Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Tidak mudah menjalani hari.



Sore itu nampaknya Airyn amat sibuk dengan beberapa berkas di tanganya, ia sudah mempelajari segala hal dan sudah menyelesaikan beberapa pekerjaan, Airyn yang kala itu bekerja di kantor cabangnya duduk diam di posisi ketika beberapa orang telah pergi, mata Airyn mulai tertuju pada sebuah bingkai foto yang ada di meja kerjanya, membuat wanita itu beranjak kesana seraya meraih foto Hansell, ia mengusap permukaan kaca secara lembut untuk menyingkirkan debu yang menghingapi.


Tawa Airyn yang di semaikan dengan paksa rasanya membuat hatinya berdenyut sakit ketika menerima kenyataan yang di katakan oleh ayahnya, tentu saja Airyn tidak bisa menerima kematian Hansell, bahkan ia sedang menepis kenyataan untuk tidak mempercayai semua ini, bahkan setelah mereka selesai sarapan tadi pagi, Zates ingin mengantarkan Airyn ke makam Hansell, di dalam perjalanan rasa gugup tentu melanda, namun semakin dekat dirinya pada wilayah yang merupakan tempat istirahat suaminya, benar-benar membuat Airyn ingin mundur, ia tidak sangup melihat apalagi mendapatkan ukiran nama suaminya di atas batu nisan.


Segila apapun kenyataan yang ia alami selama ini, tetap saja untuk masalah suaminya Airyn tidak menerima begitu saja, masih banyak penolak-penolakan yang bergejolak di raganya untuk mengatakan pada diri sendiri. “Ini tidak mungkin!”


“Kenapa rasanya aku tidak bisa menerima semua ini, aku bukanya menepis kenyataan tapi aku tidak bisa menerima jika Hansell sudah tiada, karna aku percaya Hansell tidak akan meninggalkan aku seperti ini. Sebenarnya kau pergi kemana, dan apakah ini benar-benar terjadi?” gumam Airyn saat menyeka air mata yang terus mengalir jika ia melihat wajah suaminya, bahkan gejolak emosional itu terasa semakin nyata ketika Airyn mengingat bagaimana kenangan mereka.


Jika benar Airyn harus menerima kenyataan atas kepergian suaminya, tentu saja ia tidak akan menerima itu sepenuh hatinya, yang jelas Airyn sudah mengerti dan memahami jika itu keputusan suaminya. Hansell benar-benar melakukan semuanya untuk Airyn, ia rela kehilangan segala hal untuk menyelamatkan Airyn, melepaskan dirinya dari posisi pemimpin hanya untuk menghancurkan Jilixing, bahkan pria itu diam-diam mendirikan yayasan di bawah nama Airyn sebagai sumbangan amal.


Hansell bahkan membuat Airyn tidak menyangka jika dia adalah orang yang diam-diam menyokong hidupnya, membantu Airyn untuk berurusan dengan beberapa pihak tertentu bahkan Hansell sudah menjaga Airyn agar tidak bisa di sentuh oleh musuh bisnisnya, jika di jabarkan satu persatu perlindungan yang Airyn dapatkan selama 5 tahun tidak bersama Hansell tentu akibat pria itu, bahkan sekarang Airyn mulai tahu alasan kenapa Hansell bergabung di markas bawah tanah dan mengambil alih posisi pemimpin, di samping dirinya ingin menguasai wilayah ini, alasan utamanya adalah untuk memberikan Airyn perlindungan, dan tentu saja Hansell membutuhkan kekuasaan untuk melindungi wanita yang ia cintai, karna itulah Hansell menjadi pemimpin markas bawah tanah.


Bahkan selama 5 tahun mereka tidak bersama, pria itu rela terjun kepada kegelapan hanya untuk menerangi dan melindungi jalan istrinya, bahkan Airyn paham sendiri jika itu bukanlah karakter suaminya, Hansell adalah orang yang tidak menyukai hal-hal seperti itu, sebab ia adalah pria berprinsip yang percaya dengan proses, hanya demi Airyn ia rela bergabung dan melepaskan prinsipnya, jika sudah seperti ini bagaimana bisa Airyn membenci, jika sebenarnya Hansell melakukan pilihan tersebut demi dirinya, bahkan untuk kecewa pada suaminya saja Airyn tidak sanggup.


Meskipun segala kemungkinan atas niat baik itu benar-benar luar biasa hebatnya, tapi jika Hansell tidak ada sama saja Airyn tidak akan bahagia. Hanya demi suaminya, Airyn akan menghargai pilihan Hansell, ia menerima seluruh keputusan sepihak yang Hansell lakukan, dan Airyn benar-benar memegang teguh ucapan Hansell, untuk mempedulikan dirinya sendiri dan anak mereka. “Aku akan menjaga anak kita. Dan aku akan selalu menanti mu, dimanapun kamu berada dan sejauh apapun kamu pergi, aku yakin kamu tidak akan meninggalkan kami-kan. Jadi kembalilah jika kau sudah lelah untuk jauh, jika nanti kau tidak kembali, tunggulah aku disana” batin Airyn yang ia ucapkaan seperti do’a.


“Permisi Nona Petrov” putus seorang wanita yang kala itu mengalihkan perhatian Airyn, membuatnya mengangkat kepala seraya menghapus air matanya. “Ada pewarta Jenny yang saat ini ingin bertemu dengan anda”


“Biarkan dia masuk” ucap Airyn dengan nada perintah, bahkan ia berucap dengan dingin seraya berlalu untuk duduk di sofa coklat dengan perpaduan cream terang di ruanganya, bahkan ia memasang wajah tegas sehingga nampak sekali betapa berbedanya Airyn dari yang sebelumnya.


Jenny masuk dengan sikap sopan, entah bagaimanapun wanita yang bernama Airyn Petrov selalu membuat dirinya merasa gugup, hingga tatapanya saja membuat Jenny terpaku sampai sulit bicara, wanita itu memang memiliki sisi karismatik yang luar biasa, bahkan rasanya Jenny tidak pernah melihat aura bos sekental Nona Petrov, hanya dialah wanita di dunia ini yang pernah Jenny temui se-keren ini.


“Selamat sore Jenny, sudah lama tidak bertemu. Dan kita bertemu lagi di situasi yang tidak mengenakan ini” sapa Airyn dengan ramah, membuat Jenny terkekeh mendengar ucapnya.


“Selamat sore Nona Petrov. Ternyata anda semakin cantik saja semenjak hamil ini, aku sampai tidak mengenali Nona Petrov yang sebelumnya, sekarang aura bos anda benar-benar membuat ku terintimidasi”


“Kau terlalu berlebihan Jenny. Maaf jika aku cukup serius sampai membuatmu gugup” kekeh Airyn untuk mencairkan suasana.


Beberapa saat mereka saling bercerita untuk sekedar berbasa-basi, bahkan percakapan itu amat membangun hingga Jenny mulai menghilangkan sikap cangungnya.


“Aku benar-benar meminta maaf jika nama mu ikut terseret ke dalam kasusku, aku tidak terlalu membaca komentar karna aku tipe orang yang tidak bermain sosial media, hanya saja orangku mengatakan jika kau cukup jauh di hujat oleh masyarakat” terus Airyn dengan sikap tulus dan penuh penyesalan, membuat Jenny mengelengkan kepala sambil mengangkat tanganya seolah itu tidaklah masalah.


“Sebelum ini aku lebih parah di hujat, jadi sudah tidak masalah. Profesiku sebagai publik figur sudah membuatku cukup kebal, tapi aku bersyukur jika anda tidak membaca komentar sampah itu. Karna sebagai orang awam itu akan sangat menyakitkan” balasnya kearah Airyn, membuat kening Airyn berkerut mendengar perkataan Jenny, memangnya separah apa masyarakat menghujat dirinya, jujur saja Airyn benar-benar tidak membaca berita sebab ia terlalu sibuk memikirkan suaminya dan menyelesaikan beberapa pekerjaan.


“Jadi untuk apa kau datang ke kantor ku Jenny, bukankah aku sudah mengkonfirmasi lewat Darrel jika aku bersedia mengikuti acara itu” ucap Airyn kepada pewarta Jenny, membuat Jenny mengulur waktu untuk diam beberapa menit seraya dirinya bersikap serius untuk memulai percakapan di antara mereka.


“Aku memang sudah mendapatkan konfirmasi itu Nona, tapi aku hanya ingin menanyakan kepada anda, apakah ada hal-hal terlarang yang tidak bisa saya katakan, karna mengingat anda bukan orang sembarangan membuat saya cukup gugup untuk membawakan berita ber-skala besar ini. Bahkan beberapa pihak menekan kami untuk menjaga reputasi dan martabat anda, bagaimanapun beberapa pihak tengah memberikan kami peringatan, jika kami tidak boleh sembarangan saat melakuakn siaran langsung, sebab anda adalah wajah pembisnis dan beberapa perusahaan ber-skala besar di dunia ini. Jadi untuk itulah, saya ingi menanyakan hal apa yang rasanya tidak bisa saya lakukan dan katakan, apakah kami tidak terlalu menyinggung jika melakukan siaran langsung tentang anda Nona?”


“Tidak. Aku akan mengurus orang-orang yang menekanmu. Sekarang kau lakukan saja sesuai prosedur di awal. Sebagai orang yang sangat puas atas kinerjamu aku mempercayai semuanya padamu Jenny” balas Airyn dengan sikap tenang.


“Baiklah Nona, tapi saya membaca E-mail dari Darrel, jika yang melakukan tes ini adalah Ny. Merry dan Tuan Zates serta anda sendiri. Bagaimana dengan Tuan Hansell?” tanya Jenny dengan polosnya, membuat Airyn terdiam memandang wanita itu. Ia bahkan ingin mengetahui kenapa Hansell Hamillton tidak ikut serta dalam acara itu.


“Apakah Hansell perlu datang?” tanya Airyn dengan tatapan dalam, seraya menunggu jawaban dari Jenny, membuat wanita itu cukup terpana atas respon Nona Petrov, kenapa rasanya pertanyaan itu terasa sangat menyedihkan untuk di dengar.


“Kalau menurut ku, Tuan Hansell tidak harus menghadirinya. Sebab kita cukup mengungkap anda adalah anak biologis Tuan Zates dan Ny.Merry, maka semuanya sudah mematahkan argumentasi masyarakat, sebab jika anda adalah anak bilogis mereka hal itu tentu menyatakan jika anda dan Tuan Hansell tidaklah sedarah, dan masalah akan selesai dengan mudah. Tapi bukankah sangat lebih baik jika Tuan Hansell ikut adil dalam acara ini”


“Hansell tidak akan ikut!!” seketika kata-kata Airyn membuat kening Jenny berkerut, bukankah sebelumnya mereka saling berkorban satu sama lain, tapi kenapa Hansell tidak ikut dalam acara ini, sebagai suami sangat pantas untuknya menemani Nona Petrov, di tambah istrinya tengah hamil besar, tapi Nona Petrov dengan tegas membantah hal itu, apakah terjadi sesuatu dengan mereka, dalam artian apakah mereka tengah bertengkar.


“Nona Petrov, apa anda baik-baik saja?” tanya Jenny ketika melihat gadis itu menekuk wajahnya, bahkan membuat Jenny begitu cangung ada di sana, sepertinya memang terjadi sesuatu dengan Hansell atau mereka tengah bertengkar, tapi kenapa rasanya Nona Petrov terkesan sangat sedih, membuat Jenny menjangkau wanita itu, namun seketika Airyn mendongakan wajah hingga mengagetkan Jenny. Ia mengangkat kepada dengan senyum lebar yang di harapkan.


“Hansell tidak perlu datang, ia memiliki beberapa pekerjaan, bahkan dalam waktu dekat Hansell tidak akan pulang, tapi aku akan terus menantinya sampai Hansell kembali. Jadi lakukan saja acara ini semampu-nya untuk memberikan fakta, dan aku juga sudah mengurus beberapa berkas keluarga dan sudah meminta orangku untuk merubah seluruh tanda pengenal ataupun akta keluarga dan pernikahan. Jadi aku rasa tidak perlu Hansell-kan?”


“Oh, tidak perlu” ucap Jenny dengan bingung, rasanya ia cukup asing dengan tingkah Nona Petrov, tapi Jenny juga tidak bisa berkata apa-apa lagi selain membahas apa yang terjadi saja. “Jadi Nona, apa anda tidak mau menghukum orang-orang yang berkomentar buruk tentang anda dan Tuan Hansell” tanya Jenny pada wanita itu, rasanya sangat cangung mengakiri percakapan begitu saja, untuk itulah Jenny sedikit berbasa basi untuk mengakirinya.


“Tidak perlu, biarkan saja. Aku terlalu sibuk hingga tidak sempat membacanya, jadi selagi tidak bermasalah padaku, aku tidak akan memproses mereka pada hukum”


“Luar biasa, anda baik sekali. Tapi menurut saya, anda tidak perlu melihatnya Nona, karna saya saja sebagai orang luar cukup kesal saat membaca, dengan anda begini sudah menjadi pilihan yang tepat” balas Jenny pada wanita itu, membuat Airyn menganggukan kepala dengan polos, ia bahkan mengkerutkan kening dengan bingung ketika mendengar ucapan gadis itu. “Nanti jika saya sudah menyiapkan segalanya, saya akan mencocokan jadwal tayang dengan jam kosong anda. Jadi sebelum itu, semoga anda baik-baik saja sampai hari H” tutup Jenny kehadapan Nona Petrov, membuat Airyn menganggukan kepala untuk menerima salamnya.


Setelah Jenny pergi dari ruangan itu, Airyn kembali merasakan ke kosongan hingga berulang kali kesesakan di dadanya membuat Airyn sulit bernafas, namun ia harus memperbaiki diri sebab jika ia terus seperti ini janin di perutnya akan terncam, meskipun sedari dini mereka amat kuat, tapi jika terus di uji dan terus merasa tertekan tentu dua janin yang tidak berdosa itu tidak sanggup bertahan lama, untuk itulah Airyn akan mencoba memperbaiki dirinya sendiri untuk mengobati hati yang luka, meskipun ia harus membuat halunisasi jika suaminya akan kembali, bukankah itu yang terbaik untuk saat ini.


Karna harapan bisa saja menjadi kumpulan doa yang mungkin tengah di semogakan.


Suara ponsel Airyn berdering, hingga wanita itu menjangkau ponsel yang ada di dalam tas genggamnya, ternyata sebuah pesan dari ayahnya tertera disana.


“Sayang, ayah akan menjemputmu sore ini, jadi siap-siaplah untuk pulang, jika ada pekerjaan mendesak biar ayah yang melakukanya. Sebagai ibu hamil kau tidak boleh terlalu capek” –Ayah Laos.


Hingga senyum Airyn mengambang melihat hal itu, kenapa rasanya pria itu semakin di beri kesempatan malah semakin memiliki otoritas penuh, ia amat protektif dan luar biasa mengekang, bahkan rasanya Hansell masih memberi Airyn ruang untuk sendiri, tapi ayahnya sudah seperti asisten pribadi yang mengatur jadwal Airyn setiap hari, bahkan ia membatasi jam kerja Airyn, semuanya sudah tersusuh rapi dari bangun tidur hingga malam hari. benar-benar rubah tua yang menyebalkan, hanya saja ini adalah pilihan terbaik yang Hansell berikan, untuk memberikan Airyn peluang merasakan hidup sederhana di bawa perintah kedua orang tuanya.


***


30 menit telah berlalu.


“Kenapa ayah lama sekali” dengus Airyn ketika melihat jam di tanganya, ia yang duduk di sofa kantor mencoba membuka sebuah media sosial, hingga Airyn teringat akan sikap Hansell yang cemburu ketika ia memainkan sebuah aplikasi *I*nstagram sore itu, bahkan tawa kecut di bibir Airyn membuatnya begitu bahagia, ketika kenagan indah bersama Hansell sangat luar biasa menghiasi kotak kenangan di kepalanya.


Dengan segera Airyn Meng-Unfollow Ryan Gosling yang membuat suaminya cemburu sore itu. "Aku sunguh menyesal, tapi aku ingin melakukan ke inginan suamiku" ucap Airyn ketika memandang Ryan Gosling yang amat tampan sebagai idola prianya.


Sore itu Airyn begitu menantang penuh perlawanan pada suaminya, jika di ingat-ingat lagi kenapa Airyn tidak merasa jika sore itu Hansell luar biasa mengemaskan, namun akibat tersulut emosi Airyn malah melawan moment berharga tersebut. Meskipun sebenarnya itu tidak perlu mereka perdebatkan, hanya saja hal-hal kecil yang tidak akan mungkin terjadi itu, adalah kenangan manis yang ingin di lakukan-nya lagi, namun saat ini tidak akan mungkin, lantaran Hansell sudah pergi.


Jika saja Airyn mengetahui jika sore itu adalah terakir kali ia akan tertawa, tersenyum, marah dan bahagia bersama suaminya, mungkin Airyn ingin mengulur waktu sedikit lebih lama, atau jika Airyn tahu Hansell akan pergi malam-nya, ia tidak akan marah sepanjang sore sampai jam makan malam, apakah Hansell yang membujuk Airyn malam itu adalah salam perpisahan yang Hansell berikan, hanya saja Airyn tidak menyadarinya, jika benar seperti ini rasanya di tingalkan dengan penuh sesal, Airyn tidak akan pernah mengabaikan hari-hari sederhana dengan hal-hal kecil yang tidak bisa mereka ulang kembali.


Hingga sepatu fantofel beradu dengan keramik marmer di sepanjang lorong membuat tangan Zates menjangkau pintu kantor Airyn, ia melihat putrinya tengah mengusap air mata yang sepertinya di landa sedih yang terus menerus, alasan Zates membiarkan Airyn bekerja tentu karna Zates ingin Airyn memiliki kesibukan, tapi nampaknya suasa kantor hanya akan menambah kesatikan anaknya.


“Sayang” lirih Zates yang kala itu berjalan kearah Airyn dengan tatapan sendu penuh kasih sayang, membuat Airyn mendongakan wajah kearah ayahnya yang sudah di penuhi linagan air mata yang berkilau.


“Menangislah jika ada aku, kenapa kau menangis sendiri” dengus Zates dengan kesal, sambil memeluk erat tubuh Airyn, entah kenapa rasanya hati pria itu amat sakit melibat bagaimana terlukanya Airyn, ia tidak pernah henti untuk menangis, bahkan ingat sedikit saja tentang Hansell air mata Airyn mengalir bebas tanpa bendungan, benar-benar membuat Zates sulit bernafas atas apa yang menimpa anaknya, hingga rasanya penyesalan selalu mendera dan rasa kesal selalu menyikitinya.


***


Di dalam mobil itu, Airyn dengan mata sembab duduk di samping Zates, pria itu mengendarai mobil untuk pulang ke rumah Airyn, bahkan di tengah perlajanan wajah Airyn terlihat begitu masam hingga Zates mengajak bicara di balas dengan bungkam, namun sorot mata tajam putrinya hampir saja ingin memecahkan ponsel yang ia genggam dengan erat, seraya meledakanya dengan laser di mata tajam itu.


“A-Airyn, apa yang kau lihat” tanya Zates dengan penasaran, rasanya aura Airyn mengelap penuh suram, bahkan aura dingin di mobil itu meningkat menjadi nol derajat, hingga merasa seperti di kutup utara, Zates tidak mengerti kenapa Airyn bisa seperti ini setelah memainkan ponselnya, atau jangan-jangan ada kesalahan Zates yang ia ketahu, tapi rasnaya Zates tidak memiliki kesalahan apa-apa lagi, selain dirinya kaisar di kerajaan bawah tanah.


“Kenapa mereka bisa mengunakan kata-kata sampah ini!! Apa mereka ingi mati” bentak Airyn hingga Zates tersentak mendengarnya, bahkan tubuhnya mengigil melihat emosi Airyn yang meledak-ledak, di tambah jantung Zates yang mulai melemah, tentu tidak sekuat itu dengan suara keras yang mengagetkan jantungnya.


“A-Apa maksud mu—“


“Tidak kah kau lihat bagaimana mulut sampah mereka mengatakan yang tidak-tidak tentang Hansell, apa mereka ingin aku lenyapkan dari dunia ini!!!!” teriak wanita itu seraya memperlihatkan layar ponsel yang penuh komentar hujatan, bahkan nampaknya mengigilkan jantung Airyn untuk membalasnya, benar-benar sebuah emosi yang ingin membuhuh seseoaang, bahkan Zates saja yang di kenal mengerikan, bisa bergindik takut menyaksikan temperamen Airyn yang luar biasa mengerikan dan berbahaya.


“Astaga, hampir seluruh dunia menghujat Hansell. Apa Airyn akan memusnahkan manusia di abad ini” gumam Zates yang memilih diam “Apa yang dia lakukan, apakah ia akan meledakan bom di Negara ini untuk menghancurkan seluruh kehidupan manusia, aku rasa Airyn bisa saja melakukan itu sebab amat mudah bagi dirinya membungkam beberapa orang yang perlu di bungkam dalam peluncuran bom itu” fikir Zates yang sudah menerawang kemana-mana.


“Jangankan untuk menyentuh Hansell, seujung kuku saja mampu ia lukai, akan ku keribi sampai 7 turunan. Dan sekarang dia mengatakan suamiku menjijikan! Harus di musnahkan! Dan di hukum mati!! Apa mereka mau aku beri pelajaran, bagaimana merasakan ketiga hal itu disaat yang bersamaan”


“Airyn!!” bentak Zates yang kala itu amat takut, anaknya sangat berbahaya jika berada di zona marah. Sudah sepantasnya Airyn tidak bermain sosial media, sebab nampaknya ia tidak akan bisa menerima sepengal hujatan saja. “Kita bisa memikirkan cara yang manusiawi untuk menghukum mereka”


"Manusiawi?” ucap Airyn dengan membeo, rasanya senyuman getir itu semakin menajam kearah Zates, wajah ketidaksukaan terpampang nyata, hingga rasanya Zates amat menyesal telah memilih kata-kata yang salah. “Bukankah mereka yang tidak manusiawi saat meghujat dan menghukum seseorang dengan mulut dan jarinya yang tidak berotak itu, untuk apa kita harus memikirkan cara manusiawi untuk membalasnya. Jika sedari awal kita harus manusiawi, seharunya mereka juga sadar, satu hujatan kebencian itu tidak manusiawi untuk di katakan kepada seseorang, jika saja Tuhan menjadi hakim di dunia ini, ia bahkan tidak akan memberikan hujantan kepada manusia yang sudah melakukan kesalahan besar. Dan mereka hanya kumpulan manusia yang sama-sama bernafas, malah bertindak melebihi Tuhan, lalu untuk apa lagi manusiawi itu kau terapkan pada manusia rendahan seperti mereka, yang Tuhan saja di lampaui-nya”


Hingga mulut Zates bungkam tanpa mampu melawan, rasanya Airyn adalah manusia pertama yang membuatnya kalah talak saat bicara, hingga Zates kehilangan akal untuk memperlurus keadaan ini.


“Kenapa gen-ku se-menyeramkan ini” gerutu Zates dengan penuh pasrah, ia sungguh tidak bisa melakukan apa-pun selain membiarkan para orang bodoh itu kena hukuman atas perbuatanya.


“Aku tidak mau tahu!! Kabari pengacara di seluruh dunia untuk memenjarakan komentar-komentar menyakitkan yang tidak berakhlak itu, dan untuk beberapa komentar yang lainya, pecat dia dari pekerjaan yang ia kerjakan saat ini, setidaknya biarkan hidupnya sengasara untuk beberapa saat agar ini menjadi pelajaran untuknya, mereka bisa saja berkomentar, hanya saja mereka harus mempertangung jawabkan ucapnya.” putus Airyn yang melemparkan ponsel itu kearah luar, hingga terpental ke aspal jalan, bahkan membuat Zates kaget melihat sikap anaknya yang begitu kesal.


“Astaga, mampuslah para orang-orang bodoh yang sudah berkomentar itu” batin Zates ketika duduk diam di samping putrinya.


“Sayang, akan aku lakukan permintaanmu” balas Zates sambil mengusap kepala Airyn dengan sayang, setidaknya membenarkan keinginan anaknya adalah jalan terbaik untuk meredakan gejolak emosi yang Airyn rasakan saat ini.


“Jangan tingalkan satu manusia-pun, dan usik semua komentar itu hingga ke seluruh penjuru dunia, bahkan akun-akun anonim itu lacak terus keberadaan mereka hingga sampai akar” terus Airyn searaya melipat kedua tanganya, membuat Zates menganggukan kepala seolah mengerti akan permintaan putrinya “Aku tidak sedang bercanda” sambung Airyn dengan jengkel, ketika dirinya dianggap anak kecil ketika bicara


“Aku juga tidak main-main” balas Zates dengan sikap tenang.


“Baiklah, aku percaya padamu ayah” ucap Airyn sambil menarik nafasnya dalam-dalam.


“Aku adalah orang yang tidak pernah mengecewakan” bangga Zates pada dirinya sendiri.


“Lalu sikap pengecut-mu dimasa lalu itu apa” seru wanita yang tengah mengandung cucu dari Zaterius.


“Hei, kenapa kau mengungkit masa lalu” dengus Zates dengan malu, hingga wajahnya memerah dengan apa yang di katakan oleh Airyn.


“Aku hanya mengatakan kebenaran saja, Tuan Laos Petrov”


“Jangan memanggilku seperti itu, panggil aku Ayah”


“Baiklah Ayah”


"Ayah.....Ayah.....Ayah..... "


"Apa kau mempermainkan ku"


"Tidak ayah, Airyn mana berani mempermainkan Ayah"


"Yasudah"


"Iya Ayah!!"


"Hei berhenti bicara!!"


"Kenapa Ayah?"


"Airyn!!!"


"Apa Ayah.........."


Hingga seluruh percakapan kecil yang saling bersaut-sautan itu menghiasi perjalanan mereka menuju rumah, bahkan Airyn tidak perlu memecah kecangugan di antara mereka, sebab dalam beberapa waktu kedekatan di antara Zates dan Airyn benar-benar mencair dengan mudahnya.


Zates menyelipkan candaan sederhana untuk menghiasi mobil itu dengan tawa kecil putrinya. Rasanya dunia ini seperti surga untuk dirinya, namun apakah saat ini Airyn merasakan hal yang sama? Zates fikir tidak.