Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Kedatangan Tamu



Setelah menceritakan semua hal yang membuat gundah kadang semua beban itu mengalir hingga merata bahkan menghilang dari permukaan, kadang seseorang suka memendam dan menyumbat dengan diam agar bisa tertahan dan menahan, padahal itu adalah sikap yang salah dalam menyikapi keadaan, lepaskan apapun yang menyakiti dirimu hingga beban itu pergi tanpa mampu lagi melukai.


Somi merasa sangat baik setelah menceritakan semua yang di alaminya selama ini, bagaimana banyak tekanan yang ia rasakan disaat tidak mampu berbagi, dan juga bagaimana rasanya ia mmengalami luka batin dan fisik dari ayah kandung yaitu Tuan Ji, membuat Somi melepaskan semua hal itu, Iriana yang mendengar cerita anak nya, tentu merasa terluka hingga amat dalam, bagaimana bisa pria itu melakukan hal mengerikan kepada putri yang di besarkan nya selama berpuluh-puluh tahun, bahkan Iriana tak habis fikir dengan jalan fikiran suaminya, banyak hal yang begitu menyakitkan setelah mendengar semua cerita memgerikan yang di alami Somi, hingga Iriana hanya mampu menangis sembari memeluk tubuh anaknya, meskipun masa lalu Iriana sangat kelam dan pahit, namun cerita Somi lebih perih dari luka yang dialami Iriana selama ini.


“Maafkan ibu sayang” lirih Iriana saat memeluk putri nya


“Tidak, kenapa ibu meminta maaf, Somi tidak apa-apa, Somi baik-baik saja, bahkan setelah menceritakan ini semua, rasanya semua ingatan itu menghilang” balas gadis tersebut saat memeluk tubuh Iriana dengan hangat


“Tetap saja, ibu juga salah. Jika saja ibu tidak menyembunyikan fakta itu, pasti ayah mu tidak akan melakukan hal mengerikan kepada mu, ini semua salah ibu” tegas Iriana dengan seluruh rasa bersalah yang menyelimuti dan kian menyakitkan


“Tidak bu!! Somi tidak menyalahkan ibu, apalagi ayah. Somi bahkan tidak ingin ibu menyalahkan diri sendiri, jangan salahkan diri ibu, Somi mohon” pinta gadis itu sembari melepaskan pelukan ibunya, bahkan setelah menatap wajah wanita yang berderai air mata tersebut, membuat Somi kembali memeluk, mungkin benar masa lalu yang di sembunyikan ibunya menjadi penyebab ayahnya memperlakukan Somi seperti itu, tapi tetap saja segala keadaan itu tidak merubah fakta jika selama ini Tuan Ji hanya menyayangi Somi sebatas memiliki Iriana, membuat gadis itu merasa terluka dengan fakta tersebut, namun sekarang Somi telah memaafkan dirinya sendiri, hingga dapat menerima ayahnya lagi, karna bagaimana pun Tuan Ji hanyalah manusia biasa, ada kala nya dimana dirinya melakukan kesalahan, membuat Somi percaya tidak ada hubungan darah yang terputus, seperti apapun Tuan Ji menghilang suatu saat ayahnya pasti akan kembali kepada mereka


Ting..tong..ting..tong


Suara bel berbunyi, membuat perhatian mereka terpecah, seketika Somi dan ibunya melirik ke arah pintu, membuat keduanya saling melemparkan pandangan bingung, Somi perlahan melepaskan diri dari pelukan itu, ia mencoba bergerak untuk membuka pintu


“Nak” cegat Iriana sembari meraih tangan anaknya, membuat Somi menoleh akan sikap yang ditampilkan ibunya


“Kenapa bu?” tanya Somi membalas panggilan Iriana


“Apa kau memiliki tamu? Ibu rasa kita tidak mempunyai siapa-siapa untuk berkunjung” serunya dengan pertanyaan ke arah Somi yang saat ini berdiri dihadapan Iriana


“Ntahlah, mungkin saja ini penting, atau bisa jadi ayah” balas Somi dengan senyuman, untuk mencairkan khawatir yang melanda di raut wajah ibunya “Tidak apa-apa bu, biar Somi saja yang membuka pintu" sambung nya dengan kalimat menenangkan, membuat Iriana melepaskan gengaman tangan dari jemari Somi, merasakan hal tersebut, gadis itu memberikan sebyum dengan mengusap lembut pundak ibunya sembari berlalu untuk membuka pintu


Tentu ada pertanyaan yang menjelma difikiran Somi tentang siapa yang berkunjung kerumah mereka saat ini, meskipun begitu ia memilih memastikan dari pada mati penasaran, perlahan tangan gadis itu memutar ganggang pintu guna menuntun ke arah kiri bersamaan dengan gerakan menarik kearah dalam, membuat pintu tersebut terbuka seketika, Somi bersirobok dengan seorang pria bertubuh tinggi yang membelakangi dirinya, Somi menyaksikan tubuh bidang itu sangat tinggi, bahkan dirinya menegadah melirik ke arah depan sebab tidak mengunakan haighels.


“Permisi tuan, ada yang bisa sayan bantu?” seru Somi saat menatap tubuh pria yang tengah membelakanginya, mendengar suara tuan rumah tentu ia membalikan badan segera, memberikan sapaan manis dengan senyum alami, hingga wajah Somi berubah pucat tanpa mampu disembunyikan, dirinya tertegun melihat ke arah pria itu dengan tidak percaya, bahkan darah tak mengalir setelah melihat pria yang saat ini didepan matanya, siapa lagi kalau bukan kakak yang satu ibu dengan Somi yaitu Dokter James, seketika gadis itu menarik ganggang pintu guna menutup pintu dari arah luar, bagaimana pun ia tidak ingin ibunya tau tentang siapa yang menjadi tamu mereka


“Kenapa kau kaget sekali bertemu dengan kakak mu” sapa James dengan penuh senyuman manis


“Kenapa kau kesini, bagaimana bisa kau tau rumah ku?” tanya gadis itu dengan kalimat yang penuh penekanan, bahkan intonasi kasarnya tersamarkan dengan jelas


“Aku ingin bertemu ibu ku” balas James dengan nada santai di iringi seringai, bahkan kalimat itu diucapkan dengan enteng, membuat darah Somi mendidih tak karuan


“Ibu. Kau jangan aneh-aneh” ketus Somi saat menajamkan mata ke arah kakak nya itu


“Apa yang aneh dari itu, aku menemui ibu yang menelantarkan ku, apa itu aneh? Bahkan sudah berpuluh tahun aku tidak bertemu dengan nya” balas James dengan nada datar ke arah Somi, membuat gadis itu sangat kesal dengan nada bicara yang dituturkan oleh James, membuat pria itu membalas tatapan tajam adiknya dengan sikap menatang


“Apa kau gila!! Aku tidak akan membiarkan itu, kau tidak boleh bertemu dengan ibu” tegas Somi dengan begitu mengancam, dirinya tidak akan siap jika ibunya menemui James disaat kesehatan Iriana didalam kondisi mengkhawatirkan, bisa saja nanti penyakit jantung yang ia alami kambuh akibat serangan jantung bertemu anak laki-lakinya itu, meskipun Somi tidak mengerti apa alasan ibunya menelantarkan kakak nya ini, yang jelas Somi percaya keputusan itu di ambil beliau sebab hanya itulah jalan keluar satu-satunya, Somi mengenal sekali tentang ibunya, seorang malaikat yang terlahir menjadi wujud manusia, sangat tidak mungkin wanita seperti itu menelantarkan anaknya jika tidak terpaksa


“Aku ingin bertemu dengan nya” tegas James ke arah Somi, bahkan wajahnya nampak kesal membalas sikap Somi yang melarang keras, bagaimana pun saat ini James sangat siap untuk menghadapi luka tersebut.


Sedangkan dari arah dalam Iriana sangat bingung dengan sikap Somi, anaknya mengatakan tidak memiliki tamu, namun saat membuka pintu Somi malah menghilang di balik pintu tersebut, membuat Iriana bertanya siapa yang bertamu kerumah mereka, tentu yang ada difikiran cemas jika saja orang tersebut dapat yang mengancam keselamatan anaknya, perlahan Iriana bangkit dari kursi, menuju ke arah pintu dengan langkah tertatih


“kau tidak bisa bertemu dengan nya, setidaknya untuk sekarang kau tidak boleh menemui ibu” tegas Somi membalas keinginan kakaknya, mendengar penolakan dari gadis tersebut membuat James semakin kesal melirik ke arah gadis di depan matanya


“Apa hak mu melarangku menemui ibu ku, bakan jika aku mau, aku bisa membawanya paksa dari sini, aku tegaskan!! Dia bukan Ibumu saja Somi, kadang kau perlu mengerti berbagai” balas pria itu dengan pernyataan menohok, membuat Somi tertegun mendengar kata tersebut “apa kau fikir, hanya kau saja yang berasal dari rahim nya, mungkin selama ini kau menjadi satu-satunya yang merasa berkuasa atas orang tua mu, tapi kau tidak bisa lupa jika wanita itu memiliki dua suami bahkan ia belum menceraikan ayahku dan menikah bersama Ji” tutur James dengan kalimat menohok yang menyakiti hati Somi, tentu saja ia merasa tersinggung bukan hinaan yang dituju pada dirinya, melainkan hinaan yang diucapkan kepada ibunya, walaupun ada hal yang membuat pria tersebut membenci ibunya, tidak sepantasnya sebagai seorang anak dan juga laki-laki dewasa dia mengucapkan kalimat rendahan kepada wanita, apalagi kepada wanita yang melahirkan dirinya.


“Yang jelas…..” belum sempat James melanjutkan perkataan nya, Somi langsung menyanggah


“Kau!! Kau tidak bisa bertemu dengan nya!!! karna ibuku sedang tidak sehat” tutur Somi dengan penuh kesedihan, bahkan air mata nya berlinang mengucapkan kalimat tersebut, membuat James meredupkan pancaran mata tajam nya “Ibu sedang tidak baik-baik saja, akir-akir ini kesehatan nya menurun karna tidak mendapatkan perawatan yang intensif lagi, aku sudah berusaha membujuk ibu namun ia tidak mau. Jantung nya sangat lemah saat ini, jika kau bertemu dengan ibu dan mengakui siapa dirimu, aku yakin ibu tidak akan baik-baik saja, aku khawatir ia mendapatkan serangan jantung tiba-tiba, aku mohon mengertilah. Aku yakin kau tidak akan bisa melukainya bukan, aku yakin kau tidak akan mau terjadi sesuatu dengan nya bukan, jadi jangan memberikan kejutan yang membahayakan jantung nya, aku berjanji dengan pelan-pelan akan mengajak ibu bertemu dengan mu” tutur Somi dengan penuh harap kepada kakaknya itu, membuat James melonggarkan niat yang begitu bulat, perlahan mereka berdua saling menatap tanpa berbicara apapun, Somi berharap apa yang diucapkan mampu memberikan pengertian kepada kakaknya, James memberikan respon seperti yang diharapkan, ia mengerti sekali bagaimana kondisi kesehatan ibunya, karna itulah perkataan adiknya sangat betul adanya


“Baiklah, aku menunggu janjimu, dan kau harus menepatinya” balas James begitu tegas mengucapkan kalimat ke arah adiknya, memuat gadis itu menerima janji yang mereka buat, dengan cepat Somi menganggukan kepala hingga diterima oleh James sebagai bentuk deal mereka


“Somi” seru Iriana melihat anaknya bersama pria asing, Iriana hanya melirik ke arah Somi, membuat kedua anak nya itu tertegun diposisi masing-masing, bahkan James begitu tak percaya bertatap secara langsung dengan wanita yang tidak pernah ditemui nya bertahun-tahun, kecantikan ibunya masih saja membekas di ingatan James, terlihat jelas hal yang berubah hanya kerutan diwajah wanita itu, James begitu tidak berdaya memandang wanita yang menelantarkan dirinya dengan tatapan penuh, bahkan Somi tidak kalah kaget dengan apa yang James rasakan, Somi seperti tak menyangka ibunya akan keluar.


“Somi kenapa diam saja, apa dia teman mu nak?” tanya Iriana saat melirik ke arah James, bahkan dengan cepat James mengalihkan pandangan ke arah Somi saat matanya bersirobok dengan ibunya itu


“iii..ibu” lirih Somi dengan kalimat rendah yang hampir tak terdengar, membuat Iriana mengkerutkan kening akibat sikap aneh anak nya “dia..” kalimat itu seperti sulit diucapkan Somi karna ia tak mengerti harus mengucapkan apa


“Saya teman Somi nyonya” sanggah James seketika, membuat dua wanita dihadapannya melirik kearah James, namun ia hanya menatap ke arah Somi, sebab tak mampu melihat Iriana


“Kenapa tidak diajak masuk saja, maafkan anak saya” seru Iriana membalas James dengan penuh sopan, membuat dada pria itu berdebar tak karuan, tadinya ia sangat percaya diri bertemu wanita yang dicintai hingga dibencinya, namun saat ini James malah ketakutan dengan tubuh gemetar, seolah ia hilang kendali dengan sikap tenang nya selama ini, James seperti terserang panik yang tiba-tiba, bahkan nafasnya saja hampir tidak teratur, dahinya mencucurkan keringat yang begitu mengalir, membuaat Iriana semakin binggung dengan pria tersebut, sebab sikap tegang nya sangat aneh dipandangan Iriana dan hal itu terlihat sangat jelas


“Apa kamu sakit nak?” tanya Iriana saat melihat ke arah James, membuat Somi melirik ibunya yang begitu memperhatikan kakak laki-lakinya tersebut


“Bagaimana ini” gusar Somi saat tak mampu mengendalikan diri, ia tidak ingin ibunya mengetahui jika pria tersebut adalah anak nya


“Tidak nyonya, saya baik-baik saja” balas James singkat, namun dirinya masih diposisi sama tanpa mampu melihat kearah ibunya


“Apa kau yakin nak?” tanya Iriana sekali lagi untuk memastikan kembali, bahkan ia menolehkan sedikit wajah untuk bersirobok dengan mata pria itu, hingga James memalingkan sedikit wajahnya membuat kedua mata mereka bertemu, sontak Iriana tertegun menyaksikan mata akrab yang masih hangat diingatan nya, Iriana terdiam tanpa kata, membuat James memalingkan wajah segera


“Apa dia mengenali ku, tidak mungkin!! Bagaimana mungkin dia mengenaliku” gumam James dengan penuh tanda tanya, sedangkan Somi semakin berdebar-debar akibat suasana tegang


“Keringat mu deras sekali, apa kau sakit nak” celetuk Iriana dengan sedikit gugup, membuat Somi meloloskan nafas sebab merasa lega, untung saja ibunya tidak curiga apapun setelah menatap wajah James, sedangkan pria itu sedikit kecewa jika dugaan nya salah, tenyata ibu yang melahirkan nya tidak mengenali dirinya, meskipun begitu James akan menunggu waktu dimana akan mengungkapkan fakta ini, bahkan fikiran nya sudah menuntun untuk memikirkan apa yang akan dilakukan nya nanti


“Duduklah dulu” paksa Iriana sembari meraih lengah kekar James untuk menuntun nya duduk dikursi yang tersedia di depan rumah mereka


“Saya baik-baik saja” sanggah James saat ingin menolak, namun Iriana begitu memaksa untuk James duduk, setelah itu Iriana melayangkan senyuman ke arah pria tersebut, ia merabakan jari ke dahi James guna mengecek suhu tubuh pria itu, Iriana merasakan ada suhu panas ditubuh nya, membuat James terdiam tanpa kata setelah merasakan apa yang dilakukan wanita itu pada dirinya, selama berpuluh-puluh tahun akirnya hal yang dinanti bertemu dengan wanita ini diluar dugaan nya, membuat James ingin meledak-ledak memaki atau mengeluarkan amarah guna melepaskan sakit hati yang dirasakan selama ini, namun logika sehatnya menuntun James waras bahwa wanita yang penuh peduli kepadanya saat ini sedang dalam keadaan tidak sehat, membuat ia tak habis fikir bagaimana bisa wanita ini tidak mencari dirinya jika memiliki sisi perhatian bak malaikat seperti sekarang ini.


“Somi, ibu akan kedalam sebentar, temani teman mu disini” celetuk Iriana sesudah memeriksa kondisi James, membuat Somi menganggukan kepala dengan berat, ia berlalu kedalam sedangkan Somi mendudukan diri disamping James, mereka berdua sama-sama terdiam atas apa yang harus diucapkan, sebab Somi sama tidak menyangkanya dengan James saat ini


“Apa kau fikir wanita seperti itu dengan tega meninggalkan mu? Jika tidak diposisi terpaksa?” putus Somi didalam diam mereka


“Entahlah, aku tidak ingin mempercayai topeng manusia, sebelum aku memastikan alasan nya” balas James kepada adik nya itu.


Sedangkan didalam rumah, Iriana terlihat berada di dapur kecil mereka, Iriana ambruk dari tegak nya setelah menyaksikan mata itu, mata itu adalah mata anaknya James. Iriana sangat yakin dengan hal itu, ia dapat merasakan jika pria tersebut adalah anaknya, Iriana tidak menyangka anaknya masih hidup, bahkan begitu bugar dan sehat,membuat wanita itu tidak percaya dengan situasi kacau yang dihadapinya saat ini, disaat James lahir kedunia mata indah itu yang pertama kali membuat Iriana jatuh cinta hingga begitu susah melupakan nya, bagaimana tidak mata biru yang indah itu sangat jarang dimiliki orang didunia ini, bentukan nya yang simetris membuat Iriana menandai itu hanya milik anaknya sendiri, dan sekarang mata itu melihat dirinya dengan penuh ketakutan dan amarah, bahkan membuat Iriana hampir kehilangan arah dan ketenagan setelah begitu kaget menyaksikan anak yang dikira telah meninggal ternyata masih hidup, dan pria itu bertubuh tinggi dan bugar, persis sekali dengan suami nya, membuat Iriana tidak menyangka dengan semua ini.


“Apa yang harus aku lakukan” rintihnya dengan ketakutan, bahkan tubuhnya gemetar tak karuan, membuat Iriana menghapus air mata yang terus berderai dengan kasar, ia begitu gemetar akibat gugup yang berkepanjangan, bahkan tak redup meskipun Iriana menghirup oksigen dengan panjang.


Namun dibalik perasaan takut dan gusarnya, ada sebuah kebahagian yang tidak mampu dirasakan nya, rasa haru tentu menjadi penyejuk ketika tuhan mengirimkan hadiah yang sangat istimewa, yaitu anak nya masih baik-baik saja, seketika Iriana mengucap syukur atas kehidupan ini, meskipun begitu banyak kepahitan yang ditelan, namun rasa haru ini sangat manis hingga membahagiakan, dengan cepat Iriana mengendalikan diri dan mencoba untuk meraih baskom kecil yang di isi air panas bersama dengan handuk, ia menarik nafas panjang dengan memberanikan diri untuk keluar.