
Senyum pelik tertampil nyata, membuat wajah Hansell berubah datar dalam waktu seketika, begitupun dengan Airyn, ia menyembunyikan tubuh mungil itu dibelakngan tubuh Hansell. Secara alamiah ancaman itu benar-benar menakutkan yang membuat Airyn merasa James mampu melakukan, karna bagi Airyn hal yang sangat menakutkan adalah orang yang mampu memisahkan dia dan Hansell.
“Maaf jika menyinggung anda Nona Petrov, tapi sikap takut itu lebih baik anda buang
qjauh-jauh karna sebenarnya saya sangat takut dengan Tuan Hansell” tutur James dengan nada mengolok, membuat Hansell menajamkan mata melirik pria itu
“Sudah selesai tuan” sodor penjaga kasir kepada Hansell, hingga memutus perkataan James barusan “Terimakasih” seketika Hansell meraih kartu miliknya, sambil mengandeng tangan Airyn, ia menjajarkan Airyn sesuai tegaknya, seakan gadis itu tidak perlu takut kepada James
“Sayang, kenapa kau harus bersembunyi. Apa kau tidak dengar, jika tuan James sangat takut padaku” tuturnya dengan kalimat mengejek, membuat James merasa kesal atas olokan yang diberikan Hansell “Bukankah sudah aku bilang, selain padaku, kau tidak boleh takut, karna Dirimu seorang Nona Petrov” lirihnya dengan nada rendah, menusuk kependengaran Airyn hingga gadis itu bergindik geli, namun berhasil menghilangkan sedikit takutnya.
Tentu dengan seksama James mengerti apa yang tengah dipertontonkan Hansell padanya, intimidasi kepada Airyn dihadapan James pertanda jika gadis itu milik Hansell seorang, bahkan sikap posesif yang ditampilkan Hansell menjadi bukti, jika Nona Petrov hanya berada didalam pelukannya, mata James melirik kegengaman erat yang sedari tadi tidak ingin dilonggarkan Hansell, membuat dirinya harus sadar diri, jika gengaman itu memiliki nyawa yang disambut baik oleh Airyn, pertanda keduanya memiliki frekuensi yang sama soal perasaan masing-masing.
“Mengesankan” gumam James dengan begitu sakit, entah kenapa gadis yang membuatnya jatuh cinta, benar-benar meninggalkan jatuh tanpa bersambut cinta yang sama, membuat James menatap kearah Airyn yang mulai menantang disamping Hansell
“Apa kabar dokter, maaf atas sikap kurang sopan saya” tutur Airyn kearah James, membuat pria itu mengulas senyum membalas perkataan Airyn “Saya sangat baik Nona Petrov” tutupnya
“Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?” tanya pelayan yang sedari tadi ada diantara mereka, membuat ketiga orang asing itu menatap dirinya tanpa memalingkan wajah
“Tidak” serentak kalimat itu terlontar, membuat gadis penjaga kasir menelan salivanya dengan takut, sebab baru kali ini ia mendengar penolakan paling mengerikan yang pernah diakses telinganya “Oh, semoga harimu menyenangkan” lontarnya dengan kalimat gugup, sambil menekuk bahu memberi hormat.
Airyn meraih tangan Hansell untuk pergi dari sana, dengan sigap pria itu menerima signal dari Airyn. Mereka menaiki mobil dan meninggalkan James yang tidak bisa melepaskan tatapanya, ditengah perjalanan Airyn bergindik ngeri saat membayangkan bagaimana James mengancam dirinya kala itu, tubuh Aryn merinding hingga sulit dikendalikan, mendengar Airyn mengumpat kesal, Hansell mengalihkan perhatian
“Ada apa?” tanya pria itu dengan kalimat lambat, disusul usapan lembut dijemari Airyn, hingga gadisnya mulai merasa tenang
“Hansell, entah kenapa aku selalu takut dengan James” celetuk Airyn seketika. Membuat Hansell terdiam sambil menyusun kata
“Tentang James” kalimat itu diberi jeda sementara, untuk Hansell mengumpulkan keberanian agar mampu bicara “Apa kau tahu jika dia mencintaimu?” sontak pertanyaan itu terdengar seperti pernyataan yang tidak mampu ditolak, Airyn hanya diam menatap Hansell dengan rasa bersalah
“Kenapa menatapku seperti itu, jawab dulu pertanyaanku” sambungnya seketika, membuat Airyn mengelengkan kepala karna enggan menjawabnya
“Sayang, jujurlah. Kumohon” lirih pria itu dengan nada menuntut, membuat Airyn semakin ragu jika membicarakan hal yang mungkin menyakiti Hansell.
Melihat sikap takut dari kekasihnya, Hansell menepi sambil membuka settbel miliknya, ia meraih pundak Airyn untuk menatap kedua matanya “Katakan padaku” ancam Hansell, namun kalimatnya tertata dengan baik hingga tidak membuat Airyn tertekan, meskipun sikap memaksa tidak bisa dibohongi dari intimidasi itu
Airyn menganggukan kepada dengan berat, entah kenapa ia merasa bersalah setelah pengakuan beberapa detik terjadi, Hansell membalas diam seolah ia ingin mempelajari sisi Airyn, setidaknya ia telah mengetahui jika James memiliki perasaan kepada kekasihnya, karna yang Hansell inginkan hanyalah sebuah kejujuran, dan ternyata diluar dugaanya, Airyn benar-benar jujur. Sangat berbeda dari dirinya kemarin, membuaat Hansell mengulas senyum bahagia.
Dengan cepat settbell yang membalut tubuh Airyn dilepaskan dengan cekatan, membuat pria itu memeluk kekasihnya dengan penuh kagum dan sayang, kali ini ia merasa Airyn telah bekerjasama dengan dirinya, Aryn mulai memposisikan diri sebagai wanita, bukanlah orang yang harus melindungi Hansell, melainkan seorang wanita yang mempercayai prianya, sebab bagaimanapun hebatnya Airyn, ia tetaplah seorang gadis biasa yang kapan saja memiliki sisi rapuh, Hansell tidak rela jika kekasihnya kesulitan apalagi menderita, membuat dirinya benar-benar membunuh semua orang yang ada untuk menyusahkan saja
“Kenapa kau malah memeluk ku?” tanya Airyn dengan binggung, sebab ia telah mengakui sebuah perasaan seseorang padanya, bagaimana pun harusnya Hansell cemburu, namun pria itu malah bahagia sambil mencium dan mengusap untaian rambut panjang Airyn.
“Aku menemui kekasihku didalam nama Nona Petrov” perlahan Hansell melepaskan diri dari Airyn, namun ia tidak menjauh malahan semakin memdekat hingga dapat diakses dengan jarak pandang dekat, jari telunjuk itu diletakan tepat dikening Airyn, Hansell meresapkan kata-kata yang dialirkan kedalam tubuh gadisnya melalui jari telunjuk “Mulai detik ini, bekerjasama dengan dirimu sendiri dan aku. Mulai detik ini berlakulah sebagai Airyn dan Nona Petrovku. Kekasihku hanya boleh dilindungi, bukan melindungi” dengaan dorongan kecil Hansell memberikan keyakinan disetiap tatapan matanya, membuat Airyn menegar atas makna serius yang baru saja terjadi, ada rasa membatah yang begitu kuat, namun ada penolakan untuk menerima yang sangat besar
“Jika aku menolak?” tanya gadis itu sekali lagi, tentu gugup merayapi dirinya, membuat Hansell mendekatkan wajahnya kepermukaan wajah Airyn, tentu saja nafas itu dihembuskan hingga menaikan bulu halus ditepian kulit, secara perlahan detak jantung Airyn malah memacu lajunya pernafasan saat berhembus, membuat Hansell mendegar jelas bagaimana ricuhnya detak jantung kekasihnya
“Jika kau tidak menolak bagaimana?” Hansell membalas pertanyaan Airyn dengan sebuah pertanyaan yang ia lemparkan kembali, membuat gadis itu mengigit bibir bawah akibar ragu untuk membantah “Mulai detik ini, tidak akan aku biarkan kau menolak, atau menyembunyikan sesuatu. Mulai detik ini kau harus merasakan hukuman atas kebohongan yang terjadi” perlahan ucapan itu bermuara diatas bibir ranum yang polos, membuat Hansell memicu kencang sebuah kecepatan dengan detak jantung berdebar, Airyn melepaskan nafas melalui tautan yang tidak tertutup rapat, ia mencoba mengendalikan namun terkendalikan oleh Hansell
“Bagaimana?” pria itu melepaskan diri dari Airyn, diatas pertautan hidung mereka yang menyatu, mungkin tidak ada batasan lagi kecuali cela-cela kecil “Apa kau bisa mengendalikanya sayang?” tanya Hansell dengan nada mengoda, membuaat Airyn menarik saliva, tatapan gugup dan takut itu adalah sebuah jawaban “Harusnya seperti ini kekasihku” tutupnya, dengan mencium kening Airyn.