
“Airyn, apa kau mendengarku” ucap Merry saat melihat mata Airyn yang mulai mengerjap, bahkan pelan-pelan wanita itu membuka kedua matanya, hingga manik mata coklat itu mulai mengakses wajah Merry di depan matanya, Airyn masih memilih diam sekalipun suara Merry sudah terdengar, bahkan ia melihat kearah sekitar seraya mengalihkan pandangan kearah ibunya.
“Dimana aku?” itu adalah kata pertama yang Airyn ucapkan saat kesadaranya mulai kembali, bahkan setelah 30 jam ia tertidur di bawah pengatuh obat, rasanya Merry tidak menyangka jika Airyn akan bangun secepat ini.
“Kau ada di rumah sakit” balas wanita itu serya menekan tombol yang sedari tadi sudah di sentuh oleh jemari tanganya, membuat kening Airyn berkerut saat mendengar perkataan Merry.
“Apa yang terjadi padaku, anakku—“ tanganya meraba-raba permukaan perut, untunglah ia masih merasakan kedua detak jantung anaknya disana.
“Kandunganmu baik-baik saja, tapi kata Dokter kau terlalu kelelahan sehingga banyak pikiran, membuat sistem imun menurun. Apa beberapa bulan ini kau mengalami muntah-muntah?”
“Tidak terlalu, hanya dalam 3 bulan kehamilan saja, setelah masuk bulan ke 4 sudah tidak ada lagi” balas Airyn pada Merry, rasanya ia tidak berfikir yang lain selain menjawab pertanyaan wanita itu. “Oh iya, apa Hansell sudah pulang. Dimana dia?” tanya Airyn dengan tatapan polos, membuat jantung Merry berdesir takut ketika pertanyaan yang tidak ia harapkan itu di lontarkan oleh Airyn, apa yang akan Merry katakan pada anaknya, apakah ia akan mengatakan yang sebenarnya atau akan membohongi Airyn saja.
“Apa Hansell ke kantor?” tanya Airyn sekali lagi seraya menyipitkan kedua matanya, ia masih saja berfikir positif dan Airyn tentu saja masih mempertanyakan tentang suaminya.
Sumpah demi apapun Merry ingin pergi dari sini, ia ingin menghindari situasi ini, dan ia ingin ada sebuah mukjizat untuk yang terjadi, rasanya Merry amat gugup untuk bicara, mulutnya berkatup seolah enggan menjawab pertanyaan anaknya, bahkan jantung itu dengan kurang ajar bergetar dengan hebatnya, namun masih mampu mengendalikan ketenagan, apa yang akan Merry lakukan, ia tidak bisa menyakiti anaknya, tapi jika Merry berbohong itu hanya akan mengundur waktu untuk memberikan luka yang lebih perih dari kenyataan ini.
“Hansell--“
“Ny. Merry maafkan kami, ada sekitik kendala yang mengakibatkan keterlambatan untuk datang” tukas sang Dokter yang kala itu memasuki ruangan Airyn untuk melihat apa yang terjadi, bahkan nafas mereka cukup ngos-ngosan ketika berjalan kearah mereka, hingga pandangan keduanya teralihkan kepada sang Dokter.
“Tidak masalah, silahkan periksa Airyn saja” ucap Merry seketika, seraya memberi jalan untuk mundur dari posisi agar para dokter dan orangnya memeriksa keadaan anaknya.
Tentu mata Airyn masih memandang kearah Merry, bahkan gurat di wajahnya sangat jelas mengambarkan jika Airyn cukup bingung atas tingkah ibunya. Lagian kenapa Hansell tidak ada di ruangan ini, biasanya setiap kali Airyn masuk rumah sakit, selalu wajah Hansell pertama kalinya ia lihat, tapi hari ini suaminya itu tidak ada, bahkan Airyn melihat kearah sekitar sepertinya tidak ada eksistensi suaminya, sebab Hansell pasti meninggalkan barang di ruangan ini sebagai tanda keberadaanya, tapi di sini Airyn tidak melihat barang suaminya, seolah sangat sepi dan sunyi tanpa apapun.
Apakah Hansell belum ke rumah sakit, bahkan pertanyaan dan seluruh pemikiran yang menerka-nerka itu membuat Airyn amat gugup untuk menerima jawaban dari Merry.
“Anda sudah baik-baik saja Nona Petrov, saya akan meresepkan beberapa vitamin untuk anda, tapi tolong hindari stress dan jangan terlalu tertekan” ucap sang Dokter kehadapan wanita yang nampaknya tidak mempedulikan mereka. Mata Airyn mulai teralihkan pada Dokter yang mulai bicara, ia bahkan melihat jam yang melingkar di tanganya.
“Sudah berapa lama saya di rumah sakit?” tanya Airyn pada Dokter yang kala itu tengah membereskan diri untuk beranjak pergi, membuat Merry menyatukan kedua tanganya seolah amat gugup atas pertanyaan itu.
“Kurang lebih 1 hari anda beristirahat Nona” ucapnya ketika membalas perkataan Airyn, seraya berlalu dengan sikap hormat meningalkan pasien diatas ranjangnya.
Mata Airyn begitu menuntut saat memandang Merry, bahkan rasanya Airyn mulai merubah ekspresi wajahnya, ia tidak ingin berfikir yang tidak-tidak, namun Airyn benar-benar ingin mengetahui keberadaan suaminya. “Kemana Hansell pergi?” tanya Airyn saat memutus keheningan di ruang kamar itu, bahkan Merry mengangkat kepalanya untuk berjalan mendekat kearah putrinya, kedua mata Airyn menatap penuh keinginan bahkan seperti harapan untuk menjelasakn sesuatu padanya, tentu Merry ingin sekali menangis, bahkan belum membuka mulut air matanya sudah meleleh begitu saja, membuat kening Airyn berkerut tajam sat menatap wanita itu, jantungnya berdebar dan ia mulai takut untuk mendengar apa yang akan di katakan oleh wanita yang merupakan ibu biologisnya.
“Aku betanya tentang Hansell, kenapa kau menangis. Kemana Hansell pergi!!” bentak Airyn dengan geram, bahkan rasanya tubuh gadis itu mengingil saat pertanyaanya mulai di abaikan dan seolah Merry tidak ingin mengatakan apapun selain air mata yang mengalir itu.
“Kenapa kau menangis Merry, aku bertanya padamu kemana suamiku” teriak Airyn sekali lagi, hingga tangis sesungukan dari wajah Merry ia hentikan dengan susah payah, Merry menghirup oksigen untuk mengendalikan diri, ia tidak bisa seperti ini, dan ia memang tidak sangup membicarakan kebenaran yang terjadi.
“A-Airyn maafkan aku nak” lirih Merry saat meringkuh Airyn kedalam pelukanya, membuat Airyn menatap nanar atas apa yang Merry katakan, apa yang ia maksud dengan kata maaf itu, kenapa Merry meminta maaf saat Airyn menanyakan keadaan suaminya.
“Apa yang terjadi pada hansell” kali ini wajah Airyn mengelap, jantungnya berdegup kencang, sekali lagi ia begitu ketakutan di dalam penjelasan yang belum Merry katakan, bahkan ia tidak bisa melakukan apapun selain menemukan jawaban sebenarnya akan suaminya. Tubuh Airyn mengigil dingin, air matanya mulai berkaca-kaca, pelukan Merry yang diselipi tangisan kepedihan itu benar-benar membuyarkan akal sehatnya, apakah sudah terjadi sesuatu pada Hansell hingga Merry seperti ini.
“Apa terjadi sesuatu pada suamiku” bentak Airyn dengan tangisan yang memecah keheningan, seperti luka tusuk yang di tikam dengan benda tajam, bahkan mengirisinya dengan garam diatas luka yang masih bercucuran, Airyn rasanya tidak memliki kekuatan untuk melawan, tubuhnya kaku, mulutnya membisu, dan bahkan tangisan Merry smmembuat Airyn menuli, yang saat ini bisa ia fikirkan bagaimana dengan suaminya itu, dimana Hansell berada, dan apa yang terjadi padanya.
Seolah-olah sifat Merry seperti mengambarkan jika Hansell sedang tidak baik-baik saja, keberatanya saat menjelaskan membuat Airyn sadar sesuatu yang buruk menimpa mereka, hal apa yang membuat Hansell terluka, hingga rasanya Airyn menghempaskan tubuh Merry untuk menjauh dari dirinya “Kemana Hansell pergi, dan apa yang terjadi pada suamiku” bentak Airyn dengan begitu marah, ia menguncang tubuh Merry untuk mengatakan kebenaranya, hingga Airyn merampas paksa infus yang terpasang di tanganya hingga aliran darah segar mencucur dari sana, membuat mulut Merry terngaga atas apa yang di lakukan anaknya, Airyn menuruni ranjangnya seperti ancang-ancang ingin pergi menemukan jawaban, tentu saja terus menanyakan Merry yang enggan menjawab hanya akan membuang waktunya.
“Tidak nak, Airyn apa yang kau lakukan. Jangan seperti ini!” sekuat tenaga Merry menahan tubuh Airyn, seolah tidak membiarkanya pergi dari ranjang itu.
“Katakan apa yang terjadi pada Hansell, dari pada aku yang mencari tahunya sendiri. Jangan menyulut emosiku lebih jauh Merry, jika kau seperti ini akan aku hancurkan semuanya untuk mencari suamiku!!” bentak Airyn pada ibunya, hingga rasanya membuat Merry tidak mampu menahan lagi.
“Tidak Airyn. Jangan seperti ini, kau harus tenang, aku akan menjelaskanya” ucap Merry dengan tergesa-gesar untuk menenangkan anaknya, ia menahan tubuh Airyn dengan pelukan agar gadis itu tidak melakukan tindakan berbahaya.
“Katakanlah. Kemana Hansell, apa yang terjadi padanya” bentak Airyn kehadapan Merry, bahkan wajahnya yang berlimpah dengan air mata itu amat mengancam dengan tatapan tajam.
“H-Hansell..” rasanya Merry tidak sanggup melanjutkanya, tapi wajah Airyn yang begitu mengerikan benar-benar membuat Merry harus mengatakan kebenaranya “Terjadi sesuatu yang buruk pada Hansell saat menghadapi Jilixing”
“Apa yang terjadi!!” teriak Airyn dengan marah ketika nada suaranya bergetar hingga tangisanya memecah seluruh ruangan, bahkan dirinya melemas saat perkataan itu benar-benar merengut tenaganya untuk bertahan.
“Airyn, sayang tenanglah” ucap Merry yang kala itu memeluk anaknya, hingg tagisan Airyn memecah di pundak Merry, suaranya yang melemah membuat Merry tidak mampu mengulurnya lagi. “Hansell sudah tiada”
Sontak mata Airyn terpana, darah yang mengalir di sekujur tubuh seperti membeku dingin, bahkan detak jantungnya rasa berhenti Sampai pembuluh darah yang memompa itu tidak mampu di rasanya, oksigen yang harusnya ia hirup seperti terputus, dirinya mengalami mati namun tetap bernyawa dan sadar, mata Airyn membulat, bibirnya membeku, ucapanya kelu, rasanya benar-benar mati detik itu juga.
"t-tidak mungkin" kata itu yang menjadi penolakan di fikiran dan hati Airyn, tapi tidak sanggup ia keluarkan.
“Airyn…” teriak Merry saat anaknya itu hampir saja mulai terhayung untuk merengsek jatuh dari pelukanya, Merry masih mencoba meneriaki kesadaran anaknya, hingga goncangan itu membuat dada Airyn kembang kempis seolah ia kekurangan oksigen.
“Bernafaslah….” teriak Merry saat tangan itu mulai menekan tombol darurat di kamar VVIP yang super mewah dan luas, hingga pintu kamar di dobrak oleh seseorang, membua mata Merry mengakses Zates yang masuk ke ruangan.
“Apa yang terjadi pada Airyn” teriak pria itu dengan paniknya, ketika Zates ingin mengkangkau tubuh anaknya, tiba-tiba saja jemari Zates bergetar hebat, membuat ia terdiam ketika tangan mengigil seolah tidak mampu mengendalikan sistem motoriknya sendiri, bahkan seperti ada gejala yang tidak bisa ia obati saat teringat tentang Hansell di meja operasi yang gagal ia selamatkan, seperti itu juga ketika saat ini.
Zates terpental dari tegaknya saat para Dokter mengambil posisi untuk memeriksa Airyn, bahkan para perawat meminta Merry dan Zates kelur dari sana, hingga dengan berat hati Zates keluar dengan penuh sesal yang tidak mampu ia bendung. Bagaimana bisa tanganya seperti ini? Apakah Zates tidak bisa lagi menjadi Dokter, Merry yang melihat sikap suaminya itu memilih berjalan di belakang Zates sambil memandangnya.
“Zates” panggil Merry saat melirihkan nama suaminya, membuat Zates membalikan badan seolah tatapanya amat kosong seperti tidak berdaya “Apa kau sikit?” tanya Merry pada pria itu, membuat Zates mengelengkan kepala seolah ia tidak apa-apa, pria itu memasukan tanganya ke saku celana sebab getaran itu masih ada.
Mata Merry masih mengakses tingkah suaminya, pria itu seperti menyembunyikanya namun sedari tadi Merry menyadari hal itu. “Itu bukan salahmu” lirih Merry yang saat ini menjadi istrinya, hingga tatapan Zates berlabuh pada wajah Merry yang penuh pengertian ketika bicara padanya.
“A-Apa maksudmu”
“Itu bukan salahmu, apa yang menimpa Hansell adalah takdir, kau bahkan sudah berusaha sebaik mungkin dan kau sudah mencoba yang terbaik. Jangan menyalahkan dirimu, disaat itu bukan kesalahanmu. Kau tidak bisa menyalahkan diri sendiri saat kegagalan itu terjadi bukan karna dirimu” tekan Merry pada suaminya, membuat Zates terdiam ketika menatap wanita itu, hingga langkah istrinya mulai mendekat seraya merengsek masuk kedalam tubuh Zates untuk memberikan ketenangan “Itu bukan salahmu, bahkan tidak ada yang salah. Selain ini semua sudah takdir kita” sambungnya dengan kalimat menenangkan, bahkan tangan Merry di lilitkan ke tubuh suaminya, hingga pandangan Zates terpaku atas sikap Merry yang luar biasa lembutnya “Jangan seperti ini, kau tidak boleh lemah, kau tidak boleh kalah, kau tidak boleh menyerah, jika kau seperti itu bagaimana dengan anak kita, dan bagaimana dengan ku. Aku sangat bergantung padamu” kata-kata yang Merry di ucapkan dengan penuh arti, benar-benar membuat jantung Zates berdegup kecang, seperti sebuah kata yang amat bermakna yang tidak pernah ia harapkan diatas hubungannya, namun ia dapatkan tanpa terduga.
“Merry apa kau sadar dengan kata-katamu” ucap Zates dengan pertanyaan bodoh yang entah kenapa ingin memastikan lagi kebenaranya.
“Iya aku sadar, aku sudah menjadi istrimu. Tidak peduli atas dasar apa hubungan ini, kau sudah mengambil tanggung jawab untuk ku dan anakmu. Untuk itulah kau harus memenuhinya Zates, sekarang masalahnya bukan karna kau sendiri, tapi juga aku dan Airyn. Aku mohon jangan menyalahkan dirimu, karna hanya kau yang kami miliki” entah kenapa hati Zates seperti di getarkan beberapa kali hingga sengatan listrik menjalar di seluruh tubuhnya, perasaan bahagia yang terlalu menyiksa atau rasa haru yang ia nanti sekian lama, sunguh-sungguh membuatnya tak berdaya, mata dan hatinya benar-benar tersiksa atas ungkapan Merry yang seperti cinta.
Hingga pelukan Merry berbalas dengan hangat, memberikan kelembutan yang nyata, hinggaa saling menguatkan, Zates mencium aroma Merry dalam-dalam untuk menenangkan dirinya, meraih tubuh itu untuk terus menepel di sisinya, hingga mata Merry tepana atas reaksi Zates yang di luar dugaan.
“Kau benar, untuk anak kita, aku harus kuat bersama mu” sontak jawaban itu membuat hati Merry luluh, perasaan hancur menjadi utuh, hingga wajahnya merah padam dengan bahagia yang tidak mampu tertahan, sejak kapan Merry menerima Zates, dan sejak kapan Merry menyukainya atau mulai membiarkan pria itu masuk seperti pencuri ke dalam hidupnya.
“Zates….” Mereka benar-benar masuk ke zona menerima yang paling paripurna, melepaskan kebingungan antara hubungan diatas sandiwara dan cinta, bahkan rasanya kedunya mulai berjalan dari keraguan hingga menjadi sebuah kepastian, jika benar ada cinta di dalam hubungan mereka, kenapa harus menepisnya. Untuk itulah Zates tidak akan menyerah dan ia tidak akan membiarkan keadaan yang buruk berjalan seburuknya, Zates akan bertahan dan kuat untuk istri dan anaknya.
Pintu kamar Airyn terbuka, membuat Zates dan Merry beralih kesana, namun betapa kagetnya Zates saat melihat putrinya duduk di kuris roda seolah sudah siap-siap untuk keluar. “Airyn, apa yang terjadi, apakah kau baik-baik saja?” tanya Merry ketika menyambar tubuh anaknya, membuat Zates mengkilaukan mata melihat kearah Dokter yang ada di belakang wanita itu.
“Nona Airyn baik-baik saja. Ia hanya mengalami sedikit shock namun sudah diatasi. Dan Nona Airyn meminta untuk keluar hari ini” ucap Dokter yang ada di belakangnya, membuat mata Zates tidak terima ketika melihat pria itu berada di bawah tekanan.
Ia ingin menjangkau tangan anaknya, namun lagi-lagi tanganya bergetar, namun Zates berusaha menenangkan diri untuk mengigat kata-kata Merry.
Hingga pria itu meraih pergelangan tangan Airyn untuk ia periksa sendiri, bahkan Airyn sempat menepis namun Zates mengambil alih otoritas dirinya, bahkan tatapan Zates mengkilau tajam kearah Airyn seolah ia tidak main-main untuk menjadi seorang ayah, meskipun kenyataanya ada kesalahan Zates yang tidak Airyn terima atau termaafkan, namun saat ini bukan saatnya memikirkan itu, dan sebagai seorang ayah tentu Zates tidak berbeda dari sosok yang tegas dan penuh otoritas, hingga Airyn mengalah dan diam.
“Kau mau kemana? Kondisimu masih belum stabil” seru Zates saat menantang anaknya.
“Aku ingin mencari suamiku” ucap Airyn saat mendongakan wajah kearah ayahnya.
“Bukankah sudah Merry katakan, jika Hansell telah tiada” seketika semua orang terpana akan sikap tegas Zates, begitupun Merry yang luar biasa kagetnya. Hingga tatapan Airyn yang menajam tidak bisa tertahan sebab air mata mulai bergulir dari matanya.
“Jangan berbohong padaku. Hansell tidak akan meninggalkan aku!!”
Melihat anaknya begitu terluka tentu rasa sakit itu tidak bisa Zates tahan, membuat dirinya meraih tubuh Airyn untuk di gendong dengan tanganya sendiri, setidaknya Zates ingin menunjukan sesuatu pada anaknya.
“Kau mau apa!! Lepaskan aku” bentak Airyn ketika meronta ingin di lepaskan, dari pelukan ayahnya.
“Bukankah kau ingin bertemu dengan suamimu, aku akan mengantarkanmu kesuatu tempat untuk menerima penjelasan langsung dari Hansell” seketika mulut Airyn bungkam tanpa mampu bicara, ia seperti menyerah dan tidak meronta lagi, hingga Merry mengikuti langkah mereka dari belakang.
Zates memperlakukan tubuh anaknya seperti poselen cantik yang tidak bisa di kasarkan, bahkan ia perlahan-lahan membantu Airyn duduk di kabin penumpang seraya memposisikaan diri disana, bahkaan Merry juga duduk disisi anaknya hingga rasanya pandangan Airyn mulai kabur kaibat matanya yang menyipit, jika benar ia di bawa kesebuah tempat yang menunjukan jika suaminya telah tiada apa yang akan Airyn lakukan, bahkan lagi-lagi air mata itu bergulir kembali dari matanya membuat Merry meraih tubuh Airyn untuk ia peluk, bahkan sepanjang jalan hanya tangisan yang menghiasi keheningan, bahkan Hansell tidak sanggup melihat hal ini, namun takdir yang terjadi juga tidak bisa ia elakan lagi.
“Kenapa kau membawaku pulang?” tanya Airyn pada ayahnya, membuat Zates mengusap kepala anaknya hinggaa ia membawa Airyn kedalam pelukanya.
“Maafkan aku” ucap Zates dengan kalimat singkat, membuat mata Airyn terpana ketika pria itu bersikap seperti itu padanya, Zates membantu Airyn keluar dari mobil, ia bahkan menurunkan Airyn sambil mengawal anaknya di samping.
“Hansell berpesan padaku, untuk memintamu membaca surat yang ia tulis di laci kerjanya, jadi aku ingin kau membacanya, aku tidak tahu apa itu, tapi ini adalah pesan Hansell sendiri.” seketika Airyn terdiam menatap kearah ayahnya, bahkan tubuhnya seperti tak berdaya hingga Zates menahan tubuh anaknya yang hilang stabilitas “Apa kau baik-baik saja? Apa mau aku gendong saja?” tanya pria itu dengan panik, membuat Airyn mengelengkan kepala, seraya menjangkau tangan ibunya.
Hingga Merry memberikan kode untuk Zates perlu mundur selangkah, sebab Airyn masih belum mau berinteraksi penuh denganya, tentu Merry membantu anaknya untuk menaiki tangga sedangkan Zates memilih diam di tempat seolah tidak ingin mengikuti Airyn, baru saja Airyn membuka pintu kamarnya, gadis itu berjalan ke ruangan kerja Hansell yang berada di Walking room di kamar itu, Merry menghentikan langkahnya seolah memberikan Airyn ruang untuk sendirian.
Aku tidak percaya Hansell akan meninggalkan aku, ia sangat mencintaiku. Hansell kamu ada dimana, apa kamu tidak akan merindukan ku. Batin Aiyn seraya melangkah mendekati meja kerja suaminya, ia mendudukan diri disana sambil menarik sebuah laci di sampingnya, hingga mata wanita itu terpaku dengan selembar kertas berwarna putih yang terlipat di dalamnya.
Airyn, apa kau lagi menangis? Jangan menangis, karna aku benar-benar mencintaimu. Dimanapun aku, dan seperti apapun kita, aku tidak akan pernah melepaskan perasaan itu, kamu adalah wanita pertama yang membuatku jatuh cinta. Jika saat ini kamu tengah membaca surat yang aku tulis, sudah pasti terjadi sesuatu yang buruk padaku, hanya saja jangan terus menangisi hal itu. Aku tidak pernah ingin menyakitimu, bahkan aku membenci diriku sendiri yang selalu menyakitimu, dan sialnya kita harus berada di kehidupan yang sangat rumit, jika ada kehidupan selanjutnya aku ingin kau menjadi wanita yang aku cintai lagi. Dulu aku selalu hidup dengan prinsip kebenaran dan percaya tidak ada yang cacat atas diriku, karna aku selalu ingin menjadi manusia paling baik untuk menanggung tanggung jawab yang di bebankan pada pundaku, hingga akirnya aku bertemu seorang gadis yang tidak melepaskan perasaan luka dan menahan dendam di hatinya, aku menemukan gadis yang menyimpan banyak kepedihan yang enggan ia obati, dari sana aku melihat diriku dari sisi berbeda. Aku mulai menyadari jika hidupku tidaklah sempurna, jika aku bukanlah manusia baik seperti sebelumnya. Aku mulai menyadari banyak hal yang aku tepiskan dari kenyataan, hingga seorang gadis yang aku anggap sebagai wanita megerikan ternyata memiliki sisi kebalikan yang tidak bisa aku bayangkan, untuk pertama kalinya aku jatuh cinta padanya, menyukai sikap mengerikannya, dan menyukai sisi menyeramkan, aku mulai menyelami kegelapan hingga aku sadar diriku tidak jauh berbeda dari gadis itu, kita saling berhadapan tapi aki orang yang tidak menerima kenyataan. Tapi semenjak gadis itu mengenggam jemariku dan dia mulai melihatkan kerapuhanya di kedua mata polos itu, disana aku seperti melihat dunia, yaitu sebuah dunia yang aku inginkan. Aku mencintainya sepenuh hati, ingin bersamanya selamanya, hingga aku ingin menikahi dan membuat keluarga bersamanya. Tapi aku sadar, kita hanya bisa berencana karna semesta sudah menetapkanya, meskipun begitu tidak ada yang aku sesali dari gadis yang sudah berubah menjadi wanitaku. Aku terlalu bahagia memilikinya meskipun kalimat maaf menjadi penutup surat ini. Aku mencintaimu sayang, tapi aku meminta maaf atas apa yang terjadi. Jangan menangisi diriku, anak kita tengah hidup di rahimmu, kau harus bahagia bagaimanapun caranya, kau harus menerima dengan semestinya, dan mulailah menerima kedua orang tuamu. Apa yang terjadi padaku dan apa yang terjadi di masa lalu, bukanlah salah mereka. Ada hal yang selalu ingin aku katakan, tapi tidak berani aku sampakan. Aku bangga jika sudah melakukan yang terbaik dari pada tidak melakukan apapun sama sekali, karna itulah aku tidak akan menyesali apapu meskipun aku mengecewakan, maafkan aku. Airyn sayang, jangan menangis dan jagan pernah menyerah setidaknya untuk dirimu sendiri dan anak kita.
Hingga rintihan paling menyakitkan di pertengahan malam itu membuat Airyn meringkuh tubuhnya yang bergetar hebat, dadanya memberat ketika lembaran surat itu berjatuhan dengan air mata, tangisan itu memecah ketika Hansell menggucapkan salam perpisahan paling menyakitkan, merampas sebuah harapan untuk angan-angan Airyn membentuk kebahagia, kenapa Hansell melakukanya, tapi semua ini adalah pilihan suaminya.
Batin yang terluka dengan luka yang terus mengaga, benar-benar seperti di tusuk oleh belati tajam yang menikam tanpa mampu di tahan, bahkan jantung yang tidak berprasaan itu masih bergetar tanpa beban hingga Airyn ingin merampas paksa agar tidak berdetak beraturan.
Hansell sudah pergi, bahkan Airyn tidak ingin memperjelas ia pergi kemana. Tapi kenyataan surat itu seperti mengatakan Hansell tidak akan kembali, bagaimana bisa Airyn memiliki akir yang seperti ini, hingga pintu kamar itu terbuka, menampilkan Zates yang melangkah besar kearah kamar untuk menjangkau tubuh Airyn yang begitu kesakitan, memeluk anaknya untuk bertahan dan seolah menjadikan dirinya pilihan untuk tidak akan meninggalkan, Airyn pasrah dengan kehidupanya namun perkataan Hansell seperti kekuatan untuk dirinya tidak menyerah, hingga air mata itu hancur se hancur-hancurnya, hingga tangisan semakin menjadi-jadi, membuat tubuh Airyn meringkuh dalam pelukan ayahnya.
“Ayah..... Hansell sudah pergi, ia tidak kembali” Lirih Airyn dengan tangis yang meringis, seperti luka yang teriris, kesakitan itu amat tragis sampai membuatnya tidak bisa lagi menahan tangis, semuanya pecah dan hancur lebur dalam pelukan Zates bahkan membuat Merry menjatuhkan diri diantara tubuh suami dan anaknya.
"Kenapa Hansell pergi, dia meningganlkan aku" rengek Airyn di dalam kesakitan itu, hingga Air mata Zates mengenal seolah hanya bisa mengusap kepala anaknya untuk di tenangkan.
Saat ini Zates seperti penopang atas air mata yang mendera Airyn serta Merry, meskipun ia sangat ingin menangis, tapi Zates ingin menahan ini lebih lama lagi, agar dirinya mampu menopang rasa sakit anaknya. Bagaimanapun Zates sangat mengerti bagaimana kesakitanya Airyn saat ini, bahkan Zates saja bisa merasakanya, apalagi Airyn yang menjalani ini.
Kenapa Tuhan terasa tidak adil, itulah isu fikiran Zates saat ini.