
“Nona Petrov kau sepertinya sudah baikan, aku harus pergi” Hansell tersenyum kepada Airyn, dia menatap Airyn begitu hangat, kerinduan selama 5 tahun telah tercurahkan ketika gadis itu menutup mata, membuat Hansell tak melepaskan tatapan matanya dari wajah Airyn
“apa yang kau lakukan?” Airyn begitu kesal ketika Hansell ingin meninggalkan nya, seperti ada dorongan aneh, yang membuat dirinya bereaksi seperti itu, tentu saja ada rasa canggung menyelimuti mereka berdua
“apa kau mau aku disini?” tanya Hansell
“maksud ku, kita belum menyelesaikan permasalahmu, itu saja” gadis itu memalingkan wajah karna malu, ada rona merah dipipi yang membanjiri setiap inci didalam hati
“ apa yang aku lakukan, ini bukan diriku, Airyn sadarlah, kenapa jadi dirimu yang memohon menyelasaikan kerjasama, bukankah itu harusnya dia” guman Airyn didalam hatinya, tentu saja gadis itu mengutuk dirinya sendiri
“baiklah aku akan disini” Hansell hanya tersenyum memandang sikap Airyn, bahkan setelah 5 tahun lama nya Airyn masih saja sama, emosi dan gengsi nya tidak mampu dipisahkan, namun itulah sisi dirinya yang dicintai Hansell, dia selalu saja menyembunyikan semua dibalik ketegaran itu
Marry yang melihat pemandangan dari arah luar hanya menatap tajam kepada punggung Hansell, dirinya seperti membuat suatu kesalahan kepada gadis itu, dia begitu kokoh memisahkan Airyn, namun ternyata gadis itu mengingat Hansell sekuat tenaga, bahkan setelah Airyn melakukan Hypnotherapy dengan dokter James, dia selalu saja mengatakan kepada Dokter bahwa ada sebagaian yang hilang didirinya namun dia tidak tau apa itu, setelah menganalisis segala hal yang terjadi Marry menyadari, bagaimanapun waktu dan orang lain memisahkan dua insan, jika mereka tergariskan untuk bertemu tidak akan ada orang yang mampu menghalangi, bahkan sejauh apapun Hansell pergi dia tetap saja kembali kepada Airyn, begitupun sebaliknya sejauh apapun orang lain membuat Airyn melupakan Hansell, dengan mudah dirinya mengingat segala hal tentang pria yang dicintainya, karna Airyn selalu saja melawan logika dan perasaan.
Saat ini Maary hanya mampu mendiamkan diri dan pergi dari rumah sakit itu, dia mengerti Hansell akan menjaga Airyn dengan baik, dan dia juga tau selama ada Hansell Airyn tidak akan mencari dirinya, Memang sesuatu hal yang ambigu jika dikatakan cinta, namun itulah kenyataan yang ada mereka berdua memang saling mencintai.
Airyn merasa baik-baik saja setelah menginap dirumah sakit, dia ingin keluar dan memakan makanan normal, lantaran nafsu makan gadis itu baik-baik saja meskipun badan nya terasa sedikit lemas.
Hansell membantu dan menemani Airyn, bahkan dirinya menunda untuk kepulangan ke Korea padahal Hansell memiliki pekerjaan yang begitu padat disana, namun dia tidak perduli sama sekali, dia menyuruh Darrel untuk mengurus segalanya sedangkan dirinya sibuk mengurus Airyn dengan begitu baik nya.
“ada apa dengan ku, kenapa aku tidak rela menjauh dari dia, bahkan aku tidak ingin dia pergi” Airyn bertanya kepada dirinya ketika Hansell menandatangai beberapa berkas untuk kepulangan Airyn
“Airyn apa kau ingin pulang ke hotel?” tanya Hansell
“apa maksud mu?”
“bukan kah kau tinggal dihotel?” sekali lagi Hansell bertanya
“tidak,aku tinggal di Villa ku, sudah satu tahun belakangan aku di Tiongkok” jelasnya sambil melihat ke arah Hansell, tentu saja Airyn mendekati Hansell karna dia ingin kelur dari rumah sakit ini
“kenapa? Kenapa kau tidak di Irlandia?” tanya Hansell dengan begitu penasaran
“ntahlah, aku merasa nyaman saja disini”
“hati-hati lah sedikit” pria itu meraih tangan Airyn dan membantu nya berjalan, terlihat jelas kaki Airyn begitu lemas, membuatnya hampir kehilangan keseimbangan, aairyn yang melihat Hansell mencemaskan nya semakin mempertanyakan ada apa dengan sikap pria ini? kenapa dia begitu peduli kepada Airyn?dan kenapa Airyn sendiri begitu nyaman hingga tidak membantah apa yang dilakukan nya?
Hansell mengantarkan Siryn ke Villa, terlihat jelas Villa miliknya terletak di pinggiran pantai yang begitu sejuk, dengan nuansa putih dipadukan birunya air laut, membuat Villa Airyn begitu nyaman dan tenang, pantas saja gadis itu nyaman berada di Tiongkok.
“masuklah” perintah Airyn
“apa aku boleh masuk?” tanya Hansell dengan begitu segan
“bukan kah kau mengantarku untuk pulang, apa begini cara kerjamu setengah-setengah” ketus nya, lalu Airyn berjalan kedepan dan memasuki rumah nya dengan kesal
“gadis itu selalu saja dengan temperamen yang buruk” gumam Hansell dengan tersenyum
“ Nona Petrov kau hati-hati dengan langkah mu” Hansell melingkarkan tangan nya di pundak Airyn, membuat wanita itu tersenyum malu namun berhasil di tahan nya.
Saat Hansell memasuki rumah, dia langsung berhadapan dengan ruang tamu yang dilingkari kaca disekeliling ruangan, Hansell pun memandang ke arah pantai yang tepampang hamparan biru yang begitu luas dan tenang, membuat Hansell sedikit kaget dengan selera Airyn, ternyata dirinya menyukai hal-hal indah seperti ini, karna bagi Hansell untuk wanita seperti airyn dia menginginkan dekorasi rumah yang terbalut emas dan silver dengan gaya barat dipadukan timur tengah yang kental, namun ternyata Airyn menyukai kesederhanaan dan keindahan, sisi lain yang tidak dikenalinya selama ini.
“kenapa kau memilih tempat ini? Bukan kah ini jauh dari perkotaan?” tanya Hansell sambil memandang ke arah laut
“karna aku suka sepi untuk menyendiri” ketika Airyn melontarkan jawaban, Hansell kembali mengingat saat dulu mereka berdua berada diperpustakaan, Airyn mengatakan hal yang sama, benar-benar membuat Hansell tersenyum, lantaran tidak banyak yang berubah dari gadis itu, emosi nya, ketus nya, dan juga sikap menyendiri itu, membuat Hansell melepaskan rindu yang tidak bertepi.
“duduklah, aku akan memasak untuk mu?” airyn berlalu ke arah dapur, membuat Hansell kaget dengan apa yang diucapkan gadis itu barusan
“apa kau bisa memasak?” tanya Hansell dengan begitu tidak percaya
“menurut mu?” namun kali ini Airyn menjauh, tentu saja Hansell mengikuti ke arah dapaur
“jika kau tidak bisa jangan memaksakan diri, aku tidak apa-apa memesan makanan dari luar” balasnya, karna Hansell takut nanti akan merepotkan airyn dan juga membuat dirinya terluka karna memaksakan diri
“apa yang kau bicarakan” Airyn hanya tertawa mendengar hal tersebut, saat dirinya telah berada di dapur, dia memeriksa kulkas untuk melihat bahan makanan, Hansell pun berdiri didekat Airyn sambil menyandarkan diri ketembok
“apa kau yakin ingin memasak”
“apa kau bisa?”
“tidak”
“yang benar saja Ryn” setelah ucapan itu Airyn berdiri dan mendekat kearah Hansell, dia menatap tajam pria itu dengan begitu ganas nya, membuat hansell begitu takut hingga tidak bisa lagi mundur dari tempat nya berdiri
“apa aku salah, maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menghinamu karna tidak bisa memasak, hanya saja aku tidak bisa melihatmu terluka karna repot-repot menyuguhkan makanan untuk ku” dengan gugup Hansell meracau dengan nada bicara yang tidak karuan
“apa kita pernah dekat sebelumnya?” tanya Airyn, tentu saja Hansell terdiam dan menatap Airyn dengan penuh sendu
“bukankah kita memang teman SMA” jawab Hansell seketika
“kau memanggil namaku dengan begitu akrab, apa kau fikir orang lain tau nama panggilan itu kecuali orang terdekatku? Bahkan Marry yang bertahun-tahun mengabdi tidak pernah memanggilku seperti itu” tegas nya, membuat Hansell merasa terpojok
“apa maksud mu, bukan kah namamu Airyn Petrov tentu saja untuk seorang wanita biasa kau lebih cocok dipanggil Airyn, dan untuk menyingkat nama panggila mu aku memanggil Ryn, apakah itu salah? ” tentu saja Hansell mengatakan nya tanpa berfikir
“apa kau yakin?entah kenapa aku tidak percaya!!” gumam Airyn didalam hatinya, saat ini wanita itu masih menatap Hansell dengan begitu dekat, dia tidak mengungkapkan kegundahan nya, setiap kali dia mempertanyakan hansell, setiap kali dia merasa Hansell bukan orang lain bagi dirinya.
“baiklah aku akan memasak” Airyn sibuk mengeluarkan semua bahan makanan dari dalam lemari es, sedangkan hansell duduk dimeja makan sesekali memandangi Airyn, Airyn begitu sibuk hingga tidak memperhatikan pria itu.
“apa kau bisa mengunakan pisau?”
“tidak!” ketus nya sambil memotong beberapa wortel dan kentang dengan begitu lihai
“bohong sekali” gumaam Hansell
“Airyn jika kau mau, lebih baik kita pesan makanan siap saji saja” tukas Hansell, namun mendengar hal itu Airyn sangat kesal,
Seketika pisau yang digunakan nya untuk memotong sayur berbunyi sangat keras hingga membuat Hansell kaget
“apa kau tau, makanan siap saji berapa jam sampai disini? 1 jam lebih, bukankah lebih baik memasak dalam waktu 15 menit dan itu higienis” ketus nya
“baiklahh” balas Hansell
“bagaimana bisa dia memasak 15 menit, apakah dia mau menyombong, dengan semua bahan itu mana mungkin” gumam Hansell
tentu saja Airyn mendengar racauan pria yang didepan nya, tapi entah kenapa dia begitu senang telah membuat pria itu kesal. Airyn melanjutkan kesibukan nya, dia memasak dengan begitu rapi dan teratur, bahkan tidak menimbulkan keributan atau mengacak keadaan dapur, Hansell yang memperhatikan merasa sedikit tertegun, ternyata wanita yang didepan nya begitu cantik saat memasak, membuat Hansell ingin sekali memeluk airyn dari arah belakang seperti difilm-film yang pernah ditonton nya, namun lamunan hansell terhenti lantaran Airyn menyodorkan banyak makanan dihadapan nya, dari bentuk nya saja begitu menakjubkan, membuat Hansell tak mampu berkata selain ingin menghabisi semua.
“apa kau yang membuat semua ini” tanya nya tak percaya
“tidak” Airyn menjawab dengan begitu kesal, bagaimana tidak setelah semua ini pria itu masih tidak percaya Airyn bisa memasak, tentu saja Airyn kesal.
“hei maafkan aku, aku hanya tidak menyangka wanita seperti mu pandai melakukan nya dengan sempurna” Hansell tersenyum kepada Airyn, namun gadis itu hanya mengambilkan beberapa makanan ke piring Hansell, dia menyiapkan nya dengan begitu rapi untuk di sajikan kepada tamunya, melihat semua ini hati hansell begitu bahagia, selama ini dia tidak pernah berharap ini akan terjadi kepadanya, airyn berubah menjadi wanita dewasa yang begitu mengagumkan, bahkan sampai detik ini airyn masih saja membuat Hansell tak percaya dengan dirinya yang sebenarnya. Perlahan pria itu mengambil sendok dan mengucapkan terimkasih atas hidangan yang diberikan Airyn, namun disuapan pertama laki-laki itu tertegun dengan diam nya.
“kenapa? Apa tidak enak” bahkan secara refleks Airyn mencicipi yang dimakan oleh Hansell
“ini enak sekali” mendengar hal itu ada kebahagiaan yang dirasakan Airyn, entah kenapa pujian Hansell begitu kuno namun begitu menyenangkan, bahkan Airyn tidak pernah sebahagia ini saat memasak, namun kali ini dia benar-benar puas atas masakan yang telah dibuatnya, mampu dicicipi oleh orang lain dan itu sangat memuaskan
“apa aku boleh nambah?” pinta Hansell dengan begitu berharapnya
“tentu saja” Airyn mengambilkan makanan itu untuk pria tersebut, dia tidak menyangka Hansell benar-benar menyukainya, bahkan membuat Airyn tersipu malu dengan kelakuan makan Hansell, dia seperti manusia yang tidak pernah makan enak sebelumnya, padahal pakaian yang dikenakan oleh dirinya begitu mahal dan memakai merek dunia, bahkan desain baju nya saja dibuat untuk beberapa orang dan terbatas, tentu saja secara keseluruhan pakaian yang digunakan oleh badan nya bernila milliaran tapi Hansell makan makanan tidak mengunakan etika yang bagus atas apa yang dikenakan.
“pria ini yang benar saja, bikin aku malu melihat nya” Airyn hanya tersenyum dalam gumam nya, dia tidak menyangka Hansell begitu menyukai apa yang dibuat untuk Airyn, sedangkan Hansell,
“bagaimana bisa dia memasak se enak ini, bahkan aku sudah lama tidak memakan makanan Irlandia, namun seumur hiduku inilah makanan terlezat yang bisa kunikmati dengan begitu rakus, persetan dengan rasa malu aku benar tidak mau melewatkan ini” itulah yang diucapkan hansell di dalam hatinya, membuat dirinya begitu rakus atas makanan yang dibuat oleh Airyn.
Selang beberapa waktu Hansell begitu terlihat kekenyangan akan makanan nya, dia mendudukan diri di sofa dan Airyn membersihkan meja makan mereka, seketika airyn melihat tamu nya tengah tertidur pulas di sofa itu, bahkan begitu nyenyak nya
“bagaimana dia bisa seperti ****, habis makan langsung tidur” gerutu Airyn kepada Hansell.
Wanita itu berlalu kedalam kamar dan mengambilkan selimut untuk dipakaikan kepada Hansell, Airyn menatap lekat-lekat wajah itu, dia merasakan ada ketertarikan yang tidak dapat disepelekan, tapi kenapa Hansell terlalu asing namun nampak dekat.
Tiba-tiba saja tangan Hansell memeluk wanita yang tengah memandang dirinya, membuat Airyn kaget atas sikap Hansell, namun pria itu masih setia dengan mata nya yang ditutup, membuat Airyn memberontak melepaskan diri namun tangan Hansell begitu mencengkram, hingga Airyn membaringkan tubuh di samping Hansell, lantaran sofa itu sangat besar dan luas.
Ketika Airyn tidak mampu melepaskan diri, dia melihat ke arah wajah pria menyebalkan, namun selang beberpa lama Airyn mendiamkan diri disana tanpa perlawanan, ternyata gadis itu telah terlelap didalam pelukan Hansell, perlahan Hansell membuka mata dan melihat tubuh Airyn di dalam pelukan nya, ternyata pria itu hanya membohogi Airyn dan dia dengan sadar melakukan hal tersebut, Hansell menyilangkan kaki nya untuk memeluk tubuh Airyn, memperlakukan gadis itu seperti bantal guling namun dia menahan tumpuan kakinya agar tidak memberatkan kepada gadis nya.