Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Kenapa berpura-pura



Dikra telah mengirim orang untuk mengambil sampel sebagai alat tes DNA Merry dan Airyn, sebenarnya ia sangat tidak menyangka dengan semua biografi yang ada, sebab Dikra tidak bisa membayangkan jika dirinya yang berada diposisi Airyn saat ini, seakan ini semua sangat mustahil diterima.


Pria itu menyudahi sarapan dengan segera, hingga mendudukan diri disofa, Melihat sikap Dikra yang tidak seperti biasanya, membuat tanda tanya dikepala Frada, sangat jarang di pagi hari pria itu memiliki suasana hati yang buruk, bahkan ia tidak berselera untuk bicara dengan logat bodoh yang kentara, tentu gadis itu ingin sekali mengetahui apa yang difikirkaan Dikra saat ini, membuat Frada menyudari makanan nya, dan mendudukan diri disamping Dikra, bersamaan dengan sodoran kopi yang dibuatkan untuk pria itu, Dikra hanya melirik tanpa mengucapkan kata apapun, bahkan ia hanya melihat kearah gelas yang berisi kopi hitam dengan uap yang semarak ke udara.


“Apa kau membuatkan kopi pahit untuk ku?” tanya Dikra tanpa memalingkan wajah


“Tentu saja, itu sangat baik untuk menghindari kolestrol” seru Frada sembari menyeruput kopi miliknya, bahkan ia menaikan kaki menampilkan sikap santai, Dikra meraih gelas yang dibuatkan Frada untuknya, ia menyeruput sedikit demi sedikit sambil merasakan sensasi kopi di indra perasa.


“apa ada orang yang menyeruput kopi hitam dengan teh pahit?” celetuk Dikra sambil memandang cangkir yang ada digengaman jemarinya, membuat Frada mengkerutkan kening dengan pertanyaaan bodoh yang baru saja dilontarkan Dikra ketelinga gadis itu, hingga rasa jengkel kembali memancarkan sorot mata tidak suka


“Apa kau bodoh, mana ada manusia yang menikmati kopi dengan teh, bahkan jika pun mereka memix keduanya, itu sangat aneh jika dijadikan teh kopi” balas Frada dengan nada jengkel, sebab humor pria itu sangat buruk bagi dirinya, ditambah suasana pagi sebagai permulaan manusia melakukan aktivitas, telah tercemari dengan pertanyaan bodoh yang mengandung partikel racul, hingga Frada merasa menyesal atas keingintahuan tentang fikiran Dikra seperti membuang waktu sia-sia.


“Kenapa kau pemarah sekali Nona Frada, apa kau tidak bisa membalas pertanyaan bodohku dengan sikap bodoh saja” balas pria itu sambil menyunggingkan senyum kearah Frada, bagaimana tidak ia tengah menyindir gadis itu secara terang-terangan, membuat Frada mendengus kesal kearah Dikra


“Aku bukan loser yang ikut-ikutan dengan kebodohanmu Dikra, meskipun begitu aku akan menjawab pertanyaan barusan. jika keduanya tidak bisa disamakan, bukankah memilih salah satu menjadi hal yang bisa dilakukan” tuturnya dengan mengejek, sebab pernyataan Frada kali ini benar-benar celetukan semata, hingga tidak memiliki unsur melawan atau menjelaskan apapun


“Kau benar!” seketika saja pria itu semangat dari murung yang berkepaanjangan, membuat Frada semakin binggung dengan tingkah rekan kerja “Aku harus ke Irlandia” sambungnya, membuat mata Frada terbelalak, bahkan Zeyn yang ada dimeja makan melirik kearah mereka


“Apa kau yakin? Kenapa tiba-tiba kau ingin ke Irlandia!” bentak Frada dengan tidak terima, tentu dirinya jarang sekali berpisah dengan Dikra, bukan karna cinta atau lain-lainya, melainkan dirinya sangat repot jika sendirian bekerja


“Tentu saja, kenapa aku harus tidak yakin, aku pulang kerumahku, setelah beberapa bulan tidak pulang. Ini hampir saja satu tahun” balas Dikra sambil melangkah menuju kearah kamar, membuat Frada tak terima dengan keputusanya, ia mengikuti langkag pria itu sembari celotehan yang tidak mereda, membuat Dikra sengaja mengabaikan apa yang dikatakan oleh rekanya, kali ini tekad Dikra telah bulat. Jika dirinya ingin mendapatkan sesuatu, ia harus keluar dari Korea dan terjun langsung menghadapi Merry, sebab Dikra sangat penasaran akan satu hal. Mungki kepergianya kali ini benar-benar menghasilkan sesuatu yang ia inginkan.


______________


Seperti orang kecanduan sesuatu, membuat pria itu cemas tanpa alasan, bagaimana tidak didalam logika dan fikiranya, nyawa tidak lagi ada harga, bahkan jika dirinya tidak mencari tempat untuk menghilang ia benar-benar lenyap. Tentu saja hal itu membuat Griffin tidak bisa tenang dan damai, hatinya dilanda gusar tak bertuan, ia seperti akan menghilang jika menutup mata, seoalah di pantau oleh mata-mata yang siap sedia memusnahkan eksistensi dirinya dari dunia


Tidak peduli seperti apa kekuasaan atau harta yang ia punya, tujuan Griffin adalah merengut kebahagian mereka, cukup lelah dirinya menderita saat bernafas namun tidak memiliki nyawa, ia seperti menghilang namun dipaksa ada “Aku tidak boleh ditangkap oleh nya, aku belum mendapatkan apa yang aku mau. Tidak bisa!! Aku harus melenyapkan wanita itu. Kenapa semua jadi kacau balau, padahal inilah waktu yang ditunggu-tunggu tapi aku malah terjebak hanya perkara Nona Petrov, kenapa semua jadi begini!!” Griffin begitu geram akibat fakta yang menjadi kenyataan, ia tidak bisa menerima semua kehidupan yang dirasa menyulitkan, bagaimana tidak, Griffin bertahan hanya untuk membalaskan dendam kepada wanita itu, tidak pernah ia menunjukan eksistensinya selama ini, namun disaat dirinya baru saja memulai Griffin sudah terjebak didalam kesalahan.


“Apa Nona Petrov merencanakan ini semua?” pertanyaan itu seolah-olah menuduhkan sebuah fakta bahwa Airyn bersalah atas semua ini, sebab sangat aneh jika ini disebut kebetulan. Griffin bertahan hingga saat ini hanya untuk membalaskan dendamnya pada wanita yang menghancurkan seluruh hidup yang ia miliki, wanita itu mengambil seluruh kehidupan Griffin hingga memencahkan dengan sebuah pengkhianatan yang membuat dirinya kecewa, tak sampai disana saja, Griffin bahkan kehilangan anaknya akibat wanita itu. bagaimana bisa dia memaafkan masa lalu yang menyakiti, disaat dirinya benar-benar mencintai seseorang namun kekecewaan kerap kali hadir untuk menemani, jika saja dimasa lalu dirinya tidak mencintai wanita itu mungkin hidup Griffin tidak akan seperti sekarang ini.


Setelah beberapa hari akirnya James kembali lagi kerumah itu, rumah sederhana dimana menjadi tempat wanita yang melahirkanya berada, James mungkin tidak bisa mengubah fakta tentang wanita yang menelantarkan dirinya, namun James tidak bisa mengubah takdir jika dirinyalah yang menampung James untuk ada didunia.


Jika saja dia bisa memilih mungkin James tidak ingin dilahirkan dari rahim itu, sebab ia hanya merasakan luka saat melihat sosok wanita yang dianggap seperti malaikat.


“Nak” suara hangat dari sapaan Iriana membuat James terdiam, ia mendudukan diri dihadapan ibunya sambil menatap penuh rindu dan kebencian “Akirnya kau kembali, masuklah” Iriana tentu menjadi ibu paling bahagia, ia meraih tangan James yang sedari awal mematung melihat kearah nya.


menyaksikan respon tersebut keduanya saling mengikuti alur masing-masing, hingga dimeja makan James melihat Somi yaitu adiknya menyiapkan makanan untuk mereka, sedangkan Iriana melayangkan senyuman kearah James sembari mempersilahkan putranya untuk mendudukan diri.


Iriana mengerti apa makanan yang tidak bisa dikonsumsi oleh putranya itu, membuat James melirik kearah Iriana, diikuti oleh tatapan Somi yang tak kalah binggung dengan tingkah ibu dan kakak laki-lakinya itu


“Aku menyukainya, bagaimana bisa tidak ada daging disini Nyonya? bukankan itu makanan pokok yang biasanya disajikan” seru James ke arah Iriana, membuat wanita paruh baya itu memudarkan senyuman sembari mengambilkan makanan kepiring putranya


“Hari ini kami tidak memiliki persedian daging nak” tutur Iriana dengan ramah, membuat Somi membulat sempurna kearah ibunya, sebab persedian daging begitu banyak didalam lemari es, menyadari sikap Somi wanita itu membulatkan matanya kembali seakan memberikan isyarat kepada putrinya, jika Somi harus diam tanpa mampu menjawab.


“Begitukah, ini kebetulan sekali. saya sulit sekali makan dirumah orang lain karna saya memiliki alergi akan daging. Tapi anda menyiapkan banyak seafood yang menjadi makanan kesukaan saya nyonya, terimakasih banyak” balas James dengan tersenyum, meskipun sebernarnya ia tengah pura-pura menyukai semua ini, dilain sisi Iriana sangat bahagia menyaksikan anaknya tidak berubah selain lebih tinggi dan gagah


“Selamat makan, ibu ayo makan makanan mu” timpal Somi sekettika, membuat ketiga orang itu menikmati makan malam bersama, Iriana begitu bahagia menyaksikan putra tercintanya ada di depan matanya, bahkan Iriana tidak bisa mengalihkan tatapan rindu dari James putra tercintanya, membuat Somi memperhatikan raut wajah bahagia dari ibunya, tentu saja saat ini perasaan curiga menyelimuti gadis itu, bagaimana tidak. Ibunya seakan mengetahui siapa laki-laki itu sebenarnya, namun entah kenapa ibunya menyembunyikan fakta tersebut. meskipun James mempercayaai Iriana tidak mengenalinya, namun Somi menolak argumen itu. dia sangat percaya sekali jika ibunya telah sadar siapa James sebenarnya, sebab tatapan itu tidak bisa disembunyikan, itu adalah tatapan indah dari seorang ibu pada anaknya, bahkan Somi sering kali menyaksikan semua itu, disaat kedua adik kembarnya masih hidup, meskipun tatapan kasih sayang yang diberikan Iriana kepada mereka membuat Somi terluka akan api cemburu, namun ia tidak bisa berkata apapun, sebab mereka adalah darah daging dari Iriana sendiri.


Setelah mereka menyelesaikan makan malam, James berbincang-bincang dengan Somi di ruang tamu mereka, membuat Iriana melirik kepada anaknya itu, ia tentu menjadi ibu yang akan menuai kebahagian, Iriana sangat bahagia sekali jika nanti mengungkapkan kepada James jika dirinya menyadari siapa James sebenarnya, bahkan dari pertemuan pertama mereka, membuat Iriana mengenali mata indah milik anaknya itu, ada tangis haru yang susah payah disembunyikan dibalik kebahagian hati yang mendera, James tidak mampu berkata apapun lagi pada Somi, ia sebenarnya ingin sekali mengatakan fakta, namun entah kenapa hati nurani pria itu masih mempertimbangkan tentang kesehatan ibunya.


“Saya harus pulang, ini sangat larut nyonya, terimakasih banyak atas undangan makan malam yang anda berikan, saya tidak akan melupakan malam ini” seru James saat memutus percakapan mereka, bahkan dirinya melontarkan kata dengan nada yang tidak enak didengar, membuat Iriana melangkah kearah anaknya “Ini sudah larut nak, apa kau tidak mau menginap disini saja” tutur Iriana dengan penuh tawaran


“Maaf nyonya, sepertinya saya tidak bisa merepotkan tuan rumah lagi, saya berterimakasih atas tawaran yang anda berikan, namun saya juga minta maaf menolaknya” balas James, saat memaksakan senyum indah penuh ironi kearah ibunya, membuat Iriana menyaksikan bagaimana dendam itu tersimpan dalam diraut wajah anaknya, meskipun begitu James tidak salah jika membenci dirinya.


Iriana melirik jam yang menempel didinding mereka, ia menganggukan kepala seakan mengerti jika anaknya tidak menerima tawaran yang dia berikan “Pulanglah segera, hati-hati dijalan” sambung Iriana saat mengikuti langkah James keluar pintu rumah, membuat pria itu membalikan sedikit badan untuk melirik dua wanita yang ia tinggalkan


“Terimasih” James membungkukan badan seraya memberikan hormat, bahkan membuat Somi dan membalas tundukan kakaknya.


“Hati-hati dijalan kak” timpal Somi dengan sedikit gugup, bagaimana pun ialah yang paling canggung diantara dua orang yang berpura-pura itu.


Drrraaatttttttt, langkah pria itu terhenti saat getaran di kantong celananya menganggu fokus , ia meraih ponsel dan menyentuh layar guna mejawab panggilan masuk, bahkan ia menjarakan diri dari dua wanita itu, dengan langkah tergesa James memasuki mobil dan mendengarkan penuh perhatian


“Aku akan ke Irlandia segera” tutup James dari balik ponsel, seketika tanganya hampir saja meremukan ponsel yang tengah digenggam, bagaimana pun James sangat siap menghadapi semua ini, ia tidak akan lagi tinggal diam.


Pria itu telah menaiki pesawat pribadi yang mengantarkanya ke Irlandia, meskipun James hanya seorang psikolog ia juga memiliki pendapatan yang besar dari semua bidang yang digelutinya, bahkan James memainkan bayak saham untuk perputaran uang yang membuatnya kaya raya, dengan kecerdasan itu tentu saja James mampu memiliki apa yang ia bisa.


Aku tidak akan melarikan diri lagi, sebuah kalimat itulah yang membarakan tekad James menghadapi kenyataan, jika selama ini James melarikan diri itu adalah bentuk perlindungan kepada dirinya saja, tapi kali ini James akan menghadapi semuanya, karna ini sudah waktu yang tepat untuk James melakukan apa yang harus dilakukan.


Iriana menidurkan diri diranjang bersamaan dengan Somi yang menarik selimut untuk ibunya, bahkan Somi memilih tidur bersama wanita itu dan membentang tubuh disamping Iriana, membuaat Iriana terkekeh saat sikap manja somi begitu posesif memeluk dirinya


“Ibu apa aku boleh bertanya?” tanya Somi saat menegadah melihat ibunya “Tentu saja, apa yang ingin kau tanyakan?” sambut Iriana saat membalas perkataan anaknya, namun mendengar sikap santai yang ditampilkan Iriana membuaat Somi mundur dari niatan awal, entah kenapa ia berfikir sekali lagi untuk menanyakan hal yang menganggu fikiranya


“Tidak apa-apa” Somi mengelengkan kepala seraya menegelamkan tubuh disamping Iriana, membuat wanita itu malah binggung akan tingkah anaknya “Apa yang ingin kau tanyakan Somi, kau membuat ibu penasaran saja” tutur Iriana akibat ketidakpuasan atas sikap putrinya “Tidak apa-apa, aku lupa apa yang ingin aku tanyakan bu, lupakan saja” Somi bersikeras untuk diam, meskipun rasanya ia ingin sekali melontarkan kata kepada ibunya itu “Anak ini” dengus Iriana saat menyentil kepala putrinya.


“Ibu aku tahu kau mengetahui kak James putramu, tapi kenapa kau berpura-pura? Kenapa? Apa yang kau sembunyikan” gumam Somi saat memejamkan mata disamping wanita yang begitu ia cintai.