa lucu saja.


Setelah selesai makan Airyn meletakan piring kotor ke dapur sembari mencucui tanganya sebab bau daging sangat kuat, Airyn yang berada di wastafel dapur membutuhkan waktu cukup lama ketika membilas tangan disana, setelah selesai Airyn kembali ke kamar mereka untuk menemui suaminya, baru saja Airyn membuka pintu Hansell sudah berada diranjang dengan mata tertutup seolah ia benar-benar lelah, membuat wanita itu mendekat kearah suaminya sembari mencium kening Hansell dengan lirihan kata "Maaf"


Airyn menarik selimut untuk memberikan kenyamanan untuk Hansell, sebab cuaca di Indonesia cukup panas dari negara Korea, dan di Indonesia pendingin ruangan menjadi barang paling di butuhkan, sehingga Airyn yakin menyelimuti tubuh suaminya akan menjaga Hansell untuk terlelap dengan nyaman, baru saja Airyn ingin pergi pria itu menarik Airyn dengan penuh kekuatan hingga terhempas ke samping Hansell, tanpa terduga tubuh Airyn dililitkan di pelukanya seolah wanita itu tidak boleh pergi dari sisinya.


“Apa kau belum tidur” dengus Airyn ketika mendongakan kepala kearah suaminya, namun Hansell tetap diam dengan mata tertutup, hanya saja pelukan itu semakin dieratkan, membuat Airyn mengerucutkan bibir sambil memeluk kembali Hansell dengan menutup kedua matanya di pelukan suaminya yang keker itu.