Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Penyusup



Dua pasangan itu saling manja dan sayang, seolah Hansell begitu enggan bangkit dari ranjang, Airyn yang melihat lelaki itu memeluknya dengan erat, membuat ia mengistirahatkan tubuh dengan damai, seolah keberadaan Hansell seperti pelindung untuk menangkis mimpi buruk yang kerap kali datang.


Tok…tok…tok……


Suara ketukan itu membuat Hansell dan Airyn saling memandang, bahkan membuat mata Airyn membulat ke arah prianya, tentu saja Hansell juga binggung siapa yang berani mengetuk pintu kamar mereka, sebab sangat tidak mungkin pengawalnya menganggu Hansell jika tidak dikeadaan penting.


“Apa terjadi sesuatu?” cemas Airyn kearah Hansell, bahkan membuat perhatian pria itu terpecah, sebab raut wajah Airyn berganti kusut dan ketakutan.


“Tidak sayang” Hansell menjatuhkan ciuman di kening Airyn, seraya melepaskan diri dari sana, ia bahkan mengenakan baju yang sempat dilepaskan, sedangkan Airyn melirik punggung bidang milik Hansell yang tengah beralih jauh, untuk membuka pintu kamar mereka.


“Ada apa?” tanya Hansell dengan wajah dingin dan datar, bahkan nadanya terdengar tidak enak saat dilontarkan, membuat pengawal itu menundukan kepala seraya memberikan hormat


“Tuan maafkan saya menganggu waktu anda” ujar pengawal yang berdiri hormat dihadapan Hansell, sebab ia benar-benar takut akan situasi sekarang


“Ada apa?” tanya Hansell sekali lagi seolah ia bosan berlama-lama menunggu kepastian.


“Di luar ada pria aneh yang memaksa masuk, kami sudah melarangnya namun dia menolak. Pria itu bersikokoh ingin menemui anda” jelasnya kepada Hansell, membuat Hansell binggung atas tamu yang datang, ia merasa tidak memiliki tamu penting di Irlandia. Bahkan tidak ada yang mengetahui tentang Villa pribadi miliknya ini


“Usir dia, aku tidak memiliki kepentingan dengan orang yang tidak tau etika dalam berkunjung. Jika dia ingin menemuiku lakukan dulu pencocokan jadwal dengan Darrel” dengan kesal Hansell menutup pintu segera dan beralih keranjang untuk memeluk Airyn.


Pengawal yang menerima titah dari Hansell tentu dengan senang hati melakukan tugasnya, ia kembali menemui tamu tidak diundang yang menganggu privasi majikan mereka.


“Apa terjadi sesuatu?” tanya Airyn saat menyambut kekasihnya, tentu ia begitu penasaran dengan apa yang terjadi, membuat mata indah itu menatap kearah Hansel yang tegah masa bodo dengan situasi mereka.


“Hanya orang tidak penting, aku malas sekali berurusan dengan orang seperti itu, tidak memiliki etika sama sekali, jika ia memiliki kepentingan seharusnya tidak mendatangiku hingga ke tempat privasi, banyak tempat untuk dijadikan pertemuan” tuturnya dengan begitu malas membahas orang tersebut, sehingga Airyn membulatkan mulut seolah ia mengerti, diposisi seperti ini banyak orang yang tidak tau diri untuk menganggu kehidupan privasi, jadi Airyn paham jika Hansell membutuhkan ruang dengan dirinya, bahkan ada rona malu saat memikirkan hal tersebut.


Semuanya tumbang hanya dalam beberapa gerakan dan langkah, tentu saja pria itu tidak bisa ditandingi oleh kekuatan orang sebanyak itu, bahkan ini sangat kecil untuk Dikra, ditambah penjelasan yang didengar dari anak buah Hansell barusan, membuat Dikra naik pitam kepada pengawal yang menghadang dirinya. Bagaimana tidak, Hansell sendiri yang mengirimkan alamat ini untuk menemuinya, namun ia ditolak dengan alasan melanggar privasi, dengan alasan tidak memiliki kepentingan, membuat Dikra menyemburkan api dimana-mana, amarahnya meluap-luap hingga tidak terkira.


Dikra penuh dengan amarah sampai batas tidak wajar, ia melangkahkan kaki ke dalam Villa yang sangat indah dan mewah, tentu Dikra bersirobok dengan pelayan wanita yang sangat muda sekali, membuat dirinya terdiam ditempat ketika mereka berpapasan di ambang pintu.


“Maaf tuan, anda tidak bisa masuk sembarangan ke sini” cegat gadis itu kearah Dikra, membuat dirinya sadar akan emosi yang seketika mereda


“Apa hak mu melarangku, apa kau tidak tau aku ingin mematahkan tulang Hansell, ******** itu yang memberikan alamat ini padaku, dan sekarang aku diusir dengan alasan tidak ada kepentingan, apa majikan mu itu ingin mati” bentak Dikra dengan emosi yang meluap-luap, bakan kalimatnya disambut takut oleh gadis yang tengah menghadang


“Jika Tuan Hansell telah mengusir anda, berarti anda tidak diperkenankan untuk masuk, jadi saya minta anda keluar dari sini Tuan” ujar wanita itu sekali lagi, berharap Dikra mendengarkan apa yang dia katakan.


“Wah orang yang bekerja dirumah ini benar-benar luar biasa” Dikra menghela nafas panjang, ia membalikan badan seketika seolah menyerah begitu saja, membuat wanita itu lega jika tamu tidak diundang barusan ingin mendengarkan ucapanya.


Tiba-tiba saja Dikra membalikan badan dengan langkah yang tidak bisa ditebak, ia menarik tangan wanita itu untuk disilangkan kebelakang, seolah mengunci tangan gadis itu dengan menekan kuat bahunya, hingga tidak mampu bergerak sama sekali, bahkan jika gadis itu ingin bergerak, dirinya akan mengalami patah tulang.


“Apa yang anda lakukan!!” bentaknya saat melirik ke arah Dikra


“Cepat katakan dimana kamar Hansell, atau aku benar-benar mematahkan tangan indah mu ini Nona” balas Dikra dengan penuh ancamaman, seolah itu bukanlah sebuah permainan.


“Aku tidak bisa” bantahnya, hingga Dikra mengeraskan kuncian nya untuk memaksa wanita itu menunjukan arah, tentu saja dikeadaan seperti itu wanita manapun akan merasa tersudut dan terancam, ia melangkahkan kaki menuju kamar majikanya dengan rasa takut akan ancaman yang ada.


“Apa ini kamar nya?” bisik Dikra ke arah gadis itu


“Iya tuan” ucapnya dengan suara gemetar, membuat Dikra tersenyum lebar seraya melepaskan sandraanya itu, gadis itu meringis kesatikan akan rasa takut yang kental.


“Pergilah” usir Dikra dengan nada pelan, sebab ia benar-banar kesal karna menyulitkan dirinya untuk bertemu dengan Jansell “Aku tau kau melupakan janjimu Hansell, tapi apa kau fikir aku bisa memaafkanmu kali ini, kau benar-benar meruntuhkan harga diriku, pria ******** itu, bagaimana bisa sikap pelupanya belum menghilang, apa dia sudah pikun, dasar orang tua menyebalkan” celoteh Dikra saat mengetuk pintu kamar Hansell secara beruntun, seolah tidak memiliki jawabn Dikra berulang-ulang mengetuknya dengan penuh gaduh


“Apa kau ingin mati” bentak Hansell saat membuka pintu, bahkan diluar dugaan ia bersirobok dengan Dikra yang masih setia diposisi mengetuk, sedikit lagi tinju Dikra akan mengenai kening Hansell


“Dikra” sambut Gansell kearah temanya itu, bahkan kedua matanya bersirobok dengan senyum paksa yang mengerikan “Mengapa kau disini” hingga pertanyaan itu terjawab sendiri oleh ingatanya “Astaga, aku lupa. Aku sudah membuat janji dengan nya” gumam Hansell dengan rasa bersalah, namun ia tidak melontarkan kata itu, Hansell menutup pintu kamar dari arah luar dan manarik Dikra keruang tamu.


“Apa kau tamu yang membuat keributan itu?” tanya Hansell ketika melangkah pasti dengan tangan yang diamankan kedalam saku celana yang ia kenakan


“Tentu saja itu saya tuan Hansell, orang yang telah membuat janji dengan anda tapi anda lupakan, apa begini cara anda memperlakukan tamu” hina Dikra dari balik punggung Hansell, membuat dirinya merasa bersalah atas sikap lupa itu


“Duduklah” perintah Hansell ke arah Dikra, kedua pria itu mendudukan diri diseberangan arah, tentu saja ada rasa jengkel yang tidak padam namun Dikra memasang wajah datar seolah ia benar-benar benci untuk memaafkan Hansell


“Maafkan aku Dikra, aku benar-benar lupa” tutur Hansell dengan penuh penyesalan, membuat Dikra tidak membalas kata maaf dari bibir Hansell “Apa kau marah? Kita sudah dewasa Dikra, apa kau benar marah padaku” kekeh Hansell seolah tidak tahan dengan raut wajah yang ditampilkan pria itu, sedari dulu Dikra memang begitu, membuat dirinya merasa terhibur atas yang ditampilkan padanya


“Aku ingat betul tentang temanku Hansell, jika dibilang aku yang paling bodoh diantara kita, namun aku rasa itu tuduhan tidak adil untuk ku, sebab faktanya dirimu lebih bodoh padaku, aku bahkan ingat jelas bagaimana temanku itu tidak mengenali nona Petrov padahal seluruh Irlandia dan sekolah sangat gempar akan kedatanganya, dan juga dia memiliki sikap pelupa yang membuat siapa saja harus memiliki kesabaran untuk menerima, bukan begitu tuan Hansell Hamillton” hina Dikra kearah Hansell, membuat pria itu menerima semua fakta meskipun ia sedikit jengkel menerima hinaan


“Setidaknya semua orang mengetahui kau lebih bodoh padaku” bantah Hansell dengan kalimat santai yang membuat Dikra tidak enak mendengar.


“kau! apa aku terlalu baik padamu selama ini, jika bukan karna kau kakak angel. Kau pikir aku akan baik denganmu ha” bentak Dikra dengan kesal, seolah ia tidak mampu lagi mengendalikan emosinya


“Angel?” lirih Hansell dengan pertanyaan, membuat Dikra menutup mulutnya seketika “kenapa dengan adikku?” Bentak Hasell sekali lagi kearah dikra, membuat pria itu menajamkan mata hingga Dikra merasa begitu takut akan intimidasi yang ditampilkan oleh Hansell


“Tidak apa-apa, lupakan saja”seru Dikra dengan nada rendah. Membuat Hansell semakin menajamkan mata ingin menerkam Dikra untuk menjelaskan apa maksud dari perkataanya itu


“Sejak kapan kau menyukai adikku?” tanya Hansell dengan tempakan pasti, tentu ia mengetahui hal itu, sebab Hansell kenal jelas dengan Dikra, bagaimana tingkah pria itu saat menyukai wanita “Jawab!!” tuntut Hansell seolah ingin menerima penjelasan


“Huff…” Dikra mengambil nafas panjang, seakan ia benar-benar kehilangan muka dihadapan temanya, bagaimana pun selama ini Dikra adalah pria sejati "Aku sudah menyukai adikmu dari dulu, saat pertama kali aku main kerumahmu, kau fikir aku ingin berteman denganmu hanya karna menyukaimu haa, aku menyukai Angel” jelas Dikra seolah mengejek kearah pria itu, bahkan ia percaya diri sekali mengucapkan kalimat tersebut “Tapi tenang saja, aku tidak berani mengunggkapkan perasaanku padanya, karna adikmu tidak pantas untuk pria ******** sepertiku” tutup Dikra seolah ia sadar diri, meskipun nada santai yang dikra ucapkan adalah mekanisme pertahanan diri nqmun Ha sell bisa menebak jika saat ini temanya dilanda sedih, membuat ia ingin bahagia diatas penderitaan Dikra, entah kenapa pria itu selalu membuat kejutan yang luar biasa bagi dirinya.


“Untung saja kau tahu diri” cela Hansell seketika, seolah ia tidak melihatkan perasaanya, bahkan Hansell seoalah biasa-biasa saja mendengar semua cerita sedih Dikra


“Apa kau tidak kasihan padaku” lempar pria itu kepada temannya, bagaimana pun selama ini Dikra sangat terluka akan perasaan ini, namun reaksi Hansell tidak menunjukan apapun “Untuk apa aku kasihan padamu” balas nya seketika, membuat dahi Dikra terangat untuk menunjukan rasa kesal.


Setelah mereka menyelesaikan percakapan itu, para pengawal Hansell memasuki rumah dengan rasa tertatih, seolah wajah memar menunjukan rasa sakit yang harus dipaksakan untuk sadar, membuat Hansell cemas seketika, jika saja ada ancaman yang menghadang, itu sangat tidak aman karna Airyn juga berada disini, Hansell berdiri dari duduknya seolah tidak terima dengan keadaan, sedangkan Dikra menyembunyikan diri seolah tidak siap melihatkan wajahnya.


“Ada apa!” bentak Hansell


“tuan penyusup itu telah masuk ke Villa” kalimat itu terhenti saat dia melirik kearah Dikra yang duduk enteng dihadapan Hansell


“Dia yang melakukanya Tuan, dia masuk ke Villa ini dengan menjatuhkan pertahanan kita” lapornya sambil menunjuk kearah Dikra


Tentu senyum bodoh terpanpang diwajah Dikra, seolah dia juga menyesal menampilkan kemampuanya, hingga membuat semua pengawal babak belur


“Astaga, Dikra!! Apa kau perlu melakukan ini” bentak Hansell dengan kesal “Itu salah mu sendiri, kenapa kau memperlakukan aku seperti itu” balas Dikra seketika, seolah ia tidak ingin disalahkan atas semua kejadian ini.


Hansell mengehela nafas panjang sebab dia benar-benar tidak percaya atas sikap yang ditampilkan Dikra, bahkan pria itu mampu menjatuhkan banyak pengawal seorang diri, membuat Hansell percaya telah banyak ya g. berubah dari temanya, bukankah ini bukti jika Dikra tidak seperti dulu lagi.


“Cepat ganti seluruh pengawal dan tambah penjagaan, bahkan seorang pria payah seperti ini saja mampu membobol pertahanan, apa kalian fikir dengan kinerja seperti ini bisa aku pertahankan, jika kalian tidak bisa melawan orang bodoh seperti Dikra, bagaimana bisa kalian melindungi Airyn” bentak Hansell dengan geram, seolah dirinya semakin pusing dengan keadan yang ada, tentu Dikra hanya tersenyum sebab merasa bahagia membalaskan kekesalanya, hingga ia merasa menang telah mengalahkan mereka.


“Maafkan aku” serunya kearah pengawal yang memberikan tatapan tajam, sebab dengan sebuah ejekan yang dilontarkan Dikra barusan meruntuhkan harga dirinya sebagai pengawal Hansell selama bertahun-tahun lamanya, bagaimanapun pria itu memilih pergi dengan rasa kesal dan malu, karna telah dikalahkan oleh Dikra. Dikra yang merasa senang atas penderitaan orang lain, tertawa renyah tanpa mampu disembunyikan, membuat dirinya terkecoh akan tatapan membunuh yang telah dikobarkan Hansell.