
Semenjak dirinya menaiki mobil yang cukup layak untuk di tumpangi oleh Nona Petrov, Airyn menyelisik secara menyeluruh orang-orang yang ada di sekitarnya, sangat jelas mereka tidak seperti penjahat ataupun pembunuh bayaran yang identik dengan kata ganas dan seram, mereka seperti beberapa orang intelektual yang cukup dingin sehingga penampilanya saja tidak membuat Airyn memberikan sikap antisipasi.
Hanya saja ada hal aneh dari semua ini, cara bersikap mereka kepada Airyn memutus semua kemungkinan yang Airyn terka-terka, ia tadinya berfikir jika orang yang selama ini menyengsarakan hidupnya adalah tipe manusia yang notabenya musuh ayahnya Petrov, sehinggga Airyn akan menjadi makanan penutup untuk di hancurkan, namun kali ini segala hal terbantahkan saat mereka bersikap sopan dengan memanggil “Nona Airyn”
“Nona, apa anda baik-baik saja?” ucap seorang wanita yang ada di samping Airyn, membuat Nona Petrov mengalihkan pandangan saat suaranya menembus kesadaran, Airyn sedari tadi mendengar mereka mengatakan nama “Tuan Zates” namun Airyn sendiri tidak pernah mendegar nama itu sebelumnya "Siapa itu Zates? Apakah dia orang di balik surat kontrak itu?"
“Jika anda merasa tidak nyaman, katakan saja. Karna Tuan Zates berpesan anda harus dalam keadaan baik untuk bertemu dengan dirinya. Selama ini beliau tidak sabar akan pertemuan kali ini, saya sebagai sekretaris pribadinya sangat menantikan pertemuan antara kalian berdua—“
“Cukup!!” bantah Airyn dengan tatapan menajam seolah gerah akan penuturan yang sedari tadi menganggu dirinya “Apa anda tidak merasa bersalah dengan sikap ini. Anda bahkan disimpulkan melakukan aksi penculikan, namun bersikap ramah dan penuh hormat pada tawanan. Di tambah anda selalu menyebut pria bernama Zates dengan segala pujian tentang dirinya, sebenarnya lelucon apa yang tengah anda mainkan Nona, bahkan aku tidak pernah mengenal yang namanya Zates, dan untuk apa kau membicarakan seluruh kebaikan pria yang sama sekali tidak aku pahami siapa dirinya” sontak ucapan Airyn itu membuat mata Sabrina selaku orang kepercayaan Zates membulat
tidak percaya.
“A-apa anda tidak pernah mengetahui tentang T-tuan Zates?” tanya wanita itu dengan bingung saat menatap wajah Airyn yang begitu kesal, tentu saja selama ini Sabrina telah ikut bersama tuanya sebagai sekretaris kepercayaanya, bahkan Sabrina sendiri berhutang budi pada pria itu karna kebaikanya, hingga perlahaan Sabrina mengetahui tentang kehidupan Zates sendiri, yang memiliki putri bernama Airyn, tentu saja Sabrina mengenal Airyn Petrovika yang cukup mengemparkan dunia, dan alasan dibalik kekuasaan dan kehebatanya tentu karna Zates sendiri yang selalu menyokong APV Petrov, tapi bagaimana mungkin Airyn tidak mengetahui tentang ayah kandungnya sendiri, jika pria yang penuh kasih sayang itu setiap hari selalu memantau Airyn dari jauh, bahkan ia selalu memasang wajah gadis itu di kamar tidurnya, hingga rumah utama Tuan Zates yang berada di Irlandia saja dipenuhi oleh Nona Merry Lourent beserta Airyn Petrvika, sebenarnya apa yang terjadi? Ataukah sabrina telah melakukan kesalahan sebab melanggar batasan!
"Memangnya siapa Tuan mu itu!!” tanya Airyn dengan mengancam, membuat Sabrina membalikan wajah seolah berfikir tentang sesuatu, apakah ini yang di maksud oleh Tuan Zates, untuk meghilangkan sikap ramah Sabrina kepada Nona Airyn, jika saja ini alasan peringatan yang di berikan pria itu, sangat jelas Sabrina berada di dalam masalah.
“Lupakan saja! Maaf aku menganggu anda Nona” kali ini Sabrina membatu di samping Airyn yang dikenal sebagai putri tercinta dari Tuanya Zates, tentu Sabrina tidak bisa berkata-kata selain berfikir-fikir tentang apa yang ia lakukan tadi.
Selama ini Sabrina adalah sekretaris Tuan Zates selama beliau menjadi seorang Dokter di Amerika Serikat, bahkan perusahaan obat yang di dirikan oleh Tuan Zates itu adalah campur tangan Sabrina dalam mengembangkan, sebab ia terkenal jenius di bidang farmasi membuat Zates sangat menyukai kerja keras serta semangat Sabrina, namun kenapa ada ruang aneh diantara ayah dan anak ini, dan sebenarnya hal apa yang tidak Sabrina ketahui.
Zates yang di kenal Sabrina sebagai pria baik dan sangat jenius itu, seperti memiliki dinding dengan anaknya, padahal yang selama ini Sabrina kenal pria itu selalu menceritakan tentang putrinya seperti mereka sangat dekat sekali, tidakah ini aneh. Bahkan Tuan Zates bercerita Tentang Nona Airyn dari masa kecil hingga dewasa, dari Nona Airyn mulai jatuh cinta hingga akirnya menikah, namun kenapa wanita itu tidak mengenali ayah kandungnya, sedangkan Tuan Zates malah sebaliknya, tidakah ini aneh!
Di sebuah gedung bertingkat yang Airyn sendiri tidak mengetahui itu dimana sebab ia tidak begitu kenal dengan daerah di Negara ini, sebab Airyn baru beberapa bulan menetap di Korea, hanya saja Airyn dapat melihat gedung ini sangat jauh dari perkotan lantaran akses gedung tidak terlalu terekspos oleh mata, Airyn yang tadinya menunggu di lantai atas kali ini diarahkan mengikuti mereka kelantai dasar, dia berada di sebuah perusahaan yang terbilang tidak besar dan mewah, namun sepertinya berbeda setelah memasuki lift yang ada di lantai dasar tersebut, selama ini Airyn selalu menaiki lift yang memanjat kearah atas, namun kali ini ia malah jatuh kearah bawah, bukankah ini pertanda jika Airyn akan berada di ruang bawah tanah, bahkan kecepatan dan juga lama waktu di dalam sana membuat Airyn dapat memindai jika ia akan seperti melewatkan 10 lantai jika menaiki lift di kantornya, jika saja memang benar pengukuran yang Airyn terapkan, bukankah sangat curam keberadaan dirinya di bawah sana, membuat tubuh Airyn merinding saat memikirkan kedalaman yang ia tempuh.
“Silahkan keluar Nona” ucap Sabrina kepada Airyn yang masih berfikir di dalam renunganya, kali ini ia tidak memiliki pilihan selain mengikuti arahan mereka, sebab Airyn juga tidak punya jalan keluar untuk menyelamatkan Hansell selain ini, cara satu-satunya adalah memberanikan diri.
Meskipun selama ini sikap Airyn berbeda dari cara kerjanya sendiri, tapi untuk Hansell dia tidak punya pilihan.
****
Merry masih di landa ke khawatiran saat Zates memberikan perintah penjemputan Airyn, bahkan Merry tidak mampu membayangkaan bagaimana hancurnya wanita itu ketika melihat sosok ayahnya yang masih hidup, Zates sangat keras kepala meskipun berulang-ulang Merry bicara, bahkan pria itu tidak mempertimbangkan keputusan yang Merry kemungkakan, sehingga malah membuat Zates mengebu-gebu akan keputusan finalnya.
“Kau tidak bisa seperti ini” kali ini Merry membuka ruang bicara lagi untuk memperingati Zates “Apa yang akan dia lakukan saat mengetahui jika dirinya bukan anak dari Louis, melainkan dirimu. Apa kau tidak tahu bagaimana Airyn terluka hingga hilang kesadaran saat mengetahui jika Charllot bukan ibu kandungnya melainkan diriku. Kau mungkin tidak akan menyadari bagaimana rasa sakit menerima hal mustahil ini. Tapi di hidup Airyn berbeda Zates, dia telah menerima semua kemustahilan itu sedari janin, seharusnya kau bisa belajar dari masa lalu untuk mempertimbangkan hal ini jika kau merasa sangat mengerti akan putrimu” ucap Merry saat membawa luka masa lalu Airyn kepermukaan, membuat Zates memalingkan wajah melihat wanita yang berada di tepi ranjang yang tengah mengajukan protes
padanya.
“Lalu apa kau ingin dia bahagia dengan kebohongan! Dia tidak pantas mencintai pria yang mencelakai dirinya, bahkan dia tidak pantas menganggap Louis dan Charllot sebagai orang tua” balas Zates dengan tidak terima, membuat Merry ingin menyanggah ucapan pria itu namun Zates tidak memberi Merry ruang untuk hal itu
Merry terdiam mendengar bantahan Zates yang mengunakan umur Airyn sebagai alasan, meskipun itu tidak salah, tapi sedewasa apapun Airyn dia tetaplah seseorang anak dari kehidupam orang tuanya yang salah, seharusnya Zates bisa mempertimbangkan mental seoang anak untuk mengungkap masa lalu konyol yang mungkin seprti mimpi buruk bagi siapapun.
Merry berdiri dari sana sembari menghampiri pria itu, Merry yang sangat takut dan selalu gugup menatap mata Zates, kali ini memeberikan pertentangan yang nyata, ia membalikan tubuh pria itu untuk menatap dirinya secara lekat-lekat, setelah dipastikan pandangan Zates tidak lepas dari pantauanya, Merry memberikan senyum sungging penuh rasa penghinaan “Apa kau ingin bertaruh dengan diriku? Apakah Airyn akan menerima atau menolakmu. Tentu aku berada di argumentasiku, jika Airyn di pastikan menolakmu”
Sontak mata Zates berkabut atas ancaman yang terasa seperti kenyataan itu, bahkaan perkataan dan ucapan Merry membuat dirinya hilang percaya diri.
Yang kali ini terlintas adalah, bagaimana bisa Airyn menerima ayah kandung yang sudah membunuh ibu pria yang ia cintai, membuat tubuh Zates menegang penuh rasa takut. Dengan kasar Zates mencengkram lengan merry membuat wanita itu meringis, tentu Zates tidak lagi memakai hati sebab perkataan Merry benar-benar mebuat dirinya kalah talak
“Atas dasar apa kau menganggap putriku tidak menerimaku, aku akan membuat anakku mengakui aku sebagai Ayahnya, karna aku pantas untuk panggilan itu. Aku tidak ingin seperti dirimu. Yang merelakan darah daging sendiri untuk menjadi permainan oleh orang lain, jika sedari awal tujuan mereka baik aku akan menyerahkan putriku dengan suka dela, tapi apa kau tahu hal apa yang tidak bisa aku terima. Jika Charllot ingin membunuh putriku!!” ancam pria itu dengan geram, seolah ia yang begitu ingin menutupi segalanya dari Merry, malah lepas kendali seolah tidak mampu mengelola emosi
"Karana kau sudah memancingku sejauh ini, bair aku ceritakan hal yang tidak mungkin bisa kau percaya namun itu adalah kenyataan nya. Menurutmu penculikan Airyn di masa lalu apakah itu hanya kebetulan semata? Bahkan Griffin bisa mengetahui sesuatu yang terjaga rapat antara dirimu dan dua pasangan itu sampai membukanya pada putri kita? Apakah kau yakin jika Charllot benar-benar sudah meninggal disaat penculikan yang terjadi pada Airyn!?" Sontak sumua yang dikatakan Zates memenuhi seluruh kepala Merry hingga tidak bisa membantah.
Tentu Merry menegang mendegar penuturan Zates yang tidak masuk akal, seolah ia tidak bermain-main atas perkataanya, tapi tidak mungkin hal itu terjadi, melihat kebingungan di wajah Merry membuat Emosi Zates semakin membanjiri, seolah wanita itu memang bodoh hingga mendarah daging, bahkan masih ada keraguan sampai detik ini untuk mempercayao Louis dan Charllot.
Dia menghempaskan tubuh Merry di ranjaang besar itu, sembari berlalu dari kamar, diarah depan Zates menatap Dorbin yang sebegitu gugup meliriknya “Jaga dia baik-baik” perintah Zates sembari berlalu dari kamar itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi" gumam Merry dengan tubuh bergetar takut, atas perkataan Zate yang tidak mempunyai alasan.
****
Di lobby utama Zates ingin memasuki ruangan dapur sebab alkohol cukup bagus mengelola perasaanya, namun ia mengurungkan niat untuk memilih ruang kerja, perasaan kesal yang masih mengerogoti dirinya membuat Zates mengambil ponsel untuk menghubungi Sabrina.
Melihat nama Tuan Zates tepampang di ponselnya, mrmbuat sabrina secara alami menjaga jarak dari Airyn, sembari mengangkat ponsel itu dengan suara rendah “Ada apa tuan?” sapa wanita itu kepada Zates.
“Apa kau sudah membawa Airyn dengan selamat?” tanya zates dengan nada dingin yang terasa begitu kesal.
“Sudah, dia hanya perlu menaiki kereta untuk menuju ke tempat anda, apakah ada yang perlu aku lakuakan lagi?” tanya wanita itu untuk sebuah penawaran, membuat Zates mengepalkan tangan sembari menatap penuh suram.
“Bagus. Hanya saja aku ingin mengubah rencana. Antarkan Airyn ketempaat suaminya, aku ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa di ganggu. Namun ketatkan penjagaan untuk mereka” sontak Zates memutus panggilan itu, membuaat Sabrina terdiam.
Apakah memang ada sesuatu yang tidak beres yang sebelumnya tidak di ketahui Sabrina tentang Tuanya Zates?
Sebab tadinya Sabrina diberi perintah untuk menjemput Nona Airyn dengan sikap baik penuh sopan, lalu diantarkan ke ruangan Tuan Zates untuk berhadaan langsung dengan dirinya, tapi kenapa kali ini beliau malah mengantarkan Nona Airyn ke tempat suaminya dan malah memperketat penjagaan seolah memperlakukan putrinya seperti tahanan, tidakkah ini aneh.
Jika benar seperti itu, sudah di pastikan memang ada sesuatu yang terjadi diantara mereka yang Sabrina sendiri tidak mengetahui sisi lain dari semua kebingungan ini.