Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
[Episode :8] Nona Petrov



Rasidane Golden Petrov


“Merry apa semuanya sudah berada di tempatnya?” tanya Airyn kepada Merry dengan begitu riang, bahkan ia tengah duduk di sofa lebar dengan mengangkat kaki sembari memeriksa cat kuku yang baru saja di pasangnya.


“Sudah Nona, tapi--” seketika itu senyum Airyn terhenti dan menatap Merry dengan sangat tajam.


“Ada apa?” tanya Airyn dingin, dia berfikir tidak mungkin langkah yang ia ambil gagal, sebab saat serangan yang di lakukan kali ini gagal sudah pasti pihak Airyn yang tidak diuntungkan dari permainan ini. Bahkan Airyn mempertaruhkan kartu AS yang berharga miliknya, dengan mengambil kekuatan saham atau modalnya di Amerika dan London.


“Bukan begitu Nona--” belum sempat ia menjelaskan, Merry menghela nafas dengan panjang sembari menghampiri Airyn yang ada di hadapanya.


“Begini Tuan Hamillton meninggal duni kemarin sore” jelas Merry dengan gugup bercampur berduka, mengingat hubungan antar dua keluarga di masa lalu, tentu saja Airyn tidak mengetahuinya, sebab dua kelurga ini berselisih di saat usianya masih sangat muda.


“Apa hubunganya dengan ku, kita tidak membunuhnya, setidaknya perusahaanku baik-baik saja”


Tentu saja Airyn tidak peduli dengan apapun menyangkut kehidupan musuhnya, bagaimanapun bukan dirinya yang membunuh Tuan Hamillton, jadi Airyn tidak berfikir untuk ikut campur lagi.


“Benar memang bukan pihak kita yang membuat musibah di keluarga Hamillton. Namun setelah di selidiki, kematian Tuan Hamillton terjadi karena penyakit jantung yang di deritanya selama 10 tarakir ini, beliau di larikaan Rerumah Sakit setelah menerima telepon dari anda, setelah itu dia sempat sadarkan diri namun beberaoa waktu kemudia Tuan Hamillton meninggal dirumah sakit 5 jam setelah kejadian, selama proses pemakaman keluarga dari pihak Hamillton sibuk mengurus jenazah beliau. Karna itulah kita tidak mendapatkan respon dari mereka, Jika kita membiarkan Grup Hamillton bangkrut ini sangat berpengaruh kepada Perekonomian Negara bahkan juga berhimbas ke kita, dan juga dia tidak sedang menghianati anda Nona. Mereka mendapatkan musibah yang menimpa tiba-tiba, selain itu--” belum sempat Merry menyelesaikan perkataan yang di lontarkanya, dengan segera Airyn berdiri dari duduknya seolah mencela penuturan tersebut.


“Lalu apa aku harus peduli tentang itu!! Dia telah berani menyombongkan diri. Menyentuh barangku, mencuri kepemilikan ku, bahkan merampas hak ku. Dan aku hanya mengambil dan membalas apa yang sudah dia lakukan, kenapa aku harus repot-repot mendengar story hidupnya yang malang itu. Berhenti menyulut emosiku Merry, jika tidak aku akan mengirimku ke Antartika!!” seketika itu Airyn berlalu meninggalkan Merry yang memantung di posisinya.


Dia benar-benar tidak mengerti sisi Airyn yang seperti ini, Dengan kekuasaan yang tinggi, Nona Airyn yang dibesarkan seusia dengan lamanya Merry mengabdi di Keluarga Petrov berubah menjadi gadis yang tidak di kenali sama sekali. Merry meneteskan air mata kasihan dengan kehidupan, Nona Airyn seperti kehilangan dirinya akan tembok yang dibangun untuk mengasingkan diri.


“Aku berharap ada orang yang meruntuhkan tembok itu” gumam wanita itu yang melihat punggung Airyn menghilang di ujung tangga tersebut.


Airyn sagat jengkel dengan sikap Merry, atas hak apa dia harus ikut campur atas keputusan hidup yang Airyn pilih, jika tidak mengigat hubungan antara ayah dan ibunya bersama Merry, mungkin Airyn benar-benar membuang jauh wanita menyebalkan itu, dengan jengkel Airyn memeluk dirinya sendiri, dia mempertanyakan kenapa dia harus mengkasihani orang yang tidak kasihan dengan dirinya!


Bahkan dia juga pernah merasa kehilangan namun, tidak seorangpun yang mau mengerti, malahan orang yang menagisi kepergian ayahnya saat itu adalah orang yang menyerang dirinya untuk mendapatkan apa yang diwariskan Petrov kepada Airyn. Tentu saja Airyn sekuat tenaga mencoba menjaga, agar dia tidak kehilangan lagi, hanya kekayaan yang dit inggalkan beserta dengan kekuasaan, bagaimana bisa dia memberi ruang untuk orang lain mengambilnya.


Hal inilah yang menjadi alasan kenapa Airyn begitu terdorong untuk mencapai puncak kesuksesan seperti sekarang.


...***...


“Tuan Dikra...” Darrel berdiri dari duduknya dan memberi salam kepada Putra Tuan William itu, selaku teman baik Hansell.


“Apa Hansell ada di dalam kak?” tanya pria periang itu kepada Darrel yang tengah berdiri di meja kerjanya.


“Ada, hanya saja---” Darrel menghentikan perkataanya, sembari melirik kearah dalam.


“Ada apa?” sanggah Dikra dengan sedikit panik, sebab Darrel terlihat cukup khawatir.


“Tuan Muda saat ini dalam suasana hati yang buruk, lebih baik Tuan Dikra tidak menemuinya sekarang, saya takut nanti terjadi kesalah pahaman diantara kalian”


“Astaga. Aku fikir ada apa, tenang saja kak. Aku bisa menangani Hansell” Dikra memberi senyum kepada Darell seolah dia akan menenanhkan hansell dengan baik, perlahan laki-laki itu memasuki ruang kerja Hansell, matanya terbelalak melihat keadaan ruangan yang berantakan. Bahkan sangat jelas bagaiman kacau keadaan Hansell yang tidak di sangka oleh dirinya.


“Hansell apa kau baik-baik saja?” tanya Dikra kepada temanya sekaligus kakak bagi Dikra hingga berlalu kedalam ruangan yang sudah hancur, semua yang ada di meja kerjanya berceraran di lantai seolah hancur lebur, beberapa pajangan dan juga Vas keramik antik saja ia hancurkan hingga tidak berarti lagi, serpihan kaca dan lembaran laporan berceceran di lantai, sebenarnya hal apa yang membuat Hansell yang setenang itu bisa tersulut se kusut ini.


“Kenapa kau kesini, aku tidak memiliki waktu untuk bermain " celanya tanya melirik Dikra, bahkan Hansell menenguk anggur dari botolnya seolah ia ingin mabuk saja.


“Hansell, kenapa kau diam saja!! katakan sesuatu! Kau ini susah sekali berbagi dengan ku” Dikra merasa sedih dengan teman nya itu, pria itu benar-benar tidak ingin membuka diri kepada orang lain, bahkan Hansell yang seperti ini membuat Dikra cukup prihatin.


“Dikra, ini semua tidak sesederhana yang kau fikirkan, Aku tidak bisa menerima bantuan dari Tuan William, sebab kerugian kami tidak sebanding dengan semua Saham atau dana yang dimiliki Ayahmu, bahkan perusahaanku saja tidak mampu memperbaiki semua keadaan di Tiongkok. Bagaimana bisa kau menawarkan perusahaan mu, kau ini benar-benar bodoh”


“Kenapa tidak bisa? Bukankah dengan beberapa pinjaman dana saja kau bis memperbaiki keadaan, papaku memang mengatakan ini tidak mudah, tapi kau bisa memperbaikinya” celetuk Dikra dengan mempertahankan argumenya.


“Benar!! Hanya saja pinjaman dana dari Bank dan pasar modal itu sedikit sulit, karna ada seseorang yang membungkam gerak ku dengan kekuasaanya. Dikra aku tau kau ingin membantu ku, dan aku berterima kasih untuk itu, tapi kau benar-benar bodoh. Perusahaan HS adalah perusahan terbaik di Irlandia, sedangkan perusahaan milik Tuan william hanya berada di peringkat ke-lima, bagaiaman mungkin Paman William mengajukan bantuan untuk menolong perusahaan ku, bahkan seluruh saham yang dimiliki paman William belum tentu menutupi seluruh kerugian” jelas Hansell, seolah dia tahu ini hanyalah pendapat Dikra tanpa berfikir.


“Bagaimana bisa kau memasuki sekolah bisnis sedangkan kau sama sekali tidak tertarik di bidang itu. Dasar anak bodoh!!” Hansell memukul kepala Dikra lalu menduduki kursi kerja di tempatnya, ia memutar tubuh mengunakan kursi itu, sebab menjadi kebiasan jika tengah memikirkan sesuatu.


“Aku dari awal hanya ingin menjadi Artis karna ibuku adalah seorang seniman, tapi Tuan William yang terhormat memakai cara kuno untuk anaknya menjadi Ahli Waris, bagaimana bisa seseorang merubah takdir yang sudah di tetapkan” balas Dikra kepada Hansell “lagian apakah seburuk itu keadaan mu sekarang? lalu apa yang harus kita lakukan, dan siapa yang punya kekuatan sebesar itu”


“Keluarga Petrov--"


Sontak Dikra terdiam, sembari menatao Hansell dengan dalam, bahkan ia tidak menyangka wanita itu mempunyai kekuasaan sebesar ini, sebenarnya Dikra tidak terlalu paham atas kekuasaan Nona Petrov dan Grup Petrov, namun sepertinya Dikra mulai paham sekarang, jika dia memang tidka bisa di sepelekan


"Papa menyerang tanpa mempersiapkan cara memperbaiki keadaan, sekarang cara cepat untuk memperbaiki keadaan tanpa kerugian aku harus bernegoisasi dengan Nona Petrov, atau aku harus melepaskan wilayahku di tiongkok, tentu saja dari kedua pilihan itu, bernegoisisi denganya adalah cara termudah untuk di tempuh, tapi dia tidak mau menemuiku. Aku harus mencari cara untuk bertemu langsung dengan Nona Petrov sambil membuat kesepakatan” jelas Hansell dengan penuh penekanan, bahkan kilau matanya saja menajam.


“Astaga!!! Nona Petrov bukankah dia wanita yang sombong itu? Apa kau yakin ingin bernegoisasi dengan wanita sombong itu sedangkan kepribadianmu seperti ini, bagaimana bisa kau bekerjasama dengan orang yang bertolak belakang dengan mu Hansell, apa kau yakin bisa?” tanya Dikra saat menekan pingiran meja Hansell yang saat ini berhadapan dengan dirinya.


“Jika aku tidak cocok dengan cara kerjanya, aku sendiri yang akan merubah semua cara agar cocok dengan keinginanku” tatapan Hansell kali ini benar-benar menakutkan dari sebelumnya. Bahkan Dikra tidak pernah memperhatikan tatapan seperti ini dari Hansell, ia seperti bertekad keras seolah percaya itu akan mungkin terjadi.


“Kau memang Hansell Hamillton yang aku kenal. Luar biasa!” Dikra mengiringi pujiannya bersamaan dengan tepukan tangan "Yasudah , sekarang temui Nona Petrov yang sombong itu, sampaikan salamku juga"


Baru saja Dikra ingin berbalim badan untuk duduk di tempat, ia tertegun saat Hansell malah diam seperti orang kebingungan "kenapa kau berdiam diri disana?" tanya Dikra, namun Hsansell hanya diam ditempatnya, seolah tidak bis berkata apa-apa “Kenapa?” tanya Dikra dengan kesal.


“Dia tidak mau bertemu dengan ku, lain dari itu aku tidak tau siapa itu Nona Petrov” mendengar pernyataan dari mulut Hansell yang seperti orang bodoh, membuat Dikra melototkan kedua matanya hingga tak bergeming dari posisi, bagaimana mungkin Hansell tidak mengenali Nona Petrov, padahal selama ini dia telah masuk kedalam dunia bisnis dan mengenal banyak petinggi hingga orang penting kelas atas, lain dari itu apa dia orang bodoh yang tidak melihat keadaan sekolah, bahkan dia sudah mengenggam pergelangan tangan Nona Petrov berulang kali, disaat orang lain tak mampu melakukanya.


Tentu saja semua orang di sekolah mengetahui bahwa Airyn wanita sombong yang di label Dikra itu adalah Nona Petrov dari keluarha terpandang, bahkan kepala yayasan hingga angota Direksi serta kepala sekolah sampai memberi hormat atas kedatangan nya, membuat seisi sekolah gempar karna itu, dan Hansell tidak mengenal siapa wanita sombong itu sebenarnya, bukahkah Hansell lebih bodoh di banding dengan Dikra?


“Apa kau benar-benar tidak tau siapa Nona Petrov? Tanya Dikra sekali lagi, saat ia menempelkan telapak tanganya dengan meja seolah membentak Hansell.


“Tidak!! Kenapa memangnya, Apa kau kenal?” tanya Hansell begitu penasarah setelah melihat raut wajah yang di tampilkan Dikra.


“Dimana kau hidup selama ini bodoh, jelas saja Nona Petrov itu--” belum sempat Dikra melanjutkan perkataan nya, tiba-tiba saja Darrel membuka pintu hingga mengalihkan perhatian mereka.


“Tuan muda, pihak Petrov ingin bertemu dengan anda di Apv Grup sekarang juga” seketika itu Darrel benar-benar tak sabaran memberitahu Hansell, hingga membuat dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu, bahkan mendobrak pintu hingga dua orang itu mengalihkan pandangan padanya.


“Benarkah?” Hansell berdiri dari duduknya, sambil merapikan jas yang ia kenakan.


“Dikra aku harus pergi sekarang, aku akan bertemu dengan Nona Petrov, Jika kau ingin disini tinggalah” Hansell bergegas mengikuti Darrel yang pontang panting menyiapkan dokumen untuk keberangkatan Hansell menemui wanita itu.


“Tapi aku belum menyelesaikan perkataan ku--” teriak Dikra yang di tinggalkan seorang diri, setelah kalimatnya terhenti Hansell sudah tidak menampakan punggungnya lagi, karna ditutup dengan pintu penghalang “Nona Petrov itu wanita yang kau ganggu bodoh!! Ah siall!!” gerutu Dikra karna kesal dengan kebodohan Hansell.