Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Menghilangkan jejak



Perlahan Angel mulai mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, kenapa dirinya di paksa bersembunyi ke Irlandia dan tidak di perbolehkan kembali ke rumah utama, ternyata akibat kakaknya menghilang, pantas saja kakak iparnya berusaha melindungi Angel karna bisa saja Angel menjadi target selanjutnya mengingat penculikan yang terjadi dulu.


Ada sedikit rasa bersalah pada Airyn yang mulai menjadi penyesalan bagi Angel saat ini, tapi mengingat posisi kakaknya kosong di perusahaan, tentu saja Angel tidak bisa mendiamkan kekacauan ini, di tambah beberapa anggota Direksi mulai menuntut penjelasan, sebab posisi Direktur utama kosong bagaimana bisa perusahaan berjalan.


Saat ini Angel sangat sadar, kakaknya tidak ada di tempat, untuk itulah ia berinisiatif mengajukan diri, sebab Hansell menjadikan Angel sebagai ahli waris kedua atas segala kekayaan yang ia miliki, jadi sudah menjadi tanggung jawab Angel untuk mengelola segala kekacauan yang terjadi di perusahaan saat ini.


Hari ini, Angel tidak gentar kembali ke Korea untuk mengumumkan dirinya sebagai pemimpin sementara, dan Angel mengambil alih perusahaan kakaknya sampai pria itu kembali, tentu saja Dikra berdiru samping Angel untuk menemani langkah kekasihnya, bagaimanapun Angel memang buta akan bisnis dan juga menjadi pemimpin di sebuah perusahaan, tapi tidak menutup kemungkinan jika Angel merupakan gadis yang cukup pintar, di tambah Dikra lulusan dari sekolah bisnis terkemuka di Irlandia, setidaknya dua pasangan itu saling melengkapi untuk menopang perusahaan Hansell saat ini.


Begitupun di perusahaan Airyn, meskipun saat ini tidak ada yang mewakili perusahaan itu, tapi Merry memang sudah menyiapkan segala sesuatu jika nanti Airyn tidak ada di posisinya. Sebelum ini Merry telah membuat sebuah surat perintah yang di tanda-tangani langsung oleh dirinya atas persetujuan Airyn, jika Darrel orang kepercayaan Merry akan mengelola perusahaan Grup APV untuk sementara waktu, dan kali ini Darrel dengan penuh dedikasi dan sikap setia menjalankan posisi yang di limpahkan pada dirinya, bahkan ia manarik Frada untuk keluar dari persembunyian dan berdiri di sampingnya dengan percaya diri, meskipun mereka berdedikasi di perusahaan tetap saja Darrel dan Frada tidak melupakan tugas utamanya, yaitu menemukan keberadaan Nona Merry dan Nona Petrov di malam hari, seolah akir-akir ini tidak ada waktu istirahat untuk mereka berdua, tapi du orang itu cukup menarik dan begitu melengkapi, sebab Frada sangat ahli dengan komputer, meskipun ia tidak pintar Frada mampu mengelola data melalui kecangihan elektronik, sedangkan Darrel yang berpengalaman dalam bidang ini, cukup bisa di andalkan sehingga tidak akan merugikan perusahaan, meskipun kinerjanya tidak sehebat Nona Petrov, setidaknya menempatkan perusahaan di posisi aman adalah tujuan utama untuk saat ini.


Sabrina melepaskan kaca mata yang bertenger di wajahnya, ia menatap kearah orang-orang yang ada di tanganya, meskipun Zates mengatakan untuk tidak ikut campur, Sabrina menganggap semuanya sudah terlambat, ia merasa tidak bisa lagi patuh akan apa yang di perintahkan oleh Zates, sebab sikap tidak patuh dirinya di pancing oleh Zates sendiri, selama ini yang Sabrina inginkan bukanlah suatu jabatan yang tinggi, uang berlimpah, dan juga berlian dan perhiasaan mewah, melainkan keinginan sederhana yaitu pria itu, yaitu Zates seutuhnya.


Tapi Sabrina merasa tidak di hargai dan juga tidak di mengerti, jika Zates menjadikan Sabrina sebagai gadis mulia yang tidak ikut campur dengan dunia gelap dan sisi lain hidupnya, Zates sudah sangat salah ketika berharap hal itu akan terjadi. Bagaimanapun Sabrina seorang wanita biasa yang memiliki sikap jahat jika di perlukan, dan ia akan mengusut tuntas masalah kehidupan Zates melalui masalah perusahaan yang terjadi saat ini, sebab tidak mungkin ada orang yang bisa mengancam perusahaan yang selalu bermain bersih dan berada di zona nyaman, jika tidak memiliki dendam dan tujuan. Tentu saja segala alasan itu adalah sumber masalah yang di hadapi oleh Zates, membuat Sabrina ingin mengali lebih dalam masalah apa yang sebenarkan di hadapi oleh pria yang ia cintai.


“Katakan, apa kau mengenal pria ini?” paksa Sabrina ketika menyiramkan air garam pada luka yang masih segar di tubuh pria itu, bahkan pengkhianat yang tersiksa itu merasa sangat kesakitan sehingga tidak mampu lagi bertahan.


“Tidak. Aku tidak mengenalnya!!” bantah seorang Manager Produksi yang memilih menjadi pengkhianat ata segala masalah yang terjadi, tentu Sabrina bukan gadis baik hati untuk mentoleransi hal seperti ini.


“Apa kau fikir aku bodoh. Lalu apa ini!!” sontak foto-foto pertemuan antara dirinya dan James di lemparkan ke hadapan pria itu, tentu saja untuk mendapatkanya Sabrina harus berurusan dengan kenalanya di kelas mafia, Sabrina mengunakan nama samaran dan juga rekening orang lain untuk membayar mereka, setidaknya ia harus waspada agar Zates tidak mengetahui hal ini, pria yang melihat jajaran foto yang berantakan di hadapanya, mulai panik tak kelapang, apakah ia akan hancur di tangan wanita mengerikan ini? Tapi jika ia berhasil kabur tetap saja ia juga akan hancur nantinya, Seolah mati adalah hal terbaik yang bisa di lakukan untuk kesempatan yang memilih yang sulit.


Melihat tidak ada respon dari Manager Produksi di hadapanya, dan sepertinya Sabrina dapat menebak isi kepala pria bodoh itu, seketika ia memalingkan wajah kepada pria yang sangat menyeramkan dengan raut wajah datar dan tubuh tegap menjulang, mereka langsung mengerti kode yang Sabrina berikan sebab sudah mempersiapkan hal ini untuk tahanan mereka.


Seorang wanita dan anak laki-laki yang berusia muda di seret masuk dengan tangan terikat penuh air mata ketakutan, membuat Manager Produksi tidak percaya jika istri dan anaknya juga di libatkan dalam hal ini, bahkan ia yang tadinya memilih untuk mati saja, mengurungkan niat saat melihat mereka, bagaimanapun jiwanya sebagai seorang suami dan seorang ayah kacau balau ketika di permainkan oleh wanita mengerikan seolah tidak memiliki hati nurani, bahkan wanita itu memberikan senyum kemenangan penuh tatapan menghina.


“Apa anda yakin akan tetap diam Tuan?” tawar Sabrina sekali lagi, sembari menajamkaan mata penuh perhitungan, seolah tanpa bicarapun ia menjelaskan apa yang akan terjadi jika pria itu tetap diam dengan mulut tertutupnya.


“N-N-Nona saya mohon maaf, jangan sakiti anak dan istri saya. S-Saya mengaku mengenal Tuan James, saya mohon lepaskan mereka” ucap pria itu saat bersujud di hadapan Sabrina, membuat gadis itu tersenyum senang saat mendapatkan apa yang ia inginkan.


“Jadi katakan, alasan apa yang membuat pria itu memasukimu ke perusahaan kamu hanya untuk berkhianat, dan aku tidak bodoh. Kau sudah bersama mereka selama 5 tahun belakangan, jadi dari semua yang terjadi aku bisa menyimpulkan, kau adalah bagian dari mereka, bukan? Setidaknya apa yang terjadi diantara kalian dan Tuanku?” tanya Sabrina pada orang yang ia intimidasi, tentu Sabrina mengetahui peraturannya, jika siapapun tidak boleh menyebutkan nama “Zates” pada orang asing, apalagi musuh.


“Saya hanya bekerja untuk Yuan Jilixing” sontak penuturan pria itu membuat Sabrina mengangkat kedua alisnya dengan tajam, siapa lagi Jilixing itu, mengapa banyak sekali orang-orang asing, dan nama-nama berbeda yang ia dengar, sebesar apa masalah Zates sebenarnya.


****


Semua anak-anak tengah sibuk menikmati makanan yang di buat oleh Merry dan Bi Lani, bahkan Zates dan Merry ikut serta menikmati makan malam bersama mereka, Bi Lani meminta Zates dan Merry untuk menginap satu hari di panti, namun Zates menolak sebab dia mengatakan memiliki pekerjaan mendadak, tentu saja Merry tidak bisa melakukan apapun, sebab ia juga berada di bawah tawanan Zates.


Setelah berpamitan pergi, Merry memeluk Bi Lani dan beberapa orang asing yang sepertinya sangat akrab dengan Merry, bahkan Merry mendapkan ciuman di kedua pipinya dari anak-anak masih yang sangat mengemaskan, membuat Zates juga di berikan hal yang sama. Bahkan mereka meminta Merry berjanji untuk membawa Kakak Airyn ke panti asuhan, karna mereka ingin melihat wanita cantik itu, mau tak mau Merry menganggukan kepala meskipun tidak menyetujui janji, karna ia tidak bisa memastikan hal itu, sebab memastikan dirinya akan keluar dari cengkraman Zates saja Merry tidak bisa.


Wanita itu berada di sebuah rumah besar yang tinggi menjulang, bahkan ia melihat nuansa putih di sekitaranya seperti kastil kokoh yang di bangun di pertengahan kota, bahkan Merry tidak menyangka jika Zates memiliki Aset Properti sebesar ini, sehingga membuat Merry terpana akan kehidupan gemilang pria itu, sebenarnya apa pekerjaan Zates sehingga ia mampu mendapatkan semua ini, apakah Zates seorang pengedar obat terlarang yang bermain di jaringan bawah tanah atau ia sekelas mafia, sehingga Zates bisa sekaya ini!! Tapi kenapa Merry tidak pernah mengetahui tentang Zates sebelumnya jika ia termasuk kedalam orang kalangan atas.


“Apa ini rumahmu?” tanya Merry saat mendongakan wajah kearah rumah yang memiliki pilar besar dan kubah dibagian atasnya, bahkan di sebelah kanan terdapat gudang memanjang yang berderet mobil mewah seperti koleksinya, jika benar ini rumah Zates untuk apa ia membangun markas aneh di Korea.


“S-siapa yang kau panggil Nyonya Petrov, jangan mengada-ngada” bantah Merry dengan gugup, ia bahkan mengabaikan uluran tangan Zates yang menunggu dirinya di mobil bagian luar, melihat Merry mengabaikan dirinya dan berjalan angkuh terlebih dahulu, Zates dengan cepat menangkap tubuh wanita itu untuk berhenti, tepat saat dirinya memeluk Merry dari bagian belakang, sembari menyelisik kearah telinga wanita itu.


“Jangan abaikan suamimu, jika tidak aku akan menganggap penolakan ini sebagai sikap malu” ucap pria itu saat mengembuskan nafas panasnya ke bagian telinga Merry, demi apapun Merry tidak mampu berkata ataupun membantah, mendengar Zates bicara tidak tahu malu tentu Merry tidak bisa melawan pria yang selalu memalukan dirinya.


Zates mengandeng tangan Merry untuk masuk ke rumah, di bagian depan mereka di nanti oleh beberapa pengurus rumah yang sudah menunggu ke datangan Zates selama beberapa bulan terakir ini.


“Selamat datang Tuan Petrov”


“Selamat datang Nyona Petrov”


Sontak tubuh Merry merengsek untuk merapat kearah Zates, bagaimana bisa mereka semua mengatakan hal yang membuatnya sangat malu, bahkan sebagian tubuh pria itu mampu menutupi tubuh Merry yang mungil di sampingnya, sehingga ada sedikit rasa berbinar di mata Zates ketika menyaksikan Merry dengan sedikit malu penuh gugup.


“Terimaksih, apakah kalian sudah menyiapkan kamar utama?” tanya Zates ketika berjalan memasuki rumah mewahnya, tentu semua orang membenarkan hal itu, tidak mungkin kabar kedatangan Tuan Zates di abaikan oleh mereka, bahkan melihat Tuan rumah pulang membuat semua pelayan dan pengurus rumah tangga itu merasa bekerja selayaknya profesi mereka biasa, sebab selama ini mereka seperti mengurus rumah mewah tanpa ada majikan di dalamnya, meskipun begitu Tuan Zates tetap memberikan gaji yang setimpal sekalipun mereka tidak bekerja dengan loyalitas seperti biasa.


“Zates, kenapa pelayanmu banyak sekali, dan mereka semua melihatku seperti ingin menerkam saja” bisik Merry ketika memarik lengan baju pria itu, bahkan ia merapat ke tubuh Zates untuk meminta penjelasan.


Entah kenapa Merry tidak lagi merasa waspada seperti dirinya biasa, bahkan secara otomatis ada alaram peringatam ketika berdekatan dengan Zates, namun kali ini terasa begitu nyaman dan santai, hingga Merry sendiri lupa bagaimanaa kodrat dirinya sebagai tawanan pria itu.


“Mereka hanya senang, melihat Tuanya membawa Nyonya Petrov pulang. Percaya atau tidak hanya kau wanita satu-satunya yang menginjak kaki di rumah ku” balas pria itu, ketika mengandeng tangan Merry untuk menaiki tangga, ia bahkan menatap kearah samping ketika bicara mengenai hal itu.


“Benarkah!! Lalu bagaimana dengan wanita mu sebelumnya?” sambung Merry dengan ingin tahu besar seraya menapakan kaki satu-persatu menaiki anak tangga, seketika Zates mengatupkan bibir seolah enggan untuk menjelaskan, namun Merry seperti mengancam ingin mengetahui kebenaran, mau tak mau Zates harus menjelaskan kepada wanita penuntut itu.


“Sebenarnya aku hanya menemui wanita di jalanan. Aku tidak pernah mengundang wanita untuk bersamaku kecuali dirimu, mereka sendiri yang selalu menawarkan diri. Jadi untuk interaksi intens aku selalu membawanya ke Amerika dan melakukan Cek In disana, sebab aku tidak ingin namaku terdaftar di Irlandia” sontak penuturan Zates itu membuat merry terpana, pantas saja ia tidak bisa mendapatkan apapun tentang orang itu, Zates yang sangat jenius itu ternyata mementingkan hal remeh seperti jejek dirinya, apakah ini alasan kenapa sulit menemukan keberadaan Zates di permukaan bumi, sebab ia selalu menghilangkan setitik jejak yang ia toreh di manapun berada.


“Kenapa kau diam saja?” tanya Zates ketika menghentikan langkah kaki mereka, ia takut sekali penuturanya membuat Merry terluka atau tanpa sengaja menyinggung wanita yang ia sukai “T-Tapi setelah hari ini aku tidak lagi melakukan hal itu Merry. Aku bahkan tidak berselera dengan kepada wanita lain lagi. Karna aku benar-benar menyukaimu, tadinya aku berfikir harus menyimpan harapan untuk bersamamu dan menjadikan beberapa wanita sebagai permainan saat bosan, tapi keadaan memaksa untuk aku harus memperkenalkan diri, meskipun semua ini seperti fakta gila, namun bagi diriku yang selalu di bayang-bayang kehidupan kalian, aku meganggap ini semua tidaklah konyol, bahkan kalian yang terlihat konyol karna tidak bisa menyadari tentang diriku”


Sambungnya dengan begitu cemas sebab wajah Merry mengelap setelah penuturan barusan, entah kenapa Zates merasa canggung serta gugup, bahkan selangkah lagi mereka bisa memasuki ruang kamar, namun keaduanya sama-sama terhenti di posisi.


“Apa itu kamarmu?” tanya Merry saat memalingkan wajah kepintu besar yang sangat kokoh di hadapanya, bahkan ukiran bernuansa batik indonesia bercat putih itu dapat mengambarkan bagaimana kesan Clasik yang di ciptakan dengan perpaduan gaya Eropa, membuat siapapun mengerti pintu itu terbuat dari kayu sutra murni yang sulit di di dapatkan, selain itu Merry juga menyadari pintu kamar itu berbeda dengan seluruh pintu yang ada di lantai atas, seolah memang di buah khusus dan berbeda.


Sekian lama Zates memandang kearah wanitanya, ia memilih menganggukan kepala ketika membenarkan pertanyaan Merry, bahkan Zates bingung kenapa Merry bertanya tentang kamar itu, lain dari itu kenapa situasi diantara mereka malah menjadi canggung, seolah Merry yang tengah mengintimidasi dirinya, dan Zates yang berada di bawah pengaruh gugup, bukankah ini harus kebalikanya, mengingat Merry adalah seorang tawanan di bawah perangkap Zates. Benar-benar wanita berkarisma yang sulit untuk Zates abaikan


Tanpa aba-aba wanita itu menarik tangan Zates memasuki kamar serta membanting pintu dari arah dalam, ia melemparkan tubuh Zates kearah depan, seolah marah sudah membanjiri dirinya bahkan Merry seperti berbeda dari dirinya yang selalu gugup ketika berinteraksi dengan Zates.


Ketika pria itu melihat kearah Merry, wanita itu menatap balik penuh pertentangan, langkahnya satu persatu maju dengan tegas, seolah menatap kedua bola mata Zates tanpa berpaling sedikitpun, secara sadar Zates malah mundur untuk melindungi diri dari intimidasi yang Merry berikan.


“A-Apa aku melakukan kesalah?” tanya pria itu dengan gugup, ketika tubuhnya terhenti di pinggiran ranjang yang begitu besar, bahkan Zates tidak bisa mundur lagi dari sana, sebab Merry yang terus mendekat dan juga mendesak dengan aura mengerikan, membuat pria itu merasa di hantui oleh rasa takut, kali ini Merry tidak akan segan lagi, ia mendorong kasar tubuh Zates kearah ranjang untuk memperlihatkan bagaimana ganas dirinya yang sebenarnya, bahkan orang-orang sering mengatakan, dengan bertatapan mata dengan Nerry sesungguhnya musuh-musuh akan terintimidasi hingga memunculkan rasa takut, dan kali ini Merry menindih tubub Zates di bawah pengawasan matanya, untuk menekan bagian dada bidang pria itu mengunakan jari telunjuk.


“Apa yang menjadi tujuanmu sebnarnya, sehingga menyembunyikan diri se-sempurna itu” sontak penuturan yang Merry lontarkan membuat mata Zates terpana, apa yang bisa ia balas dengan pertanyaan singkat yang begitu menusuk tajam.