
Tepat pada bulan kedua di awal tahun ini, jatuh pada bulan Februari yang biasanya di simbolkan dengan burung Phoenix yang memiliki makna sebagai pribadi yang kuat dan berkedukan tinggi untuk orang di sekelingnnya. Kedua calon anak dari Airyn Petrov dan juga Hansell Hamillton akan lahirkan, tangal kelahiran keduanya sudah di jadwalkan hari ini, dan membuat Merry serta Darrel sedari tadi menunggu di rumah sakit, tentu dengan gurat panik yang tidak bisa mereka sembunyikan.
Tentu saja suaminya Zates tidak di Negara ini, dan Merry tidak mengetahui kenapa Zates tidak bisa di hubungi padahal ia sudah berjanji akan menemani anaknya untuk persalinan nanti, namun apapun alasan dan kendala yang Zates alami, membuat Merry lebih terfokus akan Airyn, sungguh Merry tidak menyangka takdir Airyn hampir sama dengan dirinya, dulu ketika Merry ingin memperjuangkan Airyn ke dunia ini, ia berjuang sendirian tanpa siapapun yang menemani, tentu saja Louis Petrov dan juga Charllot hanya menunggu di luar ruangan, sedangkan Merry mempertaruhkan hidupnya sendirian, dan sekarang putrinya itu juga memiliki nasib yang sama, sungguh Merry tidak percaya jika hari ini akan tiba dengan rasa sedih dan bahagia yang bercampur aduk.
Di ruang persalinan yang berada di lantai dua rumah sakit, Airyn telah di kelilingi oleh perawat dan juga para Dokter, wanita yang penuh akan keringat dan air mata itu tengah berjuang setelah kontraksi otot rahim dan saat ini tengah pembukaan leher rahim (serviks). Beruntung si kembar yang ada di perut Airyn juga tegah berjuang hal yang sama, dan keduanya berada dalam persentase baik dan sangat memungkinkan untuk Airyn melahirkan dengan cara yang normal.
Merry tengah duduk dengan perut yang mulai melendung, bahkan saat ini putri yang Merry kandung berjenis kelamin perempuan, dan bahkan Merry tidak menyangka jika dirinya merasa cukup gemetar saat menyaksikan Airyn di dalam, untuk itulah Merry menenangkan diri di luar ruangan agar bisa menemani anaknya dengan do'a.
“Ny.Merry. Ibu Airyn meminta anda masuk ke ruangan” cap seorang perawat wanita yang kala itu baru keluar dari arah dalam, membuat Merry berdiri dari duduknya seolah pangilan itu harus ia tunaikan, tapi apakah Merry sanggup menemani Airyn?
Takutnya malah dirinya yang jatuh pingsan ketika tidak sanggup melihat keadaan Airyn yang tersiksa sendirian.
“Merry, anda pasti bisa untuk menemani Nona Petrov” tukas Darrel yang kala itu ada di samping Merry, membuat wanita itu mengalihkan pandangan kearahnya, akibat terlalu panik membuat Merry melupakan keberadaan Darell disana.
“Aku takut sekali” lirih wanita itu ketika meremukan jemari tanganya.
“Anda pasti bisa, hanya anda yang bisa menemani Nona airyn” ucap Darrel ketika meyakinkan Merry.
Membuat wanita itu menatap kearah dalam untuk menyaksikan anaknya yang tengah kesakitan. Tentu saja Merry mengumpulkan kekuatan seraya melangkah masuk kearah dalam.
Hingga langkah kaki seseorang yang mengaung di lorong itu, membuat Merry membalikan badan, bahkan wanita itu menatap kehadiran suaminya yang tengah tergesa-gesa berlari kearah mereka, mata Merry menatap panjang untuk mengakses suaminya yang penuh cemas dengan wajah gugup, bahkan Darrel terdiam di posisi tegang ketika menyaksikan sosok yang tengah hadir di samping Zaterius, dan sosok itu adalah wajah yang begitu akrab di kenali Darrel selama ini, bahkan hampir sepanjang karirnya ia menatap wajah itu setiap saat, Darrel yang begitu tenang dan penuh akan sikap wibawa itu, benar-benar merinding hebat ketika Hansell Hamillton berjalan di sisi Zates, seoalah sosok itu menjadi pribadi baru yang diakses oleh kedua mata Darrel.
“T-Tuan Hansell”
“H-Hansell”
Lirih kedua orang yang begitu gugup dan penuh akan rasa gemetar dan tidak percaya, Hansell Hamilton yang Merry temui terbaring di rumah sakit itu, kali ini berdiri tegas di samping suaminya dengan wajah tenang penuh akan wibawa, bahkan nampaknya Hansell begitu luar biasa sehatnya hingga air mata haru di kedua manik Merry terpancar kearah menantunya.
Sedangkan Darrel malah sebaliknya, ia yang tidak percaya akan apa yang ia lihat, seperti melihat sosok manusia lain yang tidak mampu ia jangkau di kehidupan ini,buaknkah Hansell Hamilton sudah meninggal, bahkan sudah ada tempat persemayamanya yang beberapa kali Darrel kunjungi, dan sekarang sosok yang ia percayai sudah tiada berdiri tegar di hadapanya, dan bahkan membuat Darrel tidak mampu berkata-kata selain gemetar dan penuh akan waspada.
“T-Tidak mungki itu Tuan Hansell, Merry apa kau melihat itu, kau melihatnya kan Merry, itu Hansell, tapi tidak mungkin dia hantu, dia bahkan berjalan diatas keramik dengan kedua telapak kakinya” heboh pria itu saat menguncang tubuh Merry yang berdiri kaku.
“Merry, bagaimana dengan Airyn. Apa dia sudah melahirkan?” tukas Zates saat mendekati istrinya, bahkan pria itu menatap penuh peduli seolah mengiginkan jawaban dari istrinya secepat mungkin, sedangkan mata Merry tidak mampu ia lepaskan dari Hansell.
“Ini siapa? Ini tidak mungkin Hansell kan” lirih wanita itu ketika melihat gurat wajah dari suami anaknya, tentu saja itu adalah wajah Hansell Hamilton, tapi kenapa pria itu menampilkan gurat biasa saja hingga membuat Merry meragukan jika itu bukanlah menantunya, bahkan Hansell seperti tidak mengenali dirinya dan hanya memasang wajah biasa tanpa emosi apa-apa, bahkan ia menatap penuh bingung atas reaksi Merry dan Darrel.
Membuat Zates sadar jika saat ini fokus dua orang itu hanya tertuju pada Hansell, bahkan ia melihat kearah samping sebab melupakan tentang menantunya.
“Dia hansell, tapi dia tidak mengigat apapun” jelas Zates dengan penuh sesal, entah kenapa ini cukup sulit untuk di jelaskan, bahkan kesembuahan Hansell yang berkembang pesat seperti mukjizat yang tidak bisa di jelaskan Zates dengan kemampuan medis, namun sayangnya pria itu kehilangan seluruh memori dan tidak mengigat apapun selain namanya sendiri dan seputar kehidupanya saja mentok pada angka 15, ia seperti kembali kemasa dimana ia tidak mengenal Airyn dan tidak ingat akan apapun.
“Kenapa Hansell bisa seperti itu, kau bercanda kan!!” bentak Merry seolah tidak bisa menerima ini.
“Aku sungguh menyesal, tapi ini di luar kapasitasku secara pribadi. Lupakan tentang hansell sekarang Airyn bagaimaa?” tanya Zates sekali lagi.
“Airyn tengah berjuang untuk pembukaan yang terakir, ia bahkan hampir kehilangan kekuatan namun ia tetap berusaha melahirkan normal”
“Apa dia bercanda” teriak Zates kehadapan istrinya.
“Airyn bukan melahirkan satu anak saja, ia akan mengeluarkan dua anak dari perutnya, jika ia menyai-nyiakan kekuatan itu hanya akan memberikaan dampak buruk pada kesadaranya”
“Tapi Airyn yang meminta seperti itu, aku sudah menyarankan untuk operasi saja, tapi Airyn tidak mau”
“Tidak bisa, aku akan bicara dengan anak ku” kekeh Zates ketika berlalu kearah dalam , ia bahkan meninggalkan Merry dan Darrel tanpa menjelaskan apapun akan Hansell.
“Bagaimana dengan keadaan anak ku” ucap Zates hingga mengalihkan fokus semua orang.
“Tuan anda harus tenang” cegat seorang perawat pria.
“Tapi dia anak ku, aku akan menemaninya” kekeh pria itu dengan heboh, bahkan membuat semua tim Dokter mengalihkan pandangan kearahnya.
"Iya saya mengerti, jika anda tidak bisa tenang, anda tidak bisa di ruangan ini. Karna bisa saja menganggu konsentrasi ibu"
“Apa kau gila memintaku ke luar! Bagaimana dengan tekanan darahnya? Apakah memungkinkan untuk melahirkan normal” ucap pria itu saat menerobos pertahanan, membuat beberapa perawat menahan tubuh Zates lantaran ia dipenuhi akan kepanikan.
“Tuan, lebih baik anda keluar. Anda tidak boleh membuat keributan, Dokter akan bekerja sebaik mungkin untuk menyelamatkan putrri anda” ucap pria itu ketika bersusah payah menahan tubuh Zates.
Hingga akirnya Zates naik pitam atas sikap mereka yang keterlaluan, seharusnya mereka perlu berkonsultasi hal ini pada wali Airyn dari pada menuruti permintaan wanita itu, bahkan ketika zates ingin mengetahui keadaan anaknya, mereka malah mencegat, sungguh hal ini membuat Zates naik pitam tanpa mampu menahan emosinya.
“Apa kau gila memaksa ku keluar. Aku adalah ayah dari Airyn. Aku bahkan perlu tahu kondisi Airyn anak ku, dan kau memaksa ku keluar. Siapa yang bertanggung jawab di sini” bentak Zates dengan tidak terima, membuat Merry menghampiri suaminya lantaran suara pria itu menembus kearah luar.
“Sayang tenanglah”
“Bagaimana aku bisa tenang, saat mereka tidak mengizinkan aku untuk mengetahui keadaan Airyn. Apa mereka semua tidak memiliki otak” teriaknya dengan tidak terima, sedangkan Airyn tengah bersusah payah menahan kesakitan sembari berusaha mengontrol pernafasan.
“A-Ayah” lirih Airyn saat melihat ayahnya, membuat Zates menepiskan tangan perawat itu seraya menghampiri anaknya, ia mengegam tangan Airyn sambil mengusap keringat yang membasahi wajahnya.
“Sayang, apa kau baik-baik saja?” tanya Zates pada anak gadisnya yang akan menjadi seorang ibu, bahkan Zates memeriksa keadaan putrinya sembari membantu Airyn mengontrol pernafasan.
Meliaht sikap Zates itu, membuat semua orang terdiam menatap kearahnya, bahkan nampaknya ia cukup ahli di bidang itu untuk membantu anaknya mengontrol kekuatan dan juga mengendalikan pernafasan.
“Apakah anda Dokter Laos?” tanya seorang pria yang cukup muda dari usia Zates, bahkan pria itu adalah Dokter yang mengantikan Dokter kandungan yang seharusnya bertanggung jawab untuk kelahirn anak dari Airyn, mendengaar pertanyaan itu, Zates hanya memalingkan wajah seolah cukup enggan menjawab, ia sungguh tidak peduli akan apapun, selain membantu anaknya yang tengah berjuang.
“Astaga, dia benar-benar Dokter Zaterius” gumam sang Dokter yang terdiam memandang kearah Zates, bahkan ia menghentikan tingkah anak buahnya yang tadi mencegat Zaterius, dengan segera pria itu mengambil fokus untuk memantau keadaan Nona Petrov.
Seorang wanita yang hampir seusia dengan Merry memasuki ruangan itu dengam tergesa-gesa, tentu saja ia adalah Dokter yang seharusnya bertanggung jawab untuk kelahiran Airyn, akibat beberapa hal darurat terpaksa seorang Dokter pria yang bisa di percaya itu mengantikanya.
“Maaf aku terlambat” ucapnya sembari mengunakan sarung tangan karet berwarna putih, ia bahkan mengambil alih hingga terpaku kearah Zateruius.
“D-Dokter Laos” ucapnya dengan tergugu, bahkan ia begitu kaget saat melihat pria itu tengah mengenggam tangan pasienya dan tengah berjuang membantu wanita yang mengadu nafas dan kekuatan itu.
“Apa ini waktunya untuk kau terpaku, cepat ambil alih anak ku.” Teriak Zates dengan geram, bahkan ia begitu kesal atas segala sikap Dokter yang menangani anaknya, akibat beberapa hal dan kendala membuat Zates tidak bisa menghandel Dokter terbaik untuk prosesi kelahiran cucunya, dan bahkan sudah membuat Zates cukup kesal ketika melihat Airyn yang begitu kesusahan seorang diri, dan mereka malah membiarkan begitu saja.
“Tekanan darahnya normal, namun jika terus di biarkan menanggung kesakitan, hal itu tidak akan membuatnya bertahan. Karna Airyn sangat mengiginkan kelahiran normal, maka segera siapakan cadangan darah untuk antisipasi jika nanti terjadi sesuatu di luar perkiraan” ucap Zates pada wanita yang tengah menangani anaknya, bahkan Zates menjelaskan dengan begitu tegas sehingga mereka bergerak dengan cepat.
“Berapa tekanan darah pasien?"
“120” jawab Zates. Membuat mereka memandang pria itu dengan penuh kagum, ia bahkan hanya memeriksa tanpa mengunakan alat, bagaimana bisa pria itu mengatahuinya. “Tekanan darahnya normal, dan ia cukup sehat untuk kelahiran normal, dan posisi anaknya sudah sempurna dan tidak akan butuh waktu lama untuk kelahiran” sambung Zates sekali lagi, membuat wanita itu menaggukan kepala seolah sangat mengerti.
Semua orang bersiap-siap untuk waktu kelahiran. Dan saat ini Airyn tengah mengontrol pernafasan bahkan ia bersusah payaj mendorong anaknya untuk keluar dari rahimnya, genggaman tangan Zates bahkan kedua mata Zates yang menatap Airyn penuh peduli, bahkan ia menyaluhkan kekuatan untuk membuat putrinya bertahan.
Airyn berteriak sekencang mungkin, dan bahkan Zates mengusap keringat yang memenuhi dahi anaknya, hingga kedua tangan Merry tak henti untuk berharap dan berdoa, sedangkan Zates berjuang keras membantu Airyn mengumpulkan kekuatan.
“Ayah maafkan aku” tangis Airyn yang ia ucapkan dengan penuh kesakitan itu sungguh membuat air mata Zates menetes, bahkan ucapan maaf dari anaknya membuat Zates melihat cinta yang dalam, Airyn sungguh tidak pernah melakukan kesalahan, namun di detik ia melahirkan, Airyn meminta maaf dengan penuh tulus sambil mengumpulkan kekuatan, tentu hati Zates terenyuh akan pandagan pasrah dari anak semata wayangnya, dan bahkan membuat Zates tidak menyangka ia bisa menemani putrinya untuk menjadi seorang ibu.
“Ayah memaafkan mu sayang, bertahanlah. Kau akan menjadi seorang istri dan ibu” ucap Zates ketika berbisik di telinga putrinya, bahkan teriakan Airyn mengema di ruangan yang penuh akan perjuangan.