
Suara kicauan burung terdengar nyaring di ruang kamar, hanya saja kicauan burung itu merambar nyaman masuk ke pendengaran, membuaikan rasa kantuk yang masih engan-engan untuk bangun, tentu mata pria itu menatap tulus kepada istrinya, bahkan ia memperhatikan bagaimana cara wanita yang ia cintai uring-uringan di atas ranjang mereka.
Sungguh, pemandangan yang luar biasa bisa tertidur bersama dengan wanita yang kita cintai, dan pagi harinya di sambut oleh wajah indah yang mampun membuat jantung Zaterius meloncat kearah luar saking gugup dan bahagianya, dulu ia berfikir menjadi pemeran antagonis dalam cerita hidup Merry untuk mengubur fakta adalah hal yang seharusnya di lakukan agar gadis itu tidak mengigat kesan berbeda tentang mereka, namun semenjak Zates ingi memiliki Merry sepenuh hati, ia sungguh ingin menjadi seseorang yang begitu di anggap olehnya, memperlakukan dirinya sewajarnya, memberikan cinta setulusnya, dan memiliki dirinya dengan hormat, jika di pikir lagi kebelakang, kenapa Zates harus kabur dan menghindar, ia tidak berani mengakui siapa dirinya dan tidak berani untuk keluar dari persembunyia nya.
Mata Merry terbuka, sambil menatap buram dari sedikit penglihatan yang mampu ia akses, melihat seorang pria terbaring santai sambil menatapnya, membuat wanita itu menarik selimut sambil menyembunyikan kepala, ia sudah mengerti pasti pria yang semalam mengauli tubuhnya itu tengah berbahagia hari ini melihat Merry meringis kesakitan, dan sudah di pastikan Zates tengah memandangnya tanpa memalingkan wajah.
“Pergilah” ucap Merry dengan nada perintah, sungguh wajah sembabnya itu pasti membuat tampilan Merry amat jelek, bahkan Merry sadar jika ia tidak mengunakan kosmetik di wajahnya.
“Pergi kemana?” tanya Zates seraya menarik selimut yang menutupi wajah istrinya, namun tangan Merry menahan hingga menampilakan mata saja, kali ini mata Merry sudah membulat secara sempurna sambil melirik suaminya yang tengah memancarkan senyuman itu.
“Turunlah untuk sarapan, Airyn pasti sudah membuatkan saparan. Aku akan membersihkan diri sebenatr” pinta Merry pada pria itu, sebab mereka bisa tidur ketika dini hari, dan itu karna keduanya sudah amat kelelahan sekali, dan rasanya Zates itu memiliki kekuatan penuh di usianya yang semakin tua, tidakah Zates berfikir jika usia mereka sudah tidak pantas lagi melakukanya dengan waktu berlebihan.
“Nanti saja. Aku lebih tertarik denganmu dari pada sarapan, apa kau mau aku bantu ke kamar mandi?” tawar pria itu, membuat Merry mengelengkan kepala seketika. “Kalau begitu cepatlah bangkit dan pergi ke kamar mandi, aku akan menunggu mu” lirihnya dengan membujuk, membuat Merry menatap panjang pada pria yang memaksa dirinya, seraya membalikan badan, bahkan baru saja ia mendudukan diri, rasa nyeri dan kebas terasa amat nyata, hingga mengeluarkan erangan sakit dari mulutnya.
“Sakit sekali” ucap Merry ketika memalingkan wajah kearah sumainya, sambil memelaskan sedih wajah, rasanya ia tidak percaya akan merasakan hal seperti ini lagi.
“Bukankah sudah aku bilang, untuk aku bantu ke kamar mandi” ucap Zates saat menuruni ranjang sambil berjalan kearah istrinya.
“Tidak mau!! Kau jahat. Kau menyiksaku sampai aku kesakitan seperti ini, apa kau mau melakukanya lagi di kamar mandi, aku tidak mau” ketus Merry ketika menajamkan mata penuh peringatan pada suaminya.
“Tidak sayang, aku hanya membantumu” ucapnya dengaan meyakinkan.
“Janji ya, awas saja jika kau melakukanya lagi, aku akan….”
“Akan apa?” tukas Zates saat menatap kedua mata Merry dengan yakin.
“A-Akan membiarkanya” lirih Merry dengan kalimat rendah, rasanya Merry tidak percaya ia akan terfikir kalimat pisah, untung saja ia tidak mengucapkanya, sebab Merry berfikir hubungan mereka hanya sebatas pacaran, ternyata ia menepiskan kenyataan jika pria itu adalah suaminya sekarang.
“Ada apa dengan mu Merry!! Astaga” batin wanita itu ketika menyalahkan dirinya sendiri.
“Apa kau benar-benar mencintaiku?” hanya itu yang bisa Zates fikirkan ketika menatap nanar mata istrinya, sebelum akirnya ia membantu Merry untuk beranjak ke kamar mandi. “Sebenarnya kau melihat ku sebagai siapa Merry? Louis Petrov atau Zaterius Laos Petrov? Jika kau mengaggapku sebagai Louis, apakah wajar kita menjalani hubungan yang malah membohogi diri sendiri”
*
Seperti sepasang pasutri, Zates dan Merry menelusuri tangga rumah Airyn yang mendominasi warna putih di sepanjang dindingnya, mata Airyn menatap kearah Ayah dan ibunya lantara Airyn berfikir mereka masih memerlukan waktu berduaan, untuk itulah Airyn tidak membangunkan mereka.
“Selamat pagi sayang” sapa Zates ketika meraih kepala putrinya sambil memberikan ciuman lembut di keningnya, tentu saja Airyn tersenyum sambil membalas ciuman pipi pria yang sudah menghadirikan dirinya di rahim Merry itu.
“Selamat pagi ibu” ucap Airyn kearah Merry, hingga wanita itu tersedak mendengarnya, tentu tawa penuh ejekan tertampil di wajah Zates dan juga Airyn, entah kenapa Merry sangat tidak terbiasa untuk di panggil ibu oleh darah daging yang ia besarkan menjadi Nona Petrov itu, dan bagaimana bisa mereka berdua sangat tidak tahu malu, bahkan Merry melihat keduanya seperti tidak mempermasalahkan masa lalu dan malah akrab seperti nadi hanya dalam beberapa waktu, sedangkan Merry, masih saja tidak terbiasa jika Airyn memanggilnya ibu, sungguh Merry ingin pergi dari tempat yang ada dua manusia tidak tahu malu ini.
Ruang sarapan pagi itu tentu saja terjalin dengan harmonis, banyak percakapan yang mereka selipkan di sela-sela tawa kecil yang terdenga ke telinga pembantu, meskipun mereka tidak pernah melihat Tuan Hansell lagi, tapi diantara mereka tidak ada yang berani mempertanyakannya, meskipun begitu mereka turut bahagia, jika hari-hari Nyonya Besar sudah di hiasi oleh kedua orang tuanya, bahkan mereka mengikuti perkembangan berita yang terjadi, sungguh ada rasa bahagia yang ikut serta di rasakan oleh pembantu Airyn tersebut.
“Zates, aku sudah menyiapkan penerbanganmu minggu depan” ucap Merry yang kala itu baru selesai meneguk minumanya.
“Terimakasih sayang” balas Zates pada istrinya.
"Jangan memanggilku seperti itu" degus Merry yang tidak enak hati dengan Airyn.
"Kenapa? Bukankah suami istri memang memanggil dengan kata mesra" balas Zates sambil memandang kearah anaknya "Iyakan sayang" sambung Zates ketika memcari pembenaram dari Airyn.
“Terserah kau saja" ucapnya "Tapi apa kau yakin akan pergi sendiri ke Amerika, aku sungguh ingin menemanimu, bagaimanapun kau akan sangat sibuk nantinya”
“Tidak perlu, disana ada Elsiyana. Aku bisa menyelesaikan semuanya, kau temani saja putri ku yang tengah mengandung cucu kembar kesayangan kita di sini”
“Baiklah, kalau begitu” lirih Merry dengan nada rendah, entah kenapa saat mendengar nama Elsiyana kenapa hatinya terasa berdesir sakit, dan kenapa rasanya Merry seperti terakiti setiap kali memikirkan dua wanita yang dekat dengan Zates, tentu kedua mata Airyn mengakses gurat sedih di mimik wajah ibunya.
“Ayah, aku sungguh baik-baaik saja disini, aku akan memberikan pengawalan ketat di rumah ku, bagaimanapun aku juga tengah bekerja di rumah, aku rasa tidak akan masalah jika aku di rumah beberapa hari saja” tukas Airyn ketika membantah kata ayahnya.
“Tidak sayag, ayah tidak akan membiarkan mu tinggal sendiri tanpa siapapun, setelah beberapa hari ayah akan kembali” ucap Zates kepada anaknya.
“Iya Airyn, aku tidak akan mau meninggalkanmu” timpal Merry pada anaknya, meskipun ia sadar ia juga tidak akan meningalkan Airyn, tetap saja Merry merasa iri pada wanita yang setiap hari di sisi suaminya.
“O-Oh, baiklah” pasrah Airyn dengan mengalah, nampaknya permasalahan diantara kedua orang tuanya masih terhalang akan gengsi.
Airyn dapat melihat jika ayahnya amat mencintai Merry, dan perasaan di hati ibunya itu sudah tumbuh dan membesar untuk ayahnya, namun ada gengsi diantara mereka yang membuat keduanya saling meragu satu sama lain.
“Dasat rubuh tua ini, masalah sepele saja masih tidak bisa mereka selesaikan” batin Airyn ketika memotong roti yang ada di piringnya, sambil memfokuskan diri menatap kedua orang tuanya.
***
Seminggu kemudian……
Zates sudah pergi ke New York, Amerika pada pukul 9:00 pagi ini, bahkan Merry dan Airyn kembali ke rumah mereka untuk melakukan aktifitas seperti biasa, akibat Airyn bekerja dirumah, jadi beberapa waktu kedepan Merry yang selalu bekerja ke kantor untuk menghadiri rapat dan pulang setelahnya.
Siang itu Airyn duduk di ruang kerja suaminya sambil memandang kearah sekitar, ia suguh merindukan Hansell, bahkan namapkanya Airyn sudah mulai ikhlas untuk kepergian suaminya, bahkan nampaknya Airyn akan menerima jika suaminya benar-benar telah tiada, tapi kenapa setiap kali perasaan itu muncul, setiap kali juga ada penyangkalan yang terjadi pada hatinya.
“Kita terlahir ke dunia dengan satu cara, tapi Tuhan mengambil manusia dengan berbagai cara” ucap Airyn ketika melihat foto suaminya yang terpajang di dinding ruangan, ia sugguh menatap nanar penuh kerinduan, bahkan Airyn tidak menyang jika hatinya terus berdenyut perih saat mengigat Hansell sudah tiada.
“Kenapa aku tidak menerima salam perpisahan dari Hansell? Kenapa aku tidak menerima raga tidak bernafasmu untuk terakir kali, kenapa aku harus kau tinggalkan dengan sepucuk surat dan sebuah makam?” pertanyaan itu lagi-lagi mengundang kekecewaan di hatinya, bukan pada suaminya melainkan dirinya sendiri.
Andai saja Airyn tidak memiliki permasalahaan dengan dirinya sendiri, mungkin Hansell tidak akan meninggalkan dirinya, tapi nampaknya semuanya sudah terjadi dan Airyn tidak bisa menyesali apapun lagi.
“Sayang…..mama akan menajaga kalian, dan kita akan kuat untuk harapan terakir Ayah” ucap Airyn pada dua anak yang ada di perutnya.
Saat ini kehamilan Airyn sudah masuk bulan ke 6, dan hanya tersisa 3 bulan lagi untuk ia melahirkan, dan menghadirkan sosok Hansell kecil di hidupnya, tentu saja Airyn sudah mengetahui jenis kelamin kedua anaknya, yaitu dua laki-laki kembar yang tumbuh sehat di dalam sana.
Airyn menghapus serpihan air mata yang terus menghujani, ia menepisnya untuk melakukan olahraga sore, setidaknya untuk kedua anaknya, Airyn tidak akan menyerah, bagaimanapun dua anak di perutnya tidak bersalah, dan jikapun kali ini takdir terkesan tidak adil, Airyn akan melawan ketidak adilan itu, yaitu dengan cara berjuang diatas penderitaan batin yang ia alami.
--------
Terimakasih sudah membaca Novel Authoor, mungkin buat kamu yang sudah setia menunggu dan membaca, Authoor hanya bisa mengucapkan terimakasih, dan semoga cerita ini memberikan hikmah untuk kita semua.
Tentu saja Novel Faliing in love wiht a Dangerous Women, akan berakir beberapa waktu lagi, dan semoga kalian masih setia. Tapi saat ini Authoor sedang mempertimbangkan Season II 🥰🥰🥰.
Tapi sebelum itu, mampir ke Novel sebelah Authoor, TAKDIR DI PENGHUJUNG SENJA. Terimakasih Raider's tercinta 🧡🧡🧡🧡🧡