Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Terkunci diluar kamar



“Hansell” teriak Airyn yang mengema diruang bawah, membuat pria itu terkesiap akan apa yang di dengarnya barusan


“Itu kekasihku” celetuk Hansell seketika, membuat Dikra merasa jengkel mendengar ucapan pria itu


“Kau luar biasa sekali Hansell, tidak pernah aku bayangkan kau akan cinta mati pada Nona Petrov” hina Dikra saat menghabiskan sisa kopi di gelasnya


“Dikra, kita sudahi saja sampai disini, jangan mengatakan apapun pada Airyn, aku tidak ingin Airyn terganggu atas seluruh fakta rumit, apa kau mengerti?” gegas Hansell ke arah temanya, bahkan ia dengan cepat beranjak dari sana guna membuka pintu ruangan dengan segera


“Baiklah...baiklah” balas pria itu


“Hansell” sekali lagi suara Airyn semakin jelas terdengar, hingga membuat Hansell bersirobok dengan kekasihnya yang hampir menaiki tangga “Hansell kenapa kau meninggalkan ku” bentak Airyn dengan kesal, bahkan ia menangis tanpa alasan, membuat pria itu mempercepat langkahnya, seolah ia merasa cemas akan kekasihnya


“Kenapa kau malah menangis, aku hanya bekerja sebentar, diatas ada Dikra yang baru saja datang dari Korea. Sudah, jangan menangis lagi” tutru Hansell dengan lirih, bahkan jemarinya lihai sekali menghapus air mata Airyn


“Jangan tinggalkan aku, kenapa kau malah pergi. Bukanya kau berjanji tidak meninggalkan ku, kenapa saat aku bangun kau tidak ada dikamar. aku benci sekali padamu Hansell” Airyn berseru dengan sesungukan sembaru menepis tangan Hansell dengan kesal, ia merasa takut setelah bangun tidur tidak menemukan pria itu dimana-mana, bahkan saat Airyn bertanya kepada pelayan, mereka mengatakan tidak mengetahui keberadaan Hansell, tentu saja Airyn sangat cemas sebab merasa ditinggalakan


“Sayang” pria itu meraih Airyn kepelukanya, ia menepuk punggung Airyn seoalah merasa gemas dengan tingkahnya, bahkan Hansell tidak pergi kemana-mana membuat Airyn menangisi kehadiranya “Aku tidak kemana-kemana, kenapa kau masih menangis, siapa yang berani meninggalkan mu. Sudahlahh, maafkan aku” pinta Jansell saat menahan tawa, seolah ia benar-benar malu akan tingkah lugu Airyn


“Tadi aku menanyakan mu kepada pelayan, tapi dia tidak mengetahui kau ada dimana, tentu saja aku cemas, aku takut kau pergi dan meninggalkan aku, jangan tinggalkan aku, aku takut hantu”


Sontak membuat Hansell tidak mampu menahan tawanya, seolah ia tidak bisa menahan lagi emosi bahagia yang di rasa, dibalik sikap ganas dan berbahaya, ternyata seorang Nona Petrov juga memiliki ketakutan terhadap hantu.


“Kenapa kau malah menertawaiku, kau ini menyebalkan sekali, pergilah menjauh dariku” Airyn melepaskan diri dari kekasihnya, seolah ia benar-benar kesal kepada pria itu


“Hei, Sayang. Maafkan aku, aku hanya bercanda” Hansell menjangkau tubuh Airyn untuk mendekat lagi kedirinya, membuat gadis itu mengerucutkan bibir seolah tak berhenti akan kekesal yang ada “Maaf ya, aku tidak akan tertawa lagi, Janji” sambung Hansell, ia benar-benar sungguh-sungguh karna terlihat jelas bagaimana gadis itu kesal kepadanya “Aku minta maaf sayang” Hansell mencium bibir Airyn seolah iya menyesal, namun Airyn hanya diam saja, sekali lagi Hansell mengkecupnya namun Airyn tetap saja diposisi diam tanpa ada ekspresi wajah apapun, hingga Hansell mengkerutkan kening sebab merasa binggung harus melakukan apa, melihat reaksi panik diwajah pria itu, Airyn menarik senyum terdalam, ia sekuat tenaga mempertahankan diri agar tidak terkekeh


“Lagi” pinta Airyn, ke arah kekasihnya. Disusul oleh kekehan renyah yang membuat suasana hening antara mereka pecah, bahkan Airyn tertawa lega seolah merasa menang untuk mempermainkan pria itu, membuat Hansell menyambut candaan itu dengan suka cita, ia lega gadis itu tertawa renyah dengan begitu cantik seolah ketakutan akan kesedihan Airyn menghilang, namun disisi lain Hansell juga geram karna gadis itu berani mempermainkan dirinya.


Menyadari ada ancaman pemangsa dari tatapan Hansell, Airyn menjauh dan melepaskan diri dari pelukan pria itu, seolah ia ingin sekali menyelamatkan diri agar tidak tertangkap oleh pemangsa “Kau bahkan sudah berani mempermainkan ku” teriak Hansell ke arah gadis yang menjauh perlahan dihadapanya, hingga didepan pintu kamar Airyn mengunci diri didalam sana, meninggalkan hansell diseberangnya. sebab pintu kamar tersebut ditutup Airyn dari arah dalam untuk menyelamatkan diri.


“Maafkan aku” kekeh Airyn saat tubuhnya menahan pintu kamar


“Buka pintunya Ryn, aku ingin masuk. Sayang” pinta Hansell dari arah luar, bahkan teriaknnya itu terjangkau oleh telinga Dikra yang berada dilantai atas “Pasangan menyebalkan itu memang tidak menghargai aku disini” dengus Dikra saat menurunkan anak tangga.


“Nanti saja kau masuk, aku ingin membersihkan diri dulu” balas Airyn dari balik pintu kamar, membuat Hansell tersenyum sembari membalikan tubuh, ia bersirobok dengan Dikra yang tengah menurunkan tangga dan menghampiri dirinya


“Kau bahkan tidak menghargai kehadiranku disini, apa begini caramu memperlakukan temanmu Hansell, setelah memiliki pasangan aku benar-benar tidak berharga” sindir Dikra kearah pria itu, dia bahkan memasukan tangan kesaku celana


untuk menantang kearah temanya itu.


“Bukankah kau yang menginginkan aku memiliki kekasih, sekarang terima saja jika pacarku lebih penting dari pertemanan kita” balas Hansell dengan nada santai, membuat Dikra benar-benar naik pitam akan balasan yang ia terima


“Kau,,, wahh.. kau benar-benar membuatku gila” dikra mengeram dengan begitu kesalnya, seolah Hansell tidak memakai otak untuk menceletukan kata, seketika pria itu mengamankan kepala Hansell, seolah mereka tengah bergulat, membuat Hansell terkekeh, namun suaranya terdengar seperti orang kesakitan, tentu sedari tadi Airyn masih diposisi, ia mendengar apa yang diperbincangkan dua kawanan itu, membuat darah Airyn mendidih saat suara kekasihnya kesakitan, dengan cepat ia membuka pintu kamar dan berhadapan dengan Dikra yang mempelintir tubuh Hansell, bahkan kedua pri itu terdiam melihat raut wajah panik dari Airyn


“Dikra!! Apa yang kau lakukan pada kekasihku, lepaskan Hansell” bentak Airyn dengan marah, bahkan ia begitu murka hingga nyali Dikra menciut, tangan gadis itu melepaskan tubuh Dikra dari hansell, sedangkan Hansell yang binggung melihat reaksi marah Airyn, terdiam tanpa kata seolah ia sangat jarang Airyn cemas seperti itu


“Apa kau gila, bagaimana bisa kau menyakiti Hansell, apa kau ingin mati!!” bentak Airyn sekali lagi, seolah ia tidak terima dengan sikap yang ditampilkan Dikra, hingga pria itu mundur beberapa langkah menjauh dari hadapan Airyn, sebab tatapan tajam Nona Petrov benar-benar mengerikan dari apa yang ia bayangkan. Sedangkan Hansell yang baru sadar akan situasi ini, merasa tersanjung akan sikap pembelaan yang ditampilkan gadisnya, membuat Hansell menyeringai jahat kearah Dikra, ia menyentuh bagian kepala dengan reaksi kesakitan, padahal semua itu sebuah akting belaka, untuk memprovokasi keadaan yang menyudutkan Dikra


“Wah..Wahh.. kau luar baisa Hansell, jika ada piala oscar kau akan menjadi pemenangnya” kesal Dikra saat mendengus menantang Hansell


“Dikra, cukup!!!” bentak Airyn hingga menghentikan pria itu, disisi lain Hansell seolah menang. “Apa masalahmu sampai memperlakukan hansell seperti ini, bahkan kau yang menghinanya dan sekarang kau merasa tersinggung” kesal Airyn menatap tajam kearah Dikra, membuat pria itu gagap untuk bicara


"Di... dia” Dikra menunjuk Hansell seolah ingin menjelaskan mereka sedang bercanda, namun Airyn langsung saja memotong perkataannya


“Aku tidak bisa bekerjasama dengan mu, aku akan menarik seluruh fasillitas yang aku berikan, dan membeli seluruh saham yang kau miliki, aku akan menarik kartu kredit dan black card itu. sekarang kita tidak memiliki kerja sama lagi, dan kau jangan berani-beraninya memperlakukan Hansell seperti tadi. Jika tidak aku benar-benar akan membunuh mu” kedua pria itu tertegun akan pernyataan Nona Petrov yang dirasa bukanlah sebuah permainan, bahkan Hansell membaik seketika dan melupakan kesakitanya, Dikra menelan saliva dengan susah payah, seolah ia akan berakir menjadi gembel


dijalanan.


“Apa!” bentak Airyn dengan menantang


“Berarti yang membiayai hidupmu adalah Airyn? Wah Dikra bagaimana bisa? Haha…kau benar-benar kejutan” kekeh Hansell dengan terpingkal-pingkal seolah ia tidak bisa mereda hingga tanpa disadari tatapan Airyn sedari tadi tengah membunuh dengan aura kental


“Apa kau membohongi ku Hansell” ucap gadis itu dengan kalimat menyeramkan, membuat darah Hansell menetes satu persatu hingga begitu terasa, seolah jantungnya bergedup kencang saat menyadari sikap dingin yang diberikan Airyn


“Sayang mak…maksud ku” pintu itu terhempas kencang dengan tertutup rapi, terlihat jelas Airyn begitu marah dan kesal, bahkan membuat Hansell dan Dikra terjingkrak karna kaget “Astaga” umpat Hansell dengan kesal “Sayang…..buka pintu nya, Sayangg” teriak Hansell dari arah luar, namun Airyn tidak memperdulikan pria itu, hingga Dikra merasa menang diatas segalanya, ia melawan kekehan Hansell yang begitu menghina kepadanya barusan, membuat Hansell mengusap kepala dengan kasar


“Ini semua karna kau Dikra” tuduh pria itu dengan kesal, seolah ia tidak terima dengan semua ini


“Tidak teman, inilah yang namanya senjata makan tuan, selamat membujuk Nona Petrov. Aku pergi dulu” Dikra menepuk pundak Hansell, dan berlalu membawa piala kemenangan, hingga Hansell ditingalkan untuk mengetuk dan memanggil nama kekasihnya dari arah luar.


Sedangkan Airyn benar-benar dibuat kesal atas apa yang dulakukan Hansell padanya, seolah ia tidak ingin lagi menatap wajah menyebalkan yang dimiliki pria itu, Airyn benar-benar ingin mencakar habis wajah Hansell hingga dirinya sulit sekali dalam menahan diri, disis luar Hansell benar-benar menyesal mempermainkan Airyn, bahkan tadinya gadis itu begitu peduli padanya dan sekarang Airyn marah lagi, entah kapan Airyn itu bisa reda dari amarah yang meluap-luap.


Hampir tengah malam, Airyn membuka mata dari tidurnya, ia merengangkan badan seolah menikmati sensasi puas atas tidur panjang, Airyn masih dalam posisi telentang diatas ranjang, dengan mata yang masih setia terpejam membuat gadis itu menghempaskan tangan kearah samping, spontan kepala Airyn terangkat tegak, ia melihat tidak ada Hansell disampingnya.


“Kemana Hansell?” tanya Airyn dengan binggung, ia melirik keseluruh tempat yang ada didalam kamar itu “Astaga, aku menguncinya diluar” gerutu Airyn saat tersadar dari kenyataan, ia melirik jam yang ada dinakas, membuat kaki mungil itu beranjak turun dan melangkah untuk membuka pintu, perlahan Airyn menarik ganggang pintu kearah dalam, ia melihat tubuh Hansell yang ikut jatuh senada dengan tarikan pintu tersebut, tentu saja pria itu tertidur sambil tersandar ke pintu “Ya ampun, dia tertidur dipintu” umpat Airyn seolah ragu untuk membuka habis pintu kamar, secara perlahan ia membuka pintu itu diiringi dengan selipan tubuh untuk menunduk menjangkau Hansell, Airyn berhasil menempatkan posisi untuk menopang tubuh prianya, tentu Hansell telah sadar dari alam bawah sadarnya namun Hansell berusaha mengikuti skenario yang ada


“Kenapa dia tidur disini, apa dia menungguku, ya ampun anak ini” umpat Airyn dengan kesal, perlahan tangan mungil itu merampat kepipi prianya untuk memberikan sentuhan lemput agar menyadarkan Hansell, Airyn menepuk pipi Hansell sambil menyerukan namanya


“Hansell bangunlah” dengus Airyn dengan kesal.


“Jangan marah lagi” Hansell menahan tangan Airyn dipipinya, seolah ia mengengam penuh kelembutan, namun mata pria itu masih saja terpejam “Kau sudah bangun. Hansell kau...” bentak Airyn seolah mempertegas keadaan, tiba-tiba Hansell membuka matanya hingga menatap kedua bola mata Airyn, entah kenapa sorot mata indah Jansell membuat Airyn terpaku, dan melupakan kemarahan yang hampir meledak dua kali. Dua manusia itu terhanyut kedalam tatapan dalam yang menyiaratkan cinta, seolah sayang mengalir diantara mereka, tentu saja dikeadaan malam seluruh pelayan telah keluar dari Villa, berhubung itu sebuah Villa pribadi jadi Hansell menempatkan sedikit pelayan disana, hingga siapapun tidak akan menyaksikan keindahan cinta yang tersirat diantara mereka.


Hansell mendudukan tubuh dan menyandarkan Airyn kedinding, hingga gadis itu tersudut malu, ia menatap mata Airyn penuh sayang, seolah untaian rambut yang menjuntai menambah kecantikan kekasihnya, mungkin bulan sangat malu untuk bersaing dengan wanitanya, Hansell membelai lebut bibir ranum milik Airyn senada dengan ritme sensual yang tengah dimainkan, membuat gadis itu bergindik gugup dalam diam, ia tentu menerima apa yang dilakukan prianya, tapi hati yang berdegup kencang memacu Airyn harus menarik nafas panjang “Apa kau tau, kau indah sekali Airyn” senyum Hansell kearah Airyn ,membuat gadisnya terkekeh akan pujian jadul yang dilontarkan “Benar bukan” sambung Hansell seketika, membuat dua mata Airyn membulat indah menatap pria itu “Senyuman ini, tawa ini adalah hal yang paling indah untuk aku miliki” jelasnya, membuat Airyn tidak mampu menahan kekehan. Airyn tak kuasa mendengar atas apa yang dilontarkan Hansell “Kenapa kau malah tertawa, aku sedang serius” tutur Hansell seketika membuat Airyn menepis air mata yang ada disudut matanya akibat kekehan nyata.


“Baiklah, lepaskan aku. Aku lapar sekali” pinta Airyn kepada Hansell, membuat pria itu terkesiap mendengar kekasihnya yang tengah kelaparan


“Astaga, sudah jam berapa ini?” tanya Hansell seketika “Ya ampun, ini sudah jam 10 malam, dan kau belum makan Airyn. Apa pelayan disini ingin dipecat. Bagaimana bisa mereka tidak melayanimu” pria itu bangkit sambil membantu kekasihnya, tentu dengan lembut dia mengangkat tubuh Airyn


“Hansell tenanglah, aku belum lapar. Jangan seperti itu” cegat Airyn untuk meredakan emosi Hansell, membuat pria itu tidak terima dengan kinerja pelayan di Villa ini


“Apa perut mu sakit? Kau bahkan tidak memasukan apapun sedari pagi, kita harus minum vitamin dulu sebelum makan, karna jika dipaksakan untuk makan, itu akan membuat perutmu sakit. Aku akan memanggil dokter, sebentar sayang” racau Hansell dengam rasa cemas yang ada, membuaat gadis itu kebinggungan untuk menenangkan kekasihnya


“Sayang, aku baik-baik saja, jangan berlebihan” lirih Airyn saat menjangkau jemari Hansell, membuat pria itu mengarahkan badan menatap Airyn, hingga tubuh mungil itu jatuh ketubuh Hansell dengan rasa nyaman nan hangat


“Jangan terlalu cemas padaku, aku baik-baik saja” tutur Airyn sekali lagi disertai dengan senyuman manis yang disembunyikan diatas dada Hansell “Aku mencintaimu” sambungnya dengan kalimat manja, bahkan membuat Hansell merasa tenang akan kata tersebut, hingga Airyn menegadah menampilkan wajah lugu dan polosnya yang membuat Hansell meleleh seketika


“Baiklah, apa kau mau kubuatkan sesuatu?” tawar Hansell kepada gadis yang begitu ia cintai


“Bolehkan? Apa tidak merepotkan?” balas Airyn dengan wajah sungkan, sebab ia tidak ingin membebani Jansell, meskipun ia begitu bahagia jika dimasakan oleh pria itu, karna lidah Airyn tidak bisa bohong, jika citra rasa makanan yang dibuat oleh Hansell, benar-benar mengugah selera.


Mendengar apa yang diucapkan kekasihnya, tentu Hansell tersenyum sambil menyambut bibir Airyn dengan kecupan manis, seolah itu sebuah tanda jika ia benar-benar merasa bahagia jika memasak untuk kekasihnya.


"Hmmm….apa ya?” pikir Airyn, dengan wajah lugu dan manis, ia seakan menikmati kesempatan ini, agar tidak menyianyiakan sedikit pun


“Aku mau mie instan” lirih Airyn dengan malu, membuat Hansell terdiam melirik kekasihnya, seolah ia tidak yakin akan pendengaran barusan


“Mie instan?” ulang Hansell dengan kalimat yang baru saja diucapkan Airyn, membuat gadis itu menganggukan kepala dengan yakin, seolah ia benar-benar mengharapkan Mie instan dimalam hari


“Tapi kita tidak memiliki persedian mie instan sayang” timpal Hansell seketika, membuat senyum Airyn memudar dipermukaan wajahnya, tentu dengan berat hati Hannsell merasa menyesal “Baiklah, apa kau mau ke supermarket bersamaku?” ajak Hansell untuk memberikan opsi lain, berharap Airyn tidak sedih lagi


“Apa supermarket masih buka jam segini?” tanya Airyn saat melirik kejam yang ada didinding kamar mereka


“Tentu saja ada, supermarket yang buka 24 jam sangat banyak di daerah sini” sahut hansell, membuat gadis itu bahagia akan apa yang dituturkan kekasihnya, dengan cepat Hansell memeluk Airyn dalam-dalam sambil mencium seluruh aroma tubuh gadis itu, bahkan secara bersamaan Hansell bangkit dari sana dan menjangkau tubuh Airyn.