
“apa kita kembali ke apartemen?” tanya Airyn kepada Hansell
“tentu tidak” sambill mengusap kepala gadis itu
“lalu kita kemana?” tanya Airyn
“ke Namsam” seketika Airyn mengkerutkan kening karna dia tidak tau dimana tempat tersebut
“kita ke namsam tower, disana banyak sekali gembok cinta yang dibuat oleh pasangan, mereka percaya jika mengembok cinta disana akan menjadikan hubungan itu awat dan terkunci” jelas Hansell, namun Airyn dengan cermat mendengarkan penjelasan pria itu
“apa kau tidak pernah tau Ryn?” tanya Hansell kepada gadisnya, namun Airyn hanya mengelengkan kepala karna dia tidak pernah mendengar hal itu sebelumnya
“namsam tower itu adalah menara ter tinggi di Soul yang berada di gunung Namsam, Namsam Tower merupakan menara Gelombang Menyiarkan Radio dan Televisi di Soul, apa kau tau ini sangat populer di Korea, bahkan aku tidak menyangka kau tidak mengetahui nya, kau ini memang mengemaskan” celetuk Hansell
“apa hubungan nya dengan ku, lagian aku ke Korea hanya untuk mu” sesaat Airyn menyesal akan perkataan nya “apa yang kau ucapkan, memalukan seklai” gumamnya dengan kesal, bercampur wajah tawa yang dipaksakan kearah Hansell
“benarkah itu, Siryn aku bahagia sekali mendengarnya, Apa karns hal itu kita tetanggan, apa kau sudah mencari informasi tentang ku sebelumnya” goda Hansell
“tidak, aku tidak menyangka akan satu Apartemen dengan mu, aku bahkan tidak memiliki koneksi yang begitu besar di Korea, lagian aku tidak ada niatan untuk berdekatan dengan mu, tiba-tiba saja semua nya kebetulan” jelas nya dengan begitu lugu, bahkan Hansell melihatkan wajah tidak percaya kepada Airyn
“betulan, aku tidak berbohong” bentak Siryn dengan kesal, bahkan wajahnya saja begitu mengemaskan, membuat Hansell tidak berdaya memandangi
“ish kau ini menyebalkan sekali, sudah ku bilang itu semua kebetulan” seketika gadis itu mengomel dengan sendirinya, membuat Hansell tidak berdaya memandangi keimutan Airyn yang sesungguhnya
“baiklah, aku percaya” Hansell mengalah lantaran dia sangat tidak mampu menahan dirinya melihat Airyn yang seperti tadi “sekarang kita sudah sampai” Hansell membuka sett-bell milik Airyn, dia memeluk gadis itu kedalam dekapan nya
“aku mencintaimu” Hansell memeluk Airyn sekali lagi, membuat Airyn tersenyum memandang kearah kekasihnya
“sungguh aku tidak bisa melepaskan pelukan mu” Hansell memeluk nya berulang kali, membuat Airyn mulai kesal lantaran pria itu mempermainkan dirinya
“Airyn, apa kau pernah berciuman sebelumnya”
“pernah” tukas nya cepat, membuat wajah Hansell berubah karena cemburu
“muach” kecupan mendarat di bibir Hansell
“bersama pria ini” matanya begitu lekat memandang mata Hanseell, membuat pria itu tersenyum ke arah Airyn, yang saat ini memandang dirinya dengan penuh perhitungan
“tidak”
“kau telah berhasil menggodaku” seketika itu Hansell menarik kursi yang diduduki Airyn untuk mundur, dengan cepat hansell menekan tombol yang berada di sebelah kiri nya hinga merebahkan tempat duduk Airyn, saking terkejutnya airyn menjerit ulah jantung yang ingin meloncat keluar, dirinya begitu kaget dengan apa yang dilakukan Hansell, namun tiba-tiba saja hansell melengketkan tubuhnyanke Airyn, dengan posisi sedikit menindih tentu saja gadis itu berteriak untuk memaksa Hansell menjauh
“Hanss..Hansell” Airyn berteriak menyeru nama Hansell, namun bibirnya langsung saja ditutup oleh kecupan
“mm..hmm” tentu saja gumaam Airyn tidak mampu dihentikan, dia ingin berbicara namun Hansell mencecerca tiap inci bibir nya dengan lidah yang basah, bahkan Airyn tidak mampu lagi untuk bergerak karna pelukan Hansell perlahan menenang kan batin nya.
Airyn yang tadinya memberontak ingin menolak, mulai terhanyut dalam dorongan keinginan yang mengebu hasrat, dia lupa diri dengan hal apapun setelah menikmati kepucap bibi Hansell, bagaimana pun dirinya tidak bisa dibohongi, sebagai wanita biasa dia juga menginginkan.
Mata mereka saling bertatapan, disela ciuman yang sudah terlepaskan, hansell menyelipkan rambut halus Airyn ke telingan nya, bahkan sentuhan tangan nya saja membuat Airyn merasa geli, Hansell menyadari tubuh Airyn bereaksi dan dirinya sama-sama terbanjiri, semakin lama memandang membuat hansell tidak mampu lagi menahan hasratnya, dia mengkecup seluruh permukaan kulit airyn di bagian leher dengan begitu rakus, bahkan suara desahan satu persatu lolos dari bibirnya, gadis itu mendesah dengan begitu sadarnya, membuat hansell semakin bergairah hingga tak terbantah, dia merasakan ada sentruman tersendiri saat mereka menjalinkan jemari tangan bersama, membuat Hansell begitu membara dengan hasrat, kali ini Airyn membalas satu persatu serangan Hansell, dia mencoba mencium dan memberi perlawanan atas kecupan itu, namun dirinya tertinggal jauh dari apa yang dibayangkan, dia tidak selihai itu melakukan nya, tentu saja Hansell dengan senang hati mendominan ciuman mereka, dia memberikan kepuasaan untuk gadis nya, hingga Airyn terlena tanpa menolak dirinya.
“Airyn” mata Hansell menatap bibir basah Airyn dengan seksama
“hm” balas wanita itu dengan rona malu
“apa kau marah jika aku melakukan lebih” tanya Hansell dengan canggung
“tidak” celetuknya cepat dengan rasa malu yang membelengu, namun dirinya begitu mau hingga tersipu malu
“aku ingin sekali melakukan nya, namun Airyn kau terlalu berharga untuk ku sentuh, bagaimana ini” Gumam Hansell, dia mencoba lagi mencerca tiap inci mulut Airyn, menyerap semua kemanisan atas ciuman mereka, dia tidak puas dengan mulut gadis itu, bahkan dirinya ingin berlama-lama melakukan nya, Hansell mencium bagian sensitif wanita itu, hingga Airyn begitu basah tak terkendali, dia menyiksa Airyn dengan kenikmatan yang tidak terbatas, membuat Airyn tidak mampu lagi kerkata selain desahan suara yang begitu berat namun terasa sensual ditelinga Hansell.
Hansell sudah begitu puas memberikan Airyn seluruh cinta nya, dia melepaskan gadis itu membuat mereka membersihkan diri dengan malu, meskipun Hansell tidak menyentuh bagian apapun namun ciuman mereka dan serangan yang diberikan ke bagian sensitif Airyn, seperti telinga nya sudah mendatangkan keintiman yang membara.
“kita pulang saja” seketika itu Hansell menghidupakn mesin mobilnya dan meinggalkan parkiran bersejarah untuk mereka berdua, ditengah perjalanan Airyn hanya diam memikirkan dirinya barusan, begitupun dengan Hansell
“apa aku terlalu murahan, mengiyakan apa yang dimintanya. Bagaimana ini aku begitu malu, bahkan setelah itu Hansell tidak biacra lagi” kesal Airyn dengan dirinya sendiri, bahkan dia begitu menyesal akan sikapnya barusan
“bagaimana ini, apa alAiryn marah padaku, tapi aku tidak bisa lagi menahan diriku, apa dia akan membenciku, ah sial kenapa aku tidak pernah bisa mengendalikan diri jika itu menyangkut Airyn, apa aku terlalu berlebihan mengkecup telingaa nya, hingga dia mendorongku” gumam Hansell dengan pikiran bersalahnya, membuat mereka diselimuti hening selama perjalanan pulang.
Dimalam yang semakin larut ini, ditambah suhu dingin yang menembus permukaan kulit membuat Airyn meremas lengan nya, dia memandang ke arah luar ketika Hansell membukan pintu dengan senyuman, Airyn hanya membalas sepercik senyum manis sembari dirinya mengalihkan pandangan ke arah depan, tentu saja Airyn sangat gugup lantaran sikap Hansell yang begitu dingin.
“apa dia malu?” tanya Hansell ketika menatap gadis yang dicintainya, airyn berjalan mendahului Hansell, namun pria itu dari arah belakang melingkarkan jas yang dikenakan nya ketubuh Airyn, membuat langkah kaki mereka terhenti sembari menatap Hansell begitu dalam, kali ini mereka berbicara mengunakan sorot mata yang menjawab setiap pertanyaan yang menganjal dihati masing-masing.