Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Waktu berlalu begitu saja



Sudah 6 bulan dari kejadian itu, Airyn dan Hansell memang menjadi orang berbeda, hari-hari disekolah dinikamati dengan cara sendiri-sendiri, sekarang Hansell menjadi pelindung dari arah jauh, bahkan tanpa pantauan nya pun Airyn akan baik-baik saja disekolah ini, namun Hansell tak akan mampu menepiskan perhatian yang tercurahkan kepada Airyn


“Tidak terasa sudah 3 tahun berlalu, pada hari ini saya selaku kepala sekolah melepaskan kepergian siswa/I kami tercinta. Dan mengembalikan nya kepada bapak ibu selaku orang tua mereka. Terima kasih atas kehadiran bapak/ibu disekolah kami, terimakasi sudah mempercayakan murid-murid ini bersekolah di sekolah ini, dan tentu saja ini sebuah kebanggaan telah melahirkan bibit-bibit unggul untuk masa depan”


Seketika itu seluruh orang tua dan peserta didik memberikan tepuk tangan yang meriah kepada kepala sekolah, lantaran hari ini adalah pelepasan untuk semester 3, tentu saja hansell, dikra dan Airyn tengah menjalankan proses tersebut. Namun berbeda dengan Hansell tidak ada orang tua yang datang selain Angel bagi Hansell, begitupun Airyn hanya Marry dan Betrto yang menjadi formalitas sebagai orang tua nya.


“untuk terakir kali bapak berpesan semoga kalian mampu menjadi yang terbaik, dan pemimpin yang sangat baik untuk masa depan, mungkin ini saja yang dapat saya sampaikan, terima kasih atas perhatian nya, semoga kalian bahagia dan menjadi anak-anak yang sukses nantinya”


Penutupan pidato itu disambut kembali oleh tepuk tangan yang meriah oleh seluruh hadirin yang ada. Ketika Hansell tengah berdiri bersama dengan Hellena dan Dikra dia melihat Airyn tengah disapa oleh orang tua murid, terlihat jelas orang tersebut begitu sopan dan santun menyapa gadis Petrov, Hansell hanya tersenyum memandangi Airyn dari arah jauh, setidaknya gadis itu telah lulus dan berbahagia, Hansell begitu berharap Airyn akan baik-baik saja, mungkin ini kali terakir Hansell melihat Airyn, lantaran dia tidak akan memiliki alasan untuk bertemu lagi dengan Airyn Petrov.


Gadis yang dipandanginya saat ini tentu saja sangat cantik seperti dirinya biasa, dia mengunakan warna hitam yang mendominan gaun indah yang melekat ditubuhnya, Airyn begitu anggun hingga mata Hansell tak ingin lepas dalam menatap, ada keinginan mengucapkan selamat kepada Airyn, namun berhasil dipendam, Hansell hanya tersenyum ketika gadis itu tersenyum, entah kenapa mencintai airyn diam-diam menjadi sesuatu yang menyenangkan, bahkan tak pernah terbayangkan selama ini dia akan mencintai seorang wanita segila ini.


Acara itu dilaksanakan disebuah hotel yang megah dan luasnya, tentu saja para orang tua murid memiliki ekonomi yang sangat mencukupi atas kehidupan yang layak bagi anak-anak nya, namun semua kekayaan yang dimiliki orang tua murid disini, tak akan ada yang mampu menandingi miliki Airyn sendiri, secara fisik Airyn sempurna, secara materi Airyn luar biasa, namun jika dibandingkan dengan keluarga Airyn tidak memiliki apa-apa.


Mata Hansell begitu jeli memandangi Airyn dari arah jauh, seketika dia melihat wajah sedih tertampil di raut wajah gadis itu, Hansell mengerti apa yang dirasakan Siryn, karena dia juga merasakan hal yang sama, namun bagaimana lagi untuk saling menguatkan satu sama yang lain mereka berdua memang tak akan bisa, karna jarak sudah menjadi pembeda, dan secara terpaksa Hansell menelan kembali kenyataan ter pahitnya, meskipun begitu dia tidak akan berkecil hati, dan menyerah dengan kehidupan ini, jika nanti ada pria yang lebih baik dan sangat pantas bersanding dengan Airyn mungkin Hansell telah menuai kebahagiaan pada saat itu, lantaran hanya kebahagiaan Airyn yang mampu menghilangkan rasa bersalah nya.


“kak Hans, apa kau ingin melanjutkan kuliah mu keluar negri?” tanya Hellena


“ntahlah, aku masih belum memikirkan nya” saut Hansell cepat, sambil meneguk minuman yang berada ditangan nya


“aku akan ikut bersama mu, jika kau ingin bersekolah di luar negri” celetuk Dikra, tentu saja dia tidak ingin jauh-jauh dari teman nya itu, lantaran selama ini hanya Hansell yang paling mengerti dirinya


“kita bukan lagi bocah SMA, jika nanti kau masih tetap berada disekitar ku, gosip yang mengatakan diriku gay bakalan benar adanya” jawaban itu dilontarkan Hansell tentu saja mengundang gelak tawa Hellena kepada Dikra


“kau ini menjijikan sekali” ketus Dikra, dengan begitu kesalnya mendengar pernyataan Hansell barusan


“apa kau lupa diri, jika aku ini menempel, lalu dirimu apa?” balas nya kepada wanita menyebalkan itu


“kau!” sorot mata Dikra dan Hellena saling memancar satu sama lain nya, membuat Tuan Sillky yaitu ayahnya Hellela menghampiri mereka dan menegur putrinya


“Hellena, kenapa kau selalu bertengkar dengan Dikra” putusnya


“dia yang selalu menyebalkan” seketika itu Hellena mengelayuti tangan Tuan Sillky seperti anak-anak yang mengadu kepada ayahnya


“Dikra, aku minta maaf jika putriku kekanak-kanakan” Tuan Sillky tersenyum ramah kepada Dikra, seolah dia menyapa hangat Dikra dan Hansell secara bergantian


“Daddy” Hellena membentak Tuan Sillky karna dia tidak terima, bahwa daddy nya berlaku baik kepada Dikra


“Hellena, kau sudah dewasa tidak sebaiknya kau bersikap kekanak-kanakan lagi” tegur Sillky kepada putrinya dihadapan Hansell dan Dikra, tentu saja Hansell sudah terbiasa dengan sikap Hellena yang tidak jauh beda dengan adiknya, ditambah ddikra selalu saja berdebad dengan wanita itu, membuat Hansell memaklumi pertikaian mereka, Hansell sibuk meneguk minuman nya, dia masih asik berbincang-bincang dengan Dikra, Hellena dan Sillky, ditambah kedatangan tuan William yaitu ayah nya Dikra, sekarang mereka semakin sibuk bercengkrama, lantaran memang mereka sudah menjalin hubungan baik satu sama yang lain.


"Marry aku ingin keluar dari sini, apa kau sudah mengambil ijazanku?" tanya Airyn kepada Marry


“sudah nona, apa anda yakin ingin pulang?”


“tentu saja, bukankah acara seperti ini merepotkan, menghabiskan waktu ku yang berharga, jika bukan ini terakir kalinya aku tidak akan mau menghadiri acara membosankan” ketusnya dengan langkah pasti kearah luar, tentu saja butuh perjalanan cukup panjang untuk Airyn kepintu ruangan, karna dia mengadakan acara ini di hotel terbesar di Irlandia sendiri.


Acara perpisahaan ini cukup mewah dan luas dan tentu saja ini adalah hotel terbaik milik Airyn, bagi gadis itu acara seperti ini hanya menyita waktu jika dia berlama-lama, lain dari itu ada rasa sedih disana, lantaran semua siswa didampingi oleh para orang tua sedangkan Airyn hanya diwakili oleh Marry saja.