Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Apa yang terbaik untuk di lakukan.



“Lepaskan tanganku, kenapa kau menarik ku. Aku akan memberi wanita itu pelajaran, aku bahkan cukup bersabar selama ini, tapi dia malah mengiginkan kakak ku meninggal!! Apa dia gila!” teriak Angel ketika meronta ingin di lepaskan, namun Dikra tetap saja menarik tangan gadis itu seolah ia tidak akan melepaskan cengraman kuat di pergelangan tangan Angel, sungguh Dikra tidak peduli apapun yang Angel katakan, sebab menjauhi Angel dari sana adalah pilihan yang tepat.


“Lepaskan aku!!” bentak Angel sekali lagi, membuat Dikra terhenti dari langkahnya saat suara itu amat menghardik dirinya, pria itu membalikan badan melihat kedua mata yang memancarkan kebencian dan penuh akan pertentangan, bahkan nampaknya Angel tidak akan bisa di tenangkan meskipun Dikra bertutur kata penuh kelembutan. “Ada apa dengan mu. Kenapa kau harus ikut campur dengan diriku, aku hanyalah kekasihmu bukan istri mu. Tidak seharusnya kau bersikap seperti ini, bahkan kau tidak berhak memutuskan aku harus menutup mulut atau tidak”


Seketika tangan gadis itu di lepaskan oleh Dikra, ia tidak menyangka perkataan yang Angel ucapkan dengan amat lantang, malah seperti membuatnya tidak bernilai di hidup gadis itu. “Angel kau seharusnya mengerti akan keadaan, aku sangat paham bagaimana perasaanmu, tapi jika kau tidak bisa mengendalikan dirimu maka semuanya akan benar-benar hancur” nasehat Dikra itu membuat Angel berdecak kesal, bahkan kata-kata dari kekasihnyaa tidak ia terima dengan mudahnya.


“Mengendalikan diriku, apa kau bisa mengendalikan diri jika kakak kandungmu tidak di harapkan hidup oleh orang lain”


“Tapi bukan itu maksud dari Ny.Merry, kau yang menyalah artikan maksudnya” bantah Dikra ketika mempertegas lagi permasalahan yang ada, membuat Angel memundurkan langkah seolah tidak percaya jika pria itu menyangkal dirinya.


“Apa kau bodoh!!! Dia bahkan percaya dengan mudahnya jika kakak ku tiada, dan dia tengah berbahagai dengan suami dan anaknya, dan saat kakak tu terbaring di rumah sakit bukan kebahagiaan yang ia tampilkan, melainkan penolakan. Ia bahkan menolak untuk kakak ku masih hidup, apa kau fikir aku bisa menerima hal ini, bahkan ia tidak berhak untuk bahagia, dan siapa dirinya hingga dia--”


“Angel!!!!” sontak suara keras yang Dikra lantunkan dengan nada membentak itu membuat Angel terdiam, bahkan tubuhnya memberikan reaksi kaget hingga membungkam.


Sorot mata Dikra yang sebelumnya tidak pernah Angel lihat, kali ini ia akses dengan jelas, kemarahan dan rasa emosi yang luar biasa itu nampak sekali dari mata bulat yang melebar besar, bahkan gurat tegas di permukaan wajahnya mampu menghidupkan otot-otot hingga tertampilkan. “Aku sangat mengerti dirimu yang begitu emosional akibat kondisi Hansell, namun biar aku tegaskan sekali lagi, Hansell tidak hanya kakak kandungmu saja, ia adalah calon ayah dari dua janin yang bertumbuh di rahim Airyn, ia juga suami yang sangat mencintai Airyn, dan Nyonya Merry yang kau katakan tidak berhak itu adalah mertua dari kakak mu, dan saat ini dia merupakan menantu di keluarga itu. Jika saja kau mengunakan sedikit hatimu, mungkin kau akan melihat sikap Ny.Merry bukanlah sebuah penolakan, tapi ia hanya kecewa kenapa kita semua menyembunyikan hal ini dari dirinya apalagi Airyn, tidakah kau bisa memahami sedikit, bahwa saat ini tidak kau saja yang terluka disini, tidak kau saja yang kecewa disini, dan tidak kau saja yang merasa di tinggalkan. Aku dan semua orang itu adalah orang-orang yang juga takut melebihi dirimu, dan kau dengan lantang mengatakan, jika kakak mu sadar kau akan memisahkan dirinya dari istri, anak, dan mertuanya. Dimana otak mu itu!!” bentak Dikra dengan penuh tatapan mengancam, bahkan ia bertaka dengan penuh ketegasan sehingga nampak sekali mulut Angel hanya mampu membungkam.


Gadis itu menyandarkan tubuhnya ke dinding, seraya meruntuhkan badan kearah lantai, ia menutup kedua matanya dengan permukaan tangan seraya menarik rambut dengan kesal, apakah Angel memang sudah salah dalam bersikap dan ia sudah salah untuk memikirkan dirinya sendiri, tapi tetap saja hanya Hansell yang ia miliki, seorang kakak yang dulunya selalu Angel idamkan sebagai watak kekasih masa depanya, tapi ternyata saat ini Angel menyadari jika kakaknya sudah menjadi suami orang lain dan menjadi menantu di keluarga orang lain, dan bahkan ia akan membentuk keluarga kecil dengan istrinya, jadi dimana tempat Angel berada, apakah ia benar-benar sendiri di dunia ini.


“Angel, apa maksud dari sikap mu ini sebenarnya? Apa kau sudah sadar kesalahanmu, atau saat ini kau merasa dirimu tidak memiliki siapa-siapa” sambung Dikra dengan tangan mengepal, Angel bahkan tidak menyangka jika Dikra mengetahui jalan fikiranya. “Aku mengenalmu sedari kita kecil, saat kita sama-sama mulai berlari aku sudah sering memperhatikan dirimu, dan sedari dulu aku sangat mengerti dirimu lebih dari kau mengerti diri mu sendiri, Angel. Di matamu hanya tertuju kepada Hansell sebagai kakak yang paling sempurna, dan saat ini Hansell tengah terbaring tidak berdaya pasti membuatmu kehilangan dan di tinggalkan oleh segalanya. Di tambah penjelasanku barusan, hal itu membuktikan jika Hansell tidak hanya miliki mu saja, melainkan banyak peran yang ia ambil di hidupnya, hingga membuat kau merasa tidak memiliki siapa-siapa. Tapi sadarkah kau kenapa semenjak Hansell menikahi Airyn ia menjaga jarak dengan mu, semua itu karna Hansell ingin kau mencintai dirimu sendiri dan merasa kau juga sama berarti dengan dirinya, bukan kau saja yang bergantung pada Hansell, melainkan Hansell juga bergantung pada dirimu. Hansell sudah mengerti bagaimana kau mematokan semua orang harus seperti dirinya, hingga hal itu membuat kau sangat membutuhkan Hansell, tapi kau sadar atau tidak hal ini hanya semakin membuat Hansell terluka, karna dia sadar kau memiliki kehidupan sendiri, suatu saat nanti kau tidak bisa menstandarkan orang lain sama dengan kakak mu, lantaran tidak ada yang sama di dunia ini, bahkan anak kembar sekalipun tidak akan memiliki kesamaan selain perawakanya, sedangkan kau memang ingin siapapun seperti cerminan kakak mu, dan kau menganggap hanya memiliki kakak mu di dunia ini, sehingga kau sangat emosional ketika kehilanganya. Sekarang jika aku bertanya, hubungan kita sedari awal apakah karna aku seperti kakakmu, atau kau memandang ku sebagai Dikra?”


Angel bungkam seribu bahasa, ia tidak bisa membalas perkataan Dikra bahkan satu katapun tidak mampu ia ucapnya, membuat Dikra amat terluka atas jawaban diam yang Angel berikan, apakah hal ini menjelaskan jika sedari awal Angel tidak melihat dirinya sebagai Dikra, melainkan memandang sikap Dikra seperti kakaknya.


“Kita putus saja” sontak mata Dikra membulat saat ucapan itu di lontarkan Angel dengan nada lirih yang menusuk perih.


“P-Putus?” tanya Dikra sekali lagi.


“Ya. Kita putus saja!!” tegas Angel ketika mendongakan kepala kearah kekasihnya.


“Sedari awal aku memang menganggapmu seperti kakak ku” ucap gadis itu dengan tegas, ia menahan air matanya agar tidak tumpah di hadapan Dikra.


“Kenapa kita harus putus?”


“Karna aku tidak melihatmu sebagai Dikra!!” bentak Angel dengan tegas, membuat Dikra diam saat mendengar perkataan kekasihnya.


“Tapi Angel, kita—“


“Sedari awal, aku tidak benar-benar mencintimu, aku bahkan tidak melihat kau sebagai Dikra, melainkan mengagap dirimu sebagai kakak ku, sikap mu, tingkah mu, dan bahkan pembawaanmu semuanya mirip kakak ku, aku mempertahankan mu karna aku sangat terobsesi memiliki pasangan seperti dirinya. Tapi kali ini aku sadar tidak cinta yang ada diantara kita, melainkan obsesiku semata”


“Tapi aku mencintaimu”


“Sudahlah, buang saja cintamu, aku tidak butuh lagi” balas Angel dengan tegas, ia berdiri mensejajarkan diri dengan Dikra, seraya menghapus air matanya. “Pergilah dari hadapan ku secepatnya, karna aku hanya ingin merawat kakak ku sendiri” seketika Angel berlalu dari sana, dengan kalimat yang di pastikan sebagai kalimat pengusir diantara hubungan mereka yang tengah tandas.


“Sekalipun aku memamg seperti itu, dan melihatmu seperti cerminan kakak ku, dan bahkan aku melihat kau memiliki perhatian seperti dirinya. Tapi aku sadar kau dan kakak berbeda Dikra, kau adalah Dikra, yang membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya. kau benar, ini hanya obsesiku memiliki mu diawal, namun beberapa saat aku mulai menyukaimu sebagai Dikra William, bukan cerminan Hansell Hamillton. Jika kau memandang diriku seperti itu, lebih baik kita putus saja untuk saling memahami diri masing-masing, aku ingin membantah perkataanmu yang mengatakan kau sangat memahami diriku, tapi kali ini aku patahkan dengan kenyataan, jika sebenarnya aku sangat mencintaimu sebagai Dikra William”


Batin Angel saat melangkah meninggalkan Dikra, pria itu hanya mampu terdiam di posisinya, bahkan Dikra tidak menyangka gadis itu akan memutuskanya dan mengusirnya secepat ini.


*


Sedari tadi Merry sangat membenci Zates, ia sungguh tidak bisa berfikir bagaimana Zates bisa menyembunyikan hal ini dari Airyn, bahkan Zates membuatkan makam untuk suaminya, tentu saja membuat Merry tidak bisa menerima semua ini, lantaran Hansell masih berpacu dengan detak jantungnya namun di sembunyikan dari istrinya.


“Apa kau gila Zates menyembunyikan hal ini dari Airyn, tidakan kau bisa mengerti bagaimana rasa sakit yang Airyn tanggung selama ini” kesal Merry ketika mendorong jauh tubuh pria itu, ia sungguh tidak mengerti bagaimana bisa Zates melakukan hal yang kejam pada anaknya sendiri.


“Tenanglah dulu, aku tahu aku salah. Tapi ada alasannya sayang”


“Alasan apa lagi? Demi kebahagian Airyn? Apa kau lihat Airyn bahagia, Ha. Bahkan jika Airyn mengetahui kebohongan ini apa kau fikir dia bisa bahagia atas kondisi suaminya” tegas Merry dengan penuh kemarahan, belum sempat Zates membuka mulutnya, wanita itu langsung melanjutkan perkataan yang belum ia selesaiakan. "Aku fikir kau dan Airyn sungguh bisa bersama, kau akan menjaga anak mu lagi, dan bertanggung jawab padanya, tapi kau selalu mengecewakan, kau melakukan semuanya sendiri tanpa mempertimbangkan Airyn, apa ini yang kau anggap cinta, kau bertindak seolah-olah kau bisa mengatasi segalanya, padahal kau hanya merusak semua hubungan”


Sungguh Zates hanya bisa diam, ia tidak tahu harus menjelaskan dari mana, dan rasanya Zates tidak bisa berkilah lagi atas perkataan Merry. “Aku tidak bisa berfikir bagaimana bisa kau sekejam ini, menyembunyikan Hansell, dan bahkan membuatkan makamnya untuk Airyn, aku sudah hampir percaya jika Hansell tiada dan Airyn juga sudah menerima suaminya meninggalkanya, tapi apa yang terjadi sekarang!! Hansell berjuang antara hidup dan matinya di tempat yang Airyn tidak ketahui, dan orang yang ia percayai, sayangi, hargai, menyembunyikan ini semua, seberapa sakit lagi yang kau berikan pada Airyn, Ha”


“Merry….” Zates menarik tubuh Merry kepelukanya, ia tidak sanggup mendengar kelanjutan perkataan dari wanita itu, sungguh Zates merasa takut, dan ia hampir saja merasa dirinya gagal, bahkan dari awal sampai akir ia selalu gagal. “Aku tidak punya pilihan” sambung Zates ketika memeluk dan menyembunyikan wajahnya di antara bahu Merry, ia menengelamkan diri disana, untuk mecari perlindungan agar air matanya bisa tumpah dengan bebas. “Aku tidak tahu apa yang aku lakukan benar atau salah, tapi ini semua bukan keinginan diriku. Ini permintaan Hansell!!” terus Zates dengan kalimat cepat yang ia jelaskan . “Aku bahkan sangat takut, aku takut salah, aku takut menyakiti Airyn lagi, aku takut mengecewakan lagi, dan aku sangat takut. Tapi sekarang ketakutan itu menjadi nyata, sedari awal aku memang terus mengecewakan dan membuatmu dan Airyn terluka, aku tidak seharusnya memiliki kalian dan tidak sepantasnya mengambil tanggung jawab menjadi ayah dan suami, sebab aku tidak pantas” Zates keluar dari dekapan itu, dadanya yang terasa bergemuruh perih, sungguh meninggalkan luka kecewa di hatinya sendiri, bahkan wajah Zates sudah di penuhi air mata hingga Merry terdiam dari racauanya yang terus menyalahkan Zates tanpa mendengarkan penjelasanya.


“Aku minta maaf sudah mengecewakan mu dan Airyn, tapi sungguh semua ini aku lakukan berdasarkan permintaan Hansell di detik terakir kesadaranya, ia tidak ingin Airyn melihatnya di keadaan yang menyakitkan, dan Hansell tidak ingin menyakiti Airyn dengan harapan palsu, untuk itulah aku berusaha mengajari Airyn ikhlas sedari sekarang, aku tahu ini salah tapi bagi Hansell, lebih salah lagi jika nanti Airyn akan memiliki beban melihat kondisinya hingga membahayakan janin mereka, Hansell tidak ingin hanya karna dirinya yang berada di keadaan paling menyakitkan ini, akan membuat Airyn kehilangan anak mereka. Tapi sekarang aku sadar, apapun yang aku lakukan memanglah salah. Aku sudah salah sedari awal dan selalu mengecewakan dan membuatmu terluka”


Hening membentang saat Zates menekuk wajahnya, membuat Merry terdiam diantara duduk mereka yang saling berhadapan, perlahan mata Merry menatap panjang kepada suaminya, kenapa Merry tidak memikirkan sejauh itu, jika suaminya sendiri memikirkan Airyn sedalam itu, bahkan Hansell sudah berfikir jika keadaanya yang paling menyakitkan ini di ketahui oleh Airyn, pasti Airyn akan tertekan, dan di pastikan juga kondisi Airyn yang terus memburuk dan hal itu akan membuat janin di dalam kandunganya terancam. Dan semua yang Zates lakukan, adalah permintaan Hansell, bukan keputusanya sendjru, jika begini kenapa Merry menyalahkan suaminya, kenapa ia harus kecewa kepada suaminya jika saja keselamatan Hansell bertahan sampai hari ini, pasti karna suaminya.


“Z-Zates, aku….”


“Tidak, bukan itu maksud ku..”


“Merry, aku sangat mencintaimu” ucap Zates saat mengusap pipi istrinya. “Tapi kau dan Airyn hanya akan terluka karna aku, sudah seharusnya aku tidak perlu mengambil tanggung jawab untuk mencintaimu, karna aku tidak bisa memberikan kebahagian, sedari awal aku hanya akan melukai dan terus mengecewakan, untuk itulah mari kita bahas hubungan ini setelah Hansell kembali pulih. Sekarang aku akan mengantarkan mu untuk kembali ke Korea”


“Apa kau akan meninggalkan ku setelah Hansell kembali?” tanya Merry ketika menatap kedua mata pria itu, membuat Zates terdiam sambil membalas tatapan sendu dari istrinya.


“Aku sangat mencintaimu bagaimana bisa aku meninggalkan mu, tapi nampaknya menjaga dari kejauhan adalah cara paling terbaik untuk mencintaimu, aku tidak akan melukai, tidak akan mengecewakan, dan tidak akan gagal menjadi suami dan ayah untuk kalian” batin Zates seraya menarik tangan Merry untuk ia genggam dengan yakin, sungguh rasanya Zates sangat mencintainya, tapi jika hadir hanya untuk menyakiti saja, tentu Zates rela melepaskan.


“Kita kembali saja ke Korea, nanti kita bicarakan. Dan saat ini kau sudah megetahui keadaan Hansell, sekarang semuanya pilihan dirimu, apa kau mau memberitahu Airyn atau menghargai pilihan Hansell, aku tidak akan melarangmu untuk memilih, sebab aku percaya kau pasti memiliki alasan untuk memilih diantara dua pilihan tersebut”


Zates berdiri dari duduknya, ia mengegam tangan Merry dengan hangat seraya membawanya untuk pergi dari sana, bahkan Zates sudah yakin atas keputusanya ini, setelah ia mengantarkan Merry ke Korea, Zates akan berusaha untuk penelitianya yang hampir sempurna, ia akan berusaha menyelamatkan Hansell dengan kemampuan yang ia punya.


Merry terdiam saat mengikuti langkah suaminya, ia bahkan melirik genggaman yang sebentar lagi akan melepaskan tanganya, pria yang masuk ke dalam hatinya dan memporak porandakan kehidupan Merry dari masa lalu, sekarang akan pergi setelah Merry menerima dirinya, apakah Merry sudah kelewatan ketika bicara, apakah sesakit itu perkataanya sehingga Zates merasa rendah diri lagi, tapi apa yang harus Merry katakan? Ia tidak bisa mengatakan untuk Zates tetap di sisi, dan Merry tidak bisa mengatakan jika bukan seperti itu maksud dari kata-katanya.


“Zates, aku masih membutuhkan penjelasan” seketika perjalanan mereka yang menuju kearah lift terhenti, dan Merry melepaskan tanganya dari genggaman pria itu, ia mendogakan wajah kearah Zates dengan penuh yakin. “Aku ingin menemui Hansell, aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri” ucap Merry dengan begitu yakin, membuat Zates memandang istrinya seraya menghela nafas pelan.


“Baiklah, jika kau ingin melihat Hansell. Ikut aku” ucap Zates kepada Merry, ia melangkah menuju ruangan Hansell seraya menuntun langkah istrinya, Zates membuka pintu ruangan itu dengan pelan sambil mengajak Merry untuk masuk, tentu nampak sekali bagaimana ragunya Merry, namun Zates mencoba mengegam tangan istrinya untuk menguatkan Merry.


“Masuklah” ucap Zates dengan tutur lembut, membuat Merry melangkahkan kaki seraya mengenggam balik tangan suaminya, tentu Zates dapat merasakan bagaimana Merry meragu namun ia melawan semuanya untuk menghadapi situasi ini.


Bagaimana kagetnya Merry ketika melihat ragawi Hansell terbaring di depan matanya, bahkan tubuh Merry bergindik ketika menyaksikan Hansell tengah menutup mata dengan tenang sambil berpacu dengan alat medis, wanita itu menutup mulutnya dengan permukaan tangan seolah rasa tidak percaya terkesan sangat nyata, membuat air mata Merry berderai dengan pecah jika Hansell yang Airyn cintai itu masih berjuang atas hidupnya, seluruh alat medis disana sungguh menyakiti hati Merry, rasanya ia tidak tega meliahat Hansell seperti ini, dan bagaimana dengan Airyn jika ada di posisinya, sudah di pastikan anaknya lebih tertekan dari ini, jika sebenarnya alasan Hansell untuk melindungi istrinya, sudah di pastikan jika keputusan menjauhkan Hansell dari Airyn adalah yang terbaik, tapi apakah Merry sanggup membohongi Airyn untuk waktu yang lama.


“Sayang….”lirih Zates ketika meringkuh tubuh Merry yang bergetar takut, bahkan Zates menutupi pandangan Merry dengan tubuh bidangnya dan membawa wanita yang ia cintai kedalam kenyamanan tubuhnya, ia berusaha menenangkan Merry dengan pelukan hangat dan menghujankan kepala Merry dengan ciuman sayang. “Jangan seperti ini, Hasell tengah berjuang, doakan saja yang terbaik untuknya, dan semoga Tuhan megabulkan doa kita”


“Ini sakit sekali Zates, aku tidak sanggup melihat Hansell seperti ini…”


“Husss… kau harus tenang, jangan seperti ini” tenang Zates sambil mengusap kepala istrinya dengan sedih.


“Syukurlah…S-syukurlah Hansell masih memiliki harapan untuk kembali kepada anak kita, dan syukurlah Hansell masih hidup. Aku sangat senang, aku senang sekali” ucap Merry ketika memeluk tubuh suaminya, bahkan tangisan itu membuat dada Zates pengap dengan rasa sakit, namun merasa nyaman untuk terus ia peluk dan lindungi.


Hening membentang diantara pelukan yang tidak berjeda dan bahkan tidak berjarak itu, membuat Zates terdiam ketika istrinya hening tanpa mengeluarkan tangisan atau suara lagi.


“S-Sayang..” panggil Zates dengan nada cemas, seraya mengeluarkan Merry yang ia bawa kepelukan itu, bagaimana kagetnya Zates ketika melihat istrinya menutup mata dengan tidak sadar.


“Merry, kau kenapa? Apa yang terjadi” panik pria itu, ketika mengangkat tubuh istrinya untuk ia baringkan di atas sofa, Zates menekan tombol darurat yang ada di samping ranjang Hansell.


“Merry…..bangunlah” panggil pria itu ketika menepuk pipi istrinya secara lembut untuk terus menyadarkan.


Zates memeriksa tubuh Merry, ia bahkan memastikan seluruh tanda vital istrinya hingga kedua mata Zates membulat saat mendengar sesuatu yang familiar baginya, Zates terus mendengarnya hingga tanganya terus menempel di sisi perut istrinya, Zates berusaha tenang untuk konsentarasi dalam apa yang ia periska sehingga pria itu memandang kearah wajah Merry dengan tatapan lekat.


Beberapa orang datang sembark memasuki ruangan dengan tergesa-gesa, mereka terpaku melihat Dokter Laos tengah bersama seorang wanita di ruangan pasien VVIP itu, tentu para Dokter merasa sangat tertekan ketika mendengat sinyal darurat dari kamar VVIP milih Hansell, tapi setelah sampai disana mereka melihat Dokter Laos tidak panik akan orang pentingnya, melainkan ia terpaku memandang seorang wanita.


“Dokter apakah terjadi sesuatu pada pasien” putus seorang pria yang mengunakan jas putih hingga menghentikan nalar Zates.


“Tidak, istriku yang saat ini tengah sakit Segera siapkan ruangan terbaik untuknya, dan bawa dokter kandungan ke ruangan itu sesegera mungkin, saat ini ia tengah mengalami tekanan darah rendah ketika hamil muda” nada perintah Zates kepada semua orang itu membuat mereka terpana atas ucapanya, namun dengan sesegera mereka melakukan perintah Zaterius.


*


Merry tengah di rawat di ruangan yang hampir sama dengan standar keamanan dan fasilitas seperti Hansell, tentu saja dengan pengamanan tebaik dan Zates tidak melewatkan satu pemeriksaanpun.


"Merry tengah mengandung anak ku" gumam pria itu ketika mencium punggung tangan istrinya.


Zates sangat mengerti jika Merry tengah hamil, di pasti selalu mengalami kondisi paling terparah, bahkan saat Merry mengandung Airyn saja, wanita ini sampai di rawat di rumah sakit sebab tidak bisa mengkonsumsi apapun lantaran ia selalu mual dengan setiap makanan, dan bahkan Merry terus saja merasakan lemas berkepanjangan sehingga hal itu membuat Merry di rawat di rumah sakit sebab kondisinya semakin melemah, dan tentu saja konsidi kehamilan istrinya ini bertolak belakang dengan Airyn, namun Merry tetap saja dari kehamilanya di masa lalu, belum pernah Merry hilang kesadaran.


"Apa yang membuatmu tertekan akir-akir ini, kenapa kau harus banyak fikiran" ucapnya sekali lagi.


Saat ini Zates duduk di tepi ranjang sembari memandangi tubuh Merry yang tengah beristirahat, istrinya bahkan selalu mual dan sulit dalam berkonsentrasi, apakah perkembangan hormon yang begitu besar mengakibatkan Merry hilangnya kontrol hari ini, tapi apa yang terjadi sebenarnya, apakah Merry mengetahui jika ia tengah hamil, tapi tetap saja melakukan perjalanan seorang diri tanpa pengawalan dan juga tidak di temani siapapun, atau Merry tidak mengetahui jika ia tengah hamil dan tengah mengalami tekanana darah rendah seperti ini.


“Merry apa yang terjadi sebenarnya, apa yang kau fikirkan hingga kau sampai seperti inim Jangan membuatku takut, aku sungguh takut kehilanganmu” ucap Zates saat mencium tangan istrinya berulang-ulang, ia bahkan merawat dan menjaga Merry dengan sebaik mungkin, bahkan Zates sudah berkonsultasi dengan dokter kandungan terkait kehamilan istrinya ini, yang Zates takutkan jika Merry mengetahui dirinya tengah hamil, apakah ia akan menerima Zates, tentu ada ketakutan lagi di benak pria itu, tapi ia tidak akan bisa menelantarkan anak tak bersalah tersebut.


“Apa yang Tuhan inginkan sebenarnya, aku ingin sekali menjauh seperti semula setelah Hansell sudah kembali pulih, tapi kenapa ia menghadirkan seorang janin di rahim Merry”


Apakah Tuhan ingin mengikat Zates untuk tidak pergi, jika boleh memilih, tentu Zates tidak ingin pergi, namun nampaknya jika terus bersama itu akan terus menyakiti anak dan istrinya, tapi dengan kondisi sekarang apa yang terbaik untuk Zates lakukan.