
Seminggu kemudian.
Mobil yang di kendarai oleh Hansell menuju jalan pulang dengan pengawal di belakang mereka, Airyn tengah sibuk menikmati eskrim yang ia minta sambil menonton Olahraga Yoga yang aman di lakukan oleh ibu hamil, semenjak mereka pulang dari rumah sakit Airyn terlalu sibuk dengan dirinya sendiri dan wanita itu sering meminta sesuatu pada Hansell di pertengahan malam dengan sikap manja. Sadar istrinya tengah hamil besar, Hansell tidak mampu mengelak atas apapun yang Airyn inginkan, meskipun setelah Hansell mendapatkanya wanita itu tidak mau menikmati lagi, hal itu tidak masalah. Sebab Hansell berlatih untuk menahan sabarnya sedari awal, sebelum bayi mereka rewel dan selalu butuh perhatian. Bagi Hansell segala permintaan Airyn yang tidak masuk akal di tengah malam, tentu bukanlah masalah besar. Toh, selama ini ia sudah mendengar cerita akan istri yang mengidam dari beberapa rekan bisnisnya yang selalu melepaskan curhatan mereka di Bar tempat biasa untuk melakukan pertemuan, mereka bahkan menyelipkan percakapan pribadi tentang istri dan wanita masing-masing sehingga Hansell sedikit paham akan mood ibu yang tengah hamil, apalagi tengah mengandung dua janin di perutnya.
“Sayang, ada yang ingin aku katakan padamu” seru Hansell saat mengemudikan kendaraan, ia bahkan mengambil jalur aman sehingga tetap fokus dalam bekendara, Airyn yang kala itu sangat sibuk, menoleh sedikit kepala seraya membalas perkataan suaminya. “Aku ingin memutus kontrak VVIP mu dengan organisasi bawah tanah” sambung Hansell dengan segera, membuat Airyn mengangkat kepalanya dengan bingung sambil menatap pria itu.
“Apa maksudmu Hansell? Untuk apa kau mencabut kontrak VVIP ku, sudah jelas aku membutuhkan koneksi itu”
“Aku hanya mencabut kontrakmu, aku tidak mencabut koneksimu. Aku akan membatalkan kesepakatan kau dengan pengurus inti, namun secara eksklusif berada di bawah koneksi diriku” seketika Airyn terdiam memandang kearah suaminya, sambil membulatkan mulutnya seolah sangat mengerti.
“Oh begitu, yasudah” balasnya dengan sedikit cuek, rasanya Airyn terlalu malas membahas hal-hal seperti ini, beberapa hari ini ia terlalu sibuk memanjai janin yang ada di kandunganya, bahkan Airyn menuruti mood yang ia rasakan, entah membutuhkan sesuatu, ataupun menginginkan sebuah makanan, yang jelas Airyn hanya ingin mendapatkan semuanya, untuk calon anak yang tengah bertumbuh di perutnya.
Membuat Hansell memandang kearah Airyn yang selalu saja sibuk seolah tidak peduli akan apapun lagi, bahkan pembahasan tentang kontraknya saja seperti enggan ia perpanjangan untuk di bahas, membuat Hansell mengerti jika Airyn terlalu nyaman merasakan buah hatinya yang tengah bertumbuh.
“Kenapa kau selalu sibuk dengan calon anak kita, jika terus begini aku bisa saja cemburu pada anakku sendiri” dengus Hansell dengan jengkel, membuat Airyn membuang muka kearah luar seolah tidak menangapi perkataan konyol dari suaminya.
Hansell menghentikan kedaraan yang tengah ia tungangi, untuk menepi di bagian pinggir jalan disisi trotoar, membuat wanita itu membulatkaan mata menatap kearah suaminya seolah sikap Hansell membuat Airyn cukup kaget.
“Kenapa kau berhenti disini” tanya gadis itu dengan suara meninggi yang hampir saja terdengar emosional dari dirinya yang dingin dan selalu tenang.
“Aku fikir dirimu terlalu banyak mendapatkan kelonggaran, sehingga tidak peduli atas apapun selain anak kita saja. Jika begini apakah aku harus memberimu sedikit pelajaran sayang” ancam pria itu saat mendekati wajaah istrinya, bahkan Airyn merengsek kearah kaca mobil seolah sadar jika Hansell mulai menampakan diri untuk menerkam.
“H-Hansell jangan coba-coba menyentuhku, aku tengah hamil, dan kita tengah berada di dalam mobil, di tambah masih jam 3 sore, sangat tidak pantas kau melakukanya disini!!” seru wanita yang saat ini memberikan peringatan tegas, membuat Hansell menarik senyum tipis seolah merasa lucu atas perkataan istrinya.
“Sejak kapan aku mempunyai malu tentang hal itu, jika aku memiliki malu mungkin anak kita tidak akan bisa hadir di janinmu, apa kau tidak ingat tempat-tempat tidak lazim seperti apa yang pernah kita tempati untuk mengadu asmara, bahkan kau—“
Mulut pria itu di bungkam hingga tatapan mata Airyn sangat jelas mengancam, membuat Hansell melunakan diri seolah ia menyerah detik itu juga. Airyn yang merasakan aura suaminya berubah menjadi dingin, sedikit kemudia terdiam sambil menarik tanganya untuk memposisikan duduk dengan benar.
“Malam ini aku akan keluar Negri” celetuk Hansell dengan nada dingin tanpa ada kebahagian di wajahnya, bahkan gurat sedih di wajah Hansell terpampang nyata, membuat Airyn mendongak kearahnya.
“Memang kau mau pergi kemana?”
“Aku ingin mengurus masalah kontrak yang mengikatmu sebagai VVIP di markas utama. Aku sudah mendapatkan data orang itu dari Dikra beberapa hari yang lalu, sehingga aku akan ke Amerika untuk mengunjungi dirinya. Karna itulah selama aku pergi jaga dirimu baik-baik, dan jangan perhatikan janinya saja, tapi juga perhatikan dirimu sendiri” seru Hansell dengan kalimat menenangkan, membuat Airyn cukup sedih mendengar dirinya akan di tinggalkan oleh suaminya.
“Apa kau akan lama?” tanya Airyn dengan raut wajah menyedihkan, bahkan matanya saja berkaca-kaca memandang kearah Hansell.
“Tidak. Hanya beberapa jam saja dan aku janji tidak akan lama. Sesegera mungkin akan aku usahakan pulang. Karna itulah di rumah saja untuk istrirahat” Hansell meraih tubuh Airyn untuk menariknya kedalam pelukaan, seraya mengusap kepala istrinya dengan sayang, hingga Airyn menyembunyikan wajah di dada bidang suaminya yang memberikan rasa aman dan juga nyaman “Jangan memaksakan diri untuk memakan segalanya, batasi mengkonsumsi eskriim, dan juga olahraga yang wajar saja. Jangan terlalu berlebihan atas janin di perutmu, karna itu juga tidak baik untuk kesehatan dan calon anak kita” nasehat Hansell yang diucapkan ketelinga sitrinya, di sambut baik oleh Airyn, membuat wanita itu menganggukan kepala atas segala hal yang Hansell jabarkan.
Setelah mereka selesai melepaskan rindu, Hansell melanjutkan perjalanan menuju rumah, tentu saja mereka pulang kerumahnya setelah berbelanja beberapa keperluan rumah dan juga susu hamil untuk Airyn, sebab sudah seminggu lamanya kedua orang itu keluar dari rumah sakit.
“Airyn ada lagi yang ingin aku katakan” seru Hansell sekali lagi pada istrinya, membuat Airyn menatap jengkel kearah suaminya yang sedari tadi selalu ingin mengatakan sesuatu dengan meragu.
“Apa? Katakanlah, kenapa kau membuatku khawatir. Jika ada yang yang ingin kau katakan, tidak bisakan mengatakanya langsung. Dasar menyebalkan! Bahkan aku jengel sekali kau menanggungkan pembicara seperti ini” dengusnya ketika membalas perkataan Hansell yang tengah mengendarai mobil.
“Ini terkait ayahmu Zates” kali ini mata Airyn memandang dingin kearah suaminya, tentu saja semenjak Airyn siuman, Zates tidak pernah lagi menampakan diri, ia bahkan keluar dari rumah sakit tanpa sepengetahuan Hansell dan Airyn, itu di lakukan agar Airyn tidak merasakan benci dan sakit lagi.
“Meskipun ia sulit di maafkan dan juga di terima, bagaimanapun Zates adalah ayah kandungmu sendiri. Bahkan setelah mengetahui seluruh cerita yang terjadi dimasa lalu, membuat aku berfikir Zates tidak bisa di salahkan atas hal itu. Ia hanyalah korban yang sama dengan kita, meskipun kita tidak bisa menyalahkan apapun, anggap saja keadaan yang memaksa mereka seperti itu. Untuk itulah, apa kau tidak bisa mempertimbangkan kehadiran Zates dan juga menerima Merry lagi?” tanya Hansell pada istrinya, bahkan ia berhati-hati untuk bicara.
“Meskipun begitu, tetap saja aku manusia. Aku tidak mungkin bisa menerima wujud seseorang yang aku anggap sudah meninggal sebagai sosok baru, entah apa yang sudah ia lakukan, dan apa yang sudah ia korbankan, bagiku menyembunyikan diri untuk mengubur fakta sudah menjadi kesalahan besar yang ia lakukan sejak awal. Bukankah ia yang memilih untuk seperti itu, dengan tidak mengatakan kebenaran dan membuat aku percaya atas orang tua yang sebenarnya bukanlah orang tuaku, jika sudah begini untuk apalagi kita saling memaafkan, jika sedari awal kesalahan sudah bersatu dengan kehidupan masing-masing, aku rasa menjalani hidup seperti dulu adalah pilihan terbaiknya. Selama ini aku sudah hidup dengan mempercayai akan orangtuaku yang telah meninggal, dan mereka yang merupakan orang tua biologisku tapi menyembunyikan diri untuk tidak mengakui. Apa lagi yang harus di pertimbangkan Hansell? Aku setuju padamu, mereka adalah orang tua biologis ku, tapi rasanya aku tidak perlu memaafkan apapun, sebab sedari awal kesalahanpun sudah menyatu dengan kehidupan kami masing-masing, jadi menjalani kehidupan masing-masing adalah pilihan terbaik untuk saat ini”
“Meskipun begitu, kau tidak bisa membiarkan mereka merasa bersalah dan menghindar sebagai orang tua. Aku sangat yakin Merry dan Zates tidak ingin menemui kita karna mereka menjaga perasaanmu, jika memang kau mengatakan tidak ada yang perlu dimaafkan, bukankah kita bisa bicara baik-baik dengan mereka. Setidaknya bisakah Zates merasakan ada di dekatmu secara nyata. Apa kau tahu saat kau tidak sadarkan diri, Zates berulang kali mengunjungi kamar bahkan berulang kali memeriksa keadaanmu. Ia sangat mencintaimu Airyn, meskipun rasa cinta itu tidak kau rasakan, tapi kau sehat dan tumbuh sampai sekarang berkat perlindungan dari Tuan Zates”
Airyn memilih diam di samping suaminya, tentu saja Airyn tidak menepis kenyataan jika sedari awal Zates memang ada disisinya, begitupun dengan Merry, bahkan saat terjebak di ruang bawah tanah yang akan hancur lebur, Airyn meminta dengan sangat untuk Zates bertahan, seolah ia ingin menerima Zates sebagai orang tuanya. Tapi setelah menatap wajah Zates waktu itu, bahkan melihat dirinya berdiri kokoh memandang Airyn, membuat Airyn sadar jika tidak sepenuhnya ia sanggup menghadapi kenyataan. Menghadapi sosok ayah yang sebenarnya sudah menyembunyikan fakta akan identitas Airyn, dan seorang ayah yang ia anggap telah tiada. Tentu saja pertemuan Airyn dan Zates tidak di ketahui siapapun selain Airyn dan ayah bilogisnya itu.
Saat itu Airyn meminta Zates untuk terus melakukan segalanya seperti semula, tidak ada di sekitarnya, tidak ada di hidupnya, dan terus bersembunyi untuk menyembunyikan diri, dan Airyn berpesan hiduplah dengan baik. Karna Airyn akan mencoba hidup untuk menerima segalanya dan memaafkan orang-orang yang ia percayai, jadi Airyn meminta Zates untuk kembali saja pada kehidupanya seperti waktu-waktu lalu. Sehingga semenjak hari itu Zates memang pergi membawa Merry, tentu saja Airyn sangat yakin jika Zates sangat mencintai Merry, sebab Airyn yakin dimasa lalu Zates pasti pernah berganti posisi dengan ayahnya Louis Petrov, bahkan kala itu Airyn melihat Zates menatap kearah Merry hingga terakses oleh penglihatan gadis kecil yang tidak mengerti.
Rasanya saat itu Airyn tengah melihat ayahnya menatap Merry dengan cinta, seolah mata pria yang Airyn anggap Louis Petrov sangat teduh kepada Merry yang tengah mengasuh dirinya, karna ketidaktahuan akan ibu kandungannya yang sesungguhnya, Airyn sangat marah pada Merry, sebab membuat ayahnya berpaling dari ibunya Charllot, tapi jika di pikir-pikir lagi, akankah sosok mata yang mengagumi Merry dimasa lalu adalah Zates, bukan ayahnya Louis Petrov. Jika benar begitu, sedari kecil ternyata Airyn sudah bersama dengan ayah kandungnya, hanya saja ia tidak mengetahui kenyataan itu.
“Airyn…” seru Hansell saat membuyarkan pandangan istrinya, bahkan Airyn terkesan bingung seolah termenung akan sesuatu yang ia fikirkan, wanita itu rasanya cukup sedih jika terus mengingat kehidupan orang tuanya, bahkan setelah mengetahui adanya Zates, membuat Airyn mengigat segala kenagan dimasa lalu, apakah pria hangat yang selalu memeluk dirinya dan juga mengandeng kedua tangan nya, serta merasa sakit ketika Airyn terjatuh adalah sosok Zates yang menyamar menjadi ayahnya. Sehingga pria gila kerja dan juga dingin semenjak Airyn remaja merupakan Louis Petrov, jika benar begitu apa yang harus Airyn lakukan akan hal ini.
“Baiklah” ucap Hansell saat membalas perkataan Airyn, bahkan ia menatap cukup lama pada istrinya yang mengalihkan pandangan kearah samping, seperti menyaksikan pepohonan yang tengah mengejar mereka.
****
California, Amerika Serikat.
Hansell tengah duduk di Bar mewah yang sudah ia kosongkan untuk pertemuanya dengan seseorang, tentu saja orang itu adalah Deligasi pemegang kontrak VVIP Airyn di markas utama, bahkan Hansell tidak menyangka jika ia merupakan pemegang kekuasaan terbesar di Negara ini, yang selama ini tidak pernah di ketahui oleh Hansell sebagai pemimpinya.
Seorang pria berjas lengkap dengan orang-orangnya disisi kiri dan kanan memasuki Bar itu, tubuhnya tegap semampai dengan postur pemimpin dan wajah tegas yang cukup simetris, bahkan permukaan wajahnya sangat tajam ketika menatap kearah Hansell, yang saat ini tengah memutar gelas kaca kecil, yang sedari tadi di putar-putar untuk melarutkan batu es kristal sebagai campuran alkohol yang ia nikmati, tentu saja Hansell sudah menanti pria itu dengan waktu yang cukup lama, sehingga menghabiskan setengah botol ukuran sedang dengan kualitas alkohol terbaik yang cukup dinikmat di indra perasanya.
“Selamat malam Tuan--” Sontak mulut Adward di buat bungkam ketika Hansell memutar tubuhnya saat itu juga, tentu saja Adward sanga kaget jika pria yang ia temui di Bali, Indonesia beberapa waktu lalu merupakan pemimpin utama terkait kontrak Eksklusif Nona Petrov, tadinya Adward hanya ingin bersikap santai untuk itulah ia tidak terlalu mengindahkan pertemuan ini, di tambah pertemuan ini untuk memutus kontraknya dengan Nona Petrov, tapi sekarang Adward yang merupakan kaum bangsawan yang memiliki derajad cukup tinggi itu, bertemu seorang pria di luar perkiraanya.
“Apakah kau Tuan Hansell, yang merupakan suami Nona Petrov?” seru Edward ketika melanjutkan perkataanya yang mengantung, membuat Hansell membenarkan hal itu, seraya mempersilahkan Adward duduk di sampingnya.
Rasanya mata pria itu masih tidak bisa di alihkan dari wajah Hansell, bagaimana bisa pria itu merupakan pemimpin di markas utama, sekalipun ia pemimpin di markas utama, namun setiap penemuan penting di pengurus inti Hansell tidak pernah menghadiri, ia hanya mengutus orangnya kepercayaanya untuk menjadi perwakilan, untuk itulah Adward tidak pernah mengetahui identitas pemimpin, meskipun begitu tidak ada yang bisa mempermasalahkan hal ini, sebab ia bekerja dengan cukup baik dalam mengendalikan kerajaan bawah tanah, tapi kali ini pemimpin di markas utama itu adalah Tuan Hansell Hamillton, apakah ini sebuah lelucon.
“Aku tahu banyak pertanyaan yang tengah kau fikirkan. Tapi aku tidak punya banyak waktu untuk bermain-main denganmu Adward” seru Hansell saat menyodorkan map yang di dapatkan dari Dikra tentang pria itu, membuat mata Adward teralihkan kearah map coklat yang ada di atas meja marmer di Bar mewah Bintang lima.
“Apa ini?” tanya Edward ketika meraihnya, ia membuka lembaran yang ada di dalam sana, sambil melihat beberapa data di bagian depan, membuat Adward sangat paham akan isi di dalam map itu. Tentu saja map itu berisikan tentang laporan perusahaan yang mengelakan pajak, bahkan jumlahnya mencapai Trilliunaan Dolar yang tidak bisa termaafkan jika tersebar luas, bahkan sebagai keluarga bangsawan ini tentu merusak citra Edward dan keluarga, sehingga senjata yang Hansell miliki cukup menekan dirinya. “Apa mau dirimu sebenarnya?” tanya Adward pada pria itu, tentu saja bukan hanya sekedar memutus kontrak Eksklusif dengan Nona Petrov, pasti ada hal lain yang di inginkan oleh Hansell hingga menekan dirinya seperti ini.
“Apa kau mengenal Tuan Zaterius yang memiliki Laboratorium Farmasi terbesar di Amerika?” tanya Hansell pada pria itu, membuat Adward sedikit berfikir lalu mulai mengetahuinya “Dia memiliki bangunan bawah tanah yang curam di Korea, beberapa hari lalu bangunan itu di tanamkan Bom senyap hingga hancur lebur. Dan aku ingin kau mencari dalangnya, mengingat kau memegang khusus persenjataan dan juga bom yang di kembangkan di Divisimu di markas utama, aku yakin hanya orang-orangmu yang telah membuat bom itu, aku ingin kau mendapatkan informasi atas pembuatan bom senyap dalam jangka waktu dekat, jika tidak aku terpaksa memberikan ini ke media” ujar Hansell sambil meneguk minuman itu, bahkan membuat Adward dibuat tergugu atas permintaan Hansell.
“Bagaimana mungkin aku mencari orang itu, meksipun aku berada di bagian persenjataan dan juga bom, tetap saja orang-orangku tersebar luas di seluruh penjuru dunia, aku tidak bisa megobrak-abrik mereka untuk mencari siapa dalang dari semua ini, bahkan banyak sekali orang yang pandai membuat bom senyap itu, bahkan yang tidak berada di bawah tanganku saja bisa membuatnya” bantah Edward pada Hansell, membuat Hansell meneguk tuntas minuman yang ada di gelas kacanya, hingga Pramutama Bar yang tengah meracik alkohol itu, menyodorkan diri untuk mengisi gelas Hansell.
“Aku tidak peduli. Aku hanya ingin kau mencari orang yang membuat bom senyap itu di lingkunganmu, entah kau harus memeriksa satu-persatu atau kau mengunakan ancaman masal. Itu terserah padamu! Yang jelas aku ingin kau memberikan informasinya secepat mungkin” ultimatum yang Hansell tegaskan, membuat Adward bungkam. Rasanya ia tidak mungkin bisa membantah lagi, melihat hal itu Adwar mengambil alih gelas kosong lalu menyodorkanya ke Pramutama Bar untuk mengisi gelasnya juga.
Adward meneguknya hingga tuntas, seolah ia sangat puas akan citra alkohol yang sedikit memanjakan lidah “Baiklah, aku akan mengusahakanya dengan seluruh kemampuan dan kekuasaan yang aku miliki. Tapi jika boleh bertanya, kenapa kau mencari tahu tentang bom senyap itu. Setauku Zaterius sang pemilik Laboratorium obat di Negara ini, sangat bersih dan jujur bahkan ia tidak memiliki cacat sedikitpun dalam menjalankan bisnisnya, ia selalu membuat kegiatan amal dan selalu memberikan kemudahan untuk masyarakat, jadi apa hubungan Tuan Zaterius itu dengan bangunan bawah tanah, dan siapa korban atas bom senyap di bangunan bawah tanahnya?” tanya Edward kepada Hansell, membuaat mata Hansell terdiam menatap pergelangan tanganya yang tengah memainkan gelas krista berisikan alkohol.
“Istriku” sontak minuman yang baru saja memanjai mulutnya, meloncat keluar setelah mendengar Hansell mengatakan tentang Nona Petrov pada Adward.
“N-Nona Petrov? Kenapa? Apa hubunganya dengan bagunan bawah tanah itu?" tanya Adward dengan heboh kearah Hansell, membuat Hansell menarik senyum sungging pada pria itu.
“Zaterius adalah ayah biologis istriku” sekali lagi Adward tersedak atas apa yang di katakan oleh Hansell, meskipun ia mengenal sosok Zaterius di Negara ini, pria itu tidak pernah ingin tampil dilayar kaca dan tidak pernah ingin menonjolkan dirinya, hanya beberapa kalangan elit saja yang mungkin mengenal sosok Zaterius secara pribadi, tapi rasanya sangat tidak mungkin ia adalah ayah Airyn, sebab Adward yang pernah menjalin hubungan bisnis diantara mereka, mengenal jelas jika ayah Nona Petrov sudah tiada, bahkan ia mengetahui kedatangan Airyn ke Amerika dan juga inggris semata-mata untuk melebarkan wilayah kekuasaanya atas meninggalnya Tuan Louis Petrov, dan sekarang pria itu mengatakan Zaterius adalah ayah biologis Nona Petrov apakah pria itu tidak bercanda padanya.
“Selain itu korban atas bom senyap itu adalah kedua orang tuanya, Airyn dan juga diriku” sontak Adward tidak mampu menahan jantungnya yang tidak mampu di kondisikan, bahkan ia memukul dadanya saat batuk itu lolos dari mulut Adward hingga tak terkira.
“Apa kau tengah berbohong atau mendongeng padaku, ceritamu itu sangat menyeramkan!!” cela pria itu dengan wajah menghina yang amat jelas di tampilkanya, membuat Hansell tersenyum getir atas perkataan Adward yang tidak mempercayai kenyataan.
“Andai saja ini sebuah kebohongan mungkin istriku tidak akan terluka” ucapnya dengan jengkel, membuat Adward terpana mendengar ucapan Hansell, rasanya ia tidak ingin menanyakan apapaun, sebab segala yang dikeluarkan dari mulut pria itu, seperti bom waktu yang cukup mengagetkan jantung, hanya saja siapa dalang dari penghancuran bangunan bawah tanah itu, tidak mungkin orang yang tengah ia bayangkan bukan.
“Hei, tidak mungkin” decak Adward tanpa sadar, membuat Hansell memalingkan wajah menatap pria yang bersuara di sisinya, tentu dengan cukup kaget Adward mengelengkan kepala seolah ia benar-benar tidak sadar saat berucap. “Aku hanya tengah berfikir” serunya untuk menjelaskan, membuat Hansell meneguk minuman itu sampai tandas, sedangakan Edward memainkan jarinya untuk di jentikan ke permukaan meja marmer, bahkan nampak sekali ia tengah berfikir keras, sambil meneguk minuman sedikit demi sedikit.
“Bagaimanapun aku berfikir, rasanya sangat banyak orangku yang bisa membuat bom senyap itu, jikapun aku menemukanya yang paling terpenting pasti menemukan siapa orang yang memesan bom senyap itu, tapi menurut data banyak anggota VVIP ku yang akir-akir ini membeli bom dan juga persenjataan Bioteknologi Kimia, bahkan ia membelinya dengan jumlah besar, hanya saja jika aku mengelompokan VVIP yang ada di bawah kontrak ku, Nona Petrov dapat di kualifikasikan ke dalamya. Jika begitu pakah Nona Petrov mengunakan kartu akses VVIP agar tidak terdeteksi atas transaksi yang ia lakukan? Rasanya tidak mungkin bukan?” fikir Adward tanpa melontarkan fikiranya kepada Hansell.
Tentu saja Adward memiliki lingkup VVIP yang menanda tangani kontrak di bawah dirinya sebagai Deligasi, tugas Adward adalah mengatasnamakan pekerjaan atau barang yang mereka inginkan untuk menjadi namanya, jadi siapapun anggotan VVIP yang membeli sesuatu hal itu tidak akan bisa dikenali atau di deteksi sebab setelah membeli barang, itu akan berubah menjadi atas nama Adward. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan jejak para elit atas sebuah tindakaan ilegal atau suatu rencana yang ia lakukan, tapi rasanya tidak mungkin Nona Petrv juga melakukan transaksi bukan, toh dia juga seorang korban. "Apa aku saja yang terlalu berfikir" sambung pria itu dengan racauanya yang tidak mendasar.
“Aku akan pergi, kabari aku tentang informasi sekecil apapun” ujar Hansell saat beranjak dari kursi yang ia duduki, membuat Adward berdiri untuk membiarkan pria setengah sadar itu kembali dengan orang-orangnya, mata Adward teralihkan kembali kepada gelas yang belum ia habiskan, ia mendudukan diri sambil menelfon orang kepercayaanya.
“Periksa data anggota yang melakukan transaksi, tentu saja cek di seluruh negara manapun dan kabari aku jika ada yang membeli bom senyap dengan porsi sedikit, atau di daerah Korea” perintahnya kepada orang kepercayaan yang setia padanya, membuat Adward mengenggam erat ponsel itu seraya menatap kearah depan.
“Sekalipun aku mengenali kekejaman Nona
Petrov, tidak mungkin ia akan melukai dirinya sendiri” batin Edward saat berfikir panjang akan masalah ini.