
Seketika Hansell yang begitu kusut dengan fikiran nya, teringat akan Angel, dia mengingat bahwa dirinya telah membentak adiknya karna begitu emosi. Dengan cepat Hansell membuka kamar Angel dan melihat adiknya tertidur dengan pulas diatas kasur, bahkan Hansell melihat mata Angel sedikit sembab, tentu saja dirinya menyesal telah membentak adiknya, perlahan Hansell mencium kening Angel seakan tersirat permintaan maaf disana, dia menarik selimut untuk menyelimuti Adiknya, lalu Hansell mematikan lampu kamar adiknya
“kakak” ditengah kegelapan, Angel berseru nama kakaknya, membuat Hansell melihat kearah adiknya
“apa kau belum tidur?”
“aku terbangun karena dirimu, kakak jangan memarahi Kak Airyn, aku tidak tau apa masalah kalian tapi aku tidak mau kau menyakiti nya” dengus Angel kepada kakak nya
“tidak, kami hanya sedikit berdebat” balasnya dengan mengusap kepala Angel
“apa kau tidak berbohong padaku?” tanya Angel seakan mengancam, tentu saja Hansell tersenyum dan mengelengkan kepalanya
“baiklah, aku percaya. Apapun masalahmu aku yakin itu hanya kesalah pahaman diantara kalian, kakak jangan mengecewakan Kak Airyn, dia wanita yang sangat baik yang pernah aku temui” jelas Angel begitu yakin kepada kakak nya
“apa kau sebegitu menyukainya?” kali ini Hansell tersenyum dengan senang, bahkan perasaan kacaunya sedikit menghilang
“tentu saja, tidak kah kau melihat dengan semua yang dia miliki apa lagi kekurangan nya, bahkan dirinya sangat berlebih” celetuk Angel kepada kakak nya
Mereka sibuk berbincang hingga mata Angel mulai mengantuk, Hansell memberikan senyuman dan kecupan didahi adiknya, tidak lupa dirinya menyelimuti Angel dan berlalu keluar untuk menuju kamar nya, saat ini Hansell mendinginkan tubuh di air yang begitu dingin, dia menjernihkan fikiran nya, dan berharap bisa menyelesaikan masalah nya dengan Airyn.
Hansell berharap setelah besok dia dapat memahami segalanya, mungkin saat ini mereka tersulut emosi yang tidak mau mereda hingga terjadi kesalah pahaman yang merusak segalanya.
Besok paginya, Airyn terbangun dari tidurnya, dia tersadar telah berbaring dilantai sepanjang malam, sesaat Airyn ingin berjalan kearah kamar namun rasa pusing mendera kepalanya, bahkan Airyn meringis kesakitan, suhu tubuhnya saja begitu panas hingga dia merasa mual.
Airyn mencoba berjalan sekuat tenaga meskipun bergelantungan ke beberapa benda yang berada disekitarnya. Dia merebahkan diri dikasur dan memejamkan mata.
“Hansell” kata itu lolos begitu saja dari mulutnya beserta air mata
“jika aku tiada apa kau akan bahagia?” seketika air mata nya tidak mereda dan berderai begitu saja.
Airyn menyesal telah berlaku seperti itu kepada Hansell, namun dia tidak mampu lagi membela diri, karna dia saja merasa gagal memenuhi kebahagiaan orang yang dicintainya.
“apakah dengan menghukum diriku sendiri mampu menghilangkan rasa bersalah ini?” sektika Airyn tertawa didalam tangisan nya, tawanya semakin renyah namun air matanya semakin terberai, tentu saja dirinya begitu terluka karena mengecewakan Hansell, jika semua ini dikaji lagi akan menemukan kesimpulan dirinya yang patut disalahkan akan pertengkaran mereka semalam.
Airyn membentang tubuh dan menidurkan nya dikamar, dia meraih ponsel yang berada dinakas sebelah kanan nya, setelah itu meletakan nya kembali ke tempat semula.
Seperti biasa Angel dan kakak nya menghabiskan sarapan mereka berdua, kali ini Angel tidak bisa menemui Airyn lantaran kakak nya melarang untuk menganggu gadis itu, dia membiarkan Airyn menenagkan diri, sebab setelah Hansell menemui airyn secara langsung untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi diantara mereka, barulah Angel boleh menganggu gadis itu.
Seketika Hansell memandang jam yang melingkar ditangan nya, waktu sudah hampir jam 10 pagi, dia menyelesaikan sarapan dan berangkat kekantor, tak lupa Hansell mencium kening adiknya untuk berpamitan, kala itu Angel ingin menemui Airyn namun Hansell melarang karna dia akan menyelesaikan masalahnya dulu barulah Angel menemui Airyn.
Tentu saja Angel harus patuh akan perintah kakak nya, dia tidak mungkin melawan otoritas Hansell sebagai kakak laki-laki yang dimilikinya.
Dia mendudukan diri di belakang sopir dan memeriksa beberapa laporan yang dikirim Darrel melalui ponsel nya, Hansell mencoba mengkesampingkan urusan pribadinya dan menyelesaikan pekerjaan dengan cepat.
“sekarang yang lebih penting adalah stabilkan harga saham, saya tidak peduli apapun cara kalian yang terpenting harga saham tidak anjlok seperti bulan lalu, dan saya ingin omset penjualan seminggu kedepan harus dikontrol dengan baik” tegas Hansell ketika dirinya memimpin rapat pagi ini
“baik Presdir” jawab salah satu dari mereka yang hadir di rapat pagi hari yang begitu dingin dan tegang, bahkan ketika menerima titah langsung dari Presdir membuat mereka merasa aura Hansell berbeda dari biasanya.
Dia yang begitu lembut dan penuh dengan pertimbangkan, sekarang begitu memerintah dan menunjukan kekuasaan
“baik sampai disini dulu” seketika Hansell keluar dari ruangan rapat dan balik menuju ruangan nya, dia menaiki lift bersama Darrel, namun Hansell tidak berkata apa-apa selain sikap dingin yang ditunjukan nya, membuat Darrel meneteskan keringat ketegangan hingga membanjiri dahi
“Darrel, apa aku tidak memiliki hal yang mendesak untuk dilakukan?” tanya nya
“tidak ada tuan” balas Darrel
“aku seperti nya akan pulang” celetuk Hansell
“pulang, tapi ini belum masuk jam makan siang, apa anda yakin akan pulang?” seketika itu Darrel begitu kaget dengan sikap Hansell, baisanya pria itu begitu profeksionis namun kali ini dia begitu berbeda dari prinsip nya.
“apa ada masalah dengan mu?” tanya Hansell dingin saat mendapatkan per-nyataan dari Darrell
“tidak tuan, anda bisa pulang karna tidak ada pekerjaan yang teralu mendesak, dan untuk Schedule yang tidak membutuhkan kehadiran anda saya akan mengantikan nya, dan menunda itu. Tapi tuan ada laporan terbaru bukan mengenai pekerjaan” seketika itu kalimat Darrell terhenti dan Hansell memalingkan sedikit wajah untuk mendengar penjelasan nya
“ada laporan terbaru dari orang yang anda perintahkan terakir kali” jelas Darrel kepada Hansell, membat pria itu tertegun dan menatap Darrell dengan tidak percaya
“apa kau yakin?” tanya nya dengan nada sedikit meninggi, bahkan Hansell saja tidak percaya orang itu masih hidup, sudah lebih 10 orang yang diutusnya untuk mencari tahu tentang surat kontrak yang mengancam Airyn, namun semua nya menghilang, kali ini dia mendapatkan suatu informasi, tentu saja Hansell tidak menyangka
“iyaa saya yakin” balas Darrell dengan sedikit gugup
Hansell berjalan dengan cepat ke dalam kantornya disusul dengan Darrell yang tidak kalah cepat dari langkah bos nya, mereka mendudukan diri didalam ruangan dengan tatapan mata yang terpancar satu sama yang lain nya, Hansell dan Darrel terlihat begitu serius sehingga dirinya menghabiskan beberapa waktu disana, Hansell terlihat senang saat dirinya mengetahui sedikit informasi tentang orang tersebut, meskipun ini hanya secuil titik saja namun dari hal sekecil ini akan mampu dipecahkan jika Hansell berhati-hati dalam bertindak
Keingin tahuan nya dan ambisi nya membuat Hansell tidak akan mundur, sekuat atau sebesar apapun kekuatan yang dimiliki oleh orang itu, tidak ada alasan bagi dirinya memanfaatkan Airyn.
Hal itulah yang menjadi dasar betapa geramnya Hansell kepada manusia yang menganggu Airyn dibalik surat kontrak, meskipun mereka seperti malaikat namun itu semua hanyalah iblis yang bersembunyi, Hansell tidak akan takut jika harus kehilangan nayawa nya, namun jika dia harus pergi itu harus bersama dengan manusia yang telah menyiksa Airyn, sekecil apapun kemungkinan nya hidup, Hansell akan bertahan disisi wanita nya, walaupun ada hal terbesar yang menghadang dirinya Hansell percaya kehidupan seseorang tidak akan mampu diputuskan oleh manusia.
“terimakasih atas infomasi ini, Darrel aku hanya mengatakan ini dengan serius, jadi tolong kau degar kan baik-baik, masalah ini bukanlah hal yang bisa di sepelekan, jangan pernah kau terlibat untuk melacak nya sendirian, dan jangan pernah memberikan orang itu perintah tanpa perhitungan ku. Dan sekarang pastikan saja dia aman dan bersembunyi disuatu tempat, bunuh semua informasi tentang nya, entah itu identitas dan riwayat hidupnya. Hapus dari semua data yang bisa diperoleh oleh siapapun, aku yakin dia membutuhkan hal itu sekarang untuk menyelamatkan diri” jelas Hansell, tentu saja Darrell mengerti apa yang diperintahkan bos nya, namun dirinya sedikit bergindik ketika Hansell mengatakan ini bukan masalah sepele.
“baik tuan Hansell, saya mengerti apa yang harus saya lakukan” seketika itu Darrel keluar, menuju meja nya. Hansell pun mengepalkan tangan dan menatap kosong kelain arah
“siapapun dirimu, dan bagaimana pun kamu bersembunyi, aku yakin akan membongkar identitas itu dan membuat perhitungan nantinya” geram Hansell, dia melihat jam ditangan nya dan ternyata sudah hampir makan siang, Hansell beranjak untuk pulang lanataran dirinya ingin menemui Airyn