
"Airyn, apa kau membutuhkan sesuatu?” tanya Hansell ketika merapikan barang milik kekasihnya,bahkan sedari tadi dia begitu sibuk menyiapkan segala sesuatu tanpa mau dibantu oleh Angel, hingga gadis itu pulang lantaran tidak dibutuhkan
“Tidak” balas Airyn dengan kalimat singkat, membuat Hansell memandang gadis yang tengah duduk diatas ranjang, perlahan Hansell melangkahkan kaki untuk mendekati Airyn, entah kenapa langkahnya terhenti tepat dengan rasa pilu yang kian menyakiti.
Setelah Airyn mengetahui sebuah fakta yang belum pasti kebenaranya, ia selalu saja murung dan diam tanpa ada kata apapun yang terucap, bahkan berbeda seperti dirinya biasa, seoalah Airyn tidak mampu menerima semua keadaan yang dirasa tidak adil bagi hidupnya, Hansell mengerti tidak mudah bagi Airyn menerima semua ini, bahkan siapapun tidak mudah menerima fakta jika dia bukan anak kandung dari ibu yang dikenalinya selama ini, bahkan semua hal ini diluar kenadali dan ekpektasi Airyn sendiri
“Sayang” lirih Hansell dengan nada tenang, bahkan tanpa bertanya atau mengatakan sesuatu pria itu memeluk Airyn dengan penuh pilu dan sendu, ia mengerti Airyn begitu terluka terhadap fakta, yang memaksa dirinya menerima kehidupan bodoh ini, namun bagaimana lagi tidak ada yang bisa dilakukan oleh manusia jika tuhan sudah menakdirkan itu semua.
“Aku tidak mau pulang Hansell, bawa aku kemana pun kau pergi, Aku mohon” rintih Airyn didalam pelukan kekasihnya itu, tentu saja dia tidak sangup menatap wajah Marry, siapa yang bisa menghadapi kenyataan serumit ini, bahkan membuat gadis itu semakin takut mengali sesuatu yang sebenarnya tidak perlu digali, namun jika Airyn tidak melakukan semua itu ia benar-benar akan menyembunyikan diri seumur hidup, meskipun sedari awal Airyn mengerti akan ada hal yang diluar kendalinya, namun keadaan ini diluar kapasitas dan kemampuan Airyn dalam menyikapi.
“Jika benar Merry ibuku bagaimana? Aku tidak ingin menerima ini!! Dia bukan ibuku Hansell, ibuku bernama Charllot Damon dan ayahku Louis Petrov, Narry hanya sahabat ibuku. Dia bukan ibuku!!” Airyn begitu penuh dengan air mata, ditambah getaran yang membuat tangisanya terisak, Hingga Hansell tidak berdaya menyaksikan keadaan Airyn, lain dari itu ia semakin tidak berdaya setelah mendengar perkataan Airyn barusan, bahkan itu diluar akal sehatnya, nama yang selama ini dicari Hansell keluar dari mulut kekasihnya, tentu saja nama Charllot berjejer dimana-nama, tapi nama Damon adahal embel-embal yang ingin ia temukan selama ini
“Charllot Damon?” sambut Hansell mengulang perkataan Airyn didalam diamnya, ia tertegun atas apa yang terlontar barusan, bahkan membuat Hansell melirik kearah Airyn yang tidak meredakan air matanya, membuar pria itu memeluk tubuh Airyn dengan takut
“Apa yang harus aku lakukan, ya tuhan” Hansell begitu ketakutan dari apa yang dia bayangkan
“Sayang tenanglah, tentu saja mereka orang tuamu, aku mungkin tidak bisa membantu mu, tapi Airyn aku ada disampingmu, tidak peduli seperti apa keadaan ini aku akan ada disisimu, sesulit apapun kehidupan yang terpaksa kita jalani jangan pernah menyerah, karna aku yakin kau wanita terkuat yang aku miliki, selain kata mencintaimu aku tidak bisa menjanjikan apapun” bahkan Hansell meracau tanpa menyadari apa yang tengah diucapkanya itu
“Hansell aku tidak mau Marry menjadi ibuku” lirih Airyn sekali lagi sebab ia benar-benar tidak kuasa lagi atas kenyataan itu
“Kenapa?” tanya Hansell saat melepaskan diri dari Airyn, ia bahkan menatap dalam mata wanita itu dengan penuh rasa penolakan “Aku tidak mau Hansell! Dia bukan ibuku! apakah aku harus memiliki alasan lagi” bentak Airyn ke arah Hansell, bahkan membuat Hansell semakin tidak berdaya “Bagaimana mungkin dia ibuku Hansell, jelas-jelas dia ada dikeluarga kami sebatas orang kepercayaan ayahku, dia bahkan bertemaan baik dengaan ibuku, dia mengurus ku sedari kecil hanya sebatas majikan dan bawahan, bagaimana mugkin dia adalah ibuku. Ini sangat bohong sekali, apa kau fikir aku bisa menerima fakta aneh ini, bahkan aku rela menjadi gila jika aku lupa atas hal ini, aku tidak bisa menerima Marry…aku tidak bisa Hansell” Airyn begitu ketakutan menjajarkan apa yang dilontarkan, bahkan ia menarik baju Hansell seolah merengek ketakutan, ia seperti meminta pertolongan jika ini sebuah mimpi saja
“Aku bahkan sangat bersyukur jika Marry adalah ibu kandung mu Airyn” gumam Hansell saat meneteskan air mata, ia memeluk Airyn sekali lagi dengan perasaan sakit yang terasa, bahkan Hansell hampir saja gila menghadapi kenyataan ini “Ini semua memang gila” geram Hansell dengan rasa takut, ia bahkan tidak akan rela kehilangan Airyn, bahkan jika takdir yang memisahkan Hansell tidak mampu menerima kehidupan ini lagi.
“Sayang,,, tenanglah. Aku mengerti ini tidak mudah, tapi kau harus kuat Airyn, kekasihku tidak selemah ini, Airyn adalah wanita kuat yang aku temui, jangan percaya dengan semua fakta itu sebelum kita memastikan semuanya, jika kau terima atau tidak itu masalah belakangan, yang jelas sekarang kau tidak boleh lemah, aku mencintaimu, bahkan apapun yang memisahkan kita aku tidak peduli, aku mencintaimu.
“jangan tinggalkan aku” pinta Airyn kearah Hansell disaat dirinya memeluk pria itu dengan penuh sayang, bahkan hanya Hansell yang dimilikinya, membuat Airyn percaya pria itu tidak akan menghianati dirinya, meskipun banyak orang yang menghianati dan pergi dari kehidupanya, Airyn tidak akan rela jika Hansell salah satu dari mereka, karna pria itu adalah pria berbeda dari para manusia yang telah hadir untuk menyakiti dirinya saja
“Bahkan memikirkan hal itu saja, aku tidak sanggup, bagimana mungkin aku meniggalkanmu” mereka berdua saling berpelukan seoalah menguatkan, Hansell bahkan mencium kepala Airyn berulang kali hingga gadisnya merasakan kenyamanan telah menjalar keseluruh permukaan tubuh.
“Hari ini kita pulang ke Villaku saja, apa kau mau?” bujuk Hansell dengan penuh perhatian, membuat Airyn mengangukan kepala tanpa ada perlawanan, sebab untuk dikeadaan seperti ini menjauh dari Marry adalah hal terbaik, sebab Airyn belum siap mendengar penjelasan apapun dari wanita itu “Gadis pintar” Hansell memberikan kecupan manis dibibir Airyn, membuat gadis itu hanya diam tanpa melawan, entah kenapa diamnya selalu saja membuat pria itu berlebihan.
“Lepaskan aku” Airyn mencoba mencela diantara tautan bibir mereka, namun Hansell menyeringai bahagia saat dirasa Airyn mulai merasakan keinginan yang semakin mengelora, tentu Hansell meraih tengkuk Airyn untuk mendekatkan tubuh gadis itu kedirinya, ia bahkan mencicipi permukaan bibir yang dirasanya begitu candu, bahkan sudah beberapa hari mereka tidak saling bercumbu, membuat kerinduan Hansell tidak mereda meskipun Airyn meminta.
Melihat tidak ada lagi perlawanan, Hansell memelankan lumatan diatas tautan bibir mereka, Airyn memerah seakan malu atas sikap posesif Hansell yang mengikat dirinya, pria itu menjalarkan aroma tubuh yang khas di indra penciuman Airyn, bahkan nafas Hansell membuat Airyn merinding sembari merasakan, Hansell menyibakan rambut yang menjuntai panjang ke arah belakang, ia menelusuri leher jenjang kekasihnya untuk meningalkan bekas kepemilikan, tak jarang Airyn meloloskan pekikan kecil saat Hansell mencicipi tubuhnya dengan kasar, tentu Hansell tengah memancing kemarahan, namun ia berusaha menyembunyikan senyuman, setidaknya cara paling ampuh menyiksa gadis mengerikan ini dengan mencubunya secara berlebihan.
“Apa kau akan membunuhku Hansell” geram Airyn saat kekasihnya meningkatkan sensasi aneh di bagian telinga, bahkan nafas Hansell melemahkan tiap pertahanan Airyn
“Bagaimana mungkin aku membunuh kekasihku sayang, aku memberikan kerinduan. Apa kau tidak menyukainya” bisik Hansell saat melepaskan aktifitas cumbuanya, membuat Airyn bergindik geli setelah mendengar suara yang menembus pendengaran, suara serak yang terasa berat semakim sensual untuk meningkatkan keintiman “Bahkan kau tidak menolak” Hansell meraih bibir ranum yang indah itu, ia mencicipi hingga bagian terdalam, membuat bibir Airyn pucat pasi disusul dengan bengkak lebam yang ada, Hansell benar-benar seperti monster yang tidak bisa dihentikan jika menyangkut cumbuan, membuat Airyn harus mengalah jika tidak ingin kalah, sebab jika pria iti dilawan Hansell benar-benar membuat Airyn tersiksa hingga tidak memiliki sisi kemanusiaan.
“Bagaimana bisa aku mencintai pria seperti mu” dengus Airyn saat menjauhkan Hansell dari tubuhnya, bahkan matanya melotot indah seoalah kesal akan tingkah pria menyebalkan yang membuat jantungnya berdegup kencang.
“Ntahlah, itu bukan salahku. Aku tidak memaksa mu mencintaiku” sahut Hansell dengan seringai mengejek, membuat Airyn semakin terprovokasi ingin melawan
“Apa kau menghinaku Hansell!!” kesal Airyn saat menjauhkan tangan Hansell dari gengamanya, ia bahkan memalingkan wajah untuk menghindar dari tatapan mata mereka
“Begitu saja marah, aku hanya bercanda” seru pria itu seketika, sebab ia benar-benar bahagia mengolok-olok Airyn.
“Aku tidak sedang bercanda, jika kau tidak ingin aku cintai katakan saja. Tidak perlu menyindirku seperti itu, aku tahu aku membebani hidupmu, aku sadar semenjak aku ada hidupmu semuanya jadi berantakan, semuanya karna aku bukan, aku tau diri Hansell. Karna itulah aku tidak ingin menyakiti mu karna diriku yang selalu menjadi beban, bahkan jika kau merasa aku merepotkan kita bisa jalan masing-masing, kau mungkin tidak memaksaku mencintaimu, tapi aku mencintaimu. Jika hanya karna terpaksa untuk dirimu mencintaiku, lebih baik kau tidak perlu lagi mengurus hidupku” cerocos Airyn saat menundukan kepalanya bahkan Hansell hanya diam saja tanpa mau berkomentar, sedari tadi dirinya hanya melihat kearah wanita itu tanpa Airyn sadari, bahkan tangan Hansell mengepal menahan semua ocehan yang dikeluarkan, tentu saja kalimat seperti ini terus terusan keluar dari mulut Airyn untuk memaksa Hansell menjauh dari hidupnya, bagaimana bisa Hansell menerima keputusan sepihak jika dirinya sangat mencintai Airyn.
“Atau begini saja, kita tetap saja seperti ini. Jadi diri kita masing-masing, kau tetaplah menjadi dirimu dan aku menjadi diriku, kita masih pasangan kekasih, tapi untuk masalah masing-masing tidak usah saling terlibat lagi, apapun masalah itu aku berjanji akan menghandlenya tanpa melibatkanmu, jika perlu kita pura-pura sudahi hubungan ini, sebab masalah utamanya adalah hubungan kita ini” tutup Airyn dengan begitu yakin, bahkan mulutnya tak henti untuk mengucapkan kata yang tanpa disadari memuncakan emosi prianya
“Kau hanya boleh melihatkan sisi Airyn kepadaku, bukan pada mereka dan dunia, Airyn hanyalah gadis yang aku cintai tapi Nona Petrov wanita yang tidak bisa dikuasi oleh apapun, apa kau fikir aku rela membiarkanmu menyerahkan semua ini hanya untuk mengalah. Jangan bermimpi untuk meninggalkanku Airyn, bahkan maut saja tidak memisahkan kita, kenapa karna manusia-manusia itu kita harus berpisah” bentak Hansell dengan kalimat tegas, bahkan mata Airyn begitu ketakutan menatap prianya, entah kenapa Airyn benar-benar takut jika hubungan ini dilanjutkan akan banyak masalah yang menghadang, tapi Hansell sangat percaya diri mempertahankan semuanya, tentu sebuah kesulitan bagi Airyn memilih
“Kau tidak bisa memilih Airyn, bahkan kita tidak punya pilihan. Tidak ada yang boleh memberikan pilihan atas dirimu. Jangan kau pikir aku sudi meninggalkanmu, satu langkah kau pergi dari hidupku, seribu langkah aku berusaha mengejar. Aku tidak peduli dengan rasionalitas jika dirimu tidak menjadi miliki, apapun yang terjadi aku tidak akan mau meninggalkanmu, bahkan kau memohon sekalipun. Jangan berharap untuk itu! Jangan memancing kesabaranku Airyn, aku benar-benar bisa kejam jika kau tidak melonggarkan diri untuk meninggalkan. Apa kau mengerti!!” ultimatum kali ini benar-benar berisi yakin yang tertancapkan, bahkan Airyn tidak bisa berkata selain meneteskan air mata, berulang kali Hansell merasakan bahwa kekasihnya telah melemahkan diri, itu semua akibat mereka yang menghancurkan Airyn dengan menyerang kelemahan gadis itu, apalagi kalau bukan kehilangan seseorang dihidupnya.
Hansell benar-benar kehilangan sosok Nona Petrov yang ada, bahkan Airyn sekarang berbeda jauh dari Airyn sebelumnya, Hansell mengerti betapa Airyn terluka dan ketakutan atas kehilangan orang-orang yang ada didalam hidupnya, dirinya telah kehilangaan banyak, kedua orang tuanya, Berto dan Angel yang hampir saja terengut, hingga Hansell sebagai kekasih yang ia cintai, bahkan sekarang fakta lain mengunggkapkan Marry adalah ibu kandungnya, tentu Marry tidak jauh-jauh dari orang terdekat bagi Airyn, meskipun airyn tidak bisa menerima Marry sebagai ibunya, gadis itu juga tidak bisa menepis fakta jika selama ini Marry yang merawat hingga menemani dirinya sampai dewasa, bahkan wanita itu tidak memiliki apa-apa selain menjadi bawahan Airyn yang mengabdikan hidupnya disana.
Semakin kita memiliki banyak hal, semakin banyak peluang ditinggalkan hingga mereka semua menghilang. Membuat kita harus menyadari, hidup ini sangat adil sekali. Ia merenggut orang-orang yang begitu lekat dihidup kita, tapi diwaktu bersamaan kehidupan selalu memaksa kita menerima sesuatu yang baru. Bahkan setelah mendatangkan orang baru dalam seketika mengilangkaan mereka tanpa dikira, membuat kita sebagai manusia harus belajar bagaimana menerima itu tanpa ada kata siap atau tidak mampu.
“Apa aku bisa melakukanya?” tanya Airyn saat dirinya menangis sesengukan, membuat Hansell menganggukaan kepala sembari memberikan pelukan hangat yang senada dengan usapan lembut di punggung gadis itu.
“Sayang, kau bisa melewatkan ini semua. Bukan dirimu saja tapi kita. Apa kau mengerti. Semakin kita berpisah mereka semakin mencapai harapanya, jangan berikan mereka peluang untuk menang, meskipun ini sulit kita harus menghadapinya”
Kedua kekasih itu tenggelam dalam perbincangan untuk memberikan kekuatan, airyn tentu saja menyadari jika ia telah melemahkan diri, namun pria itu tidak pernah membenci atau meninggalkanya, meskipun telah banyak hal yang dilakukan Airyn kepada Hansell, bahka pria itu tidak pernah menyalahkan Airyn atas apa yang terjadi kepada hidupnya, membuat Airyn begitu malu mengangkat kepala untuk menojolkan diri dihadapan Hansell.
“Wanita ku tidak boleh menekuk wajahnya, berlakulah seperti Nona Petrov, dan Airyn yang manis untuk menjadi wanitaku” goda Hansell, seolah hal ini memerahkan pipi Airyn yang seperti terbakar.
“Aku ingin keluar dari sini, ayolah pulang” pintanya dengan gugup, sebab dia benar-benar malu untuk menatap kedua mata Hansell
“Baiklah” Airyn dan Hansell keluar dari sana, mereka semua berjalan dengan langkah pelan untuk menyeimbangi Airyn, apalagi Hansell ia begitu takut melihat kekasihnya tertatih dalam melangkah, sebab Airyn menolak untuk digendong oleh Hansell, mau tidak mau dia harus mengikuti perintah Airyn tanpa mampu membantah, seketika mereka memaski mobil yang telah disiapkan, Hansell membawa kekasihnya itu ke Villa mewah yang dimilikinya di Irlandia tentu saja Hansell masih memiliki banyak properti di Irlandia, meskipun ia benar-benar meninggalkan negara ini.
Di sisi lain Dikra telah menginjakan kakinya di Irlandia, sebelum dirinya berangkat Dikra tentu mengabari Hansell tentang kedatanganya, membuat pria itu ingin sekali bernostalgia bersama temanya, sebab sudah lama Hansell di Korea membuat Dikra kehilangan waktu dengan pria itu, namun sepertinya Hansell tidak bisa lagi seperti dulu, sebab pria itu telah memiliki tanggung jawab akan kekasihnya, membuat Dikra harus menarik diri dari harapan yang telah digantung tinggi.
Semua gadis yang melihat kedatangan Seorang Dikra dibandara dibuat terpaku tak menyangka, sebab pria itu benar-benar luar biasa dengan karismatik yang ada, bagaimana tidak wajah lugu namun cool itu sangat membuat mereka jatuh cinta ditambah proporsi badan yang sempurna membuat siapa saja iri dibuatnya, semakin para gadis meliriknya semakin Dikra merasa percaya diri, ia begitu gagah melangkah seraya mengenakan kaca mata hitam yang ada, Dikra seperti seorang model yang membuat siapa saja merasa sejuk akan dirinya.
Sebuah mobil telah disiapkan untuk menunggu kedatangannya, Dikra memilih menyetir mobil itu sendiri untuk menemui Hansell, sebab Hansell mengirimkan alamat melalui GPS yang ada, membuat dia harus kesana, karna pria itu tidak ingin meninggalkan kekasihnya, jika sudah perkara cinta apapun tidak berguna, membuat Dikra memahami jika Hansell benar-benar seorang pria pemuja, bahkan dulu seorang Hansell Hamilton begitu enggan untuk pacaran namun sekarang pria sombong itu malah bertahan lama dalam hubungan, membuat senyum sungging Dikra menghina saat membayangkan temanya.
Pintu gerbang Villa terbuka lebar untuk menyambut kedatangan Tuan rumah, yaitu Hansell dan Airyn, sebab untuk sementara waktu Airyn lebih aman jika istirahat di Villa, sebab suasana yang jauh dari keramaian dan sangat cocok untuk menenangkan diri, kedua pasangan itu memasuki Villa dengan segara, bahkan tanpa menunggu lama Hansell mengendong kekasihnya yang dirasa lamban atas langkah tertatih, Hansell meletakan Airyn di kasur lebar bersprai putih, Hansell mengendong sebuah benda ringan namun sangat berhati-hati untuk letakan.
“Apa aku seberat itu” celetuk Airyn dengan wajah kesal, sebab Hansell terlihat kesulitan dalam meletakan tubuhnya diatas ranjang
“Berat?”cela Hansell ketika mengulang kalimat Airyn “Kau bahkan tidak berat sama sekali, apa kau begitu inginnya bertambah berat bedan” goda Hansell kearah gadis itu
“Tidak, ini saja aku sudah berat, jika nanti aku menambah berat badan lagi aku akan jadi wanita gendud yang jelek” dengus Airyn saat mengatur posisinya, membuat Hansell tersenyum di sudut bibir mendengar jawaban dari gadis itu
“Sayang, kau bahkan tidak berat sama-sekali, aku hanya berhati-hati untuk menurunkanmu, aku tidak mau terjadi sesuatu dengan luka itu” jelas Jansell ketika mencium pipi Airyn dengaan gemas, ia mendudukan diri disamping ranjang sambil berhadapan dengan wajah cantik milik kekasihnya “Apa kita bisa menambah berat badanmu dengan menitipkan janin disini” tangan pria itu merambat keperut Airyn, seolah menuntut Airyn mengerti atas kode yang diberikan
“Tidak” bantah Airyn seketika, dengan rona malu yang ada. Membuat gadis itu sangat gugup untuk mengunggkapkan apa yang baru saja ingin dibantahnya.
“Kenapa?” tanya Hansell cepat, seolah ia butuh penjelasan atas penolakan Airyn barusan
“Kita…kita bukan suami istri, jadi tidak bisa melakukan itu. apa kau mau anak kita tidak memiliki status orang tua yang jelas” celetuk Airyn saat menatap dalam kedua mata Hansell
“Kita tinggal menikah saja” seru Hansell membalas argumen yang dilontarkan Airyn, namun gadis itu hanya diam tanpa menjawab “Apa kau masih belum mau menikah dengan ku?” tanya Jansell sekali lagi, membuat Airyn mengigit bibir bawahnya, seolah dirinya benar-benar tidak siap untuk menjawab pertanyaan Hansell.
“kenapa Airyn tidak mau menikah?” gumam pria itu saat menatap kearah gadis yang dirasa begitu ketakutan “Tidak apa-apa, aku tidak akan memaksa” Hansell menarik Airny kepelukanya, seolah menenangkan gadis itu dari rasa cemas akan sikap bersalah “Apapun yang kau mau aku akan mengerti, aku tau kita butuh waktu sayang, meskipun kita sudah lama saling kenal, tapi hubungan ini baru beberapa bulan belakangan, jadi aku juga tidak menuntutmu untuk terburu-buru” ujar Hansell dengan penuh kata sayang, bahkan menghilangkan seluruh fikiran cemas yang tadi menyelimuti Airyn.
“Jika aku tidak mau menikah selamanya bagaimana?” tanya Airyn, membuat Hansell terdiam
“Kita tidak bisa memastikan masa depan, jika kau tidak bisa melakukan itu pasti memiliki alasan bukan, jika alasan itu benar-benar mustahil untuk dipecahkan, aku bersedia hidup selamanya denganmu. Karna aku percaya kita saling mencintai” tuturnya, meskipun ada rasa kecewa yang dipendam dalam, tapi bukan itu yang harus dipentingkan, melainkan penyebab yang membuat Airyn ketakutan untuk melakukan pernikahan “Aku mencintai mu Airyn” seru Hansell sekali lagi seraya mengeratkan pelukan sambil menikmati aroma tubuh kekasihnya.