Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Airyn tengah menunggu.



“Aku tidak sanggup, sungguh ayah, Airyn tidak sangup” ucap Airyn dengan penuh memohon, bahkan air mata Zates tidak mampu di hentikan ketika melihat penderitaan putrinya, bahkan Airyn telah di berikan obat pereda sakit tetap saja ia kesakitan, bahkan kesadaranya hampir redup lantaran rasa sakit yang mengoncang seluruh perut itu membuat Airyn tidak kuasa.


Tangan Airyn yang mengengam erat jemari Zates untuk menyalurkan kesakitanya, sungguh tidak bertenaga seperti semula, bahkan kali ini Zates yang mengenggam erat tangan putrinya, hingga Airyn mengeluarkan air mata tak berdaya, berulang kali ia mengelengkan kepala seolah menjadi pertanda jika Airyn tidak akan sanggup lagi.


“Ibu Airyn, anda harus bertahan, sebentar lagi saya akan menemukan plasenta yang menempel di dinding rahim” timpal Dokter yang penuh akan keringat, ia bahkan juga panik saat kekuatan Airyn untuk mengkontraksikan rahimnya memudar, bahkan ia seperti tidak mampu bertahan, hingga Zates sangat panik dan terksiksa, ia yang biasanya sangat tenang menjadi seorang Dokter, kali ini di buat kalut jika anaknya yang berada diantas meja ini, Zates meneriaki Dokter yang sedari tadi ia rasa lamban sekali, ia sangat mengerti kepanikan keluarga seperti ini tentu akan membuat fokus Dokter akan menurun, namun sebagai manusia ia tidak sesempurna itu untuk mengerti dan memahami, ia sungguh tidak berdaya selain meneriaki Dokter secepatnya sebelum Airyn hilang kesadaran.


Airyn menutup matanya dengan rasa sakit yang membuat keningnya berkerut dalam, bahkan Zates meneriaki perawat untuk memanggil Merry, ia yang sedari tadi memilih diam untuk melihat hal ini tentu merasa geram, hingga rasanya Zates ingin mengantikan Dokter bodoh itu, bahkan caranya saja ketika bekerja sangat lamban di tambah dirinya yang panik sungguh membuat Zates geram.


Pintu yang tertutup rapat itu terbuka hinggaa membuat telinga Zates mengaksesnya, membuat Zates mengerti jika Merry sudah memasuki ruangan, dan membuat Zates melepaskan tangan putrinya seraya mengunakan sarung tangan steril untuk mengambil alih, bahkan Zates kala itu begitu cekatan seperti seorang Dokter Profesional hingga mengeser kedudukan wanita yang menjadi Dokter kandungan anaknya.


Semua orang terpaku ketika seorang pria mengenggam tangan Airyn dan ia mengusap kening yang penuh akan keringat di dahinya, kesadaran Airyn yang redup meskipun belum sepenuhnya hilang dengan terpaksa membuatnya memejamkan mata, wanita itu menarik keras tangan lebar nan hangat seperti sebuah tangan yang sangat familiar ia genggam, tangan yang dimasa lalu selalu memeluk dan bahkan ia rasakan di detik terakir kesadaranya memberikan kekuatan.


Airyn sadar ini hanya sebuah ilusi, karna selama ini ia selalu menghadiri Hansell dengan imajinasi yang ia buat, bahkan Airyn sering melihat bayangan suaminya sedang berada dimana-mana dan itu cukup untuk melepaskan kerinduanya selama ini, dan ia sangat sadar saat ini dirinya merasakan tangan Hansell yang hangat dan lebar itu adalah ilusi semata dimana saat Airyn membuka mata ia akan melihat bayangan itu memudar dan hilang sendirinya, untuk itulah Airyn memilih bertahan dengan mata tertutup sembari mengegam erat tangan yang mengenggamnya.


Zates terpaku atas tingkah Hansell yang sangat peduli dan penuh akan kasih sayang serta tatapan hangat, ia bahkan tidak mampu berpaling selain melihat kesadaran dan kekuatan Airyn yang berangsur kembali, bahkan Zates tidak percaya pria yang dari 5 hari ini ia kenali dengan sikap dingin itu sungguh mencair dengan kasih sayang hari ini.


Jemari tangan Hansell mengusap kepala Airyn, ia bahkan mengegam tanganya seperti Zates melakukanya, bahkan pria itu sangat cemas seperti apa yang Zates lakukan, hingga tangisan bayi yang saling bersaut-sautan itu membuat Hansell melirik kearah bayi yang ada di ujung sana, hingga lagi-lagi terpaku kepada wanita yang katanya istrinya, dan tengah berjuang melahirkanya, bahkan Hansell sungguh tidak menyangka jantungnya berdebat dengan cukup kuat hingga cemas melanda, sungguh Hansell tidak percaya ia akan merasakan debaran asing yang menyakitkan namun sangat membahagiakan disaat bersamaan, kerutan di kening wanita bersama Airyn itu ia redakan dengan usapan jari jemarinya, hingga menghilang, Hansell menitikan air mata yang ia sendiri tidak mengerti apa maksudnya.


“Dokter, kesadaran ibu Airyn sudah kembali, biar aku yang menyelesaikanya” putus Dokter Rieneta ketika mendorong tubuh Zates, bahkan Dokter itu menepisnya dengan sangat kencag hingga percaya diri akan berhasil menyelesaikan persalinan ini.


Airyn mendorong kembali dengan kekuatan penuh yang di bantu oleh pria yang mereka tidak tahu siapa, namun nampaknya memberikan kekuatan positif untuk pasien, bahkan Hansell mendekatkan wajahnya ketika membisikan kata bertahan pada Airyn, hingga wanita yang berjuang dengan peluh dan keringat itu memang mengeluarkan seluruh kekuatan dan mempertahankan kesadaranya, ia bahkan mengenggam erat tangan suami ilusinya itu hingga persalinan berjalan dengan sempurna, sang Dokter mampu mengeluarkan plasenta yang menempel di dinding rahim Airyn dan bahkan membuat Zates lega dengan dada penuh kebahagiaan serta air matanya sulit di tahan.


Pria itu menjatuhkan diri ketika ia mengucap syukur dengan air mata bahagia saat menyaksikan Airyn berhasil melewatkan ini semua dan suaminya itu juga berada disisinya, hingga Merry menagis bahagia diarah luar bahkan membuat Zates memandang istrinya.


Airyn menangis ketika rasa sakit itu telah sirna, tangan yang mengengamnya dengan erat, sungguh tidak bisa Airyn lepaskan, dan bahkan ia tidak ingin membuka mata karna ia yakin ilusi ini akan hilang seketika, Airyn menangis sejadi-jadinya hingga batin Hansell bergetar dengan terluka, entah haru atau bahagia ia sungguh tidak mengerti selain memeluk wanita yang menangis itu.


Hansell merebahkan kepalanya sejejar dengan kepala Airyn, sambil mengengam erat tangan yang di genggam oleh Airyn, Hansell menangis ketika isakan wanita yang sudah menjadi ibu itu menyakiti dadanya, hingga ia merasa dada itu terasa lapang seolah ada luang yang membuat batinnya tenang.


Kenapa Hansell menangis?


Kenapa ia bahagia sekaligus merasa sakit secara bersamaan?


Kenapa hatinya terasa pedih saat wanita itu merintih?


Bahkan ada pilu yang menyembilu hingga mengengam tangan itu seperti hatinya terparti sendu, apakah memang ia tengah kehilangan ingatan dan sudah menyakiti wanita ini, tapi kenapa bisa seperti ini? Apa yang terjadi sebenarnya, bahkan jika benar wanita bernama airyn ini istrinya dan ibu dari anak-anaknya, bahkan jika benar ia sudah menyakitinya apakah Hansell masih bisa mengampuni dirinya sendiri.


*


Airyn sudah di pindahkan ke ruang inap dan bahkan anaknya tengah berada di samping wanita itu, sedangkan Hansell memilih duduk di luar ruangan dengan teh hangat yang di wadahi oleh gelas yang berbahan styrofoam dengan lapisan merek teh disisi gelasnya.


Matanya bahkan tak bergeming ketika menatap nanar kearah depan, ia mencoba tenang hingga meneguk minuman hangat untuk mengasah kerongkogan yang mulai mengering.


“Apa kau masih mengatakan aku berbohong?” tanya Zates dengan pertanyaan yang cukup sengit, membuat pria itu menegadahkan kepala sembari menatap dengan perasaan risau.


“Entahlah” ucapnya dengan intonasi kata rendah.


“Entahlah” ulang Zates dengan rasa jengkel yang lekat.


“Bagaimana aku bisa mengerti. Aku bahkan tidak mengigat apapun, selain merasakan sakit saat melihatnya menangis, bahkan aku tidak mengerti dengan perasaan ku sendiri, dan kau terus mengejar ku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa aku artikan” dengkus Hansell saat membalas lontaran kata dari mertuanya itu.


Hingga Zates mengehela nafas dengan berat seraya mendudukan diri di samping pria itu, bahkan rasanya Zates cukup paham jika saat ini ada kebingungan yang melanda Hansell, dan ia sangat mengerti sekali jika Hansell sendiri sangat ingin mengigat Airyn dan sangat ingin menyadari semua itu. Namun sayangnya memang tidak semudah itu.


Zates menatap panjang penuh perhitungan, ia sungguh lelah menjawab pertanyaan itu berulang-ulang, bahkan ingin sekali Zates memukul kepala Hansell jika saja itu bisa membuatnya mengigat kembali. “Akan aku lakukan Tes DNA dua bayi laki-laki yang baru saja lahir dari rahim anak ku. Jika kau masih bertanya untuk kesekian kalinya, jangan harap akan aku izinkan kau kembali pada putriku setelah ingatanmu pulih” tutur Zates ketika mengintimidasi Hansell agar ia sedikit menerima kenyataan ini.


“Kenapa kau harus meradang, aku hanya bertanya saja. Jika saja kau di posisiku tidakah kau bingung ketika tidak mengigat apapun, dan tiba-tiba ada wanita yang menjadi istrimu dan tengah melahirkan anak mu”


“Jikapun aku menjadi dirimu, aku akan sadar ketik air mataku tumpah dengan sendirinya melihat wanita asing untuk pertama kalinya, pasti ada memori yang sudah aku lupakan tentangnya” balas Zates dengan penuturan yang kentara, sungguh membuat Hansell bungkam seribu bahasa tanpa mampu bicara.


Bahkan sedari tadi itu yang tengah ia fikirkan, wajah dan nama itu tidak ada di dalam memorinya, namun interaksi antara tubuhnya dan wanita bernama Airyn sungguh membuat sensasi berbeda, bahkan genggaman tangan itu saja mampu menghangatkaan hatinya yang dingin, ia seperti menemukan dunia dari orang berbeda dan merasakan keakraban yang nyata.


“Aku akan pergi menemui cucu dan anak ku. Kau pulanglah dengan Darrel” lanjut Zates saat melangkah meninggalkan Hansell, bahkan pria itu berdiri seketika seraya tidak terima ia akan diusir dari rumah sakit ini.


“Aku tidak mau pergi” ucap Hansell seolah ia ingin membangkang dari perintah Zates, bahkan kali ini senyum sungging yang Zates tarik dari sudut bibirnya terasa semakin nyata, hingga kepalanya menoleh kearah belakang melihat keberadaan Hansell.


“Kenapa?” tanya Zates dengan nada penuh ejekan, bahkan Hansell terpaku diam seolah pertanyaan itu tidak mampu ia jelaskan, ia bahkan menanyakan kepada dirinya sendiri kenapa ia malah tidak terima di usir dari rumah sakit ini, seolah ia ingin tetap tinggal untuk seseorang. “Masuklah untuk melihat anak mu, setelah itu kau pulang saja. Aku butuh waktu untuk menjelaskan beberapa hal pada Airyn” sambung Zates kepada pria itu.


“Apa yang ingin kau jelaskan?” tanya Hansell ketika berlari kecil mengejar Zates, ia sungguh bertingkah pada usia 15 tahun, karna nampaknya pemikiran dan cara bersikapnya saja seperti lelaki remaja, sehingga Zates sangat bingung menjelaskan hal ini kepada anaknya, bahkan ia tidak percaya apa yang akan Airyn katakan nantinya.


“Ada seorang pria brengsek yang memohon padaku untuk menjauhkanya dari seseorang, dan setelah aku melakukan permintaan itu ia malah diluar perkiraan” balas Zates saat mendeskripsikan tentang Hansell.


“Di luar perkiraan? Maksudmu?” balas Hansell dengan tatapan polos, sungguh Zates melihat jiwa lelaki ramaja di tubuh suami anaknya, bahkan rasanya Zates tidak menyangka Airyn akan mengalami situasi ini.


“Lupakan saja” balas Zates seraya mengacak-ngacak rambut Hansell, tadinya ia ingin sekali mengumpat tentang Hansell, tapi melihat kondisinya sungguh membuat Zates tidak tega untuk melanjutkan penuturanya.


“Hei, kenapa kau diam saja. Lanjutkan lagi perkataanmu” kesal Hansell saat pria itu mengantungkan penjelasanya.


“Tidak mau”


“Kenapa?”


“Aku malas saja”


“Kenapa kau malas, katakanlah. Apakah ada yang menyakiti anak mu, biar aku balas”


“Kau bisa apa diusia 15 tahun ini”


“Aku? Tentu saja aku memiliki kekuasaan, aku akan mewarisi perusahaan ayahku diusia ke 17 , jadi kau tenang saja, akan aku lindungi putrimu”


“Kau sudah pernah melindunginya, meskipun akirnya kau kembali lagi pada masa lalu”


“Kika benar begitu, bawa aku kemasa depan”


“Apa kau fikir dirimu tengah menyeberangi ruang waktu, dasar bodoh”


“Kenapa kau mengatakan aku bodoh. Dasar bapak tua”


“Apa kau mengumpat pada orang dewasa”


“Tidak!!”


Hingga percakapan mereka di sepanjang lorong itu sungguh membuat Zates seperti memiliki seorang putra, ia mungkin akan mendapatkan kekecewaan dari Airyn, tapi Zates sungguh bersyukur Hansell bisa kembali sehat dan bisa bersama istrinya, hanya masalah waktu maka Airyn dan hansell akan bersatu, tapi jika saja waktu tidak berpihak pada mereka, hanya keajaiban yang Zates pinta untuk mengembalikan Hansell dan seluruh ingatanya. Karna Airyn tengah menunggu.