Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Menjenguk Merry



“batalkan seluruh kerjasama dengan perusahaan HS, dan juga bayar seluruh pinalti karna keputusan sebelah pihak ini” ucap Airyn, ditengah rapat. Membuat seluruh kariyawan tercenggang atas keputusan mengejutkan yang dijatuhkan oleh Nona Petrov, tentu saja semua orang mengetahui perusahaan itu adalah miliki kekasih Airyn, yaitu Hansell Hamillton, namun keadaan yang diluar dugaan membuat mereka semua berbisik hingga terjangkau oleh pendengaran Airyn


“Apa aku meminta kalian bergosip, jika aku mendengar hal ini dibahas lagi, aku akan memecat kalian semua. Batalkan seluruh kerjasama yang sudah ditanda tangani dengan perusahaan HS, aku rasa kehidupan priabadiku tidak pantas jadi konsumsi publik” ketus Airyn, membuat semua kariyawan yang hadir menekuk kepala dengan takut, ia berdiri dari sana dengan rasa jengkel, membuat semua orang menarik nafas lega atas kepergiannya


“Apa mereka semua ingin ku pecat, berani sekali bergosip seperti itu, Berto……” seketika Airyn tertegun, ia melupakan jika Berto telah tiada, entah kenapa ada rasa kecewa kepada dirinya sendiri, namun bagaimana lagi Airyn tidak bisa menyalahkan takdir, ia melangkah menuju ruanganya, yang sangat sepi dari biasanya, sebab Airyn selalu ditemani Merry yang duduk disofa yang biasanya ada dihadapan Airyn saat ini


“Benar-benar kehidupan yang menyedihkan” gumam Airyn dengan sedikit jengkel


***


Di Korea, Hansell melakukan pekerjaan seperti biasanya, ia sangat sibuk mengelola perusahaan dan bertemu dengan beberapa Client penting, kali ini pertemuan bisnis yang Hansell hadiri sangat membuatnya tidak nyaman.


Bagaimana tidak, pria paruh baya itu membawa putrinya untuk menemani pertemuan kali ini, seolah Hansell dibuat jengkel atas tatapan yang sedari tadi tertuju padanya


“Bagaimana, tuan Hansell. Saya bisa menawarkan kerjasama tanpa imbalan ataupun keuntungan kepada perusahaan saya, asalkan anda mempertimbangkan putri saya” seru pria itu sambil meneguk teh hangat, Hansell mengalihkan pandangan kepada gadis yang ditawarkan padanya, ia meyaksikan wajah itu tak kalah cantik dari Airyn, bahkan sangat nampak berkelas dan anggun, namun senyum sungging terpampang diwajahnya, bagaimanapun hati wanita itu tidak akan seperti hati Airyn, bahkan tidak akan ada wanita seperti Airyn.


“Sepertinya anda telah membuat kesalahan besar Tuan Choi” tukas Hansell, ia melipat kedua tanganya, seolah bersikap kurang ajar, Hansell melirik sedikit wajah anaknya lalu membuang muka kehadapan Tuan Choi


“Apakah anda tidak mendengar kabar angin yang beredar, bahkan sangat disayangkan jika seorang pengusaha besar seperti anda tidak tahu tentang berita ini, apa anda mengenal Nona Petrov?” tanya Hansell dengan penuh ancaman, membuat Tuan Choi menghentikan tawanya, sebab nama itu sangat akrab jika dikenali oleh seorang pengusaha, siapa yang tidak mengenal Nona Petrov, pengusaha terkenal di tiongkok yang sebagain tiongkok dikuasai oleh kelompoknya, ditambah ketenaranya saat di inggris, membuat Tuan Choi menatap Hansell dengan penuh tanda tanya


“Tentu saya mengenal Nona Petrov, kenapa anda bertanya seperti itu?” sambungnya


“Benarkah, berarti kekasihku sangat terkenal seperti dugaan anda Tuan” sontak perkataan Hansell, membuat Tuan Choi tertegun, bagaimana mungkin ia menawarkan putrinya kepada kekasih Nona Petrov, ini sama saja ia mengali kuburuanya sendiri


“Apa…apa yanga anda katakan, apakah itu benar?” ucap Tuan Choi, membuat Hansell menautkan kedua alisnya seolah ia benar-benar serius akan perkataan barusan, melihat sikap ayahnya yang aneh, jungkyung meraih jas ayahnya


“Ayah kenapa?” ucapnya dengan cemas


“Tidak apa-apa nak” balas Tuan Choi pada putrinya, sembari melihat kearah Hansell yang duduk dengan tatapan mengancam


“Tuan, maafkan saya….saya benar-benar tidak tahu jika anda memiliki kekasih, sebenarnya saya sangat kagum dengan kinerja anak muda seperti anda, hingga saya berani menawarkan putri saya, sebab saya hanya ingin dia memiliki laki-laki bertanggung jawab seperti anda” tutur Tuan Choi, sebab ia tidak ingin kesalahpahaman ini menghancurkan nasib putrinya, mendengar suara takut dari ayahnya tentu Jungkyung merasa tidak suka pada pria sombong itu, sedari awal tatapan pria itu sangat menghina kepada dirinya, bahkan Jungkyung tidak ingin dijodohkan, namun ayahnya percaya pria itu adalah laki-laki bertanggung jawab, namun apa yang diharapkan ayahnya sangat bertolak belakang dengan apa yang diketahui Jungkyung.


“Tuan Choi… saya peringatkan anda untuk lebih bijaksana dengan bisnis ini. Kerjasama bisnis tetaplah kerjasama bisnis, tidak ada hubunganya dengan masalah pribadi, dan saya sangat tidak berharap akan bekerjasama dengan anda, ditambah putri anda, saya rasa ada yang lebih baik untuknya, dari pada saya” ucap Hansell, membuat emosi Jungkyung melebar kemana-mana, meskipun pria itu mengucapkanya dengan kata sopan, namun cara bicaranya yang sangat mengintimidasi ayahnya hingga memuakan


“Apa kau fikir aku mau dengan mu, rasakan ini” gelas yang berisi wine itu dilemparkan kewajah Hansell, hinggaa merusak setelannya, membuat Tuan Choi kaget tak kepalang, ia tidak menyangka putrinya akan melakukan hal selancang inj.


“nak, apa yang kau lakukan. Astaga. Tuan saya minta maaf…..” belum sempat Tuan Choi melanjutkan perkataanya, gadis itu langsung saja membentak


“Ayah, apa yang kau lakukan, untuk apa meminta maaf pada ******** seperti ini, jika dia tidak bisa menghargai orang yang lebih dewasa, kenapa ayah harus bersikap sopan padanya, menjijikan sekali, ayolah pergi dari sini, jika tidak ingin aku mencabik-cabik pria itu” Jungkyung menyeret ayahnya, sebab ia sangat kesal dengan Hansell yang memperlakukan ayahnya tanpa sopan santun


“Astaga, kenapa dengan wanita gila itu” umpat Hansell setengah berteriak, bahkan ia sangat tidak menyangka akan mendapatkan sikap seperti ini dari wanita “Dan kenapa dengan diriku, mengakui Airyn sebagai kekasihku, jika dia mengetahui ini, tamatlah riwayatku. Ya tuhan” Hansell begitu gusar dan merasa bersalah, sebab ia terpaksa melakukan hal itu karna tidak ingin mempertimbangkan tawaran Tuan Choi, sebab Hansell tidak akan mampu melupakan Airyn apalagi mencari penganti gadis itu, bahkan belum beberapa hari mereka mengakiri hubungan dan ada pilihan untuk dirinya, memang kehidupan yang kejam.


Airyn tersedak saat meneguk minumanya, membuat gadis itu merasakan sakit akibat batuk yang tidak kunjung berhenti “Kenapa dengan ku, kenapa aku malah tersedak minum air putih” gumam gadis itu, ia beralih kekamar mandi untuk menyegarkan wajah, setelah selesai Airyn mendudukan diri di kursi kerjanya.


Ia memandang langit-langit seolah Airyn sangat bosan dan merindukan Jansell, baru saja pikiranya melayang Airyn langsung menepis semua itu, ia tidak boleh lemah, dan harus kuat, meskipun tidak mudah bagi Airyn melupakan Hansell, tapi tidak ada pilihan selain itu semua.


“Apa aku harus mengunjugi Merry?” tanya Airyn kepada dirinya sendiri, tak lama kemudian fikiran itu mengantarkan tubuh Airyn untuk bangkit, ia harus menemui Merry, sebab Airyn tidak akan bisa bekerja sendirian lagi, karna masalah perusahaan sangat merepotkan ditambah saat ini Berto tidak ada, sangat sulit untuk Airyn menghadapi ini semua.


Airyn ditunggu oleh pihak dokter, beberapa dokter telah menanti kedatangan Nona Petrov, bahkan mereka menyambut Airyn dengan sopan, meskipun ia tidak nyaman dengan semua ini, namun Airyn terpaksa menjalani kehidupan yang sangat merepotkan sedari dulu.


“Bagaimana dengan keadaan Merry?” tanya Airyn kepada dokter itu, yang saat ini berada disampingnya


“Ada apa!” bentaknya dengan kesal, sebab Airyn tidak ingin terjadi sesuatu pada ibu yang masih belum bisa ia terima


“Nona Merry, menolak keluar dari rumah sakit nona, kami sudah membujuknya. Namun ia bersikeras untuk mengunap disini dan tidak mau pulang sama sekali” ujar dokter itu dengan rasa takut, membuat Airyn bernafas lega, setidaknya ia mengerti Merry tidak akan sanggup menghadapinya


“Baiklah, sudah berapa hari Merry sembuh?” tanya Airyn sekali lagi


“Sudah hampir satu minggu Nona” tutur dokter itu, membuat Airyn semakin geram, bahkan Merry telah lama sembuh dan dia mengabaikan pekerjaanya, dan membuat Airyn kesepian dikantor dan dirumah, bahkan seluruh pekerjaan dilimpahkan padanya yang harus memotong waktu istirahat untuk melakukan pekerjaan.


Dengan langkah kesal, dan rasa amarah yang ingin memuncak Airyn membuka pintu kamar tanpa permisi, ia terdiam ditempat, tatkala melihat pria yang tidak asing dikedua matanya


“James....” serunya, bahkan Merry dan James mematung ditempat, karna mereka tidak menyangka akan kedatangan Airyn siang ini


“Kenapa kau disini?” tanya Airyn dengan kalimat dingin, membuat James melirik takut kearah Merry, perlahan Airyn telah berada dihadapan James dan Merry yang memucat melihat kearahnya


“Aku….aku menjenguk Nona Merry” balas James dengan kalimat singkat, namun nada takut itu tidak bisa disembunyikan dari dirinya.


“Benarkan? Lalu kenapa kalian berdua sangat takut melihatku, apa kalian melakukan kesalahan?” ketus Airyn sembari melipat kedua tangannya


“Tidak Nona, dokter James kesini menjenguk saya, karna ia baru sampai dari Korea” tukas Merry, membuat Airyn terdiam mendengar wanita itu angkat bicara diantara mereka


“Baiklah, apa kau bisa keluar, aku ingin bicara dengan Merry masalah pekerjaan” tutur Airyn, membuat James melirik kepada Merry yang berada diatas ranjang rumah sakit, bahkan wajah kaget tidak bisa disembunyikan oleh Merry, dengan berat hati James undur diri dari sana dan meninggalkan dua wanita diruangan


“Ada yang ingin anda sampaikan Nona?” tanya Merry tanpa melihat kearah Airyn, ia telah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk, melihat sikap gugup yang ditampilkan ibunya, Airyn mendudukan diri disofa, ia mengangkat satu kakinya seolah Nona Petrov biasa


“kenapa kau tidak kembali keperusahaan, jika sudah sembuh seminggu lalu Merry? apakah rumah sakit senyaman ini” sindir Airyn kepada wanita itu, membuat Merry terdiam, lalu mengangkat kepala melihat kepada putrinya, dihati yang paling dalam, ada rasa bahagia yang tidak bisa dijelaskan, namun Merry berusaha menyembunyikan emosinya


“Maaf nona, sepertinya saya tidak pantas bekerja dengan anda”


“Tutup mulutmu! Kau fikir siapa dirimu, hingga bisa memutuskan itu sepihak, apa kau tidak sadar Berto sudah tidak ada, dan kau malah bersenang-senang menikmati makanan rumah sakit, semua pekerjaan aku yang menyelesaikan hingga waktu tidurpun harus terpotong untuk bekerja, apa kau ingin membunuhku, dengan keputusan sepihakmu, jika kau ingin keluar carikan orang yang sama sepertimu, baru aku mengzinkanmu keluar dari perusahaan” bentak Airyn dengan kesal, membuat Merry tertegun mendengar cara bicara anaknya, didalam hatinya Airyn merasa sangat bersalah, namun ia harus menyimpan ego dan rasa malu itu “Maafkan aku Merry, aku sangat gengsi sekali untuk bicara baik, jika sebenarnya aku sangat membutuhkan mu” gumam Airyn memandang kearah Merry


“Baiklah Nona, saya akan kembali secepatnya” seketika ada senyum manis yang terulas dibibir Merry, meskipun anaknya bicara tidak sopan, itu semua karna canggung yang terjadi diantara mereka, Merry sangat mengenal Airyn, gadis yang hadir dari rahimnya, tentu saja ia mengerti tidak mudah menghapi situasi ini.


Airyn masih duduk ditempatnya, ia memainkan ponsel hingga batrai ponsel milik Airyn lowbet, tentu itu bukan kebiasaan anaknya, Merry tahu betul, karna Airyn tidak menyukai berlama-lama dengan smarphone, sesuai dugaan Airyn bukan membuka aplikasi media sosial, sebab ia tidak mempunyai account itu, ia hanya membuka beberapa dokumen yang ada diponselnya sambil mempelajari, dan meresap baik-baik dengan otaknya, beruntung kepintaran Merry mengalir kepada Airyn, hingga ia dengan mudah mengerjakan setiap masalah pekerjaan.


Sudah hampir larut Airyn masih duduk ditempat semula, tanpa beranjak pulang, sesekali ia kekamar mandi tanpa meminta izin kepada Merry, melihata sikap canggung anaknya Merry hanya membalas dengan diam, Airyn merebahkan diri disofa tanpa alas apapun, membuat Merry terkesiap akan tingkah Airyn


“Nona, anda tidak bisa tidur disana, anda tidur disini saja” ujar Merry memberi pilihan pada putrinya sambil beranjak dari ranjang


“Kenapa memangnya, apa sofa ini milikmu hingga aku tidak boleh tidur disini, aku akan membeli seratus kalilipat jika diperlukan” kesal Airyn kepada ibunya itu


“Bukan seperti itu, lebih baik anda tidur diranjang, karna cuaca malam sangat tidak baik”


“Aku tidak sakit, bukankah kau yang lagi sakit, dan berlama-lama disini, nikmati saja malam terakirmu meniduri ranjang rumah sakit ini, dan karna kau sudah turun dari sana, tolong matikan lampu, karna aku tidak bisa tidur dengan lampu terang” seketika Merry tersenyum, melihat sikap ketus anaknya, yang mirip sekali dengan Merry dimasa muda, tentu saja ia mengerti putrinya tidak bisa tidur dengan lampu terang dan juga tidak bisa tidur dikeadaan gelap, kadang lampu nakas yang remang-remang adalah pilihan cocok menemani gadis itu terlelap.


Airyn melingkarkan tubuhnya disofa besar, ia benar-benar mengantuk, dan untuk tidur sendirian dirumah besar itu sangat menakutkan bagi dirinya, setelah Merry mematikan lampu besar ia manaiki ranjang dan menidukan diri disana, matanya tak lepas memperhatikan anak yang sangat ia cintai itu, Airyn tidur sangat lelap seperti dirinya biasa, mengantar Merry menginjakan kaki menuruni ranjang, ia membawa selimut untuk menyelimuti tubuh Airyn, sembari merapikan rambut yang menutup wajah putrinya.


Sudah lama bagi Merry tidak mencium putrinya, bahkan sudah lama ia tidak mencuri ciuman itu saat Airyn terlelap, kali ini Merry sangat merindukan Airyn, buah hati yang sangat ia cintai sedari awal, Merry melepaskan kasih sayangnya dikening Airyn, seakan hatinya bergemuruh akan bahagia, jantung Merry berdebar seperti jatuh cinta, tentu saja ia selalu jatuh cinta pada putrinya sendiri.


“Maafkan ibu nak” lirih Merry dengan suara pelan, sambil menepis air mata yang jatuh dari sana, ia kembali keranjang sambil merebahkan tubuh dan memandang anaknya yang ada didepan, tak lama kemudia Airyn membalikan tubuh menghadap kearah dinding, ia membuka mata secara pelan tanpa sadar ucapan ibunya itu menghancurkan semua kekecewaaan yang ada dihati Airyn, sakit sekali hingga dirinya cukup terluka akan ucapan maaf itu.