
New York, Amerika Serikat.
“Selamat datang Tuan Zaterius?” sapa seorang Direktur Laboratorium milik Zaterius, ia merupakan ketua tim dalam penangung jawab Pengembang Vaksin, tentu saja pria berambut pirang itu mengikuti langkah Zates yang kala itu menuju ke Lab Farmasi miliknya.
“Bagaimana perkembangan Vaksin 001RX?” tanya Zates dengan nada serius sembari mengunakan pakaian sefty sesuai standar laboratorium.
“Sekarang masih pada tahap uji Vaksin, kita akan melakukan uji klinis untuk memastikan apakah Vaksi tersebut berpotensi sesuai harapan anda, tentu saja saya sudah menyiapkan hewan untuk uji penilaian terhadap keamanan kadidat Vaksin 001RX. serta menentukan dosis yang tepat” jelasnya dengan penuturan tegas.
“Menurutmu apakah ini akan berhasil? Sebesar apa efek samping yang akan kita dapatkan?”
“Saya tidak berani untuk memberikan angka karna kita belum melakukan uji kelayakan Vaksin kepada hewan, hanya saja saya dapat memperkirakan jika Vaksin yang telah kita buat melalui virus ini dapat berhasil sekitar 90%, dan kita tinggal menilai saja apakah efikasi pada populasi uji ini lebih besar atau tidak”
“Baiklah, lakukan pemantauan terus, dan jangan sampai ada yang kurang, perhatikan setiap perkembangan dan terus amati apakah ini akan berpengaruh baik kepada tubuh manusia” ucap Zates dengan nada tenang, sambil memeriksa beberapa hal lain yang ada disana.
Sudah hampir 5 hari Zates berada di Amerika dan meningalkan Korea untuk beberapa kesibukan, tentu saja ia bersama dengan Elsiyana yang tengah membantu dirinya, sedangkan Sabrina yang sudah ia pecat secara tidak hormat itu tengah berada di sebuah rumah pengurungan untuk menebus dosa yang ia lakukan, sekalipun Zates merasa Sabrina sangat keterlaluan, tapi Zates tidak bisa memungkiri jika sebenarnya Sabrina adalah gadis yang baik, hanya saja Zates menyadari kedekatanya kepada Sabrina malah membuat gadis itu berharap lebih pada dirinya, untuk itulah tidak sepenuhnya gadis itu salah, dan tidak sepenuhnya apa yang terjadi ulah Sabrina, setidaknya di dalam pekerjaan ia tidak pernah melakukan kesalahan.
“Profesor Laos” sapa Elsiyana yang kala itu menghampiri Zates dengan beberapa Profesor serta ilmuan yang berada disisinya, mata Zates mengakses gadis dewasa itu, sembari menerima sapaanya.
“Kapan kau sampai di Amerika?" tanya Zates kepada anak didiknya.
“Baru tadi pagi, dan aku sudah memantau perkembanganya dengan baik, nampaknya ada kemajuan dari pengobatan yang di lakukan selama 1 bulan terakir ini, hanya saja kemunginan untuk berhasil sangatlah tipis” seru Elsiyana kepada Zaterius, membuat pria itu mengangkat kepala menatap gadis yang tengah bicara padanya.
“Keluarlah” perintah Zates kepada seluruh orang yang sedari tadi ada disisinya, hingga meningalkan pria itu bersama dengan Elsiyana di ruang laboratorium.
“Apakah obat yang terakir kali bekerja pada tubuhnya?” tanya Zates dengan penuh serius.
“Bekerja, hanya saja hanya 20% perubahan yang ia alami, dan anda tidak bisa memaksakan tubuh lemahnya dengan berbagai obat Prof, bagaimanapun juga kita harus melakukanya pelan-pelan”
“Iya aku mengerti!” ucap Zaterius denga nada rendah, seraya mengalihkan mata melihat microscop yang ada di depan matanya, ia memeriksa beberapa Virus yang tegah di teliti olehnya dengan bebrapa sample yang sudah ada disana.
“Apakah Vaksin itu sudah selesai?” tanya Elsiyana kepada Zaterius, membuat Zates terdiam sambil melepaskan tanganya dari benda tersebut.
“Aku akan memastikan dalam waktu 3 bulan itu akan selesai”
“Apa anda yakin? Itu waktu yang sangat lama. Aku tidak yakin jika tubuhnya akan bertahan”
“Tutup mulutmu, aku yakin dia akan bertahan” bentak Zates dengan nada meninggi, membuat Elsiyana terdiam ketika melihat gurat kesal di wajah pria itu.
*
Malam itu….
“Apa kau gila!!!” bentak Zates ketika menajamkan mata penuh jengkel kearah Jilixing yang menembakan senjata ke tubuh Hansell, bahkan rasanya ia amat emosi setelah berhasil melumpuhkan kaki Jilixing.
“Zates, biar aku beri tahu satu hal. Yang aku tembakan padanya tidak hanya sebuah senjata api saja, melainkan sebuah peluru yang aku lumuri dengan virus mematikan yang baru saja aku dapatkan di kerajaan bawah tanah, dan ia akan mati secara perlahan dengan rasa sakit yang akan terus menyiksa dirinya” kekeh Jilixing di sela-sela kesadaran dirinya yang begitu mematikan, bahkan nampak sekali rasanya mata Zates di buat terpaku atas apa yang baru saja di ucapkan oleh Jilixing.
“Bawa dia dari sini!! Cepat penjarakan dia, jangan sampai dia meninggal, karna aku akan membuat pelajaran setelah Hansell sadar” bentak Zates kepada bala bantuan yang akan siap menangkap Jilixing, sebuah helikopter di tempat kejadian segera mungkin mengangkat tubuh Hansell, untuk membawanya ke rumah sakit secepat kilat.
“Hansell kau harus bertahan, Airyn dan anakmu tengah menanti dirimu!!” teriak Zates saat menyuntikan beberapa vaksin yang selalu ia bawa untuk penangkal beberapa virus yang mematikan, namun sayangnya vaksin itu hanya bekerja sekitar 45 persen dan mengakibatkan kondisi kesehatan Hansell semakin memburuk, tentu saja Zates mengunakan vaksin itu dalam jumlah besar setidaknya hal ini yang lebih tepat untuknya.
“T-Tuan Zates” lirih Hansell di sela nafasnya yang tersengal dengan kesadaran yang sayup-sayup redup, sekuat tenaga ia harus membicarakan sesuatu untuk istrinya. “Jika terjadi sesuatu padaku, jangan antarkan kesedihan untuk Airyn, aku tidak mau ia melihat diriku di keadaan paling menyakitkan. T-Tolong bawa aku pergi agar menjauh dari Airyn, setidaknya ia tidak boleh melihat kondisi mengerikan ini, aku sa-sangat mencintai Airyn” pinta Hanssel dengan susah payah, bahkan membuat Zates terpaku ketika mendengar perkataan itu.
“Tapi....aku tidak bisa Hansell, Airyn istrimu. Airyn harus mengetahui keadaanmu” bantah Zates dengan cepat, bahkan seluruh tim medis memberikan pertolongan pertama yang paling terbaik untuknya.
“T-Tidak bi-bisa. Aku tidak mau menyakiti Airyn dengan hal seperti ini, tolong jauhkan aku dari Airyn jika terjadi sesuatu pada ku” pinta pria itu di kalimat terakir yang ia ucapkan, bahkan membuat Zates tidak percaya jika saat ini ia masih memikirkan istrinya tercinta.
“Hansell, sadarlah. Kau harus sadar!!” teriak Zates ketika melihat Hansell hilang kesadaran di depan matanya.
“Dokter Laos, apa anda yakin. Ini berbahaya—“
“Cepat!!!!” teria Zates yang tidak menerima sanggahan apapun, rasanya ia tidak memiliki waktu untuk menimbang-nimbang lagi, jika peluru itu masih di semayamkan di tubuhnya, maka penyebaran virus akan menyerang tanda vital di organ tubuh Hansell, jalan satu-satunya adalah mengeluarkan peluru itu sesegera mungkin, dan tentu saja hal itu akan memutus penyebaran virus tersebut.
Semua Tim Dokter melakukan persiapan operasi darurat diatas Helikopter, meskipun hal tersebut sangat berisiko, namun sangat berisiko lagi jika tidak mengeluarkanya. Para tim Dokter tengah mempersiapkan segalanya, bahkan lampu operasi menyilau amat terang disana, dengan perlengkapan yang canggih dan sangar steril, tentu menjadi hal yang cukup membantu untuk menyelamatkan menantumya. Dan dalam satu menit saja semuanya telah siap terkendali.
“Pisau!!” pinta Zates ketika mengulurkan tanganya hingga sebuah pisau operasi terasa di permukaan tanganya, dengan penuh kepercayaan diri dan konsentrasi tinggi, Zates mengiris permukaan kulit Hansell, ia membelah bagian dada Hansell yang terkena tembakan itu, tanganya yang super cetakan itu, bahkan dengan satu tatapan saja Zates mampu menemukanya.
Tentu saja semua mata melihat dirinya yang tengah bekerja keras, bahkan orang yang kala itu tengah mengeringkan pendarahan dengan kain kasa amat sibuk sekali melihat detak jantung dari pasien yang terbaring diatas sana, beberapa kantong darah untung saja ada di dalam persedian darurat, dan mereka memang menyiapkan perlengkapan operasi darurat dengan segala kebutuhanya.
Hingga Elsiyana yang tengah menanti terpana melihat konsisi Hansell, bahkan ia tidak menyangka jika Zaterius sudah melakukan operasi darurat dengan jangka waktu 10 menit saja.
“Aku harus melakukanya, karna peluru yang menancap ke tubuh Hansell sudah di polesi dengan virus mematikan yang di kembangkan dari 7 macam bakteri yang di fermentasi kedalam virus langka” jalas Zates saat mendorong ranjang dorong itu.
“Baiklah aku mengerti!!” balas Elsiyana saat mengambil alih, setidaknya Zates perlu membersihkan dirinya untuk masuk ke ruang operasi steril di rumah sakit ini, ia bergegas sesegera mungkin dan mengunakan kartu seniornya agar bisa mengikuti jalanya operasi untuk memantau menantunya.
Dalam beberapa jam kondisi Hansell semakin menurun, bahkan detak jantungnya sangat lemah, hingga Zates mengunakan alat pacu jantung untuk mengembalikan detak janung normalnya, namun dengan tetes keringat yang mengucur, serta wajah khawatir yang terpampang, bahkan jantung yang meledak-ledak dengan takut, dan tangan yang begitu gematar, sungguh Zates melihat dirinya gagal di meja operasi untuk pertama kalinya, separah apapun kondisi pasien, Zates selalu berhasil mengunakan kemampuan terbaiknya, tapi kenapa dengan menantunya ia malah mengalami gagal, sungguh Zates tidak bisa menerima semua ini.
Hingga ia keluar dengan emosi membara yang begitu mencengram buas hatinya, memberikan rasa sakit yang tidak bsia terobati, bahkan ia tidak bisa mengontrol emosinya, yang ia fikirkan bagaimana cara Airyn hidup setelah ini, hanya suaminya yang ia miliki, bahkan Airyn tidak menerimanya sebagai orang tua, dan tengah marah kepada Merry, dari seluruh hal itu membuat rasa bersalah mejuncak sampai akirnya Zates berdebat dengan Elsiyana atas keputusan arogan yang ingin ia lakukan, sebab Hansell sendiri yang memintanya kepada Zates, ia tidak ingin membawa kesedihan pada istrinya, namun bagi Zates pria itu haru tetap hidup, meskipum dengan alat penunjang hidup, namun Elsiyana membantah.
Dan pada saat yang sama, seorang perawat yang masih mengunakan pakaian operasi keluar dari ruang operasi dengan wajah penuh kaget “Dokter, detak jantung pasien kembali”
Dari sanalah Zates merasa Tuhan memberikan kesempatan kedua. Dan nampaknya Tuhan juga memberikan Zates kesempatan untuk menyelamatkan menantunya, dan memberikan Zates kesempatan untuk memberikan kebahagian kepada Airyn, sebab Zates sangat bertanggung jawab pada anaknya.
Pada malam itu, yang bisa Zates ajak bekerjasama hanyalah Dikra, dan pada malam itu Dikra meyakinkan Zates untuk mengabari adiknya Hansell yang bermana Angel. Dan disanalah terbuat kesepakatan jika mereka berdua akan menjaga Hansell di bawah pantauan Zates dan Elsiyana.
Dan pria itu di larikan ke Amerika untuk penyembuhanya, meskipun detak jantungnya kembali, namun tetap saja Hansell berada di dalam kondisi koma, dan kesehatanya masih saja menurun lantaran ada beberapa virus di tibuhnya, dan Zates kali ini tengah membuatkan vaksin mematikan yang akan menangkal radikal virus itu hingga menghilangkanya dari tubuh Hansell, dan tentu saja Zates sudah bekerja keras dalam beberapa waktu untuk ini, dan ia tidak hanya sekedar diam saja dan tidak melakukan apapun, bahkan Zates adalah penannggung jawab utama untuk Vaksin 001RX menaantunya.
**
Sebuah pintu kamar di rumah sakit terbaik yang memiliki fasilitas memadai dengan tim dokter terbaik, membuat Zates menempatkan Hansell di tempat paling privasi dan juga keamanan tingkat tinggi, kenapa Zates tidak memberitahukan keadaan tentang suaminya ini pada Airyn, lantaran Zates tidak ingin memberikan Airyn harapan palsu, dan ini juga termasuk kedalam permintaan terakir Hansell padanya, jika terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya, jauhkan Hansell dari Airyn, dan saat ini Zates tengah berusaha untuk memberikan yang terbaik dengan perlengkapan kesehatan yang memadai agar Hansell bisa kembali lagi, memeluk istri dan kedua anak kembarnya.
“Tuan Laos” sapa Dikra yang kala itu berdiri tegap saat Zates memasuki ruangan Hansell, bahkan mata Zates melihat menantunya terbaring tenang sambil menutup mata, sedangkan adiknya tengah memandangi wajah Hansell sambil memberikan salam pada Zates.
“Apa kabar kalian, aku minta maaf baru datang hari ini” ucap Zates dengan rasa segan.
“Kami baik-baik saja. Tapi kakak kenapa tidak bangun juga, ini sudah hampir satu bulan” ucap Angel yang kala itu melihat kakaknya, membuat Dikra meraih pundak kekasihnya untuk menenangkan Angel.
Tentu mendengar perkataan dari gadis kecil itu, ada sedikit rasa pedih di hatinya kibat rasa bersalah, bahkan rasanya Zates tidak bisa berkata apapun selain menatap sendu kearah Angel.
“Maafkan aku Tuan Laos, aku sungguh emosional akir-akir ini. Aku tidak menyalahkan anda, maaf jika saja perkataanku seperti menuntut” sambung Angel sekali lagi kearah Zates yang hanya berdiri.
“Tidak apa-apa. Ini semua memang kesalahaku, karna sudah membiarkan Hansell melakukan pilihan itu” ucap Zates kepada Angel, membuat Dikra mengelengkan kepala pada kekasihnya untuk tidak usah bicara lagi, bagaimanapun semuanya sangat mengetahui, jika orang yang paling merasa bertanggung jawab atas Hansell adalah Zaterius, bahkan jika bikan karan usahanya sampai darah penghabisan, Hansell tidak akan terbaring dengan detak jantung itu.
“3 bulan lagi aku akan membawakn vaksin untuk Hansell, setelah itu kita berdoa saja jika Hansell akan berjuang untuk kembali” jelas Zates pada adik dari suami anaknya itu.
“Tidak bisakan secepatnya, itu terlalu lama” bantah Angel dengan kesal.
“Maaf Nona Angel, aku tidak bisa melakukanya dengan cara sembrono, waktu 3 bulan adalah jangka waktu yang paling minimal untuk aku berikan, aku hanya tidak ingin jika kita terlalu memaksa nanti terjadi kesalahan yang fatal” ucap Zates.
Membuat Angel terdiam seolah tidak bisa mengatakan apapun, membuat Dikra mempersilahkan Zates untuk duduk, sembaru memabahas beberapa hal saja dengan Dikra. Tentu saja Zates sudah mengamati Hansell dan nampaknya apa yang terjadi adalah hasil yang paling terbaik.
“Hansell, apa aku harus memberitahu Airyn?” gumam Zates ketika menatap pria itu, rasanya ia semakin tidak bisa menyembunyikan ini terlalu lama lagi.
Tapi rasanya Zates juga tidak bisa memberitahu Airyn untuk waktu dekat, lantraan saat melihat Angel yang sebagai adik kandungnya saja mengalami emosional yang timpang tindih, apalagi Airyn nanti, membuat Zates amat takut jika itu akan menganggu perkembangan bayi mereka, di tambah Airyn sudah merasa menerima dan pulih dari luka yang ia terima akibat kehilangan suaminya.